“Jadi,” ujar Miyu sambil menyendok nasi ke piring, “lo tanya apa ke dia di lorong kemarin?”
Nana yang sedang membuka bungkus nasi padang di meja makan kecil rumah kontrakan itu tidak mengangkat kepala. “Pertanyaan pengacara. Rutin.”
“Gue dengar semuanya, Na. Dari pintu kamar mandi.”
“Kalau gitu ngapain nanya?”
“Karena lo bilang jangan diubah seolah-olah lo lagi nyetujuin kontrak.”
“Memang.” Nana akhirnya menatapnya. Rambut pixie cut-nya masih acak-acakan karena menginap semalam di sofa, dan ada bantal tercetak di pipi kanannya. “Gue mau lihat apakah dia bohong. Orang bohong biasanya nambah-nambahin. Saya ingin dia sehat, bahagia, aman, sejahtera. Dia cuma bilang satu. Dan matanya nggak lari ke mana-mana.”
Miyu menunduk ke nasinya. Pandangannya terbentur sendiri pada bungkus daun pisang di hadapan Nana, aroma rendang yang menguar, dan ingatan tentang tangan Kanata yang canggung menyuap nasi tanpa sendok beberapa hari lalu. Ia buru-buru menggeleng.
“Kenapa lo senyum-senyum sendiri?” tanya Nana.
“Nggak.”
“Mi.”
“Gue cuma keinget, dia makan nasi padang pakai tangan kayak lagi ujian praktik. Jarinya kaku banget.”
“Dan lo lihatin.”
“Gue nggak lihatin!”
Ponsel Nana bergetar di meja. Ia melirik layar, lalu membaliknya dengan wajah datar. Miyu langsung menyipitkan mata.
“Itu si jaksa muda?”
“Bukan.”
“Na, lo balikin hape kayak orang nyembunyiin rapor.”
“Dia cuma nanya kasus. Kasus. Urusan kantor.” Nana mengunyah lebih keras dari biasanya. “Fokus ke masalah lo dulu. Aya aja udah tinggal selangkah lagi tunangan, lo masih sibuk ngelihatin tangan orang.”
“Gue nggak—”
Ponsel Miyu ikut berdering. Wajah Aya muncul di layar, mengenakan masker wajah putih dan memegang dua gaun di kedua tangan.
“Yang biru atau yang krem?” tanya Aya tanpa salam. “Doi bilang dia suka dua-duanya, nggak membantu sama sekali. Mi, lo udah makan? Udah minum vitamin? Nana ada di situ, kan? Na, jangan ngomelin dia!”
“Gue nggak ngomelin,” sahut Nana dari seberang meja.
“Krem,” jawab Miyu. “Biru bikin lo kelihatan lagi mau lapor ke kantor polisi.”
“Jahat banget.” Aya tertawa, lalu suaranya mengecil. “Kabarin gue kalau ada apa-apa, ya. Apa pun. Gue serius.”
“Iya, Aya. Janji.”
Setelah sambungan putus, rumah itu terasa lebih hening dari sebelumnya. Nana menaruh sendoknya dan menatap Miyu tanpa kata.
“Mi. Kartunya.”
Kalimat itu menusuk lurus. Miyu terdiam dengan sendok di udara.
Nana tidak meninggikan suara. Ia hanya menatap Miyu dengan sorot yang lebih lembut daripada kalimatnya, sorot yang sudah Miyu kenal sejak SMA, sorot orang yang menunggu sampai temannya sendiri yang bicara. Setelah cukup lama, Miyu meletakkan sendok, berdiri, dan berjalan ke kamar.
Laci meja di sisi ranjang berderit ketika ia menariknya. Di bawah tumpukan kuitansi listrik dan sebuah pita rambut tua, ada selembar kartu putih bertepi tebal. Miyu mengeluarkannya dengan dua jari, seperti memegang sesuatu yang bisa menggigit, lalu kembali ke meja makan dan meletakkannya di sebelah kartu yang kemarin ia bawa pulang dari ruang Perdana.
Dua kartu. Huruf timbul yang sama, logo yang sama, nama yang sama. Hanya bekas lipatan di sudut kartu pertama yang membedakannya, bekas dari malam ketika Miyu pernah meremasnya dalam tinju.
Nana tidak menyentuh keduanya. Ia hanya menatap lama.
“Persis,” kata Nana pelan.
“Persis.”
“Jadi sudah nggak ada lagi ruang buat mungkin cuma mirip.”
“Dari awal juga nggak ada, Na.” Miyu menelan ludah. “Gue cuma… belum siap menaruhnya berdampingan.”
***
Kurir datang pukul empat sore, membawa kardus sedang yang diikat tali rafia.
Miyu menerimanya di teras dengan alis berkerut. Tidak ada nama pengirim di luar, hanya tulisan nama dan alamat rumahnya dalam huruf kecil yang rapi dan miring ke kanan. Ia membawanya masuk dan membukanya di meja makan, dan Nana, yang sedang membuka laptop, langsung bangkit untuk mengintip.
Di dalamnya ada sekeranjang buah: apel hijau, pir, jeruk mandarin, dan tiga buah kiwi yang masing-masing dibungkus kertas. Di sudut kardus ada kantong kertas kecil berisi permen jahe, lengkap dengan pita tipis. Di atas semuanya terselip kartu putih kecil dengan tulisan tangan yang sama dengan label alamat.
Istirahatlah. S. Kanata
“Dari mana dia tahu alamat lo?” bisik Nana.
“Berkas pulang rumah sakit,” jawab Miyu, setelah berpikir sebentar. “Dia tercatat sebagai wali, kan. Pasti alamatnya ada di situ.”
“Nggak ada yang nyetujuin dia pakai alamat itu buat kirim buah.”
“Tapi dia nggak datang sendiri. Dia kirim lewat kurir.”
“Itu memang batas yang benar,” gumam Nana. Ia berdiri sambil bersedekap, memandang keranjang buah itu seperti menilai barang bukti. “Orang yang berniat jelek biasanya datang sendiri dan minta masuk. Yang ini ngirim paket dan pergi.”
Miyu membuka kantong permen jahe dan mencium baunya. Hangat, pedas, bersih. Mual di perutnya mereda sedikit hanya dengan aromanya, dan entah kenapa ia teringat dapur kakeknya, panci kecil di atas kompor, dan tangan keriput yang mengaduk jahe tanpa pernah bertanya kenapa cucunya merengut. Ia tidak tahu bagaimana Kanata bisa memilih tepat, tetapi tentu saja pria itu tahu. Ia pernah melihat Miyu muntah di kamar mandi rumah sakit.
“Tulisannya rapi banget,” komentar Nana sambil mengambil kartu kecil itu dan membaliknya. “Dan dia tanda tangan S. Kanata. Bukan cuma Kanata. Dia sendiri ragu pakai nama depan atau nggak.”
“Dia orang formal, Na.”
“Orang formal biasanya nggak nulis catatan tangan buat perempuan yang katanya cuma teman.” Nana mengembalikan kartu itu dengan dua jari, dan senyum jahilnya mengintip di sudut bibir. “Gue nggak bilang apa-apa. Gue cuma catat.”
“Catat aja sana, sambil bantuin gue masukin apel ke kulkas.”
Nana menurut, tetapi ia bersenandung kecil sepanjang jalan ke dapur.
“Mi.” Suara Nana berubah. “Gue ngomong sebagai sahabat dan sebagai orang yang nggak mau lo diam sampai terlambat. Dia pulang ke Jepang sekitar dua puluh enam hari lagi, kan? Lo sendiri yang bilang tinggal sebulan.”
“Kira-kira.”
“Lo harus ngomong sebelum itu. Bukan sepenuhnya demi dia. Demi lo. Demi anak lo.” Nana duduk di seberangnya. “Dan gue siap jadi pendampingnya. Duduk di sebelah lo, bawa laptop, diam, kalau lo mau. Atau jadi pengacara yang melotot, kalau lo butuh.”
Miyu memutar-mutar kartu kecil itu di antara jari. “Gue takut, Na.”
“Takut apa?”
“Kalau dia tahu, dia akan bertanggung jawab.” Suara Miyu serak. “Dia tipe orang yang begitu, lo lihat sendiri. Dan itu nggak sama dengan menginginkan. Gue nggak mau dinikahi karena dia terlalu baik buat lari.”
Nana tidak menjawab. Ia hanya menggeser kursinya mendekat dan merangkul bahu Miyu dengan satu lengan, sementara tangan satunya meraih permen jahe dan mengunyah sebutir.
“Pedas banget,” kata Nana, mengernyit.
“Itu buat gue.”
“Gue tahu. Gue cuma ngetes.”
Ponsel Miyu bergetar di atas keranjang buah. Ia membukanya, dan layar menyala dengan nama yang sudah tidak terlalu mengejutkan lagi.
Saionji Kanata: Permen jahe sebaiknya dimakan satu setiap pagi sebelum sarapan, bukan sekaligus. Santa pernah memakan setengah kantong dan menyesal.
Miyu menutup mulut dengan punggung tangan, menahan tawa yang berubah menjadi sesuatu yang lain di tengah jalan. Ia menekan dada dengan telapak tangan, tempat sesuatu berdetak lebih cepat daripada yang mestinya.
“Na,” bisiknya. “Gue dalam masalah besar.”