Kanata sudah membuka dan menutup layar ponselnya sebelas kali sejak sarapan.
Pesan terakhir dari Miyu masih sama seperti dua malam lalu: Terima kasih buahnya, Tuan Saionji. Kasihan Santa. Tidak ada tanda tanya, tidak ada ajakan, tidak ada celah sedikit pun untuk dibalas. Kanata sudah mengetik tiga jawaban dan menghapus semuanya. Yang pertama terlalu kaku, yang kedua terlalu hangat, yang ketiga hanya berisi pertanyaan apakah Miyu sudah makan, dan itu terlalu bodoh bahkan untuk ukuran dirinya.
Ia meletakkan ponsel di meja dapur, di sebelah cangkir kopi yang sudah dingin, dan menatap jendela. Jakarta di hari Minggu pagi tampak lengang dari lantai dua puluh dua. Jalanan kosong. Awan tipis. Tidak ada rapat, tidak ada tanda tangan, tidak ada satu pun alasan untuk menelepon seseorang.
“Aneh,” gumamnya. “Dulu hari libur tidak seperti ini.”
Bel pintu berbunyi dua kali, diikuti suara kunci yang diputar tanpa menunggu dibukakan.
“Kanata! Aku bawa takoyaki!”
Kanata menutup mata sebentar. Hanya satu orang di dunia yang punya kunci cadangan apartemennya dan menganggap itu izin untuk masuk kapan saja.
***
Kurosu Santa masuk dengan kantong plastik di satu tangan dan ponsel di tangan lain, rambut hitamnya berdiri di sisi kiri karena baru bangun. Ia meletakkan takoyaki di meja, menjatuhkan diri ke kursi, lalu menatap Kanata dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan ekspresi seorang detektif yang sudah menemukan sidik jari.
“Kau belum mandi,” ujar Santa.
“Sudah.”
“Kau belum cukuran.”
“Hari Minggu.”
“Kau tidak pernah melewatkan cukuran, bahkan saat demam.” Santa menyipitkan mata. “Kau melamun di mobil dua hari lalu, kau menyuruh sopir berputar lewat jalan rumah sakit padahal kantor ke arah sebaliknya, dan sebelum paket buah itu dikirim kau menyuruh aku mencarikan penjual permen jahe yang bagus. Permen jahe, Kanata. Kau, yang menganggap permen itu makanan anak kecil.”
“Itu untuk mual.”
“Aku tahu itu untuk mual. Aku bukan bodoh.” Santa membuka bungkus takoyaki dan menusuk satu dengan tusuk gigi. “Aku bodoh dalam banyak hal, tapi bukan yang itu. Jadi, aku tanya langsung. Nona Agatha itu sebenarnya sudah punya suami atau belum?”
Kanata menatap cangkir kopinya. Rasanya seperti ditanya sesuatu yang sudah ia tahu jawabannya selama dua hari, tetapi belum pernah ia ucapkan dengan keras.
“Belum,” ujar Kanata. “Maksudku, tidak. Dia tidak punya suami. Tidak pernah.”
Tusuk gigi di tangan Santa berhenti di tengah jalan. Takoyaki jatuh kembali ke piring.
“Tunggu.” Santa mencondongkan badan. “Kau bilang dia sudah bersuami. Kau bilang itu alasan kau menjaga jarak. Kau bahkan marah padaku saat aku bercanda soal itu.”
“Aku salah.”
“Siapa yang bilang dia tidak punya suami?”
“Dia sendiri. Hari Rabu.”
“Dan sejak Rabu kau ke mana saja?”
“Ke kantor. Ke rumah sakit mengurus administrasi. Ke toko buah.” Kanata mengusap tengkuknya. “Dan toko permen.”
Hening. Santa menatapnya lama, lalu perlahan, sangat perlahan, bibirnya melengkung ke atas sampai matanya hampir hilang.
“Kau jatuh cinta,” ujar Santa.
“Jangan konyol.”
“Kau jatuh cinta! Pada perempuan yang sedang hamil! Dan kau baru sadar!”
“Santa.”
“Aku harus mencatat tanggalnya. Ramalan bintang bulan ini memang menyebut perubahan besar untuk Capricorn.” Santa meraih ponselnya dengan heboh. “Dan kau menyuruhku tidak percaya.”
“Aku tidak jatuh cinta,” sahut Kanata, lebih tegas. “Aku hanya… peduli. Dia sendirian. Dia tidak punya siapa-siapa selain dua temannya dan aku kebetulan berada di tempat yang tepat. Itu saja.”
“Lalu kenapa wajahmu merah?”
“Tidak merah.”
“Merah. Sedikit. Di telinga.”
Kanata membuka mulut untuk membantah, tetapi tidak ada kalimat yang keluar. Ia berdiri, mengambil cangkir dan membawanya ke wastafel, menyalakan keran lebih lama dari yang diperlukan. Air mengalir deras di antara jemarinya.
Di belakang punggungnya, Santa tidak lagi tertawa. “Hei.”
“Hm.”
“Siapa ayah bayinya?”
Keran ia matikan. “Dia belum mau bilang. Aku tidak bertanya.”
“Kau tidak ingin tahu?”
“Aku ingin.” Kanata mengucapkannya dengan jujur dan pelan. “Tapi itu bukan hakku. Kalau dia ingin bercerita, dia akan bercerita. Aku sudah bilang aku menunggu.”
Santa menggeleng-geleng sambil mengunyah. “Kau benar-benar orang yang aneh, Kawan.”
“Kau yang mengatakannya sambil mengunyah takoyaki di apartemenku.”
Ponsel Santa berdering nyaring sebelum ia sempat membalas. Ia melirik layarnya, wajahnya berubah dari geli menjadi pucat dalam satu kedipan.
“Mikan,” bisik Santa.
“Kenapa wajahmu begitu?”
“Aku… kemarin… tidak sengaja…” Santa menelan ludah. “Dia menelepon menanyakan kabarmu. Aku hanya bilang kau sibuk menemani seorang perempuan yang sedang hamil. Itu saja. Sumpah. Hanya itu.”
Kanata memejamkan mata dan menarik napas panjang. “Angkat.”
“Aku tidak mau.”
“Angkat, Santa.”
Santa menekan tombol pengeras suara dengan jari gemetar. Suara Mikan langsung menyembur dari ponsel seperti air dari pipa pecah.
“KANATA! Aku tahu kau ada di situ! Santa, jangan coba-coba matikan teleponku!”
“Selamat pagi, Mikan,” ujar Kanata, sedatar mungkin.
“Jangan pura-pura sopan padaku, Sepupu Kecil! Aku dengar dari bocah ini bahwa kau menghabiskan waktu dengan seorang perempuan hamil. Siapa dia? Sudah berapa bulan? Dan yang paling penting…” Napas Mikan terdengar tertahan satu detik penuh. “Kau menghamili seseorang?”
“Tentu saja bukan,” sahut Kanata cepat.
“Kau yakin?”
“Mikan.”
Kanata menatap permukaan meja dapur. Pertanyaan itu bodoh dan jawabannya sudah jelas, tetapi ia tidak suka cara kalimat itu menggantung di udara sesudah diucapkan.
“Dia hanya seorang kenalan,” lanjut Kanata. “Seseorang yang sedang membutuhkan bantuan. Tidak lebih.”
“Hm.” Mikan terdengar tidak percaya. “Kalau begitu aku tidak akan menyampaikan apa-apa kepada Hosho. Kau tahu sendiri, kalau dia mendengar kata perempuan hamil, besok pagi dia sudah di bandara.”
“Karena itu jangan beritahu dia, wanita tua.”
“KANATA!”
Santa terbahak sampai kursinya bergoyang. Kanata menutup sambungan dengan satu ketukan jari, lalu menatap sahabatnya yang masih tertawa dengan mata berair.
“Kau dalam masalah,” ujar Kanata.
“Aku tahu,” jawab Santa, terengah. “Tapi kau juga.”
Kanata kembali ke jendela. Di bawah sana, jalanan mulai terisi satu per satu kendaraan. Ia tidak lagi membuka ponselnya.
“Jadi apa rencanamu?” tanya Santa, akhirnya berhenti tertawa. Ia meraih ponselnya sendiri, membuka sesuatu, lalu mendengus. “Ramalan hari ini bilang Capricorn sebaiknya berhati-hati terhadap keputusan yang diambil dengan perut kosong. Makan dulu.”
“Aku tidak butuh ramalan.”
“Rencanamu, Kawan. Jangan mengelak.”
Kanata terdiam lama. Ia memikirkan Miyu yang besok akan kembali bekerja, berdiri berjam-jam di kafe dengan perut yang belum benar-benar pulih, mencoba tersenyum kepada pelanggan sambil menahan mual. Ia memikirkan kursi dekat jendela tempat ia biasa duduk, dan bagaimana kursi itu akan terasa kosong kalau ia memilih menjauh sekarang.
“Aku tidak akan memaksa,” ujar Kanata. “Aku tidak akan bertanya soal apa pun yang belum ia ceritakan. Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku masih ada di tempat yang sama.”
“Seperti biasa,” ulang Santa pelan.
“Seperti biasa. Besok aku ke Anomali. Makan siang, teh, pulang. Tidak lebih.”
“Setelah semua ini?”
“Setelah semua ini. Justru karena itu.”
Santa menatapnya cukup lama, lalu memungut takoyaki terakhir dan menyodorkannya ke depan wajah Kanata seperti menyuap anak kecil.
“Makan,” perintahnya. “Orang yang jatuh cinta tapi menyangkal itu butuh tenaga.”