Anomali pukul tujuh pagi berbau lain dari Anomali pukul tujuh malam. Tidak ada aroma goreng dan saus, tidak ada riuh tawa. Yang ada hanya wangi biji kopi yang baru digiling dan suara mesin espresso yang dipanaskan, seperti napas panjang sebelum hari dimulai.
Miyu berdiri di pintu belakang dengan celemek yang sudah ia pakai sejak dari rumah, dan untuk satu menit penuh ia tidak berani melangkah masuk.
“Tha!”
Ira muncul dari balik konter dengan pipi bulatnya sudah merah dan tangan terentang. Detik berikutnya Miyu sudah terbenam dalam pelukan yang terlalu erat, bau vanila dan keringat, serta bisikan cepat di dekat telinganya.
“Gila lo, gue kira lo bakal dipindahin ke rumah sakit buat selamanya. Lo makan nggak? Minum? Nih, gue bikinin teh jahe. Jangan nolak, ini perintah.”
“Ra, gue nggak bisa napas.”
“Oh. Maaf.” Ira melepaskannya, tetapi memegang kedua lengan Miyu seperti memastikan ia utuh. “Lo kurusan.”
“Baru empat hari.”
“Empat hari itu lama kalau di kafe ini.”
Reno berdiri di belakang mesin espresso, masih dengan wajah datar yang sama, dan hanya menaikkan dagunya setengah senti. Tetapi di meja konter di sebelahnya, tepat di tempat yang biasa dipakai Miyu menaruh tas, ada gelas kecil berisi air hangat dengan irisan lemon. Tidak ada yang membahasnya. Miyu mengambil gelas itu dan menghabiskannya dalam satu napas.
“Makasih, No.”
“Hm.”
Pak Rudi menyusul dari ruang belakang, membawa papan jadwal. “Agatha. Pagi. Selamat bergabung kembali. Hari ini kamu pegang meja dan catatan harian. Kasir biar Ira dulu. Kalau capek, duduk. Kalau mual, bilang. Ngerti?”
“Ngerti, Pak.”
“Bagus. Jangan angkat nampan yang penuh. Panggil Reno kalau gelasnya banyak.”
Selama dua jam pertama Miyu bergerak seperti orang yang berjalan di atas lantai licin. Ia mengelap meja, menata menu, memeriksa stok sirup di rak belakang. Aroma kopi yang biasanya ia sukai kini naik ke hidung seperti ombak asam, dan dua kali ia terpaksa menyelinap ke kamar mandi karyawan, menyiram wajah dengan air dingin, lalu keluar dengan senyum tipis yang ia harap meyakinkan.
Pada kali kedua, Ira sudah menunggu di depan pintu dengan sebutir permen jahe di telapak tangan.
“Dari mana lo dapat itu?” tanya Miyu, mengerjap.
“Dari tas lo. Waktu lo ganti sepatu tadi.” Ira mengedip. “Santai. Gue nggak nanya apa-apa. Cuma pengen lo hidup.”
***
Kanata datang pukul dua belas lewat sepuluh.
Miyu melihatnya lebih dulu dari balik rak gelas, sebelum pintu kaca sempat menutup. Pria itu mengenakan setelan biru gelap dan dasi tipis, sama seperti hari-hari sebelumnya, dengan wajah yang sama datarnya, dan langkah yang sama tenangnya. Hanya kali ini Miyu memperhatikan sesuatu yang selama ini tidak ia sadari. Kanata berjalan sedikit lebih lambat daripada orang yang terburu-buru, seolah ingin memberi waktu pada siapa pun untuk menyiapkan diri.
“Selamat siang, Tuan,” sapa Ira dari balik kasir, jauh lebih ceria daripada biasanya.
“Selamat siang.” Kanata berhenti di depan konter. Ia berbicara dalam bahasa Indonesia yang sopan dan rapi, tanpa aksen yang berlebihan. “Nasi Goreng Kampung, satu. Dan teh seduh, seperti biasa.”
“Siap! Duduk di tempat biasa, ya. Nanti diantar.”
Kanata mengangguk, dan di balik gerakan itu matanya sempat bergeser sedikit ke arah rak gelas, ke tempat Miyu berdiri. Hanya satu detik. Miyu langsung pura-pura sibuk mengatur sendok.
Tiga menit kemudian Ira melambai-lambai dengan wajah pura-pura polos. “Tha, tolong antar tehnya, dong. Gue lagi hitung kembalian.”
“Bohong,” desis Miyu.
“Tolong, Tha.”
Miyu membawa nampan kecil itu ke meja dekat jendela. Kanata sudah duduk dengan punggung tegak dan kedua tangan di atas meja, seperti pelamar kerja yang menunggu giliran wawancara. Cangkir diletakkan di atas tatakan, teh dituang dari teko, uap tipis naik membawa wangi melati.
“Selamat siang, Nona Agatha,” ujar Kanata pelan.
“Selamat siang, Tuan Saionji. Terima kasih untuk buahnya. Dan permen jahenya.”
“Anda sudah mengirim pesan terima kasih.”
“Saya ulangi. Karena saya tidak tahu apakah Anda membacanya.”
“Saya membacanya.” Kanata menyentuh tepi cangkir, tidak mengangkatnya. “Sebelas kali.”
Miyu berkedip. “Sebelas?”
“Lupakan.” Kanata berdeham. Ia menurunkan suara, dan Miyu mau tak mau ikut menunduk sedikit agar bisa mendengar. “Saya ingin bertanya sesuatu, kalau tidak lancang. Soal bunga di rumah sakit. Mawar merah di nakas. Dari rekan kerja Anda?”
“Oh.” Miyu menggigit bibir bawah, menahan tawa. “Itu dari Reno. Dia salah beli.”
“Salah beli.”
“Tokonya sebelahan sama toko buah. Ibu penjualnya bilang mawar yang paling segar. Dia nggak ngerti bunga, jadi dia beli.” Miyu mengusap hidungnya. “Dia malu sekali setelah tahu artinya apa. Tolong jangan bilang ke siapa-siapa.”
Hening setengah detik. Lalu bahu Kanata, yang sejak tadi terangkat setinggi telinga tanpa ia sadari, turun pelan.
“Begitu,” ujarnya. Suaranya biasa saja. Wajahnya tetap datar. Tetapi ada sesuatu di ujung kalimat itu yang tidak bisa ia sembunyikan, sesuatu yang membuat Miyu menunduk lebih dalam untuk menyembunyikan senyumnya sendiri.
“Saya tidak akan bilang siapa-siapa,” tambah Kanata.
“Terima kasih.”
“Anda sudah makan hari ini, Nona Agatha?” tanya Kanata, sebelum Miyu sempat pergi.
“Sudah. Sup kemarin, dan roti pagi ini. Sedikit.”
“Sedikit tidak cukup.”
“Ini bukan rumah sakit, Tuan Saionji. Di sini yang mengatur makan saya Ira.”
“Kalau begitu saya akan memesan satu porsi lagi, dan Nona Ira boleh mengaturnya.”
“Anda tidak perlu—”
“Hanya makanan,” potong Kanata halus. “Tanpa catatan, tanpa tanda terima.”
Miyu terdiam, lalu menghela napas dan menyerah. “Baik. Terima kasih.”
Ia berbalik dan berjalan kembali ke dapur dengan pipi yang tidak mau dingin. Ira menyergapnya di balik pintu ayun, mata membulat dan mulut sudah setengah terbuka.
“Lo kenapa merah? Tuan Jepang bilang apa? Dia nanya sesuatu soal gue? Soal mawar?”
“Dia nanya soal mawar.”
“Terus lo jawab apa?”
“Gue bilang itu dari angin.”
“Tha!”
“Pesan satu porsi lagi buat dia, Ra. Nasi goreng. Dan satu buat gue.” Miyu menekan telapak tangan ke pipinya yang panas. “Jangan komentar.”
Ira menahan senyum yang lebarnya hampir menyobek wajahnya, lalu pergi mencatat pesanan sambil bersenandung.
***
Pukul tiga kurang sepuluh, kafe sudah sepi. Miyu sedang menghitung catatan harian di meja belakang konter ketika pintu kaca berdenting lagi. Ira, yang baru saja akan duduk di kursi kasir, membeku dengan kedua tangan di udara.
Dokter Devan berdiri di depan konter dengan kemeja biru yang lengannya digulung sampai siku, rahang tajam, dan tatapan sarkastis yang selalu terlihat seolah menunggu seseorang melakukan kesalahan kecil. Di belakangnya tidak ada Anggara. Hanya dia.
“Kopi hitam,” ujar Devan. “Tanpa gula.”
Ira menunjuk layar kasir, menunjuk Devan, lalu menunjuk dirinya sendiri sambil membuka-tutup mulut seperti ikan. Seluruh gerakannya menyerupai pantomim yang kehilangan naskah.
“Dia tidak bicara kalau ada dokter,” bisik Miyu dari belakang konter. “Sudah dari dulu.”
“Saya tahu.” Devan mengalihkan pandangan dari Ira ke Miyu, dan untuk sesaat ekspresi sinisnya melunak. “Biar Agatha saja.”
Miyu berdiri, menekan tombol di layar, dan menerima uang kembalian dengan tangan yang entah kenapa terasa agak dingin. Ira melarikan diri ke dapur dalam senyap, meninggalkan gaung langkah kaki yang terlalu cepat.
“Sudah lebih baik?” tanya Devan, suaranya rendah.
“Iya, Dok. Terima kasih.”
“Selamat pulih, Agatha.” Devan mengambil gelas kopinya. Ia tidak langsung pergi. Matanya turun sepersekian detik ke perut Miyu, lalu naik lagi ke wajahnya dengan ketenangan seorang profesional yang sudah menyimpan banyak rahasia orang. “Dokter Merry rekan saya. Saya tidak akan bilang siapa pun.”
Lalu ia berbalik dan keluar, meninggalkan Miyu sendirian dengan uang kembalian di tangan dan dentang lonceng pintu yang masih bergema.