Kalimat Dokter Devan menempel di kepala Miyu sepanjang malam, seperti lagu yang tidak bisa dimatikan. Saya tidak akan bilang siapa pun. Itu kalimat yang baik. Itu juga kalimat yang membuat Miyu sadar bahwa rahasianya sudah mulai bocor lewat celah-celah kecil, dan bahwa lebih baik ia yang membuka pintunya daripada menunggu orang lain mendobraknya.
Karena itu pukul tujuh kurang lima belas, sebelum kafe dibuka, Miyu berdiri di depan ruang kecil di belakang dapur yang dipakai Pak Rudi sebagai kantor. Tangannya sudah terangkat untuk mengetuk, tetapi berhenti di udara.
“Masuk saja, Agatha,” suara Pak Rudi terdengar dari dalam. “Saya dengar napasmu dari tadi.”
Miyu mendorong pintu. Ruang itu sempit, hanya muat meja kayu, lemari arsip, dan kalender bergambar kucing yang sudah dua bulan tidak dibalik. Pak Rudi duduk dengan kacamata di ujung hidung, menghitung struk dengan kalkulator tua. Ia mengangkat wajah, menatap Miyu sebentar, lalu menutup buku catatannya.
“Duduk.”
“Saya berdiri saja, Pak.”
“Kamu baru sembuh dari rumah sakit. Duduk.”
Miyu duduk. Jemarinya langsung menemukan ujung celemek dan meremasnya.
“Pak, ada yang harus saya sampaikan,” ujarnya. “Saya… hamil. Sekitar dua bulan lebih. Itu sebabnya waktu itu saya pingsan, dan itu sebabnya saya dirawat lama.”
Ia menunggu. Menunggu napas panjang, menunggu alis terangkat, menunggu kalimat yang mulai dengan “Sayang sekali, tapi…”. Ia sudah pernah mendengar versi itu di kantor lamanya, dan ia sudah menyiapkan diri.
Pak Rudi hanya melepas kacamata dan menggosok pangkal hidungnya.
“Terima kasih sudah memberi tahu saya,” ujarnya. “Itu pasti tidak mudah.”
Miyu mengerjap. “Bapak… tidak marah?”
“Marah soal apa?” Pak Rudi tampak benar-benar bingung. “Kamu bekerja dengan baik. Kamu tidak pernah terlambat tanpa kabar. Soal kamu hamil, itu urusan kamu dan keluargamu, bukan urusan buku kas.” Ia memakai kacamatanya lagi. “Yang saya butuhkan hanya tiga hal. Pertama, kamu tidak mengangkat barang berat. Kedua, kalau capek atau mual, kamu duduk dan bilang. Ketiga, kalau dokter menyarankan istirahat, kamu bawa suratnya ke saya.”
“Itu saja?”
“Itu saja. Soal cuti nanti, kita bicarakan kalau waktunya tiba. Belum perlu sekarang. Aturan kafe ini ada, dan saya yang pegang aturannya, jadi kamu tidak perlu menebak-nebak.” Pak Rudi mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen. “Dan kamu tidak wajib mengumumkan ini ke siapa pun. Kalau kamu mau bilang, silakan. Kalau tidak, itu hakmu. Saya tidak akan membicarakannya dengan orang lain tanpa izinmu.”
Tenggorokan Miyu mengencang. Ia sudah menyiapkan sepuluh jawaban untuk sepuluh kemungkinan, dan tidak satu pun untuk kemungkinan ini.
“Terima kasih, Pak,” bisiknya.
“Jangan terima kasih. Itu standar.” Pak Rudi menunduk kembali ke struknya, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit. “Lagi pula, kamu pegawai yang kalau sakit masih bilang nggak apa-apa. Saya lebih suka kamu sehat daripada hebat.”
Brak!
Sesuatu menabrak pintu dari luar. Miyu dan Pak Rudi menoleh bersamaan. Pintu yang tidak tertutup rapat itu terayun terbuka, dan Ira terjungkal masuk dengan kedua tangan terentang, seperti orang yang terlalu bersandar pada dinding yang tiba-tiba hilang.
“Ira,” ujar Pak Rudi datar.
“Saya… cuma lewat, Pak.” Mata Ira merah dan basah, pipinya yang bulat penuh bekas aliran air. “Lewat sambil… denger.”
“Ira!” seru Miyu.
Tetapi Ira sudah berlari, dan sebelum Miyu sempat berdiri, ia sudah memeluknya dari samping sambil terisak keras sekali. Bahu Ira berguncang. Poni ikalnya basah menempel di dahi Miyu.
“Gue nggak bakal bilang siapa-siapa, Tha, gue sumpah, demi semua biji kopi di dunia. Lo kuat banget. Lo sendirian ngadepin ini dan gue malah ngeledekin lo pas mual. Gue jahat. Gue bodoh.”
“Ra, lo nggak jahat. Lo nggak tahu.”
“Tetap aja!”
Pak Rudi berdeham dan menunjuk jam dinding. “Ruang saya bukan tempat menangis bersama. Tapi kali ini saya biarkan sepuluh menit. Setelah itu, buka kafe.”
Ia berdiri, meraih kotak tisu dari rak, dan meletakkannya di depan mereka sebelum keluar sambil menutup pintu pelan dari luar.
Ira menyeka hidung dengan lengan seragamnya. “Tha,” bisiknya, napasnya masih tersendat. “Yang bayarin kamar itu… Tuan Jepang, kan? Dia tahu lo hamil?”
Miyu menatap kotak tisu sebentar. Ia tidak mau berbohong kepada Ira. Tetapi ia juga belum bisa mengatakan semuanya.
“Dia tahu gue hamil,” jawab Miyu pelan. “Tapi dia nggak tahu hal lain.”
Ira berkedip. Dahinya berkerut, bibirnya terbuka seakan hendak bertanya, lalu menutup lagi. Satu detik. Dua detik.
“Oke,” ujar Ira akhirnya. Ia mengacungkan kelingking, seperti anak SD. “Gue diam. Janji kelingking.”
***
Ira membuktikan janjinya selama lima jam berikutnya dengan susah payah.
Ia menyiapkan gelas dengan wajah kaku. Ia mencatat pesanan tanpa mengucapkan satu pun lelucon. Setiap kali Miyu melintas membawa nampan, Ira langsung merebutnya dan mengganti dengan bungkusan permen jahe, tisu, atau bahkan sekali, sebuah bantal kecil dari ruang istirahat yang entah ia temukan di mana.
“Ra, gue bukan pasien.”
“Gue nggak bilang lo pasien.”
“Terus ini bantal buat apa?”
“Buat… punggung.”
Seorang pelanggan perempuan paruh baya memperhatikan mereka dari meja dekat pintu, lalu tersenyum sambil menggeleng. “Kompak sekali kalian. Seperti kakak-beradik.”
Ira nyaris menjawab sesuatu yang panjang dan penuh bunga. Ia sempat menahan napas. Reno, dari balik mesin espresso, melirik tajam, lalu kembali menuang susu tanpa komentar. Barulah Ira mengembuskan napas dan hanya berkata, “Iya, Bu. Kami memang kompak.”
Menjelang pukul satu, Kanata datang dengan setelan yang sama dan langkah yang sama tenangnya. Ira langsung berdiri kaku seperti patung di balik kasir.
“Selamat siang, Nona Ira,” sapa Kanata. “Satu porsi seperti kemarin, dan tehnya.”
“Siap, Tuan! Siap banget!” Ira menekan tombol dengan tenaga yang cukup untuk membuat layarnya berderak. “Mau… tambah air? Tisu? Bantal?”
Kanata menatapnya. “Bantal?”
“Maksud saya, kursi. Kursi yang empuk.”
“Kursi biasa sudah cukup.” Kanata memiringkan kepala sedikit, dan Ira melihat kerutan kecil muncul di antara alisnya. “Nona Ira, apakah Anda sakit?”
“Nggak, Tuan! Sehat walafiat! Silakan duduk!”
Kanata berjalan ke meja dekat jendela dengan wajah orang yang menahan satu pertanyaan lagi. Dari balik pintu dapur, Miyu menutup mulut dengan kedua tangan.
Pukul dua siang, saat kafe lengang, Ira menyelinap ke gudang kecil tempat Miyu sedang menghitung stok. Ia menutup pintu, bersandar di sana, lalu menunjuk dagunya ke arah dapur belakang.
“Tha. Reno.”
“Kenapa Reno?”
“Dari tadi dia ngelihatin gue kayak gue lagi nyembunyiin mayat.” Ira menggigit kuku. “Dia pasti curiga. Dan lo tahu sendiri, dia peka. Peka banget. Kalau dia sampai nyimpulin sendiri atau dengar dari orang lain, dia bakal ngerasa kita sengaja ngelewatin dia.”
Miyu terdiam dengan buku catatan di tangan. Ia ingat Reno yang meletakkan gelas air lemon di konter pagi tadi tanpa kata. Ia ingat buket mawar yang salah beli.
“Dia harus dengar dari lo,” lanjut Ira, kali ini tanpa senyum sedikit pun. “Bukan dari gue, bukan dari Pak Rudi, bukan dari siapa pun. Dari lo sendiri, Tha. Dia pantas.”