Dapur belakang Anomali punya satu jendela kecil yang menghadap tembok, dan Reno selalu memilih berdiri di dekatnya kalau sedang menggiling biji kopi. Miyu tahu karena sudah dua pagi berturut-turut ia mencoba mencari waktu yang tepat, dan dua pagi berturut-turut ia gagal.
Pagi ini ia berhenti mencari.
“No.”
Reno tidak menoleh. Mesin penggiling terus berdengung sampai biji terakhir turun ke wadah, lalu ia mematikannya. “Hm.”
“Gue mau bilang sesuatu.”
“Gue dengerin.”
Miyu menarik napas. Dalam kepalanya ia sudah menyusun lima versi kalimat pembuka, dan kini semuanya hilang. “Gue hamil.”
Reno diam.
Ia masih menghadap jendela, tangan kirinya memegang wadah kopi, tangan kanan menggantung kaku di sisi tubuh. Tembok di luar jendela adalah satu-satunya hal yang ia tatap, dan Miyu berdiri dengan jantung berdetak keras di antara tulang rusuk.
Sepuluh detik. Dua puluh.
“Dua bulan lebih,” tambah Miyu akhirnya, terlalu cepat. “Gue nggak bilang dari awal karena gue sendiri baru yakin pas pingsan itu. Maaf, No. Gue nggak maksud nyembunyiin. Cuma… gue takut orang-orang jadi—”
“Gue udah curiga.”
Miyu mengerjap. “Hah?”
“Dari lo pingsan.” Reno akhirnya berbalik. Wajahnya sama datarnya seperti biasa, tetapi matanya bergerak cepat memeriksa Miyu dari wajah sampai ujung sepatu, seperti sedang mengecek cetakan barista yang baru. “Lo mual tiap pagi sebelum Kanata dateng. Lo nolak kopi dua minggu. Lo nggak pernah nolak kopi.”
“Gue kira nggak ada yang merhatiin.”
“Gue merhatiin.” Reno meletakkan wadah kopi di meja dan mengusap tangannya ke celemek. “Gue nggak nanya karena itu bukan urusan gue.”
Dada Miyu terasa penuh dan longgar sekaligus. “Lo nggak marah?”
“Marah ke siapa?” Reno mengangkat alis. “Ke lo? Ke bayinya? Gue nggak sebodoh itu.”
Hening sebentar. Dari ruang depan terdengar Ira bersenandung tanpa nada sambil menata kursi. Reno menggaruk belakang kepalanya, lalu mengalihkan pandangan ke langit-langit dengan ekspresi orang yang sedang mencari kalimat di tempat yang salah.
“Mawar itu,” ujarnya pelan, “salah beli. Anggap aja begitu.”
Miyu menatapnya.
“Dan kalau ada yang bikin lo sedih, bilang.” Reno mengangkat bahu seakan baru bicara soal harga biji kopi. “Siapa pun. Ke gue juga boleh. Gue nggak bakal banyak nanya.”
Matanya tidak lari. Miyu tidak bisa menjawab, jadi ia hanya mengangguk, dan untuk sesaat dapur itu terasa lebih luas daripada ukurannya.
“Makasih, No.”
“Hm. Sekarang bantuin gue ambil susu. Lo jangan angkat yang berat. Lo ambil yang kecil.”
***
Santa tiba bersama Kanata pukul satu siang, dan kafe yang tadinya tenang mendadak bergetar.
“Jadi ini tempatnya!” Santa berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangan terbentang, rambut hitamnya acak-acakan dan dasinya miring. Ia berbicara dengan volume yang jauh lebih keras daripada kebutuhan, seperti turis di depan menara. “Anomali! Kafe tempat Kanata makan siang tiap hari! Aku sudah mendengar banyak tentang dia, tetapi tidak ada yang menyiapkan aku untuk lampu gantung itu!”
“Santa,” desis Kanata dari belakangnya. “Suaramu.”
“Aku sudah pelan.”
“Kau tidak pernah pelan.”
Ira, yang sedang menyeka konter, terlonjak sampai kainnya jatuh. Ia menatap Santa, menatap Kanata, lalu menatap Miyu yang berdiri di balik rak gelas dengan nampan di tangan, dan wajahnya membentuk ekspresi seseorang yang baru saja diberi tahu ia harus menyambut presiden.
“S—Selamat siang, Tuan-Tuan! Eh, Tuan-Tuan yang… dua!” Ira membungkuk terlalu dalam, dahinya hampir mencium meja kasir. “Mau meja yang mana? Dekat jendela? Dekat pintu? Dekat toilet?”
“Ira,” ujar Reno datar dari belakang mesin espresso. “Nggak ada yang minta dekat toilet.”
“Maaf!”
Santa menoleh ke arah Miyu, dan sebelum Miyu sempat menunduk, pria itu melangkah mendekat dengan senyum selebar lebar pintu. “Nona Agatha! Senang bertemu lagi. Anda tampak jauh lebih sehat.”
“Terima kasih, Tuan Santa. Mari silakan duduk.”
“Kalau saya boleh memilih, saya ingin duduk di sebelah jendela, tapi Kanata sudah menguasai meja itu.” Santa melirik sahabatnya yang kini sudah duduk dengan ekspresi pasrah. “Dia tidak akan pindah meski dunia kiamat.”
Miyu terkekeh dan menunjukkan meja di sebelahnya. Santa membuka buku menu, membacanya terlalu lama, lalu menutupnya dengan khidmat.
“Ramalan bintang saya pagi ini menyebut bahwa orang Capricorn sebaiknya memesan sesuatu yang manis,” ujar Santa. “Tapi Kanata Capricorn dan dia tidak mau yang manis. Jadi saya yang memesan dua dessert, dan dia boleh makan setengahnya.”
“Aku tidak mau,” sahut Kanata.
“Kau akan mau.”
Dengan ekor mata Santa melihat Kanata meletakkan kedua tangan di atas meja, bahunya agak turun begitu melihat Miyu tidak tampak pucat lagi.
Kedua tamu itu baru memesan ketika lonceng pintu berdenting dan dua pria berseragam dokter melangkah masuk. Dokter Anggara memakai kacamata, tersenyum ramah seperti biasa. Dokter Devan di sebelahnya tampak seperti ingin langsung pergi dan tidur.
Ira membeku di belakang kasir.
Miyu bisa melihat seluruh tubuhnya mengeras, mulai dari jari yang mencengkeram tepi meja sampai bibirnya yang mulai membuka-tutup tanpa suara. Reno memperhatikan hal yang sama. Ia meletakkan teko susu perlahan, memiringkan kepala, dan berkata dengan nada rendah tetapi jelas.
“Ra.”
Ira menoleh seperti robot rusak.
“Ngomong,” kata Reno. “Satu kalimat. Gue di sini.”
Dokter Anggara sudah berdiri di depan konter dengan senyum siap-siap, menunggu. Beberapa detik berlalu. Santa menegakkan duduk di mejanya, seolah menonton pertandingan. Kanata menatap Santa dengan kening berkerut.
Ira menelan ludah. Mulutnya terbuka. Tertutup. Terbuka lagi.
“K—Kopi susu biasa, Dok?” bisiknya.
Dokter Anggara mengerjap, lalu senyumnya melebar sampai matanya menyipit. “Biasa. Iya. Terima kasih, Mbak Ira.”
Di sebelahnya, Dokter Devan mengangkat alis dengan tatapan yang tidak berubah sedikit pun. “Jadi bisa bicara,” gumamnya.
Ira langsung berbalik, menepuk-nepuk dadanya sendiri, dan kabur ke dapur sambil memekik tertahan. Reno menahan senyum yang nyaris tidak kelihatan. Miyu, di dekat meja Kanata, harus menggigit pipi dalamnya.
Di dapur, Miyu menemukan Ira bersandar pada rak piring dengan kedua tangan menutupi wajah, bahunya naik-turun.
“Gue ngomong, Tha,” bisik Ira dari sela jari. “Gue ngomong sama dia. Pakai kalimat. Lengkap.”
“Lo nanya kopi.”
“Itu kalimat lengkap!”
“Iya, itu kalimat lengkap.” Miyu menepuk punggungnya. “Hebat.”
“Dia ketawa, ya? Nggak, dia senyum. Matanya sampai hilang. Gue mau pingsan.” Ira menurunkan tangan dengan wajah sembap dan bahagia. “Tapi gue nggak bakal pingsan. Gue masih punya kerjaan. Bawa teh buat Tuan Jepang, gih. Gue butuh lima menit.”
Miyu mengambil teko dan kembali ke ruang depan, tepat ketika Santa bersandar ke kursi dan berbisik kepada Kanata dalam bahasa Jepang, suaranya sengaja dibuat rendah karena yakin tidak ada yang mengerti. “Kau menyukainya, bukan?”
“Diamlah,” jawab Kanata, juga dalam bahasa Jepang, tanpa menoleh.
Miyu yang baru saja tiba di meja mereka dengan teko, mendengar keduanya dengan jelas. Tangannya berhenti setengah detik di atas tatakan. Ia tidak tahu apakah Santa sedang bicara soal Ira dan dokter, soal kafe, atau soal sesuatu yang lain sama sekali. Dan ia tidak berani menebak.
“Silakan,” ujarnya dalam bahasa Indonesia, lalu berbalik sebelum ada yang memperhatikan telinganya yang memerah.