Ada tiga hal yang salah dengan Tuan Jepang pada Senin siang, dan Ira mencatat semuanya di kepala sambil pura-pura mengelap meja.
Satu, ia datang pukul sebelas lewat empat puluh, dua puluh menit lebih awal dari biasa. Dua, ia memesan Nasi Goreng Kampung dan loose leaf tea, padahal biasanya ia memesan hal lain. Tiga, ketika Ira menaruh teh di mejanya, pria itu mengaduk cangkir dengan garpu. Sepanjang itu matanya tak lepas dari ponsel di samping piring, layar yang sama dibuka dan dikunci berulang kali, seperti orang yang menimbang satu pesan pendek yang sudah ia hafal di luar kepala.
“Tuan,” bisik Ira. “Itu garpu.”
Kanata menunduk, menatap alat di tangannya seperti baru melihat benda itu pertama kali. “Terima kasih,” katanya sopan, lalu meletakkannya dan mengambil sendok. Sendok itu ikut terjatuh ke lantai, berdenting nyaring.
Ira mundur ke mesin kasir dengan mata bulat. Reno, yang sedang menakar biji kopi, mengangkat kepala. Ia memang peka pada hal-hal aneh.
“Lo lihat?” desis Ira.
“Lihat.”
“Dia ngaduk teh pakai garpu, No.”
“Gue lihat.” Reno kembali menakar. “Jangan ikut campur.”
Miyu keluar dari dapur membawa nampan, dan seisi kafe seakan menahan napas. Ia meletakkan Nasi Goreng Kampung di meja Kanata dengan kedua tangan yang terlalu hati-hati.
“Selamat siang, Tuan Saionji.”
“Selamat siang, Nona Agatha.” Kanata menatap piring, bukan wajahnya. “Apakah… Anda sudah makan?”
“Sudah. Roti.”
“Itu bukan makan siang.”
“Itu cukup untuk sekarang.” Sudut mulut Miyu bergerak, nyaris tersenyum, lalu ia pergi sebelum sempat memutuskan.
Ira menyaksikan seluruhnya dengan mulut setengah terbuka.
“Gue bukan ikut campur, gue pengamat.” Ira menyipitkan mata ke arah dapur, tempat Miyu sedang menyusun cangkir dengan terlalu banyak konsentrasi. Sejak pagi sahabat kasirnya itu juga aneh. Matanya sembap tetapi bibirnya ditekan rapat, dan tiap kali pintu berdenting ia menegak seperti kucing dengar langkah kaki. Waktu Kanata masuk, mereka hanya saling mengangguk sekilas. Terlalu sekilas. Seperti dua orang yang sama-sama tahu sesuatu dan sama-sama tidak tahu harus berkata apa.
“Ini ada hubungannya dengan kamar Perdana itu,” gumam Ira. “Gue yakin.”
“Ira.”
“Hal lain yang belum ia jelaskan. Gue tahu pasti ada hal lain.”
“Ira.” Kali ini nada Reno lebih rendah. “Biarkan dia cerita kalau dia siap.”
Ira mendengus. Tetapi ia diam, dan hanya mengawasi ketika Kanata bangkit dari mejanya sebelum makanannya habis, melangkah ke belakang kasir, dan berbicara pelan dengan Pak Rudi selama hampir dua menit. Pak Rudi mengerutkan kening, lalu melirik ke arah Miyu, lalu mengangguk perlahan.
***
Pukul tiga kurang lima, Pak Rudi memanggil Miyu ke dapur dan berkata singkat, “Teras belakang. Tuan Saionji meminta waktumu sepuluh menit. Kamu boleh menolak. Saya sudah bilang begitu padanya.”
Miyu menatap lantai keramik sebentar. “Saya tidak menolak, Pak.”
“Baik. Teras itu tidak ada kamera dan tidak ada yang lewat.”
Teras belakang Anomali hanya selebar tiga meter, berpagar besi pendek yang ditumbuhi tanaman rambat, dengan dua kursi plastik dan satu meja kecil. Kanata sudah berdiri di sana, tangannya di saku. Begitu pintu terbuka ia menegakkan badan.
“Terima kasih sudah mau keluar,” ujarnya. “Saya tidak akan lama. Saya juga tidak membawa bunga atau apa pun. Saya pikir Anda tidak menginginkannya.”
“Anda benar.” Miyu nyaris tertawa, dan itu membuat dadanya sedikit lebih ringan. “Terima kasih sudah berpikir begitu.”
“Silakan duduk.”
“Saya lebih baik berdiri.” Ia menarik napas. Miyu baru kali itu melihat Kanata seperti ini: bukan tenang, bukan pula gugup, melainkan seperti orang yang menghafal kalimat sepanjang malam dan takut urutannya lupa. “Nona Agatha. Menikahlah dengan saya.”
Burung gereja di pagar terbang. Suara blender dari dalam kafe menyela dan berhenti.
“Maaf?”
“Saya sudah memikirkannya dua malam. Bila kita menikah, anak itu mendapat nama saya secara sah. Anda mendapat perlindungan hukum, hak atas tempat tinggal dan biaya, dan tidak ada yang bisa mempertanyakan asal-usulnya. Saya tidak meminta Anda mencintai saya. Saya tidak meminta apa pun, selain Anda mengizinkan saya melakukan yang benar.”
Kata benar itu menggantung. Miyu menatap kedua tangan Kanata yang masuk ke saku, kemudian keluar lagi, tidak tahu harus ke mana.
“Anda melamar karena tanggung jawab,” ujarnya pelan.
“Saya melamar karena itu cara yang saya tahu.”
“Saya tahu.” Miyu menunduk, lalu mengangkat wajah, dan sekarang suaranya stabil dengan cara yang menyakitkan. “Dan itu sebabnya saya menolak.”
Kanata tidak bergerak.
“Saya tidak mau dinikahi karena berutang, Tuan Saionji. Dan tidak mau dinikahi karena kasihan.” Ia menggenggam pinggiran celemeknya. “Anda sudah dengar sedikit di rumah sakit, tentang teman kuliah yang memakai kata balas budi untuk menyuruh saya mengerjakan tugasnya. Dia tidak memukul saya. Dia hanya membuat saya merasa berutang, sedikit demi sedikit, sampai saya tidak bisa menolak apa pun. Bertahun-tahun saya jaga supaya hal itu tidak terulang.”
“Saya bukan dia.”
“Saya tahu Anda bukan dia. Anda jauh lebih baik, itulah masalahnya.” Suara Miyu pecah sedikit. “Orang baik yang menolong, pada akhirnya, adalah orang yang paling sulit ditolak. Anda sudah melunasi kamar, Anda mengantar saya ziarah, Anda membaca buku kehamilan. Kalau saya terima juga nama Anda, apa lagi yang tersisa yang bisa saya sebut milik saya sendiri? Saya takut suatu hari saya akan bangun dan sadar saya tidak lagi memilih apa-apa. Saya hanya membayar.”
Kanata terdiam cukup lama. Kali ini bukan diam yang canggung. Ia seperti sedang membaca kalimat itu perlahan, dari awal sampai akhir, dua kali.
“Jadi bukan karena Anda tidak mau saya,” ujarnya akhirnya.
“Bukan.” Miyu menggeleng cepat. “Bukan itu. Saya belum tahu apakah… saya tidak tahu apa yang saya mau. Itu justru yang membuat saya tidak bisa menjawab ya.”
“Lalu apa yang boleh saya lakukan?” tanya Kanata. Tidak ada nada membujuk dalam suaranya, hanya pertanyaan yang jujur dari seorang pria yang tidak tahu cara melakukan sesuatu setengah-setengah. “Katakan, dan saya lakukan. Atau saya diam. Atau saya pergi.”
Miyu menatap tanaman rambat di pagar. Di dalam perutnya, sesuatu yang belum ia rasakan menunggu pekan-pekan lagi untuk bergerak, tetapi ia menaruh telapak tangan di sana tanpa sadar.
“Jadilah ayahnya,” ujarnya. “Itu cukup.”
Kanata menatapnya. Sesuatu bergerak di wajah yang biasa datar itu, tak bisa dinamai, seperti pintu yang dibuka sedikit oleh angin.
“Seperti apa seorang ayah, menurut Anda?” tanyanya. “Saya tidak punya contoh yang baik untuk ditiru.”
“Datang.” Miyu menjawab tanpa berpikir, dari tempat yang lebih dalam daripada logika. “Hadir. Bertanya apakah dia sudah makan. Bukan membayar tagihan, bukan memberi nama. Cukup datang.”
“Itu bukan hal kecil,” katanya.
“Memang bukan. Tapi itu hal yang bisa saya terima, tanpa merasa terutang.”
“Dan di luar itu?” Kanata bertanya hati-hati. “Ada yang ingin Anda minta supaya saya tidak melangkahi garis?”
Miyu berpikir. Dari dalam kafe terdengar mesin espresso mendesis, lalu tawa Ira yang cepat dibekap.
“Jangan mengambil keputusan untuk saya,” katanya. “Sekecil apa pun. Pesan makan, memilih dokter, membayar. Tanyakan dulu. Kalau saya bilang tidak, jangan dicari jalan memutarnya.”
“Itu aturan yang adil.”
“Anda tidak keberatan?”
“Saya keberatan,” jawab Kanata jujur. “Kebiasaan saya memang mengurus semuanya sendiri. Tetapi saya lebih keberatan lagi kalau Anda harus takut kepada saya.”
Miyu menatapnya agak lama, lalu menunduk menahan sesuatu yang bukan tangis.
“Satu lagi,” tambah Kanata. “Teh di kafe ini. Saya akan tetap memesannya, tetapi saya akan berhenti mengaduknya dengan garpu.”
Kali ini Miyu benar-benar tertawa, pendek, dan terkejut oleh suaranya sendiri.
“Kalau begitu saya mengerti.” Ia menegakkan bahu. Sembilan hari tersisa dari dinasnya, dan hitungan itu jatuh begitu saja dari kepalanya. “Saya akan memperpanjang dinas.”