Pak Rudi menaruh kertas bertuliskan “Reservasi” di meja sudut Anomali pukul tiga lewat lima menit, lalu pergi tanpa bertanya apa pun. Itulah yang Miyu syukuri dari manajernya: ia bisa meminjamkan sebuah meja tanpa meminta alasan.
Nana tiba pukul empat kurang sepuluh dengan map cokelat dan blok kuning, dan duduk di kursi yang menghadap pintu, seperti kebiasaan pengacara yang tak percaya pada punggung sendiri. Santa datang lima menit kemudian bersama Kanata, mengenakan wajah yang ia anggap biasa. Wajah itu mengingatkan Miyu pada orang yang baru saja menelan satu sendok garam.
“Selamat sore, Miyu. Nona Nana.” Santa membungkuk sedikit. “Saya diminta hadir sebagai saksi.”
“Lo bukan saksi, lo penonton,” kata Nana. “Duduk.”
“Baik, Nona Nana.”
Ira lewat dengan nampan berisi empat gelas air putih yang tidak dipesan siapa pun, melirik mereka berempat dengan tatapan penyelidik, dan baru berhenti ketika Reno menarik celemeknya dari belakang.
“Baik,” ujar Nana, membalik blok kuning. “Ini bukan perjanjian tertulis. Gue sengaja tidak membuatnya, karena Miyu belum mau menandatangani apa pun, dan gue hargai itu. Anggap ini kesepakatan lisan yang gue catat supaya semua orang di meja ini ingat persis apa yang dikatakan. Ada lima butir. Interupsi dipersilakan, tapi pakai tangan.”
“Pakai tangan?” ulang Santa.
“Angkat tangan. Kayak sekolah.”
Santa mengangkat tangan sebelum Nana selesai. “Bolehkah saya menyebut bahwa saya setuju sebelum mendengar?”
“Tidak. Turunkan.”
Miyu menahan senyum di balik cangkir. Di seberangnya Kanata duduk tegak, tangannya terlipat di atas meja, dan ia terlihat seperti orang yang bersiap mendengar putusan hakim.
“Butir satu,” kata Nana. “Biaya medis Miyu dan bayi ditanggung Kanata sebagai kewajiban seorang ayah. Bukan utang. Tidak dicatat sebagai pinjaman. Tidak akan pernah ditagih, dengan cara apa pun, termasuk lewat kata-kata. Setuju?”
“Setuju,” jawab Kanata.
“Tambahan,” sela Miyu, mengangkat tangan setengah malu. “Kalau suatu hari saya ingin memberi sesuatu, saya yang memilih caranya. Itu kompromi dari rumah sakit, dan saya tidak mau dia hilang dari catatan.”
“Dicatat.” Nana menulis dengan huruf tebal. “Tambahan Miyu diterima.”
“Butir dua. Tidak ada pernikahan karena paksaan, tekanan, atau rasa kasihan. Tidak dari Kanata, tidak dari keluarga Kanata, tidak dari siapa pun. Pernikahan hanya bila Miyu sendiri yang bilang ya.”
Kanata menatap Miyu sebentar. “Setuju.”
“Butir tiga. Tidak seorang pun diberi tahu siapa ayah bayi ini tanpa persetujuan Miyu. Termasuk keluarga Kanata. Termasuk kolega. Termasuk Mikan.”
“Saya bersumpah,” ujar Santa. Nana menatapnya, dan ia menurunkan tangannya yang entah kapan terangkat lagi.
“Butir empat. Pada waktunya, Kanata sendiri yang memberi tahu Hosho. Bukan staf, bukan kabar angin, bukan Santa. Dan waktunya ditentukan bersama.”
“Setuju,” kata Kanata. Suaranya sedikit berat. “Itu hak yang paling tepat. Saya yang harus mengatakannya.”
“Butir lima.” Nana mengetuk pena ke blok. “Pertemuan teratur, di tempat umum atau di sini, supaya kalian saling kenal sebagai dua orang yang akan jadi orang tua. Bukan dua orang yang punya kartu nama. Setuju?”
Miyu dan Kanata menjawab hampir bersamaan. “Setuju.”
“Bagus.” Nana menutup blok. “Gue simpan salinannya. Siapa pun melanggar satu butir, gue tahu, dan gue punya waktu seumur hidup untuk mengingatkan.”
“Itu mengerikan,” bisik Santa kepada Kanata.
“Itu Nana,” sahut Miyu dan Kanata, nyaris serempak.
Mereka berpandangan sekejap. Miyu yang lebih dulu memalingkan muka, tetapi ia tahu pipinya hangat, dan ia tahu Nana melihatnya.
“Muka lo merah,” bisik Nana ketika Kanata dan Santa pergi ke kasir untuk memesan teh. “Padahal ini bukan negosiasi yang romantis.”
“Itu AC.”
“AC Anomali rusak dari bulan lalu.” Nana mengunci mapnya dengan bunyi klik yang puas. “Gue tidak bilang apa-apa. Gue cuma mencatat.”
“Lo percaya dia?” tanya Miyu pelan, matanya mengikuti punggung Kanata di antrean kasir.
“Gue tidak percaya siapa pun sampai dua bulan,” jawab Nana. “Tapi gue lihat dia tadi. Setiap butir, dia menjawab setelah melihat lo dulu, bukan setelah melihat gue. Orang yang cuma mau menang negosiasi melihat pengacaranya.”
“Itu bukan bukti.”
“Memang bukan. Itu kebiasaan. Dan kebiasaan lebih susah dipalsukan daripada janji.”
Dari kasir, Santa menoleh dan melambai dengan dua jari, seperti anak yang baru lolos ujian. Miyu membalas dengan anggukan kecil, dan untuk pertama kalinya sejak Sabtu ia merasa lantai di bawah kakinya cukup kokoh untuk ditumpangi.
***
Gedung kantor Saionji Phantom di Sudirman punya satu pintu yang jarang dipakai orang: tangga darurat di ujung lorong lantai dua puluh, naik sembilan anak tangga, lalu pintu besi berat bertulisan “Akses Atap”. Kanata menemukannya pada bulan pertama dinasnya, ketika kepalanya terlalu penuh dan lift terlalu ramai.
Malam itu ia membukanya sendirian, pukul enam kurang sepuluh. Ia jarang menyebut kepada siapa pun bahwa di atap inilah, di antara pipa-pipa pendingin dan pagar besi setinggi dada, ia biasa berdiri tiap kali kepalanya menolak diam. Santa tahu, Mikan tahu, tetapi tak seorang pun pernah ikut naik. Tempat itu miliknya sendiri, dan ia baru sadar betapa jarang ia punya sesuatu yang begitu.
Angin langsung menyapu dasinya. Di bawah, Jakarta menyala sedikit demi sedikit, ratusan ribu lampu mobil membentuk sungai merah dan putih, gedung-gedung menyala dari dalam, dan di kejauhan, cahaya terakhir matahari memudar menjadi garis jingga di atas Menteng. Menteng. Ia menatap arah itu lebih lama dari yang ia sadari. Di sana ada kafe dengan jendela besar, kasir yang tersenyum saat berpura-pura tidak mual, dan sebuah bangku di bawah pohon besar.
Ia teringat catatan jadwalnya: dinas berakhir tujuh hari lagi. Tiket pulang sudah dipesan Santa sejak awal, kursi bisnis, tanggal yang bisa dibaca sekilas. Ia memikirkan Revindo, yang besok pagi menunggu persetujuan gambar bagian depan toko. Dan ia memikirkan sebuah ruang tunggu dokter yang belum pernah ia masuki. Ia membayangkan dirinya duduk di kursi bisnis itu, memandang awan, membawa kartu nama di saku jas, dan perasaan yang naik di dadanya bukan lega. Penolakan. Seperti anak yang disuruh pulang dari pesta sebelum kuenya dipotong.
Ia tidak ingin pulang.
Ia mencoba membantahnya dengan alasan. Ada kantor pusat yang menunggu, ada rapat dewan, ada kamar di Tokyo dengan jendela menghadap sungai. Tiap alasan terdengar benar dan tidak satu pun terasa seperti miliknya. Yang miliknya hanya satu: lima butir di blok kuning, dan kalimat tambahan Miyu yang ditulis dengan huruf tebal.
Pikiran itu sederhana, dan Kanata terlalu terbiasa pada rencana untuk tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Ia bukan orang yang menunda keputusan. Ia memutuskan, lalu menjalankan. Tetapi di atap ini, di bawah langit yang berubah warna, keputusan itu sudah dibuat bahkan sebelum ia mengakuinya.
Ponselnya bergetar. Mikan.
Ia menekan nama itu sendiri. Mikan menjawab pada dering kedua, dan suaranya menyambar dalam bahasa Jepang tanpa salam.
“Sepupu Kecil. Kau menelepon pada jam yang kau tahu aku sedang makan. Ada apa?”
“Dinasku diperpanjang.”
“Diperpanjang?” Mikan berhenti mengunyah. “Kenapa baru bilang sekarang?”
“Aku baru memutuskan.” Kanata menyandarkan siku di pagar besi yang dingin. “Pop-up store Seiko Sai. Revindo butuh pengawasan langsung. Itu alasan resminya.”
“Alasan resmi.” Mikan mengucapkannya pelan-pelan. “Ada alasan tidak resmi?”
“Tidak untuk sekarang.”
Hening beberapa detik, dan Kanata hampir bisa membayangkan Mikan di Tokyo, menyipitkan mata dan mengetuk kuku di meja.
“Baik. Aku tidak akan bertanya.” Lalu suaranya turun, dan nadanya berubah, jauh dari sinisme biasanya. “Tapi dengar, Kanata. Hosho sudah memesan tiket. Ia tidak mau menunggu kau pulang. Ia akan menjemputmu sendiri, tiba di Jakarta dua pekan lagi. Dan aku sudah tidak bisa menahannya.”
Kanata menutup mata. Di bawahnya, seluruh kota terus menyala seakan tidak ada yang berubah.