Tiga hari sesudah telepon Mikan dari atap, ruang tunggu praktik Dokter Raina berbau antiseptik dan lilin aromaterapi, dua hal yang berusaha menutupi satu sama lain dan sama-sama gagal. Miyu duduk di kursi rotan dekat jendela dengan formulir di pangkuan. Di sisi kirinya Nana menyilangkan kaki, membaca majalah ibu dan anak seperti membaca berkas gugatan. Di sisi kanannya, dengan jarak sebesar satu kursi kosong yang jelas disengaja, Kanata duduk tegak memegang sebuah map plastik, sementara ponselnya, yang sudah dua kali ia periksa sejak masuk, menyimpan satu hitungan yang tidak ia ceritakan kepada siapa pun: sebelas hari lagi sebelum Hosho mendarat.
“Itu apa?” tanya Miyu.
“Daftar pertanyaan.” Kanata membuka map itu sedikit. “Saya menulisnya semalam dari buku nomor tiga. Saya tidak tahu mana yang sopan ditanyakan di ruang periksa.”
“Berapa pertanyaan?”
“Tiga puluh dua.”
Nana mendengus, tidak mengangkat mata dari majalahnya. “Dokter Raina cuma punya dua puluh menit untuk pasien, Tuan Saionji.”
“Kalau begitu saya akan memilih sebelas yang paling penting.”
“Pilih lima.”
“Tujuh.”
“Lima.” Nana menutup majalah dengan bunyi tepuk. “Gue menemani, bukan untuk ikut masuk. Gue tunggu di sini. Yang masuk Miyu, dan kalau dia bilang cukup, kalian cukup.”
“Saya menurut,” jawab Kanata, dan Miyu menunduk supaya tidak tertawa.
Satu minggu lalu, Miyu tidak akan membayangkan duduk di ruang tunggu seperti ini, dengan seorang pria di sampingnya yang tahu persis apa yang terjadi pada malam yang paling ingin ia hapus. Tetapi ia juga tidak membayangkan dirinya bisa merasa seringan ini setelah membuka rahasia itu. Tiga hari berlalu sejak kesepakatan di meja sudut. Ia sudah tiga kali makan siang bersama Kanata di kafe, di meja yang terlihat orang, dan di setiap meja Kanata menyisakan jarak sebesar satu kursi kosong, seolah mengukurnya dengan penggaris.
Di seberang ruangan, seorang laki-laki muda duduk memangku balita yang sedang berusaha memanjat lengan kursinya. Anak itu terjatuh, tidak menangis, dan ayahnya menangkap bajunya dengan satu tangan tanpa menoleh dari ponsel. Kanata memperhatikannya terlalu lama. Miyu bisa melihat gerak halus di rahangnya, seperti orang mempelajari gerakan yang harus ia kuasai dalam beberapa bulan, bukan beberapa tahun.
“Mereka biasa begitu,” bisik Miyu. “Ayah-ayah. Tangannya sudah tahu sendiri.”
“Tangan saya belum tahu apa-apa,” jawab Kanata, jujur sampai membuat Miyu ingin tersenyum.
“Bu Agatha,” panggil seorang perawat dari balik pintu. “Silakan masuk. Bapaknya juga, kalau berkenan.”
Miyu menoleh kepada Kanata. “Anda boleh ikut,” katanya. “Kalau Anda mau.”
“Saya mau.” Kanata berdiri, merapikan jasnya yang sudah rapi. “Terima kasih sudah bertanya dulu.”
***
Dokter Raina menyambut dengan senyum yang membuat orang merasa tidak sedang di rumah sakit. Ia sudah menyiapkan layar, gel, dan satu kursi tambahan di sisi kepala tempat tidur periksa.
“Bapak bisa duduk di sini. Atau berdiri kalau lebih nyaman.”
Kanata menatap Miyu. “Apakah saya boleh berdiri di sini?” tanyanya, menunjuk sisi kiri tempat tidur, cukup jauh dari area yang akan diperiksa.
“Boleh.”
Ia berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, matanya lurus ke layar, bukan ke tubuh Miyu. Miyu menyadari, dengan rasa hangat yang aneh, bahwa pria itu memberinya ruang dengan sengaja.
“Kita mulai ya, Bu Agatha. Gelnya dingin sedikit.”
Dingin memang. Miyu menahan napas ketika transduser menyentuh perutnya, lalu gambar abu-abu bergerak di layar, berkabut, tidak jelas. Dokter Raina menggeser alatnya pelan, mengamati.
“Nah.”
Satu kata itu cukup untuk membuat ruangan sunyi.
Di layar, sesuatu yang kecil dan terang muncul. Bukan lagi sekadar bayangan. Ada kepala yang bulat, ada tubuh melengkung seperti huruf C, dan dua tonjolan kecil di sisi yang bergerak. Tangan. Dan di bawahnya, dua tonjolan yang lain, lebih pendek, yang menendang sekali lalu diam.
“Dua belas pekan,” ujar Dokter Raina. “Ukuran sesuai usianya. Ini kepalanya, ini badan, tangan, kaki. Dan ini…”
Dokter Raina menekan tombol. Suara berdenyut memenuhi ruangan, cepat, ritmis, seperti derap kuda kecil yang berlari di dalam dada.
Miyu menutup mulut dengan tangan. Di balik telapaknya, nyaris tanpa suara, ia membisikkan sesuatu dalam bahasa Jepang.
“Seratus lima puluh kali per menit,” kata Dokter Raina. “Sangat baik. Itu jantungnya.”
Miyu tidak bisa berkata apa pun. Ia sudah mendengar suara ini sekali, pada kunjungan yang lalu, tetapi saat itu hanya titik samar. Sekarang ada bentuk. Ada tangan. Ada seseorang di dalam sana yang sedang bergerak, dan seseorang itu miliknya.
Ia menoleh sekilas. Kanata tidak bergerak. Wajahnya diam seperti patung, tetapi tangan di belakang punggungnya sudah saling mencengkeram begitu kuat sampai buku jarinya memutih. Matanya tidak berkedip dari layar. Di sudut mata kirinya, sesuatu berkilat dan ia segera menarik napas panjang.
“Papanya?” tanya Dokter Raina ramah, menatap Kanata, “mau lihat lebih dekat?”
Miyu menegang. Ia tahu pertanyaan itu wajar. Ia juga tahu jawaban paling aman: teman, kenalan, orang yang menemani. Itu yang selama ini ia, dan Kanata, katakan kepada setiap orang yang bertanya.
“Saya ayahnya,” ujar Kanata.
Hanya itu. Tenang, jelas, tanpa jeda. Seakan kalimat itu sudah menunggu lama di tenggorokannya.
Miyu menoleh dengan kaget. Ia belum pernah memberinya izin untuk berkata begitu kepada orang lain, dan sebelum ia bisa mengeluh, Kanata menunduk sedikit ke arahnya.
“Maaf, saya tidak bertanya dulu,” bisiknya. “Hanya kepada dokter. Bila Anda keberatan, saya tidak akan mengulangnya.”
Miyu menatapnya. Di layar, tangan kecil itu bergerak lagi, melambai pada siapa pun yang ingin melihat. “Tidak apa-apa,” bisiknya balik. “Itu benar.”
Dokter Raina tersenyum dan pura-pura sibuk dengan alatnya. “Wah, jadi sudah ada ayahnya. Bagus. Bapak boleh mendekat kalau mau.”
Kanata melangkah satu langkah, tidak lebih. “Terima kasih, Dokter. Saya cukup di sini.”
“Pertanyaan?” tanya Dokter Raina, geli.
“Kapan ia mulai bergerak? Maksud saya, yang bisa dirasakan.”
“Gerakan pertama biasanya terasa antara pekan kedelapan belas sampai kedua puluh. Seperti kupu-kupu, atau gelembung kecil. Kadang ibu-ibu mengiranya perut kembung.” Dokter Raina tertawa. “Bu Agatha nanti akan tahu. Bapak mungkin baru merasakannya dari luar sedikit setelahnya.”
“Delapan belas sampai dua puluh.” Kanata mengulangnya seperti menghafal. “Terima kasih.”
Sisa pemeriksaan berjalan cepat. Dokter Raina mencetak gambar, mengukur, mengisi catatan, dan mengatakan bahwa semuanya sehat, bahwa Miyu perlu lebih banyak makan, bahwa vitamin harus diminum tiap hari tanpa dilewat. Kanata menyimak dengan wajah murid yang takut ketinggalan satu kata pun, dan dari tiga puluh dua pertanyaannya, ia hanya sempat menanyakan lima, persis seperti yang diminta Nana. Yang kelima ia ajukan dengan suara kecil: “Apakah saya boleh meminta satu salinan gambarnya? Bukan yang untuk Nona Agatha. Satu lagi.”
“Tentu, Pak.” Dokter Raina menyerahkan cetakan kedua dengan senyum yang tidak ia sembunyikan. “Biasanya ayah-ayah menaruhnya di dompet.”
Kanata menyelipkannya ke saku dalam jas tanpa berkata apa-apa.
Ketika perawat menyerahkan hasil cetak, Miyu masih berbaring. Ia menatap gambar kecil itu di tangannya. Dari samping, hampir tanpa suara, ia mendengar Kanata berbisik dalam bahasa ibunya sendiri, mungkin kepada gambar itu, mungkin kepada langit-langit, mungkin kepada apa pun yang mau mendengar.
“Arigatou.”
“Dou itashimashite,” jawab Miyu.
Kata itu keluar dari mulutnya sebelum otaknya sempat menghentikan. Ia membeku. Di sampingnya Kanata juga membeku, kepalanya berputar pelan, matanya menatapnya lurus untuk pertama kalinya hari itu.
Keduanya tidak berkata apa pun.