Sabtu pukul dua belas lewat lima, bel pintu Anomali berdenting, dan Ira, yang sedang menghitung uang kembalian, melihat seorang lelaki tua masuk sendirian dan lupa menghitung sisanya.
Lelaki itu memakai kemeja linen krem dan celana panjang abu-abu, tanpa jas, tanpa dasi, dengan tongkat kayu tipis di tangan kanan dan topi rajut di tangan kiri. Rambut putihnya disisir ke belakang. Ia berdiri di dekat pintu seperti seseorang yang memeriksa toko sebelum membelinya, dan tidak ada satu pun staf berjas hitam di belakangnya.
“Selamat siang, Pak,” ujar Ira terlalu cepat. “Mau—mau duduk di mana?”
“Meja yang paling bisa melihat semuanya.”
“Meja enam, Pak. Dekat jendela, dekat kasir juga.”
“Itu.”
Ira mengantarnya, dan di perjalanan yang pendek itu ia merasakan bulu kuduknya berdiri dua kali. Setelah menyerahkan menu, ia setengah berlari ke belakang bar. Reno sedang menggiling biji kopi, dan tanpa menoleh ia bertanya, “Siapa?”
“Kakek yang diceritakan Tha. Yang jetnya mendarat pekan lalu.”
Reno menghentikan gilingan. Dalam tiga detik ia sudah memeriksa meja enam, jalan keluar, dan posisi Miyu yang sedang melayani meja lima di sisi lain. “Panggil Pak Rudi.”
“Dia sudah di belakang saya,” sahut Pak Rudi, melangkah dari ruang kerja dengan kemeja yang dikancing sampai atas. Ia menarik napas, merapikan celemeknya, lalu berjalan ke meja enam dengan langkah yang tidak tergesa.
“Selamat siang, Tuan Hosho. Saya Rudi, manajer di sini.”
Hosho mengangkat mata dari menu. “Kau tahu siapa aku.”
“Saya tahu bahwa Anda tamu kami. Silakan pesan apa pun yang Anda inginkan, dan jika ada yang kurang, katakan langsung kepada saya.”
Sesuatu di wajah tua itu bergerak, hampir senyum. “Aku ingin teh. Dan makanan yang paling banyak dipesan hari ini.”
“Carbonara, Tuan.”
“Itu.”
***
Dari seberang ruangan, Miyu melihat semuanya dengan satu bagian kepalanya, sementara bagian yang lain sibuk mengantar dua piring nasi goreng. Tangannya stabil. Tidak ada yang tahu betapa keras jantungnya berdetak, karena ia menaruh piring dengan sangat pelan. Itu yang Nana sebut latihan: tubuh yang tenang membuat orang percaya pikirannya juga tenang.
Ponselnya bergetar di saku celemek. Ia mengambilnya di balik pilar.
Kanata: Hosho tidak ada di hotel. Santa baru tahu. Apa ia di sana?
Miyu: Ya. Meja enam. Sendirian. Pesan teh dan carbonara.
Kanata: Saya menuju ke sana.
Miyu: Jangan. Biarkan saya yang melayani.
Layar diam lama sekali.
Kanata: Baik. Saya di ruang kerja. Kalau kamu membutuhkan saya, satu pesan cukup.
Ia menyimpan ponsel itu, menarik napas, dan berjalan ke bar mengambil teh.
Selama satu jam berikutnya, Hosho duduk di meja enam tanpa melakukan apa pun yang dramatis. Ia makan carbonara dengan garpu, pelan dan rapi, dan sekali mengerutkan dahi seperti sedang menilai sesuatu yang berbeda dari ekspektasinya. Ia menyesap teh. Pada satu titik, ketika Pak Rudi lewat membawa nampan, ia bertanya tanpa menoleh, “Berapa gaji perempuan itu?”
“Itu rahasia pegawai, Tuan,” jawab Pak Rudi, tanpa berhenti melangkah dan tanpa meninggi.
“Hmm.” Hosho meneruskan makan. “Jawaban yang benar.”
Ketika Ira datang mengganti serbet, ia berkata, “Gadis yang tadi mengantar tehku. Dia selalu setenang itu?”
Ira membeku dengan serbet di tangan. “Tha, maksud saya, Agatha? Pak, dia itu—dia nggak pernah ngeluh. Pagi-pagi mual, tapi tetap senyum. Waktu kafe penuh dia yang bikin pelanggan sabar. Tapi dia jangan disuruh angkat berat, Pak, Pak Rudi udah larang, dan dia juga udah—” Ia berhenti, sadar baru saja membuka rahasia yang tidak ia tahu seberapa jauh Hosho ketahui.
“Teruskan,” kata Hosho.
“Udah… capek, itu aja.” Ira mundur dua langkah dan kabur ke bar. Reno, tanpa menengok, menaruh segelas air di depannya dan berkata, “Napas.”
Hosho meneruskan makannya. Di sudut bibirnya ada sesuatu yang bisa saja senyum, bisa saja bukan.
Ia memperhatikan Ira yang menjatuhkan sendok lalu mengutuk pelan; Reno yang memindahkan dua cangkir ke rak yang berbeda tanpa suara; Pak Rudi yang bolak-balik antara dapur dan kasir dengan wajah yang sama sekali tidak bisa dibaca. Dan ia memperhatikan Miyu.
Pukul satu kurang sepuluh, seorang pelanggan lelaki berjaket kulit mengangkat suara di meja dua. Ira, yang mengantarkan pesanannya, membawa kopi susu dingin, padahal ia memesan panas. “Saya sudah bilang panas! Kamu tuli?”
Ira pucat. Reno bergerak dari balik bar.
“Biar saya,” ucap Miyu, menyentuh siku Ira dengan satu jari. Ia berdiri di sisi meja, tegak, dengan nampan menutupi perutnya. “Maaf, Pak. Itu salah kami. Saya akan menggantinya sekarang, dan dessert hari ini kami tambahkan, dengan permohonan maaf.”
“Saya tidak butuh dessert, saya butuh kopi yang benar!”
“Ya, Pak. Kopi yang benar dalam lima menit.” Ia tersenyum, kecil dan tulus. “Kalau lebih dari itu, tolong panggil saya langsung.”
Lelaki itu mengerjap. Ia mungkin sudah menyiapkan sepuluh kalimat lanjutan, dan tidak ada yang bisa dipakai. Ia duduk kembali sambil menggerutu.
Di meja enam, Hosho meletakkan garpunya perlahan.
Beberapa menit kemudian, Pak Edo keluar dari dapur dengan mangkuk kecil berisi puding santan dan gula merah, yang ia taruh sendiri di depan Hosho. Chef tua itu tidak berkata apa-apa, hanya membungkuk kaku, lalu kembali ke dapur dengan telinga merah.
Hosho menyendok satu suap. Ia mengunyah lama. “Kurang garam,” gumamnya kepada puding itu. “Tapi tepat.”
Miyu, yang kebetulan lewat membawa gelas bekas, mendengar dan harus menggigit bibir supaya tidak tersenyum. Itu adalah pujian terbesar yang pernah diterima Pak Edo dari siapa pun sejak Anomali dibuka, dan Miyu bertekad menceritakannya kepada Ira sebelum Ira meledak karena rasa ingin tahu.
***
Ketika Miyu akhirnya membawa teh yang kedua, kafe sudah mulai sepi. Ia menaruh cangkir di depan Hosho dengan dua tangan, lalu mundur setengah langkah.
“Silakan, Tuan Hosho.”
Hosho mengangkat cangkir, menghirup uapnya, dan menyesap sedikit. Ia menaruhnya kembali tanpa komentar. Lalu ia memanggil Ira dengan satu isyarat tangan, menyerahkan sebuah amplop tipis, dan berkata dengan bahasa Indonesia yang rapi, “Itu untuk semua orang di sini. Bukan hanya untuk dia.”
“Aduh, Pak, jangan,” cicit Ira. “Nggak usah, saya—”
“Terima.”
Ira menerima. Ketika ia membuka amplop itu di belakang bar, nominal di dalamnya membuat ia memegang meja dengan dua tangan.
“Tha,” bisiknya kemudian, saat Miyu lewat membawa nampan, “kakek-kakek keren!”
“Ssst.”
“Beneran keren. Nakutin tapi keren.”
Hosho tidak meninggalkan meja ketika mereka bersiap-siap menutup shift. Ia menunggu sampai Miyu selesai menyerahkan buku catatan kepada Ira, lalu menggerakkan dua jarinya sekali, memintanya mendekat.
Miyu menghampiri. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan Hosho?”
“Tehmu terlalu manis.”
“Itu teh seduh biasa, Tuan. Saya tidak menambahkan gula.”
“Aku tahu.” Hosho menatap cangkir di depannya, yang isinya masih setengah. “Teh di sini dibuat untuk orang yang butuh dihibur. Kakekmu tidak menyeduhnya begitu, bukan?”
Miyu terdiam. “Tidak, Tuan. Lebih pahit. Ia berkata teh yang jujur tidak menutupi apa pun.”
“Kakekmu orang yang tahu.” Hosho berdiri, menumpukan beratnya pada tongkat, dan Miyu refleks mengulurkan tangan lalu menariknya lagi, takut lancang. Hosho memperhatikan gerakan itu. “Tidak perlu.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf untuk niat baik. Itu kebiasaan jelek anak-anak muda.” Ia mengenakan topi rajutnya dengan hati-hati. “Ada satu hal lagi.”
“Ya, Tuan?”
Hosho memandang matanya, bukan lagi dengan tatapan menimbang barang antik, melainkan dengan sesuatu yang lebih lama, lebih sunyi, seperti orang yang sedang mencari sesuatu di dalam laci tua.
“Hasilnya hari Rabu,” ujarnya. “Setelah itu kita bicara. Tanpa Kanata.”