Pukul sepuluh tepat, ponsel di saku celemek Miyu bergetar satu kali. Ia sedang menimbang gula untuk adonan kue Pak Edo, dan hampir menumpahkan seluruh timbangan.
Nana: Masuk. Belum gue buka. Nanti sore, di kantor gue, sesudah lo selesai shift. Kita lihat bareng. Jangan bawa pikiran apa-apa, bawa badan aja.
Miyu membaca pesan itu dua kali, lalu menyimpan ponselnya dan berusaha menghitung ulang gula dari awal. Satu sendok, dua sendok, lalu lupa sudah berapa. Ia mengulang. Lupa lagi.
“Tha.” Ira muncul di sampingnya dengan wajah prihatin dan satu gelas jus jeruk. “Kalau lo hitung sepuluh kali, hasilnya nggak akan berubah.”
“Gue tahu.”
“Gue ngomong soal gula, ya. Soal yang lain gue nggak tahu apa-apa.”
“Bagus.”
“Gue cuma mau bilang, kalau hasilnya jelek—”
“Hasilnya nggak akan jelek,” potong Miyu, lebih tegas dari yang ia maksudkan. “Gue cuma… perlu mendengar angkanya.”
Ira tidak menjawab lagi. Ia hanya menyodorkan jus itu dan, ketika Miyu meminumnya, menyentuh punggungnya dua kali dengan telapak tangan. Reno, di bar, kebetulan menggeser cangkir yang tidak perlu digeser.
***
Kantor Nana berada di lantai sebelas sebuah gedung perkantoran di Kuningan, dengan dinding kaca, rak buku kayu, dan satu sofa panjang yang menurut Nana sengaja dipilih untuk klien yang akan menangis. Pukul tiga empat puluh, sofa itu dipakai Miyu dan Aya, yang membawa kotak tisu cadangan dan menaruhnya di antara mereka seperti penjaga. Kanata duduk di kursi tamu sejauh dua meter, punggung tegak, tangan di lutut. Ia tidak mengenakan jas, dan lengan kemejanya digulung asal, seperti orang yang berlari tanpa menyadarinya.
“Aturan,” kata Nana. Ia berdiri di balik meja dengan laptop terbuka dan segel kotak yang sudah ia periksa tiga kali. “Gue buka email ini di depan kalian. Gue baca nomor kasusnya, lalu hasilnya. Tidak ada yang bicara sampai gue selesai. Setelah itu terserah. Tangis, tawa, lempar benda, semuanya sah, kecuali laptop gue.”
“Na,” gumam Miyu.
“Ya?”
“Cepat.”
Nana menekan satu tombol. Layar menampilkan halaman putih dengan logo laboratorium, tabel kecil, dan paragraf tebal di bagian bawah. Ia membaca dengan suara datar seperti hakim membacakan putusan.
“Kasus nomor tujuh nol empat, pengambilan hari Rabu. Sampel A, ibu: Agatha Miyu Kouzuki. Sampel B, calon ayah: Saionji Kanata. Metode, analisis fragmen janin dari darah ibu dibandingkan dengan sampel calon ayah.” Ia berhenti satu tarikan napas. “Kesimpulan. Saionji Kanata tidak dapat dikeluarkan sebagai ayah biologis. Kemungkinan ayah biologis, di atas sembilan puluh sembilan koma sembilan persen.”
Ruangan hening. Dari jauh terdengar deru lalu lintas Kuningan dan, lebih dekat, desah halus pendingin ruangan.
Aya yang pertama bersuara. “Itu… bagus, ya? Itu bagus?”
“Itu hasil yang kita tahu,” jawab Nana. “Tetapi sekarang tertulis.”
Miyu menatap layar. Ia tidak tahu apa yang ia harapkan. Ia sudah tahu sejak awal, sebagaimana ia tahu namanya sendiri. Tetapi angka itu di layar membuat sesuatu yang ia tahan bertahun-tahun, entah sejak kematian ibunya atau sejak malam di club, akhirnya mengendur. Ia menutup mulut dengan punggung tangan dan menangis tanpa suara. Aya langsung memeluknya.
Kanata tidak bergerak. Ia memandangi layar, lalu memandangi Miyu, lalu menunduk menatap kedua tangannya sendiri.
“Kanata?” panggil Nana.
“Saya baik.” Suaranya sedikit serak. “Saya… sudah tahu. Tetapi ternyata saya tetap ingin mendengarnya.”
Ia berdiri, melangkah ke jendela, dan berdiri membelakangi mereka beberapa saat. Bahunya naik turun sekali.
“Saya tidak akan menyentuhmu,” ujarnya pelan, tanpa menoleh, “kecuali kamu mengizinkan. Tetapi saya ingin kamu tahu bahwa saya bangga pada diri saya bukan karena angka itu. Saya bangga pada kamu, karena kamu tidak gentar.”
Miyu mengusap pipinya. “Tunggu sebentar,” bisiknya kepada Aya. “Gue lagi bahagia, dan itu ngerepotin.”
“Bahagia itu memang ngerepotin,” sahut Nana, sambil mengambil tisu dari kotak dan berpura-pura sedang menutup layar.
Ponsel di mejanya berdering pendek. Ia membaca layarnya, dan wajah pengacaranya kembali muncul seperti topeng yang dipasang ulang. “Salinan sudah sampai di Hosho pukul empat, sesuai protokol. Barusan stafnya mengirim pesan.” Ia membacakan datar. “Pukul lima, lounge hotel di Sudirman. Hanya Nona Kouzuki.”
Kanata berbalik dari jendela. “Tidak.”
“Kanata.”
“Miyu baru menangis. Ia butuh makan dan istirahat, bukan interogasi kedua.”
“Dia bukan interogasi.” Miyu mengusap hidung dengan tisu, menegakkan punggung. “Hosho bilang Sabtu, setelah hasil, kita bicara tanpa kamu. Dia menepati janjinya, dan saya mau menepati sisi saya.”
“Kamu tidak harus.”
“Saya tahu. Itu sebabnya saya mau.”
Kanata terdiam, kemudian mengangguk satu kali dengan rahang kaku. “Saya dan Santa menunggu di lobi. Kamu tidak pernah sendirian di gedung itu.”
“Lobi dan lounge itu satu lantai, Kanata,” sahut Miyu pelan. “Kalau saya berteriak, kamu tetap dengar.”
***
Pukul lima sore, ruang lounge hotel di Sudirman sepi. Hosho duduk di sudut dekat jendela, dengan cangkir teh dan selembar kertas di meja, dan Miyu berhenti di hadapannya setelah membungkuk lima belas derajat. Kanata dan Santa menunggu di lobi, jauh di luar jangkauan suara. Atas permintaan Hosho, dan persetujuan Miyu.
“Duduk.”
Miyu duduk. Kertas di meja itu adalah salinan hasil tes, dan ia melihat bahwa Hosho sudah membacanya, mungkin berkali-kali, karena sudut-sudutnya sedikit lecek.
“Aku sudah membaca ini,” kata Hosho. Ia berbicara dalam bahasa Indonesia, pelan, dengan setiap kata diletakkan seperti batu. “Aku menerima anak ini.”
Miyu menarik napas panjang. Ia tidak sadar telah menahannya sejak masuk.
“Aku belum menerima kamu.”
Sesaat Miyu hanya menatap tangannya di pangkuan. Ia pernah mendengar kalimat serupa, dalam bentuk lain, dari orang-orang yang tersenyum sambil mengambil sesuatu darinya. Tetapi kali ini lelaki tua di hadapannya tidak tersenyum, dan itu, anehnya, lebih jujur.
“Saya tidak meminta Anda menerima saya, Tuan Hosho,” ujarnya akhirnya, jernih dan tidak tinggi. “Saya hanya meminta anak ini diterima tanpa syarat.”
“Tidak ada yang tanpa syarat di keluarga Saionji.”
“Kalau begitu saya akan menunggu syarat itu. Dan saya akan memutuskan sendiri apakah saya bersedia memenuhinya.”
Hosho menatapnya lama. Lalu ia melipat kertas itu menjadi dua, menyelipkannya ke saku dalam jasnya, dan menyesap tehnya yang sudah dingin.
“Pergilah,” ujarnya. “Lelaki itu sudah berdiri di lobi sejak tadi seperti orang yang menunggu vonis.”
***
Kanata berdiri di luar pintu kaca lobi, dan ketika Miyu keluar ia melangkah mendekat, lalu berhenti, seperti orang yang sedang belajar berjalan di tempat baru. Matahari sore membuat bayangan mereka panjang di pelataran hotel.
“Bagaimana?”
“Dia menerima anak ini. Belum menerima saya.”
“Itu lebih dari yang saya duga.” Kanata menelan ludah. “Boleh saya memegang tanganmu?”
Miyu menatap tangan yang terulur itu: telapak lebar, jari panjang, kuku rapi, sedikit gemetar. Selama ini ia selalu yang menjaga jarak. Selama ini ia selalu yang menentukan. Dan kali ini ia ingin menentukan sesuatu yang berbeda.
“Boleh.”
Jari-jari Kanata menutup di sekitar jarinya, hangat dan kikuk dan sangat pelan, seolah ia sedang memegang sesuatu dari kaca. Mereka berdiri begitu beberapa detik, tidak berkata apa-apa.
“Jumat,” ucap Kanata kemudian. “Saya ingin menunjukkan sesuatu. Lokasi toko pop-up yang akan dibuka. Bukan karena kamu harus datang. Karena saya ingin kamu melihat apa yang saya kerjakan di sini.”
“Saya akan datang.”
Dari sisi lain pelataran, di balik mobil Nana yang terparkir miring, Aya berdiri dengan kedua tangan menutup mulut dan mata membulat, seperti penonton di bioskop yang tidak mau mengeluarkan suara sedikit pun. Di sebelahnya Nana, berlagak sibuk memeriksa ban, melirik dua orang itu dari sudut mata dan berkata tanpa suara, kepada siapa pun yang mau mendengar, “Akhirnya.”