Lounge hotel itu terletak di lantai dasar, di balik dinding kaca yang menghadap taman kecil, dan pada Minggu pukul tiga sore hampir tidak ada orang di dalamnya. Miyu berdiri di ambang pintu hampir semenit penuh. Ia sudah memberi tahu Aya dan Nana ke mana ia pergi. Ia tidak memberi tahu Kanata. Kalau ia bilang, Kanata pasti datang, dan Miyu ingin sekali saja mendengar apa yang akan dikatakan Christine tanpa ada yang berdiri di depannya seperti tembok.
“Nona Agatha.”
Christine sudah duduk di sofa dekat jendela, dengan setelan krem dan rambut cokelat kemerahannya dibiarkan jatuh di bahu. Asistennya tak tampak, tasnya pun tidak. Hanya satu teko porselen dan dua cangkir.
Miyu mendekat dan menyadari ada piring kecil berisi puding di sisi kursinya. Puding yang sama dengan yang dipuji Hosho di kafe, dengan karamel yang gosong di pinggir. Christine mengikuti arah matanya.
“Aku meminta koki hotel meniru buatan Pak Edo, tapi hasilnya kurang tepat,” ujarnya ringan. “Kata Hosho, puding itu kurang garam tetapi tepat. Sampai sekarang aku tidak mengerti bagaimana sesuatu bisa kurang dan tepat sekaligus.”
“Pak Edo akan senang mendengarnya.”
“Kalau begitu sampaikan. Dan jangan khawatir, aku tidak menaruh apa pun di tehnya. Aku hanya penasaran padamu.”
“Terima kasih sudah datang,” katanya. “Silakan duduk. Kursinya kuminta yang berlengan, supaya punggung Anda tidak pegal.”
Miyu duduk. Kursi itu memang nyaman, dan itu justru membuatnya waspada.
Christine menuang teh sendiri, pelan dan rapi, seperti orang yang terbiasa dilayani tetapi memilih tidak. “Aku akan langsung saja, kalau Anda tidak keberatan. Aku tidak pandai berputar-putar, dan menurutku Anda juga tidak.”
“Saya tidak keberatan.”
“Bagus.” Christine menyodorkan cangkir. “Aku tahu berapa tagihan ruang Perdana itu, Nona. Empat malam, sampai digit terakhir.”
Cangkir di tangan Miyu berhenti di tengah jalan ke bibirnya. “Dari mana Anda tahu?”
“Dari staf Hosho yang menyiapkan jamuan malam itu. Ketika aku bertanya siapa perempuan yang akan duduk di meja utama, mereka menjawab, termasuk bagian yang tidak kutanyakan.” Christine tidak berkedip. “Aku tidak menguntit Anda. Aku bertanya, dan dijawab. Aku ingin Anda tahu bedanya, supaya Anda tidak mencari-cari siapa yang membocorkannya kepadaku.”
Terus terang sekali, batin Miyu. Terlalu terus terang untuk dibenci, dan justru karena itu lebih sulit dihadapi.
Ia teringat Ira yang berbisik “sosialita” di kafe, dan nasihat Reno yang tak pernah ia minta: orang yang terlalu sopan biasanya sudah menghitung tiga langkah ke depan. Miyu menghitung juga. Satu, Christine tahu soal tagihan. Dua, Christine mau ia tahu bahwa Christine tahu. Tiga, ia belum menemukan apa yang akan datang.
“Itu urusan saya dengan Kanata.”
“Tentu. Karena itulah aku bicara dengan Anda, bukan dengannya.” Christine meletakkan cangkirnya. “Kanata itu orang yang tidak bisa membiarkan seseorang tenggelam. Sejak SMA begitu. Ia akan melompat ke air sebelum bertanya apakah airnya dalam.”
Miyu diam.
“Tetapi orang yang diselamatkan tidak punya pilihan, Nona Agatha. Ia hanya bisa berterima kasih dan terus berterima kasih.” Suaranya tetap lembut, nyaris prihatin. “Anda berutang padanya.”
Kata itu mendarat tepat di tempat yang paling Miyu hindari. Sialan, rutuknya dalam hati. Tangannya mendingin. Ia meletakkan cangkir pelan-pelan supaya tidak berbunyi.
Di luar kaca, seorang tukang kebun memotong ranting dengan gunting panjang. Bunyinya kering dan teratur. Miyu memandanginya karena itu lebih mudah daripada memandang wajah Christine.
“Saya tahu,” katanya, dan suaranya lebih datar dari yang ia maksudkan.
“Aku tidak bermaksud melukai.”
“Saya percaya Nona tidak bermaksud.”
“Boleh aku bertanya satu hal lagi?”
“Silakan.”
“Seandainya bayi itu tak ada, tagihan itu tak ada, kartu nama itu tak pernah ada. Seandainya Anda hanya kasir yang kebetulan melayani pelanggan tetap. Apakah Anda akan duduk di meja yang sama dengannya malam itu?”
Miyu membuka mulut dan tidak menemukan jawaban. Pertanyaan itu terlalu bersih. Apa yang sebenarnya terjadi tak punya tempat di dalamnya.
“Saya tidak bisa menjawab pengandaian, Nona.”
“Aku mengerti. Aku juga tidak bisa, kalau menyangkut diriku sendiri.” Christine tersenyum dan sebentar saja ia tampak seperti orang biasa. “Lupakan. Itu pertanyaan yang tidak adil.”
Christine menatapnya agak lama, lalu membuka telapak tangan di atas meja. “Karena itu aku menawarkan sesuatu. Ada sebuah apartemen di Kuningan, kecil tapi aman, dekat rumah sakit yang baik. Atas nama Anda. Beserta dana yang cukup sampai anak itu masuk sekolah.” Ia mengangkat tangan sebelum Miyu sempat menjawab. “Bukan suap. Ini caraku membeli kebebasan Anda, supaya Anda bisa pergi dari rasa berutang pada siapa pun. Pada Kanata, pada Hosho, pada aku.”
“Pada Nona juga?”
“Terutama pada aku. Karena aku yang menawarkannya, dan aku tidak ingin Anda memikul apa-apa.”
Miyu menatap lama uap yang naik dari tehnya. Aneh, pikirnya. Kalimat itu terdengar seperti jalan keluar yang lapang, tetapi di ujungnya ada pintu yang sama dengan yang dulu dipasang teman kuliahnya: terima ini, lalu ingat siapa yang memberimu.
“Terima kasih, Nona Christine,” ujarnya akhirnya. “Saya tidak bisa menerima apartemen itu, dan uangnya juga tidak.”
“Boleh aku tanya alasannya?”
“Karena bagi saya, hadiah yang datang dengan penjelasan panjang tentang kebebasan itu sama saja dengan tagihan.”
Christine tersenyum sangat kecil, seperti orang yang diam-diam terkesan sekaligus kecewa. “Anda lebih keras kepala daripada yang kukira.”
“Saya sering dibilang begitu.”
“Pikirkan satu hal saja.” Christine bersandar. “Kanata akan melakukan apa pun supaya Anda tidak merasa berutang. Dan itu juga akan jadi beban Anda, setiap hari, seumur hidup. Orang yang berusaha terlalu keras tidak pernah benar-benar membuat orang lain bebas.”
Miyu berdiri. Perutnya terasa mengencang sedikit, bukan sakit, hanya tubuh yang ikut menegang. “Terima kasih untuk tehnya. Saya permisi.”
“Biar sopir kami mengantar.”
“Tidak usah. Saya mau jalan.”
***
Ia berjalan keluar dari pagar hotel dan terus menyusuri trotoar Sudirman tanpa tahu mau ke mana. Mobil lewat, motor lewat, pekerja akhir pekan lewat membawa kantong belanja, dan seorang penjual air mineral keliling menawarkan botolnya kepada Miyu dengan senyum yang terlalu ramah untuk wajah semuram itu. Miyu menggeleng, lalu menyesal karena tenggorokannya kering. Setelah sepuluh menit kakinya mulai bengkak, dan ia duduk di bangku halte yang kosong.
Ponselnya bergetar di dalam tas. Ia mengeluarkannya dan membaca nama di layar.
Kanata: Selamat sore. Apakah kamu sudah makan siang? Santa membelikan terlalu banyak martabak dan saya tidak sanggup menghabiskannya.
Miyu menatap pesan itu, lalu memasukkan ponselnya kembali ke tas tanpa membalas. Martabak Santa bisa menunggu.
Berutang. Kata itu tidak mau turun dari kepalanya. Ia sudah menolak apartemen, sudah menolak uang, sudah menolak Christine dengan sopan, tetapi satu kata kecil itu menancap lebih dalam daripada semua tawaran. Karena Miyu tahu, tanpa perlu dihitung oleh siapa pun, bahwa kata itu tidak sepenuhnya keliru. Ruang Perdana. Empat malam. Kanata yang menunggu hampir tiap malam, tanpa meminta apa pun.
Ia merogoh tas dan menekan nama Aya. Nada sambung berbunyi sekali saja.
“Mi? Lo di mana? Udah selesai? Gimana?”
“Aya.” Suara Miyu pecah di tengah kata. “Lo bisa jemput gue di halte depan hotel?”
“Lima belas menit, tahan di situ. Lo nggak apa-apa?”
Miyu menatap trotoar, menatap sepatunya, menatap perutnya yang mulai membulat di balik gaun longgar.
“Gue nggak tahu,” katanya. “Tapi gue rasa gue berutang sama dia, Aya. Dan gue baru sadar gue nggak tahu cara bayarnya.”