Ira menerobos pintu belakang Anomali pukul tujuh lewat lima, dua puluh menit lebih awal dari jadwal, dengan ponsel terangkat setinggi kepala seperti orang membawa obor.
“Tha! Lo harus lihat ini! Jangan duduk dulu! Berdiri aja!”
Miyu yang sedang melipat serbet di meja kasir menoleh pelan. Sejak Minggu sore, ia belum benar-benar tidur. Jazz hitam Nana sudah menunggu di depan halte, dan sepanjang jalan pulang tidak ada yang menyalakan radio. Di pintu kontrakan Nana menyodorkan cangkir teh jahe tanpa kata, sementara Aya duduk di lantai dekat kaki Miyu. “Gue belum siap cerita,” kata Miyu akhirnya. “Nggak usah,” sahut Nana. “Minum dulu.” Pesan Kanata ia balas dengan satu kata, “Sudah.” Hanya itu.
“Ada apa, Ra?”
“Ini.” Ira menyodorkan ponselnya.
Layar menampilkan sebuah portal berita hiburan. Foto di bagian atas diambil dari samping, dalam cahaya putih lampu taman: seorang lelaki berjas gelap menahan siku seorang perempuan bergaun biru kelabu yang tubuhnya sedang oleng. Wajah si perempuan setengah tertutup bahunya sendiri, tetapi rambut pirang sepinggang itu tidak mungkin salah dikenali, begitu pula lekuk perutnya. Judulnya dicetak tebal.
“Pewaris Saionji Phantom Terlihat Mesra dengan Wanita Hamil di Peluncuran Seiko Sai. Siapa Dia?”
Miyu membaca dua kali. Pada pembacaan kedua, huruf-hurufnya mulai bergoyang.
“Ada namaku?” tanyanya lirih.
“Nggak. Tapi ada tulisan “diduga pegawai sebuah kafe di Menteng”. Ada juga dua portal lain yang ngutip.” Ira menggigit bibir. “Tha, gue mau lempar sendok ke siapa pun yang berani nanya.”
Dari ambang dapur, Reno muncul membawa dua kantong biji kopi, melirik ponsel itu sekilas, lalu melirik Miyu. Ia tidak berkata apa-apa. Ia meletakkan kantong, berjalan ke jendela depan, dan menarik tirai bambu sampai separuhnya turun. Kafe itu langsung redup dan hangat, seperti ruang kecil yang menolak diintip.
“Biar nggak ada yang motret dari luar,” katanya singkat.
Ponsel Miyu bergetar di saku apron.
Aya: Mi, lo udah lihat?
Nana: Jangan balas siapa pun. Jangan klik apa pun. Gue ke sana jam makan siang.
Aya: Jangan keluar sendirian ya, janji.
“Agatha.” Pak Rudi keluar dari ruang kerja dengan kacamata di ujung hidung dan wajah yang sama tenangnya dengan hari-hari biasa. Hanya bahunya yang lebih tegak. “Semua sudah lihat. Dengar baik-baik, Ira juga.”
Ira terdiam di tempat.
“Kafe ini tetap buka dan tetap sama. Pelanggan boleh berbisik. Mereka tidak boleh memotret staf, dan siapa pun yang mencoba, kalian panggil saya, bukan kalian yang berdebat.” Ia menatap Miyu. “Kalau kamu mau pulang, pulang. Gaji tidak dipotong.”
“Saya mau kerja, Pak.”
“Betul?”
“Kalau saya pulang, saya cuma akan duduk memelototi ponsel.”
Pak Rudi mengangguk satu kali. “Baik. Kalau begitu pelan-pelan saja.”
Ketika Pak Rudi kembali ke ruang kerja, Ira menarik lengan Miyu ke dapur belakang dan menutup pintunya dengan siku. Ruangan itu berbau mentega dan kayu manis. Pak Edo, tanpa mengangkat kepala dari loyang, mendorong sepiring kue kecil ke ujung meja stainless.
“Makan,” katanya. “Perut kosong bikin orang tambah pusing.”
“Pak, saya sudah sarapan.”
“Makan lagi.”
Miyu makan. Ira berdiri di depan kulkas dengan tangan terlipat dan wajah merah menahan sesuatu. “Gue pengen banget ngomong sama redaktur siapa pun yang nulis “diduga pegawai sebuah kafe”. Dikira lo kasir doang? Lo itu penerjemah, editor, Tha. Lo itu orang pinter.”
“Dulu.”
“Sekarang juga!” Ira nyaris berteriak, lalu menutup mulut sendiri dan melirik pintu. “Pokoknya jangan dengerin mereka.”
Miyu tersenyum kecil. Rasanya aneh, dibela dengan semangat sebesar itu padahal ia sendiri belum tahu apakah ia berhak merasa marah.
***
Hari itu berjalan seperti ruangan yang semua orangnya sedang menahan napas. Pelanggan datang seperti biasa, tetapi tatapan mereka tersangkut sedikit lebih lama pada Miyu sebelum bergeser ke menu. Dua perempuan di meja pojok berbisik sambil menunjuk layar ponsel. Seorang bapak memesan kopi dan menambahkan, tanpa diminta, “Semoga lancar, ya, Mbak,” dengan wajah penuh arti yang membuat Miyu ingin menghilang ke bawah meja kasir.
Tepat sebelum pukul dua belas, pintu kaca terbuka dan Kanata masuk.
Ia tidak sendirian. Di belakangnya Revindo berjalan setengah langkah, memegang tablet seperti perisai, dan Pak Dali membawa map cokelat. Kanata berhenti di tengah ruangan. Ia mengenakan setelan abu-abu tua, dan ia tidak menuju meja enam.
“Maaf mengganggu, Pak Rudi,” katanya. “Saya akan menyampaikan sesuatu. Satu menit.”
Pak Rudi, yang berdiri di dekat mesin kopi, hanya mengangguk. Ira membeku dengan nampan di dada. Dua perempuan di meja pojok berhenti berbisik.
“Foto yang beredar sejak pagi diambil di acara perusahaan saya,” ujar Kanata dengan nada datar dan jelas, seperti membacakan pernyataan di hadapan para direktur, hanya saja kali ini yang mendengar adalah pelayan, pelanggan, dan seorang barista yang menahan sendok di udara. “Fotografernya tidak diundang. Itu kelalaian pengamanan di pihak kami. Beberapa portal sudah menurunkan beritanya. Sisanya sedang diurus.”
“Dua sudah turun, Tuan,” bisik Revindo. “Yang ketiga masih menolak.”
Pak Dali melangkah maju sedikit dan, dengan suara serendah mungkin, menambahkan kepada Pak Rudi bahwa kantor sudah menyiapkan pernyataan resmi dan bahwa tim hukum akan menghubungi siapa pun yang menyebarkan foto tanpa izin. “Kalau ada tamu yang mengganggu staf Bapak, hubungi nomor ini, kapan saja,” katanya sambil menyerahkan secarik kartu.
“Saya yang bertanggung jawab atas gosip ini,” lanjut Kanata, tanpa menoleh. “Bukan Miyu. Kalau ada yang ingin bertanya, tanyakan kepada saya.”
Hening. Mesin pendingin berdengung. Suara seorang anak kecil di luar terdengar sangat jelas.
Miyu berdiri kaku di balik meja kasir. Kata itu lagi. Tanggung jawab. Kata yang sama yang ia dengar di Taman Suropati, yang kemudian ia tolak di teras belakang kafe ini, dan yang kini diucapkan Kanata dengan niat yang pasti baik, di hadapan orang sebanyak ini. Dadanya mengencang, seperti ada tali yang ditarik dari dalam. Ia tahu Kanata bermaksud melindunginya. Ia juga tahu, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa sepuluh orang di ruangan itu akan membawa pulang kalimat yang sama: laki-laki itu memikul perempuan itu.
“Miyu,” panggil Kanata pelan, begitu ia melihat wajahnya. “Kamu baik-baik saja?”
“Saya baik-baik saja.” Suaranya keluar nyaris terlalu cepat. “Terima kasih, Kanata.”
Ia menunduk dan mulai mengelap meja kasir yang sudah bersih.
Ia mengelap sampai kain di tangannya terasa panas. Di sudut matanya, ia melihat Reno menggeser tirai bambu seperempat jengkal lagi, seolah ruangan itu butuh lebih banyak bayangan, dan melihat Ira menyikut seorang pelanggan yang terlalu lama menatap, lalu pura-pura membersihkan meja yang sama sekali tidak kotor.
Ponsel di saku jas Kanata bergetar. Ia memeriksa layarnya, rahangnya mengeras, lalu ia berjalan ke dinding dekat jendela dan menjawab dalam bahasa Jepang. Suaranya rendah, tetapi ruangan itu kecil, dan bahasa Jepang itu adalah bahasa yang Miyu pelajari dari dapur kakeknya.
“Foto itu sampai ke Tokyo,” suara Hosho terdengar tipis dari pengeras kecil. “Dua tetua sudah menelepon sejak subuh. Aku tidak suka ditelepon sejak subuh.”
“Saya sedang mengurusnya.”
“Kau mengurusnya dengan berdiri di tengah kafe, aku dengar.” Jeda panjang. “Selesaikan sebelum aku pulang, Kanata. Kalau tidak, aku yang akan menyelesaikannya, dan kau tidak akan menyukai caraku.”
Sambungan terputus. Kanata menurunkan ponselnya perlahan. Ketika ia berbalik, Miyu sudah berdiri di dekat meja enam dengan nampan teh, sama sekali tidak berpura-pura sibuk.
Mata mereka bertemu.
“Kamu mendengar semuanya,” ujar Kanata.
“Semuanya,” sahut Miyu.
Kanata menarik napas. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu yang panjang, tetapi di ruang sekecil itu, dengan Revindo, Pak Dali, dan separuh pelanggan pura-pura sibuk, ia hanya berkata, “Kalau begitu kamu tahu kenapa saya tidak akan membiarkan ini selesai dengan sendirinya.”
“Kamu tidak perlu menyelesaikan apa pun hari ini,” kata Miyu, pelan.
“Perlu.” Ia menatap nampan di tangan Miyu, lalu cangkir tehnya, lalu kembali ke wajahnya. “Tetapi bukan sekarang, di sini. Teh dulu. Saya janji saya akan menghabiskan semuanya.”
Dari meja kasir, Ira berbisik cukup keras untuk didengar separuh kafe, “Dia bilang janji.”
“Ira,” tegur Reno, datar.
“Gue cuma ngutip.”