Lima hari sesudah Hosho menutup layar dengan perintah “Terima dia”, Miyu duduk di kursi depan Jazz hitam Nana dan memeluk tas tangannya seperti perisai.
“Ulangi,” kata Nana, mata lurus ke jalan Sudirman yang padat.
“Jangan tanda tangan apa pun yang belum lo baca.”
“Dan?”
“Jangan bilang “terserah”.”
“Dan?”
“Jangan bilang “nggak apa-apa” kalau apa-apa.”
“Anak pintar.” Nana membelokkan setir tanpa mengurangi kecepatan. “Gue yang baca. Lo cukup duduk, kelihatan hamil, dan jadi alasan semua orang di ruangan itu bersikap manis.”
“Gue udah hamil dari kemarin, Na. Bukan baru bisa.”
“Makanya lo andalan gue.”
***
Pak Mori tiba di apartemen Kanata pada pukul sepuluh tepat, tidak lebih semenit pun, seolah jam tangannya sendiri yang memberi aba-aba kepada kakinya.
Santa membukakan pintu dengan dua tangan menempel di sisi celana. Ia memberi hormat yang terlalu dalam untuk tamu yang hanya membawa tas kulit hitam.
“Selamat pagi, Pak Mori. Silakan. Mau teh? Kopi? Air putih? Kami punya air putih yang sangat baik.”
“Air putih cukup, Tuan Kurosu.”
Lelaki itu paruh baya, kurus, berkacamata bingkai tipis, dan jas abu-abunya tidak punya satu lipatan pun yang tidak disengaja. Ia berjalan menuju meja makan panjang seperti orang yang sudah menghafal letak tiap kursi sebelum tiba. Di sana Miyu sudah duduk dengan tangan bertaut di atas perut yang kini menyembul jelas di balik blus longgarnya. Di sampingnya Nana duduk tegak dengan dua binder, tiga stabilo, dan wajah yang sudah siap berperang sejak malam sebelumnya.
“Tuan Saionji. Nona Miyu. Nona Kinara.”
“Nana saja, Pak.”
“Nona Kinara,” ulang Pak Mori, tanpa nada apa pun, dan Nana menghirup udara sambil menatap langit-langit seperti orang yang baru kalah satu set.
Pak Mori membuka tasnya dan meletakkan tiga map di meja, sejajar, dengan jarak yang tampaknya diukur. Biru, hijau, merah.
“Map biru, pengakuan anak. Map hijau, pengaturan harta dan perwalian. Map merah.” Ia berhenti setengah napas. “Map merah adalah rumusan perjanjian pranikah yang diusulkan beberapa tetua. Bukan Tuan Hosho. Saya wajib menyampaikannya.”
“Saya tidak perlu membaca map merah,” kata Kanata.
“Saya wajib menyampaikannya,” ulang Pak Mori, persis dengan nada yang sama.
Kanata mengembuskan napas melalui hidung, dan Miyu menyentuh punggung tangannya di bawah meja. “Biar Nana yang baca,” bisiknya. “Itu gunanya dia di sini.”
Nana sudah menarik map merah sebelum kalimat itu selesai. Ia membalik halaman dengan jari yang mengetuk-ngetuk tiap baris, dan semakin ke bawah, alisnya semakin menyatu. Santa meletakkan segelas air putih di depan Pak Mori dan mundur ke dinding dengan langkah berjinjit.
“Pasal tiga,” gumam Nana. “Seluruh harta Pihak Pertama terpisah dari Pihak Kedua. Oke. Pasal lima. Pihak Kedua tidak berhak atas apa pun selain nafkah anak. Oke, kasar, tapi lazim. Pasal sembilan.” Suaranya turun satu oktaf. “Pengasuhan anak “dilaksanakan dalam lingkungan keluarga Saionji” bila perkawinan berakhir. Lingkungan keluarga Saionji itu di mana, Pak?”
“Sebagaimana lazimnya, Nona, di kediaman keluarga.”
“Di Tokyo.”
“Kediaman utama keluarga berada di Tokyo, ya.”
Pak Mori tidak berkedip. Di dinding, jarum jam berdetik, dan semua orang di ruangan itu mendengarnya.
Nana menutup binder dengan bunyi cukup keras sampai Santa terlonjak. “Pasal sembilan ini bukan perjanjian, Pak Mori. Ini penyanderaan dengan tanda baca.”
“Saya hanya menyampaikan rumusan para tetua.”
“Dan saya hanya mengatakan apa yang akan saya katakan di pengadilan mana pun, termasuk yang di Tokyo.”
“Nana,” tegur Miyu pelan.
“Gue lagi sopan, Mi. Percaya sama gue, ini versi sopan.”
Kanata berdiri. Ia tidak menaikkan suara, dan justru karena itu seisi meja berhenti bernapas. “Pak Mori. Saya tidak akan menandatangani map merah, sepenggal pun. Katakan kepada para tetua bahwa pengasuhan anak saya ditentukan oleh ibunya dan saya, di mana pun kami tinggal, dan itu bukan bahan tawar-menawar.”
“Saya akan menyampaikannya, Tuan Saionji.” Pak Mori mencatat sesuatu di buku kecil. Tulisannya rapi sekali. “Namun ada beberapa pasal di map itu yang, bila dirumuskan ulang, bermanfaat bagi pihak Nona Miyu. Saya mengatakannya sebagai kewajiban profesional.”
Nana menoleh perlahan. “Pasal pemisahan harta.”
“Betul.”
“Harta bawaan masing-masing tetap milik masing-masing,” sambung Nana, mulai berbicara cepat, dan Miyu mengenali kecepatan itu: jalan pikiran Nana ketika ia menemukan celah untuk sahabatnya. “Tabungan persalinan Miyu, peti kakeknya, honor terjemahannya nanti. Semua itu tidak bisa diklaim siapa pun, termasuk keluarga Saionji, termasuk atas nama “urusan keluarga”. Bapak bisa tuliskan itu?”
“Bisa, Nona Kinara. Dengan rumusan yang lebih sempit untuk menghindari sengketa.”
“Dan sebaliknya tidak ada pasal yang menyebut Miyu kehilangan hak apa pun bila menikah dengan Kanata.”
“Bisa.”
“Dan rekening atas nama bayi,” tambah Kanata. Ia kembali duduk. “Dibuka sekarang, wali dua-duanya, dan tidak bisa dicairkan oleh siapa pun selain untuk kepentingan anak itu. Saya menyetor tiap bulan.”
“Berapa?” tanya Miyu cepat.
Kanata menyebut angka. Miyu menatapnya dengan mulut setengah terbuka.
“Itu terlalu banyak.”
“Itu rekening anak, bukan pembayaran untukmu.”
“Aku tahu. Tapi aku mau separuhnya dulu.”
“Separuh darimu atau separuh dariku?”
“Dari yang kamu sebut tadi!” Miyu mengusap dahi. “Nana, bilang sesuatu.”
“Gue bilang,” kata Nana, tanpa mengangkat mata dari catatannya, “bahwa ini pertama kalinya lo berdebat soal uang dengan cowok yang maksa ngasih lebih banyak. Nikmati.”
Santa terbatuk keras di dekat dinding, dan Pak Mori memajukan kacamatanya dengan satu jari. Mereka akhirnya sepakat pada angka yang membuat Miyu tidak lagi merasa dadanya diinjak, dan yang membuat Kanata, entah bagaimana, tampak sama puasnya.
Jam di dinding berdentang sebelas kali sebelum tiga map itu dirapikan ulang: biru tetap biru, hijau menunggu pengetikan ulang, merah dicoret Nana dengan stabilo kuning sampai nyaris tak terbaca, kecuali satu pasal yang ia lingkari dua kali.
“Nona Miyu,” kata Pak Mori. “Untuk map biru, saya hanya memerlukan tanda tangan Anda sebagai ibu yang menyatakan tidak berkeberatan atas pengakuan Tuan Saionji.”
Santa menyodorkan pena dengan dua tangan, seperti menyerahkan pusaka. Pena itu dingin di antara jari-jari Miyu. Ia menatap kolom kosong di bagian bawah kertas, dan dari dalam perutnya datang satu tendangan keras, kecil, tepat pada saat ia menunduk. Ia meletakkan tangan kirinya di sana.
“Kamu yakin tidak butuh perjanjian apa pun?” tanyanya, pelan, tanpa menoleh kepada Kanata. “Kalau suatu hari...”
“Aku tidak memerlukan perjanjian untuk mempercayaimu.”
Miyu menandatangani. Tangannya tidak gemetar. Ia sendiri heran.
Pak Mori memeriksa tanda tangan itu sekali, mengeringkannya dengan secarik kertas serap, lalu memasukkan map biru ke tasnya seolah menaruh telur di sarang.
“Surat-surat bagian hijau akan saya ketik ulang dan antar awal pekan depan. Selamat siang, Tuan Saionji. Nona Miyu. Nona Kinara.”
“Nana,” bisik Nana, lemah, kepada punggung yang sudah berbalik.
Sesudah Santa mengantarnya sampai lift dengan hormat setengah bungkuk dan kembali dengan wajah orang yang baru lulus ujian, Nana menjatuhkan diri ke sofa dan menutup mata.
“Sejam penuh napas gue ditahan,” gumamnya. “Gue mau minum es teh manis dan menangis sebentar di kamar mandi.”
“Silakan,” kata Kanata. “Kamar mandi tamu di kiri.”
“Itu lelucon, Kanata.”
“Aku tahu. Tapi tawaranku sungguh-sungguh.”
Miyu terkekeh, lalu berhenti ketika ia menyadari Kanata menatapnya dengan sorot yang berbeda dari tadi: lebih ragu, seperti orang yang menyimpan sesuatu di balik punggung.
“Kenapa?”
“Ada yang ingin kutunjukkan kepadamu.” Kanata berdeham. “Di Menteng. Belum sekarang.”
“Apa?”
“Kejutan.”
“Aku benci kejutan.”
“Aku tahu,” sahut Kanata. “Makanya aku menundanya sampai aku cukup berani.”