Tik. Tik. Tik. Keran dapur rumah kontrakan Miyu menetes setiap tiga detik tanpa pernah bolos, dan enam hari sesudah Pak Mori membawa tiga map, bunyi itu masih jadi satu-satunya hal di rumah itu yang tidak ikut berubah.
“Itu bocor sejak aku pindah,” kata Miyu, menunjuk dengan dagu dari ambang pintu dapur. Perutnya, kini dua puluh delapan pekan, lebih dulu masuk ruangan daripada tubuhnya. “Pemilik rumah bilang minggu depan. Dia bilang begitu tiap minggu.”
“Biar kami yang urus,” sahut Kanata.
Ia berdiri di tengah dapur sempit itu dengan kemeja yang lengannya sudah digulung dan kotak perkakas baru di tangan, masih terbungkus plastik pabrik. Di belakangnya Santa memegang ponsel tinggi-tinggi, menampilkan video berjudul Cara Mengganti Karet Keran dalam Lima Menit.
“Kanata,” ujar Santa, serius sekali, “video ini dibuat oleh lelaki yang tampak sangat percaya diri.”
“Berarti kita aman.”
“Menurutku itu justru tanda bahaya.”
“Kalian pernah memegang kunci pas?” tanya Miyu. Ia mencoba terdengar santai, dan gagal.
“Gudang kantorku punya banyak,” jawab Kanata. “Teknisinya yang memegang.”
“Berarti jawabannya tidak.”
“Berarti jawabannya belum.”
Kanata menyobek plastik kotak itu dengan gigi. “Hari ini aku akan belajar namanya.”
Miyu menyerah dan menyingkir ke ruang tamu, membiarkan bunyi logam, desis, dan kata “Putar ke kiri!” “Kiri yang mana?” “Kirimu atau kiriku?” menguasai dapurnya. Ia duduk di lantai, bersandar ke sofa, dan menarik keluar peti kayu yang selama ini bersembunyi di bawah kolong. Debu menempel di jarinya.
Rutuk Miyu dalam hati, ia menyesal tidak merekam semua ini untuk Aya. Kanata muncul sepuluh menit kemudian dengan kemeja separuh basah dan wajah penuh kemenangan yang jelas masih prematur. “Kami menemukan karetnya. Rusak. Santa pergi mencari yang baru.”
“Dia pergi ke mana?”
“Toko bangunan di ujung jalan. Dia bilang dia tahu jalannya dari ramalan.” Kanata melihat peti di lantai. “Itu apa?”
“Peti kakek.”
Ia duduk bersila di depannya dengan hati-hati, seperti orang yang masuk ke kamar yang sedang ditiduri. Miyu membuka tutupnya. Aroma daun teh kering menyambut mereka, tipis, nyaris hilang, namun masih ada.
Di dalamnya ada satu set teh keramik: poci kecil berwarna hijau tua, empat cangkir tanpa gagang yang disusun saling menopang, dan sendok bambu yang bagian ujungnya sudah menghitam oleh bertahun-tahun uap. Di bawahnya ada buku catatan bersampul kain, penuh tulisan tangan kakek dalam bahasa Jepang: takaran daun, suhu air, cuaca hari itu, dan satu baris di tiap halaman tentang siapa yang menemani menyeduh.
“Ini semua catatan seduhan,” jelas Miyu. “Dia mencatat semuanya. Siapa yang datang, hujan atau tidak, tehnya terlalu pahit atau terlalu muda.” Di dasar peti, terselip di sudut, ada sebuah kotak kayu kecil terbungkus kain katun. Miyu menggesernya ke samping tanpa membukanya, dan Kanata, yang melihat gerakan itu, tidak bertanya.
Kanata membuka halaman acak dengan ujung jari, seolah kertasnya bisa pecah. “Di sini tertulis, “Hari ini Miyu menumpahkan tehnya ke buku pelajarannya dan tertawa.”” Ia mendongak. “Kamu berapa tahun saat itu?”
“Sebelas. Kakek tidak pernah marah.” Suara Miyu menjadi sedikit serak. “Dia cuma mengelap bukunya dan menulis itu.”
Di dasar peti ada tumpukan foto. Miyu mengambil yang paling atas dan menyodorkannya tanpa bicara.
Seorang gadis kecil berambut pirang dengan dua kepang longgar duduk di pangkuan seorang pria berjas dokter yang tersenyum lebar. Di sampingnya seorang perempuan berkacamata menaruh dagu di bahu mereka berdua. Latar belakangnya laut dan langit yang terlalu cerah untuk difoto.
“Anyer,” kata Miyu. “Setahun sebelum mereka pergi. Aku sembilan tahun. Aku baru sadar sekarang kami bertiga pakai sandal jepit yang sama.”
Kanata menatap foto itu lama. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengusap sudut kertasnya dengan ibu jari, sangat pelan, seperti mengusap rambut seseorang yang sedang tidur.
“Matamu hijau seperti ayahmu,” katanya akhirnya.
“Dari ibuku. Rambutnya dari keluarga ibuku yang berdarah Inggris, kata kakek.”
“Mereka akan senang melihatmu sekarang.”
“Mungkin.” Miyu menggigit bibir. “Aku sering berpikir mereka menontonku diam-diam dari suatu tempat dan menggelengkan kepala.”
“Menggeleng karena bangga,” sahut Kanata. “Dan sedikit gemas karena kamu sering lupa makan.”
Miyu tertawa, basah. “Kamu terlalu pandai bicara untuk orang yang baru bisa menyebut kunci pas.”
“Aku belajar dari seseorang yang mengomel padaku tiap hari.”
Hening sejenak, manis. Lalu Kanata mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan meletakkannya di atas tutup peti. Sebuah kunci perak kecil dengan gantungan kulit.
“Aku harus mengaku sesuatu,” katanya cepat, sebelum keberaniannya kabur. “Beberapa hari lalu aku menyewa rumah. Di Menteng. Dua ratus meter dari Anomali.”
Miyu menatap kunci itu, lalu Kanata, lalu kunci itu lagi. “Kamu apa?”
“Menyewa. Bukan membeli. Aku sudah belajar.”
“Tanpa bertanya.”
“Aku memang tidak bertanya,” akunya, “dan itu salah. Pasal empat Nana. Aku mengaku sebelum kamu menemukannya sendiri.”
“Itu bukan mengaku. Itu menaruh kunci di peti kakekku.”
“Itu kejutan yang tertunda.”
“Kanata.”
“Rumah ini bocor,” ujar Kanata lirih. “Bayi kita lahir kurang dari sepuluh pekan lagi. Aku ingin kamu tidur di tempat yang kerannya tidak menetes sepanjang malam. Itu saja.”
Miyu membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya. Di dapur, tik, tik, tik masih berjalan dengan setianya.
Ia ingin marah. Ia sungguh ingin. Tapi di antara semua hal yang bisa dilakukan lelaki itu dengan uangnya, mencari rumah yang tidak bocor untuk bayinya rasanya paling sulit dibantah, dan Miyu membenci betapa sulitnya.
“Aku mau lihat dulu,” katanya akhirnya. “Besok. Dan aku yang memutuskan apakah aku suka.”
“Tentu saja.”
“Dan perabotnya kita pilih bersama. Bukan paket dari penata interior yang isinya sofa putih.”
“Aku tidak suka sofa putih.”
“Bagus.”
Kanata mengeluarkan tablet dari tasnya, dan selama dua puluh menit berikutnya mereka duduk berdempetan di lantai, menggulir katalog sambil berdebat soal rak buku, tempat tidur, dan kursi goyang. Miyu menolak lemari tiga pintu karena “terlalu angkuh”, Kanata menolak karpet merah muda karena “terlalu cerah untuk kamar yang harus membuat bayi tidur”, dan mereka akhirnya sepakat pada kursi goyang kayu jati dan satu rak panjang yang akan diisi buku-buku bayi.
“Dan ini,” kata Miyu, menepuk tutup peti. “Ikut pindah. Set teh kakek dipajang di dapur, bukan di lemari.”
“Dapurnya akan terasa seperti rumah.”
“Dapurnya akan terasa seperti punya Kakek.” Miyu tersenyum kecil. “Itu lebih baik.” Ia mengangkat satu cangkir tanpa gagang dari peti. “Pegang. Kakek selalu bilang cangkir ini harus dipegang dua tangan, satu di bawah, satu di samping. Kalau dipegang satu tangan, tehnya merasa tidak dihormati.”
Kanata menerimanya seperti menerima bayi burung. Ia memegang dengan dua tangan, punggung tegak, siku rapat, dan Miyu menahan tawa karena lelaki yang memimpin sebuah grup perusahaan itu tampak sedang diuji untuk SIM.
“Begini?”
“Hampir. Jarimu terlalu tegang.”
“Aku takut memecahkannya.”
“Cangkir ini sudah lebih tua dari kamu, Kanata. Dia tahan banting.”
“Justru karena itu.”
Ponselnya bergetar di lantai. Nama Aya muncul di layar, dan di bawahnya satu pesan yang dikirim dengan huruf kapital semua.
Aya: RABU SORE. RUMAH GUE. BABY SHOWER. NGGAK ADA ALASAN.
Aya: KANATA JUGA HARUS DATANG. SANTA JUGA.
“Dia tahu aku di sini,” gumam Miyu.
“Dia tahu segalanya. Itu bakatnya.”
BRAK. Dari dapur terdengar bunyi logam jatuh, lalu desis panjang, lalu jeritan Santa yang nyaris seperti suara orang tersiram air es.
“KANATA! KERANNYA...”
“Aku pikir dia pergi ke toko bangunan,” kata Miyu.
“Dia sudah kembali.” Kanata bangkit dan berlari. Miyu mengikuti dengan langkah lebih sabar, dan di ambang dapur ia menemukan Santa basah kuyup dari rambut sampai ujung sepatu, memegang sebatang pipa yang menyemprotkan air ke langit-langit.
“Kurasa,” ucap Santa, tegak dengan martabat orang yang tenggelam, “Rabu sore nanti aku akan datang ke rumah Nona Aya. Tolong pastikan di sana tidak ada keran.”