Enam hari sesudah kardus naskah itu mendarat di meja enam, Minggu pagi dimulai dengan pertengkaran kecil tentang jumlah piring.
“Enam puluh,” ujar Miyu, mengetuk daftar tamu di meja makan apartemen Kanata dengan ujung pulpen. “Kita sepakat enam puluh.”
“Aku hanya menambah dua belas,” sahut Kanata. “Karyawan yang mengurus toko pop-up. Mereka bekerja keras.”
“Dua belas orang yang belum pernah kutemui akan menonton aku berdiri dengan perut sebesar semangka?”
“Semangka kecil.”
“Kanata.”
“Enam puluh,” putus Kanata, mencoret angka di kertas dengan penyesalan yang tampak jujur. “Dua belas orang itu akan kuundang makan malam terpisah.”
“Bagus.” Miyu menyandarkan punggung dan mengusap pinggangnya. Pekan ketiga puluh membuat semua kursi terasa terlalu keras, dan ia mulai mengerti kenapa perempuan di buku kehamilan Kanata selalu digambar sedang duduk. “Kamu belajar cepat.”
“Aku punya guru yang galak.”
Bel pintu berbunyi pukul sebelas. Santa membukanya, dan Pak Mori melangkah masuk dengan tas kulit yang sama dan raut yang kali ini tampak tidak rapi. Alisnya sedikit turun. Satu kancing jasnya terlambat dikancingkan.
“Tuan Saionji. Nona Miyu.” Ia tidak duduk meski dipersilakan. “Saya membawa kabar yang tidak menyenangkan, dan lebih baik saya menyampaikannya berdiri.”
Kanata meletakkan pulpen. “Katakan.”
“Dua tetua dari cabang barat keluarga, yang telah dihubungi Tuan Hosho sejak dua pekan lalu, menyatakan secara tertulis bahwa mereka tidak akan hadir Sabtu depan.” Pak Mori menarik selembar kertas dari tasnya dan menaruhnya di meja, tetapi tidak ada yang menyentuhnya. “Alasan yang mereka tulis, “pernikahan belum mendapat persetujuan para tetua”. Mereka tidak menyebut Nona Miyu dengan nama. Mereka menyebutnya, saya mengutip, “perempuan itu”.”
Ruangan sunyi. Di dapur, Santa berhenti menuangkan air dan tidak berani bergerak.
Miyu menatap kertas itu. Ia tidak membacanya. Ia tidak perlu.
“Dua kursi kosong,” katanya akhirnya, sangat pelan.
“Hanya dua dari sekitar enam puluh, Nona.”
“Tapi dua yang paling penting buat mereka.” Telapak tangannya naik ke perut, tanpa sadar. “Aku takut, Kanata. Aku takut menjadi alasan keluarga ini pecah. Hosho sudah melawan begitu banyak orang karena aku. Mikan sudah melawan keluarganya sendiri. Kamu sudah menolak Christine, menolak perjanjian, menolak...”
“Miyu.”
“Aku nggak mau jadi orang yang datang, lalu semuanya retak.”
Kanata bergeser, menarik kursinya hingga lututnya menyentuh lutut Miyu, lalu meraih kedua tangannya. Pak Mori memandang ke arah lain dengan tata krama seorang pengacara yang sudah menyaksikan terlalu banyak keluarga.
“Dengar aku,” kata Kanata. “Kamu bukan alasan.”
“Tapi...”
“Kamu bukan alasan,” ulangnya, tanpa menaikkan suara. “Alasannya adalah orang-orang yang lebih mencintai buku silsilah daripada orang yang tertulis di dalamnya. Itu urusan mereka. Bukan salahmu, bukan salah anak kita. Kalau keluarga ini bisa pecah hanya karena seorang perempuan hamil dan seorang perempuan yang menyeduh teh peninggalan kakeknya untuk Hosho, maka retaknya sudah ada sebelum kamu datang.”
“Aku bukan pelayan kafe lagi,” bisik Miyu, setengah tertawa, setengah tidak. “Aku penerjemah lepas.”
“Aku tahu. Kamu naik pangkat dua kali dalam pekan yang sama.”
Dari arah pintu terdengar langkah cepat. Santa menyelinap keluar dari dapur, menempelkan telinga ke daun pintu, dan mundur dengan wajah pucat.
“Kanata,” desisnya. “Ada lift. Ada tongkat. Aku mendengar tongkat.”
“Tidak mungkin,” kata Kanata. “Hosho dijadwalkan tiba tiga hari lagi.”
Bel berbunyi satu kali, pendek dan tegas.
Santa membuka pintu dengan gerakan seperti sedang menjinakkan bom. Di ambang pintu berdiri Hosho, dalam setelan abu-abu tua dengan tongkat kayu tipis di tangan kanan, ditemani seorang sopir muda yang membawa dua koper kecil dan menunggu di lorong. Wajahnya tidak menunjukkan keletihan perjalanan. Ia memandang ruangan itu seperti hakim yang masuk ke ruang sidang.
“Pesawat berangkat lebih awal dari jadwal,” katanya, seolah itu menjelaskan segalanya. Santa menawarkan teh, kopi, dan air putih yang sangat baik, dan Hosho menjawab, “Air putih,” tanpa menoleh. Santa berlari ke dapur. “Mori. Kau sudah menyampaikan?”
“Sudah, Tuan.”
“Bagus. Laptop.”
Pak Mori membuka laptopnya di meja tanpa bertanya apa pun. Hosho duduk di kursi kepala meja, meletakkan tongkat bersandar di sisi, dan menoleh kepada Miyu untuk satu detik penuh.
“Nona Kouzuki. Kamu sehat?”
“Sehat, Tuan Hosho.”
“Dagingnya matang?”
“Matang, Tuan.”
“Bagus.” Hosho menekan tombol. “Sekarang diam, dan dengarkan.”
Layar menampilkan dua wajah tua yang berdampingan di ruangan bercahaya redup. Salah seorang bahkan sempat membuka mulut untuk menyapa sebelum Hosho memulai, dan ucapannya yang pertama dalam bahasa Jepang itu begitu datar sehingga Miyu, yang mengerti setiap katanya, merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Aku menerima surat kalian.”
Miyu menyimak dengan tangan dalam genggaman Kanata. Hosho tidak berteriak, tidak mengancam. Ia berbicara seperti orang yang menyebutkan nama tanah miliknya. “Pernikahan ini bukan permintaan izin,” katanya. “Ini pemberitahuan.”
Tidak ada yang menyela. “Aku sudah melihat sendiri perempuan itu dan anak di dalam kandungannya. Umurku delapan puluh lebih, dan aku belum pernah salah menilai orang yang duduk berhadapan denganku.”
“Namun,” sambungnya, dan suaranya turun, “aku mengerti keraguan dua orang tua yang hanya membaca nama di atas kertas. Karena itu aku tawarkan satu hal. Pertemuan keluarga besar tinggal enam pekan lagi. Bila kalian masih ragu, tanyakan langsung kepada Kanata di sana. Bukan kepada kertas. Bukan kepada kabar burung. Kepada orangnya.”
Miyu membayangkan deretan wajah tua di layar yang lebih besar, dan Kanata yang menjawab pertanyaan satu per satu dengan tenang. Ia menghela napas lega. Namun matanya menangkap rahang Kanata yang mengeras tipis, dan sorot Hosho yang tetap lurus ke layar tanpa bergeser sedikit pun. Ia mengira itu hanya ketegangan.
“Jika setelah itu kalian masih menolak, itu hak kalian,” tutup Hosho. “Tetapi kursi kalian tidak akan kuberikan kepada orang lain. Selamat siang.”
Layar padam. Pak Mori menutup laptop dengan lembut. Santa, yang sejak tadi menahan napas di dekat dinding, akhirnya menyeka mata dengan lengan baju dan pura-pura ada debu di sana.
“Hosho,” ujar Kanata, parau.
“Bukan sekarang,” potong Hosho. Ia mengambil tongkatnya dan bangkit dengan sedikit susah payah, lalu merogoh saku dalam jasnya. “Nona Kouzuki. Berdirilah.”
Miyu berdiri, dibantu Kanata, dengan satu tangan di punggung. Hosho mengeluarkan sebuah kotak sempit dari kayu hitam dan membukanya perlahan. Di dalamnya, di atas kain sutra pudar, terbaring hiasan rambut dari kayu cendana, ukirannya sederhana: setangkai bunga plum yang ujung kelopaknya sudah halus dimakan waktu.
“Milik istriku,” katanya. “Ia memakainya pada hari pernikahan kami, dan tidak pernah memakainya lagi karena aku bilang bunganya terlalu cantik untuk dibuat berantakan oleh angin.” Ada sesuatu yang bergerak di sudut matanya, tetapi suaranya tetap rata. “Ia tidak punya anak perempuan yang bisa mewarisi ini. Aku sudah lama menimbang kepada siapa benda ini pantas diserahkan. Pakailah Sabtu depan.”
Tangan Miyu gemetar ketika menerimanya. Kayu itu hangat, seakan baru dilepas dari rambut seseorang. “Tuan Hosho, saya tidak...”
“Kamu tidak perlu menjawab apa pun. Cukup pakai.” Hosho berbalik. “Mori. Kita pergi. Kanata, besok pukul sembilan di kantor, kau punya setumpuk dokumen yang harus ditanda tangani.”
Pintu menutup di belakang mereka. Dalam keheningan yang menyusul, Miyu duduk kembali, memegangi hiasan itu dengan dua tangan seperti cangkir kakek. Ia tidak punya ibu yang bisa menyerahkan benda semacam ini kepadanya di pagi hari pernikahan. Namun seorang lelaki berumur delapan puluh lebih baru saja melakukannya tanpa diminta.
Santa menempelkan telinga ke daun pintu, lalu berbalik dengan mata basah dan suara terlalu keras: “Tongkatnya mengetuk dua kali di depan lift! Itu artinya setuju, kan? Tolong bilang itu artinya setuju!”