Hosho sudah lima hari berada di Jakarta ketika Miyu, Jumat sore itu, berdiri di gerbang TPU Tanah Abang dengan seikat sedap malam yang ia beli sendiri dari penjual bunga di depan pagar.
“Biar aku yang bawa,” kata Kanata.
“Ini bunga untuk orang tuaku. Aku yang bawa.”
“Kalau begitu aku bawa air.” Ia mengangkat botol besar dan sapu tangan lipat dari saku jas. “Aku datang siap.”
Mereka berjalan pelan di antara nisan-nisan, Miyu dengan satu tangan menopang punggung, Kanata setengah langkah di belakang dengan tangan terulur kalau-kalau ia tergelincir. Langit sore berwarna kuning pucat dan angin membawa bau tanah basah. Tiga nisan berdiri berjejer di bawah pohon kamboja yang daunnya sudah separuh gugur.
Miyu menyingkirkan daun kering dari nisan ayahnya, lalu ibunya, lalu kakek. Ia berjongkok dengan susah payah, ditahan Kanata di siku, lalu menyerah dan duduk di kursi lipat kecil yang entah sejak kapan sudah dibawakan Santa ke sana.
“Pa, Ma, Kek,” katanya. “Besok aku menikah.”
Angin berdesir di pucuk kamboja.
“Orangnya ada di sini. Itu Kanata. Dia agak kaku dan sopan berlebihan, tapi dia nggak pernah menyuruh aku berhenti bicara.” Suaranya mulai pecah. “Aku nggak tahu apakah kalian mau dia jadi suamiku. Aku nggak punya cara buat nanya. Jadi aku datang saja dan bilang. Kalau ada yang nggak setuju, tolong kasih tanda. Hujan juga boleh.”
Mereka menunggu. Langit tetap kuning pucat. Seekor burung hinggap di dahan, memiringkan kepala, lalu terbang lagi.
“Itu bukan tanda,” bisik Miyu. “Itu burung.”
“Tanda-tanda sering mengambil rupa burung,” sahut Kanata dengan wajah serius. “Santa mengatakannya.”
Miyu tertawa, dan tawanya melonggarkan sesuatu di dadanya.
Kanata berlutut di depan nisan ayahnya dan membasuhnya dengan sapu tangan basah, pelan-pelan, dari atas ke bawah, seperti yang ia lakukan pada nisan kakek tempo hari. Lalu ibu. Lalu kakek. Ia berhenti sebentar, menegakkan punggung di depan ketiganya, dan membungkuk sampai dahinya hampir menyentuh batu.
“Nama saya Saionji Kanata,” katanya, dalam bahasa Indonesia yang jernih. “Saya tidak mengenal Bapak dan Ibu, dan saya baru mengenal Kakek lewat catatan tehnya. Besok saya akan menikahi putri dan cucu Anda. Saya tidak datang membawa janji besar. Saya datang membawa kebiasaan mencuci nisan, kemampuan menghafal waktu minum vitamin, dan kesediaan dimarahi.” Ia berhenti sejenak. “Dia tidak akan pernah lagi menunggu seseorang pulang sendirian. Saya akan pulang. Selalu.”
Miyu menggigit bibir sampai terasa sakit. Di sela air matanya ia melihat Kanata menaruh sapu tangan yang sudah ternoda tanah itu di atas nisan kakek, di samping bunga, seolah meninggalkan tanda tangan.
“Sudah?” bisiknya.
“Belum. Aku masih harus mengatakan kepada Kakek bahwa tehnya akan diseduh dengan tangan kiri dan kanan, bukan satu.”
“Kamu mau mati dimarahi dua orang.”
“Satu sudah cukup,” kata Kanata. “Aku hanya ingin yang paling galak.”
***
Pukul delapan malam, rumah kontrakan Miyu mengeluarkan bunyi yang tidak pernah ia dengar sejak pindah: tawa tiga orang sekaligus.
“Berdiri dong, Mi, gue mau lihat gaunnya!”
“Gue sudah berdiri tiga kali, Aya!”
“Satu kali lagi! Nana, tahan bantalnya!”
Gaun putih gading yang dipilih Miyu sendiri bersama Aya dan Nana tergantung di pintu lemari, berkibar sedikit tiap kali ada yang lewat. Di meja rias kecil terbuka kotak kayu hitam dari Hosho dan hiasan cendana bunga plum di dalamnya. Nana, dengan dua jepit rambut di mulut, berdiri di belakang Miyu dan mencoba menyelipkannya ke sanggul longgar yang belum jadi.
“Jangan miring,” desis Aya. “Kalau miring, Hosho bakal ngelihat itu sambil mikir “anak perempuan ini nggak becus”.”
“Ini bukan miring, ini artistik.”
“Artistik itu bohong.”
“Dengerin,” kata Miyu, “gue nggak mau lo pada marah, tapi ada satu hal yang harus gue bilang.”
Dua perempuan itu berhenti serentak. Nana menurunkan jepit dari mulutnya.
“Gue udah ngirim undangan buat Christine.”
Hening. Aya membuka mulut, menutupnya, membuka lagi.
“Lo apa?” Nana mengucapkan kata itu dengan nada rendah, nada yang ia pakai di ruang sidang ketika saksi berbohong. “Perempuan yang bilang lo berutang? Yang nawarin lo apartemen, seolah lo itu... gue nggak mau bilang apa. Dia?”
“Dia.”
“Mi, lo gila.”
“Mungkin.” Miyu menatap pantulan dirinya di cermin, perutnya, cincinnya, matanya yang tidak lagi merah. “Tapi dia datang ke Anomali dan menawarkan sesuatu yang dia kira kebaikan. Dia salah, dan dia nggak tahu betapa salahnya. Gue pengen dia datang, lihat sendiri gue baik-baik aja, dan kalau dia mau minta maaf, gue dengar. Kalau nggak mau, ya sudah.”
“Kalau dia bikin lo nangis di hari nikah lo...”
“Maka dia bakal berurusan sama dua pengacara dan satu penulis.” Miyu tersenyum kecil. “Tapi gue nggak bakal nangis. Gue yang mutusin, Na.”
Nana memandangnya lama, bahu turun pelan. “Oke,” katanya akhirnya. “Tapi gue yang berdiri di dekatnya kalau dia datang.”
“Setuju.”
“Dan gue bawa stabilo.”
“Buat apa?”
“Buat menandai kalimat-kalimat dia yang bakal gue pakai sebagai bukti.”
Aya terbahak. Dan di tengah tawa itu, bel pintu berbunyi dua kali, tegas.
Tiga kepala menoleh serentak. Aya yang pertama sadar. “Jam segini?”
“Pak Rudi?”
“Kanata nggak boleh ke sini, katanya pamali.”
Nana mengintip dari tirai dan menarik napas tajam. “Mi. Itu mobil hitam. Dengan sopir. Dan tongkat.”
Miyu menegakkan badan secepat yang perutnya izinkan. Ia membuka pintu sendiri, dan di teras kecil itu, di bawah lampu kuning yang seekor ngengat mengitari, berdiri Hosho sendirian. Sopirnya menunggu di balik pagar. Ia membawa kantong kertas kecil di tangan kiri.
“Tuan Hosho.”
“Aku tidak akan lama.” Matanya bergeser sekilas ke dua perempuan yang buru-buru bersembunyi di belakang tirai. “Teman-temanmu boleh keluar. Aku tidak menggigit.”
Aya dan Nana muncul dengan wajah merah. Hosho mengangguk kepada mereka, mengambil tempat di sofa yang diperuntukkan untuk tamu, dan meletakkan tongkat di sisinya. Miyu menyeduh teh dari kaleng peninggalan kakek, menyajikannya dalam cangkir tanpa gagang, lalu menyodorkannya dengan dua tangan. Hosho menerimanya dengan dua tangan pula.
“Pahit,” katanya, setelah seteguk. “Tepat.”
“Terima kasih.”
“Besok aku berdiri di sisi Kanata. Aku akan mendengarkan janji kalian dan melihat enam puluh orang berusaha tidak menangis, sebagian berhasil, sebagian tidak.” Hosho meletakkan cangkir. “Namun malam ini aku datang bukan sebagai kepala keluarga. Aku datang karena ada kata yang tertunda sejak aku menguji bahasamu di meja makan hotel yang dingin itu, dan aku tidak ingin menundanya sampai besok, di depan orang-orang.”
Ia menatap Miyu langsung. Matanya yang tua, bening, sedikit berair di sudutnya.
“Miyu.”
Miyu merasa lututnya lemas.
“Selamat datang di keluarga ini.”
Sesaat tak ada suara. Dari balik tirai terdengar Aya menarik napas yang terlalu keras. Cangkir di tangan Miyu bergetar, dan ia menaruhnya pelan-pelan agar tidak jatuh.
“Tuan Hosho,” katanya, parau. “Boleh saya...” Ia menelan ludah. “Boleh saya memanggil Anda Kakek?”
Hosho menatapnya lama sekali. Rahangnya bergerak sedikit, seperti orang yang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.
“Boleh,” katanya.
“Kakek.”
“Ya.” Ia berdeham, mengambil kantong kertas, dan menyodorkannya. “Ini kue yang disukai Kanata waktu kecil. Jangan dimakan semua, nanti ia cemburu.”
Hosho pulang sepuluh menit kemudian, dan Miyu mengantarnya sampai pagar sambil memeluk kantong itu. Ketika ia kembali ke dalam, Aya sedang menangis tersedu-sedu di sofa, Nana pura-pura mengatur tirai dengan hidung merah.
Malam itu mereka bertiga berbagi kasur dan sofa di ruang tamu yang sempit, dengan lampu dimatikan dan jendela terbuka untuk angin. Lama tidak ada yang bicara.
“Mi,” bisik Nana dalam gelap. “Besok pagi lo bukan lagi cuma Miyu kami. Lo istri orang.”
“Gue tetap pirang lokal lo.”
“Tidur.”