Lima hari sejak Hosho pulang ke Tokyo, Kanata membawa tas kerjanya ke mana-mana, termasuk ke kelas ibu hamil Rabu sore itu, tempat tas semacam itu sama sekali tidak diperlukan.
“Taruh saja di loker,” kata Miyu.
“Tidak apa-apa. Isinya penting.”
“Isinya map dan laptop. Kita mau memandikan boneka.”
“Bonekanya juga penting.” Kanata menyandang tasnya lebih tinggi di bahu, lalu melangkah masuk ke ruang serbaguna di lantai dua RSU Bunda seperti orang yang hendak mengikuti ujian masuk.
Sebelas pasangan sudah duduk di atas tikar senam. Di depan mereka berdiri bidan pengajar, perempuan bertubuh mungil dengan suara yang tidak perlu pengeras suara, dan di sampingnya sebuah troli penuh baskom, handuk, serta boneka silikon seberat bayi baru lahir. Miyu mendapat boneka bernomor tujuh. Kanata memandangi nomor itu dengan tatapan orang yang tidak terima diberi nomor tujuh.
“Suhu air tiga puluh tujuh derajat,” kata bidan. “Cukup uji dengan siku, Bapak-Bapak.”
“Toleransinya berapa?” tanya Kanata.
Beberapa ibu menoleh. Bidan mengerjap. “Toleransi, Pak?”
“Satu derajat? Dua? Kalau lewat, apa yang terjadi?”
“Kalau lewat, Bapak menambah air dingin.”
Ruangan tertawa. Telinga Kanata memerah, tetapi ia tetap mencatat jawaban itu di ponselnya. Miyu menutup mulut dengan punggung tangan supaya tawanya tidak terlalu keras.
Giliran memandikan, Kanata menyangga kepala boneka dengan dua jari yang gemetar tipis, menuangkan air sepelan orang menyeduh teh upacara. Pasangan di sebelah mereka, seorang bapak berjenggot yang sudah punya dua anak, menonton sambil menahan senyum.
“Pelan-pelan, Mas. Bayi nggak takut air. Bapaknya yang takut.”
“Saya tidak takut,” jawab Kanata. Boneka itu terpeleset dari handuk. Kanata menangkapnya sebelum menyentuh baskom, dengan refleks yang membuat satu ruangan bertepuk tangan.
“Dia aman,” katanya, terengah, dan memeluk boneka itu ke dada.
“Dia silikon, Kanata,” bisik Miyu.
“Tetap saja.”
Latihan napas lebih buruk. Miyu menghitung dengan suara rendah, tarik empat hitungan, hembus enam, dan di sampingnya Kanata ikut berhitung dengan napas yang jauh lebih keras daripada napas Miyu, seperti sedang berlari. Bidan menghampiri dan menepuk bahunya.
“Pak, yang melahirkan itu Ibu.”
“Saya hanya ingin tepat.”
“Tepat itu bagus. Tetapi Bapak ini sedang memberi contoh hiperventilasi, bukan latihan.”
Ketika bidan membagikan stiker bintang di akhir sesi, Kanata menghitung jumlah bintang di buku pasangan lain. “Mereka dapat dua,” ujarnya serius.
“Kanata.”
“Aku hanya mengamati.”
“Kamu mengamati dengan wajah orang yang akan menggugat.”
Ia hampir tertawa, tetapi bidan sudah menutup sesi dengan satu pesan yang diucapkan datar, seperti pesan yang sudah ia ulang ratusan kali. “Satu lagi. Siapkan pendamping persalinan sejak sekarang, dan siapkan juga penggantinya kalau pendamping utama kebetulan berhalangan. Anak lahir tidak selalu menunggu jadwal.”
Miyu menoleh, hendak mengomentari sesuatu yang lucu. Tangan Kanata di dalam baskom tidak bergerak. Ia menatap air yang sudah dingin itu, dan tas kerjanya yang bersandar di kakinya.
***
Pukul sembilan malam, Miyu duduk di meja kecil di ruang kerja Menteng, di depan jendela yang menghadap pohon kecapi, dengan tiga kamus terbuka dan cerpen ketiga dari sebelas yang ia terima dari Haru Media. Ada satu kata dalam naskah itu yang tidak punya padanan. Ia sudah mencoba tujuh, dan kedelapan sedang menunggu giliran di ujung penanya.
Pintu berderit. Kanata masuk membawa nampan, tas di bahu kirinya.
“Teh,” katanya. “Aku menyeduhnya sendiri.”
Miyu mencium uapnya dan mengerutkan hidung. “Ini pahit sekali.”
“Hosho bilang teh kakekmu pahit.”
“Hosho mengatakan itu setelah dua puluh tahun minum teh. Kamu baru lima hari belajar.” Ia menyesapnya juga. Pahit, tetapi hangat, dan anehnya ia tidak ingin menyingkirkannya. “Boleh juga. Jangan bilang siapa-siapa.”
“Boleh pijat bahumu?”
“Boleh.”
Tangan Kanata mendarat di bahunya, ragu lalu mantap, dan Miyu menutup mata dengan napas panjang yang sudah ia tahan sejak sore. Tas kerja itu diturunkan Kanata ke lantai, di samping kursi, karena ia memerlukan dua tangan. Ritsletingnya setengah terbuka. Di celah itu, di antara dua map biru, menyembul sudut kertas tebal berwarna gading dengan sisa lilin hitam yang mengeras.
Miyu membuka mata.
“Itu apa?”
Pijatannya berhenti. “Apa yang mana?”
“Yang di tasmu. Kertas tebal dengan lilin hitam.”
“Surat kantor.”
“Kantor tidak mengirim surat dengan segel lilin.” Ia memutar kursi pelan sampai berhadapan dengan Kanata. “Lima hari ini tasmu tidak pernah lepas dari bahumu. Hari ini kamu bawa ke kelas boneka. Kanata.”
“Ya.”
“Pasal lima.”
Kanata terdiam. Cahaya lampu meja memotong separuh wajahnya, dan Miyu bisa melihat rahangnya bergerak, tanda ia sedang mencari kalimat paling aman dan tidak menemukannya.
“Kamu sendiri yang menandatangani,” tambah Miyu. “Berlaku dua arah. Kalau takut, katakan hari itu juga. Ini sudah hari kelima.”
“Aku tahu.”
“Jadi?”
Ia berjongkok, mengambil amplop itu dari tas, dan menaruhnya di meja di atas naskah Miyu, seperti benda yang lebih nyaman berada di tempat terang. “Dari Hosho. Dia memberikannya di halaman, hari Jumat itu. Pertemuan keluarga besar jatuh pada Selasa, kurang dari empat pekan lagi, di rumah induk di Tokyo. Dua tetua yang tidak datang ke pernikahan kita akan menerimamu dan anak kita hanya bila aku sendiri yang menuliskan namamu di buku silsilah, di hadapan mereka. Bukan lewat layar.”
Miyu tidak menyentuh amplop itu. Ia hanya memandangnya.
“Tokyo,” katanya.
“Tiga hari. Berangkat Senin, pulang Rabu, kalau aku berangkat.”
“Kalau.”
“Aku belum memutuskan.”
“Lima hari kamu belum memutuskan, dan lima hari kamu tidak bilang.” Suara Miyu tidak meninggi. Itu justru lebih sulit didengar. “Kamu tahu apa yang aku bayangkan saat kamu menyimpan tas itu? Aku membayangkan kamu mau membatalkan sesuatu dan tidak berani bilang. Atau ada yang salah dengan Hosho. Atau kamu sudah mau pergi.”
“Aku tidak akan pergi.”
“Kamu sedang pergi sekarang. Duduk satu meter dariku, tapi pikiranmu di pesawat.”
Kanata menunduk. Dalam kesunyian yang lama, jarum jam di dinding berbunyi lebih keras daripada seharusnya.
“Bidan tadi bilang siapkan pengganti,” katanya pelan. “Aku tidak mendengar kalimat berikutnya. Yang kupikirkan hanya satu: kalau aku di udara dan kamu...” Ia tidak menyelesaikan kalimat itu. “Pekan ketiga puluh tujuh, kata dokter, sudah cukup bulan. Dan aku akan berada tujuh jam jauhnya.”
Miyu menatapnya. Marahnya belum hilang, tetapi ada yang menyelinap di bawahnya, sesuatu yang hangat dan menyakitkan: lelaki di depannya ini takut, dan ia sudah menyembunyikan ketakutan itu lima hari hanya karena ingin membawa solusi, bukan masalah.
“Kamu mau menyelesaikan semuanya dulu baru bilang,” ujarnya.
“Ya.”
“Itu pasal satu dan pasal lima, dua-duanya sekaligus.” Ia mengambil amplop itu akhirnya, membaliknya, menyentuh lilin hitam dengan ibu jari. “Dengar. Aku tidak mau jawabanmu malam ini. Aku juga tidak mau kamu memutuskan sendirian di kantor atau di atap, lalu menyodorkan hasilnya padaku.”
“Lalu?”
“Senin depan kontrol Dokter Raina. Kita tanya dia berdua.” Ia mengembalikan amplop itu ke tangan Kanata. “Dan mulai malam ini tas itu ditaruh di kursi, bukan di bahumu. Kamu seperti satpam yang menjaga bom.”
Kanata menatap amplop di tangannya, lalu menatap Miyu, dan untuk sekali itu wajahnya tidak sedang menghitung apa pun.
“Boleh aku memelukmu?”
“Boleh. Tapi hati-hati dengan perutku.”
“Aku sudah lulus kelas boneka.”
“Bintangmu cuma satu.”