Tas kerja Kanata menginap di kursi, bukan di bahunya, lima malam berturut-turut sejak amplop itu muncul di meja kerja Miyu. Miyu menghitungnya tiap malam seperti menghitung hasil ujian yang tidak ingin ia bocorkan. Maka Senin pagi di praktik Dokter Raina, ketika Kanata meletakkan tasnya di kursi tunggu tanpa diminta dan hanya membawa map plastik berisi buku catatan, Miyu menyimpan senyumnya dan pura-pura membaca poster tentang ASI.
“Bu Agatha. Pak Kanata. Silakan.”
Ruang periksa masih berbau lilin aromaterapi. Miyu berbaring di tempat tidur periksa dengan perut terbuka, dan gel dingin itu jatuh persis seperti terakhir kali, membuatnya mendesis. Di layar, gambar abu-abu bergerak, kini jauh lebih jelas dan lebih penuh. Kepala kecil, bahu, punggung yang melengkung, satu kaki yang menendang gambar itu sendiri.
“Tiga puluh tiga pekan,” kata Dokter Raina. “Berat perkiraan hampir dua kilo. Kepalanya sudah di bawah, tetapi masih tinggi, dan itu wajar. Ketuban cukup. Tekanan darah Ibu bagus.” Ia menggeser alat ke sisi kiri. “Bayi ini aktif sekali. Ia tidak mau diam untuk difoto.”
“Dia mewarisi bapaknya,” kata Miyu.
“Aku diam sekali waktu difoto,” protes Kanata dari kursi di sisi kepala tempat tidur.
“Kamu diam karena takut.”
Dokter Raina tertawa kecil dan mulai bicara tentang rencana persalinan: persalinan normal di RSU Bunda, ia sendiri yang akan menangani bila bisa, Dokter Devan yang berjaga bila malam, kamar yang sudah dipesan sejak awal. Kanata mencatat semuanya. Ketika ia sampai pada pertanyaan yang ia bawa dari rumah, suaranya dibuat sedatar mungkin.
“Dok, ada satu hal.” Kanata menggerakkan dagu ke arah Miyu di sisinya. “Saya mungkin harus bepergian tiga hari ke luar negeri, berangkat Senin tiga pekan lagi sampai Rabu malam. Urusan keluarga. Apakah itu...”
“Pekan ini Ibu tiga puluh tiga. Saat Bapak berangkat nanti, Ibu hampir tiga puluh tujuh.” Dokter Raina mengangkat alat dari perut, mengelapnya, lalu menatap mereka bergantian. “Jawaban jujurnya, saya belum bisa menjawab hari ini. Pekan tiga puluh enam saya baru tahu bayi ini sudah turun atau belum, dan apakah ada tanda apa pun. Kontrol berikutnya Selasa dua pekan lagi.”
“Dua pekan,” ulang Kanata.
“Ya, Pak. Perutnya yang menentukan, bukan jadwal.”
Kanata menutup bukunya perlahan. Tidak ada kekecewaan di wajahnya, tetapi ada sesuatu yang lain, seperti lampu yang diredupkan dari balik pintu.
“Pak Kanata, tolong ambilkan resep vitamin di meja resepsionis? Saya lupa menyerahkannya tadi,” kata Dokter Raina dengan nada sangat wajar.
Kanata bangkit dan keluar. Pintu ditutup setengah, dan Miyu menatap langit-langit yang sama dengan lampu yang sama, dan tahu persis kenapa dokter itu mengirimnya keluar.
“Bu Agatha,” kata Dokter Raina lembut, sambil duduk di kursi bundar di sisinya. “Berapa jam Ibu tidur semalam?”
“Empat.”
“Dan kemarin?”
“Tiga.” Miyu menelan ludah. “Dok, saya tidak bilang ini kepada siapa pun.”
“Itu fungsi ruangan ini.”
Miyu menatap lampu langit-langit itu lama sekali. “Saya mimpi hal yang sama sudah tiga kali. Saya berada di lorong rumah sakit, panjang sekali, lampunya putih, dan perut saya sudah kosong. Bayinya tidak ada di tangan saya. Saya memanggil Kanata, tetapi pintu di ujung lorong sudah tertutup, dan dari balik pintu itu ada suara orang-orang yang bilang dia tidak datang.” Ia menarik napas yang gemetar. “Saya bangun, dan Kanata tidur di sebelah saya, dan saya tidak berani membangunkannya. Saya tidak mau dia tahu saya masih seperti ini. Dia sedang bingung dengan urusan keluarganya, dan saya...”
“Dan Ibu masih takut ditinggal.”
“Saya tahu itu tidak masuk akal. Saya sudah menikah. Dia tidak pernah bohong sekali pun. Saya masih...” Suaranya pecah, dan ia memejamkan mata. “Saya masih sebodoh itu.”
“Ibu tidak bodoh. Hampir semua ibu hamil trimester ketiga bermimpi hal seperti itu, dan Ibu punya alasan lebih dari kebanyakan.” Dokter Raina menepuk punggung tangannya. “Tidak ada obat untuk mimpi. Hanya satu yang membantu: katakan kepada suami Ibu, malam itu juga, bukan setelah dua minggu.”
Pintu bergeser sedikit. Miyu membuka mata. Kanata berdiri di ambang, resep di tangan, tidak melangkah masuk. Entah sudah berapa lama ia di sana. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun, dan justru karena itu Miyu tahu ia sudah mendengar semuanya.
“Resepnya,” kata Kanata.
“Terima kasih, Pak.” Dokter Raina menerimanya seolah tidak ada yang terjadi. “Sampai bertemu dua pekan lagi.”
***
Di mobil, Miyu menatap jendela dan Kanata menyetir lebih lambat dari biasanya. Tidak ada yang berbicara sampai mereka melewati Taman Suropati.
“Aku antar kamu pulang dulu,” katanya akhirnya. “Lalu aku ke kantor sebentar. Ada dokumen yang harus kutandatangani.”
“Jangan terlalu lama.”
“Tidak.”
“Kanata.”
“Ya?”
Miyu hampir menceritakan mimpi itu. Kata-katanya sudah di ujung lidah, lengkap dengan lorong dan pintu tertutup. Tetapi Kanata mengerjap cepat, seperti orang yang menahan sesuatu, dan ia mengurungkan niat.
“Makan siangnya jangan di atap,” katanya saja.
“Aku makan di meja.”
“Janji?”
“Janji.”
Di rumah Menteng, asisten rumah tangga sudah menaruh sup bening di meja makan dan pergi ke belakang tanpa bicara, tanda ia sudah belajar membaca raut wajah nyonya rumahnya. Miyu makan tiga sendok, lalu berjalan ke kamar bayi dan duduk di kursi goyang jati di bawah bingkai foto orang tuanya.
“Ma,” bisiknya. “Tadi aku nyaris bilang. Nanti malam saja, ya. Aku susun dulu kalimatnya supaya tidak terdengar seperti orang menuntut.”
Perutnya bergerak, satu tonjolan kecil bergulir dari kiri ke kanan, seperti jawaban. Ia mengusapnya sambil tersenyum tipis.
***
Kanata tidak ke meja. Ia naik ke atap lewat tangga darurat lantai dua puluh, membuka pintu besi bertulisan Akses Atap, dan berdiri di tempat yang sama ketika ia memutuskan bahwa ia tidak ingin pulang ke Jepang. Angin siang meniup dasinya ke samping. Di tangannya, ponsel sudah terhubung ke Tokyo.
“Kau bangun pagi-pagi hanya untuk meneleponku?” Suara Mikan terdengar malas dan curiga. “Ada yang salah, ya? Itu istrimu?”
“Miyu sehat. Bayinya sehat.” Ia memandang Sudirman yang berkilat di bawahnya. “Aku tidak berangkat Senin.”
Hening sejenak di ujung sana. “Maaf?”
“Katakan kepada Hosho. Atau tidak usah, nanti aku sendiri. Aku tidak berangkat ke pertemuan keluarga besar. Dua tetua itu boleh menerima video, atau tidak menerima apa-apa.”
“Kanata...”
“Dia bermimpi buruk soal ditinggal. Tiga kali. Dan dia tidak bilang padaku.” Suaranya turun hingga hampir tidak terdengar di atas angin. “Aku tidak akan berada tujuh jam jauhnya.”
“Dia tahu kau membatalkan?”
Kanata tidak menjawab.
“Sepupu Kecil.” Mikan menghembuskan napas panjang, seperti ibu yang kehabisan cara. “Hosho akan menyeretmu ke Tokyo dengan tongkatnya. Ia akan menyeretmu sambil berkhotbah lima jam, dan aku akan duduk di barisan depan menonton.”
“Biar saja.”
“Dan Miyu?”
“Aku akan bilang setelah semuanya beres.”
“Itu,” kata Mikan datar, “kalimat yang paling sering diucapkan lelaki sebelum perempuan marah.”
Kanata menurunkan ponsel dan memandangnya, layar menampilkan nama Miyu yang baru saja mengirim satu pesan: Sudah di meja belum? Kanata mengetik “Sudah”, menghapusnya, mengetik lagi, dan mengirimnya.