Kamar bayi akhirnya selesai pada Kamis sore, lima hari setelah Miyu melingkari kotak merah di kalender, dan Kanata menyambutnya seperti insinyur yang baru menyelesaikan jembatan.
“Lihat,” katanya Kamis sore itu, dan membuka pintu lebar-lebar. “Gantungan bintangnya sudah terpasang. Lemari sudah diisi. Aku sudah mengukur jarak kursi goyang dari jendela supaya sinar matahari tidak langsung jatuh ke boks.”
Miyu berdiri di ambang dengan satu tangan di punggung. Kamar kecil itu terang dan rapi. Boks jati berukir daun teh menghadap jendela, selimut kuning Ira terlipat miring di dalamnya, rak mungil berisi baju yang dilipat sebesar telapak tangan, dan di dinding yang disinari matahari sore, bingkai foto ibunya, ayahnya, dan gadis kecil berkepang yang tersenyum ke arah entah apa. Di meja rias kayu, sekantong biji kopi dari Reno yang diantar pagi tadi masih terbungkus rapi, bersama catatan satu kalimat: Buat bayi nanti, kalau udah boleh. Reno.
“Kamu mengukur jarak kursi.”
“Dengan meteran.”
“Dari jendela.”
“Dengan sudut kemiringan.”
Miyu tertawa dan masuk. Ia duduk di kursi goyang yang jaraknya sudah dihitung, mengayunnya sekali, dan kursi itu bergerak halus tanpa derit. Kanata berdiri di depannya dengan tangan di belakang punggung, seperti anak kecil yang menunggu nilai.
“Bagus,” katanya. “Sangat bagus. Terima kasih.”
“Boleh aku duduk?”
“Di lantai saja. Kursi ini muat satu orang hamil.”
Kanata duduk bersila di karpet, bersandar pada dinding di bawah foto, dan untuk beberapa saat tak ada yang bicara. Matahari bergeser di lantai kayu. Dari dapur terdengar bunyi cangkir yang ditata asisten rumah tangga.
“Aku mau mengusulkan sesuatu,” katanya akhirnya. “Kamu boleh menolak.”
“Nama.”
Ia mengangkat alis. “Kamu sudah menebak.”
“Kamu berhenti membaca buku daftar nama sejak Senin, dan wajahmu seperti orang menyimpan permen di pipi.”
Kanata mengeluarkan secarik kertas dari saku kemeja, melipatnya dua kali, lalu tidak jadi menyerahkannya. “Hari-hari ketika kamu tidak mau bicara denganku, aku naik ke atap tiap malam, kamu tahu. Ada satu malam aku tidak turun. Aku duduk di sana sampai langit berubah.” Ia berhenti sebentar. “Matahari terbit di Sudirman tidak indah. Gedung-gedung menutup separuhnya, dan polusi membuat langit seperti air cucian. Tetapi ada beberapa menit ketika semuanya jadi emas, dan aku ingat berpikir, ini hari baru, dan aku masih di sini, dan mungkin ada yang menunggu di ujung hari itu.”
Miyu diam.
“Himari,” katanya, dan menyerahkan kertas itu.
Ia membukanya. Ada tiga huruf Jepang yang ditulis dengan tangan rapi, dan di bawahnya satu baris kecil dalam bahasa Indonesia: Cahaya hari.
“Himari,” ulang Miyu, hampir berbisik. Nama itu terasa lembut di lidah, seperti sesuatu yang sudah lama ia kenal tetapi baru pertama kali dilafalkan. Perutnya bergerak pelan. “Aku suka.”
“Sungguh?”
“Sungguh. Aku... sangat suka.” Ia menyentuh huruf-huruf itu dengan ibu jari. “Tetapi jangan sekarang.”
Wajah Kanata berubah halus. “Kenapa?”
“Aku tidak mau memberi nama kepada orang yang belum kukenal. Kita menunggu dia lahir. Kalau wajahnya cocok, dia Himari. Kalau tidak, kita cari lagi.”
“Wajahnya pasti cocok.”
“Kamu tidak tahu itu.”
“Aku tahu. Dia anak kamu.” Kanata mengatakannya tanpa senyum, seolah itu fakta fisika. “Kalau ada yang bercahaya di hari baru, itu kamu.”
Miyu menyimpan kertas itu di saku jubahnya sebelum ia menangis lagi untuk alasan yang ia sendiri tak sanggup rinci.
***
Malam itu Kanata mandi lama. Miyu, sendirian di kamar tidur, membuka peti kakek yang ditaruh di sudut dan mengangkat buku catatan seduhan, set teh, lalu foto-foto, sampai ke kotak kayu kecil yang dulu ia selipkan sendiri di dasar peti. Ia belum pernah membukanya sejak pindah. Di dalamnya, terbungkus kain katun yang sudah menguning, tergeletak sebuah omamori: kantong brokat sebesar ibu jari dengan tali merah yang pudar.
Ia mengingat tangan kakeknya yang gemetar saat menyerahkan benda itu kepada ayahnya, dan tangan ayahnya yang menyerahkannya kepada dirinya sendiri sebagai anak kecil. Selalu berpesan hal yang sama: jimat ini bukan untuk meminta keberuntungan. Jimat ini untuk mengingatkan seseorang bahwa ada yang menunggu ia pulang.
Miyu membersihkan debunya dengan kain lembab. Ia menjahit ulang satu simpul tali yang hampir lepas, dengan benang merah dari kotak jahit Aya yang tertinggal. Ketika Kanata keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, ia menyembunyikan jimat itu di bawah bantal.
“Kamu menjahit?” tanyanya.
“Tidak.”
“Ada benang di jarimu.”
“Itu benang pikiranmu yang jatuh.”
“Pikiranku tidak berbenang merah.”
“Nanti.” Miyu tersenyum. “Sebelum kamu berangkat aku mau memberimu sesuatu. Jangan bertanya.”
***
Jumat pagi mereka duduk di meja makan dengan tas persalinan terbuka di antara mereka, berisi daftar yang diketik Kanata dan dilaminasi sampai kaku. Satu: dokumen. Dua: baju ganti Miyu. Tiga: pakaian bayi pertama. Empat: pengisi daya. Lima: camilan jahe.
“Dilaminasi?” tanya Miyu.
“Biar tahan air ketuban.”
“Kanata.”
“Itu serius.”
Pintu depan terbuka tanpa ketukan, dan Nana masuk dengan stopwatch di tangan serta napas yang tidak teratur. “Sebelas menit,” katanya, dan menjatuhkan diri ke kursi. “Dari pagar rumah ini sampai lobi RSU Bunda, jalan kaki, gue sengaja pelan karena nyontohin ibu hamil. Sebelas menit. Kalau kontraksinya sudah rapat, itu kelamaan.”
“Kami punya sopir,” kata Kanata.
“Yang cuma dipakai kontrol dokter dan hari hujan, kata pasal tiga,” sahut Miyu.
“Persalinan itu kontrol dokter.”
“Persalinan itu keadaan darurat yang dikontrol dokter.”
“Berarti sopirnya boleh.” Kanata menunjuk daftar dengan ujung pena. “Aku tambahkan: sopir siaga pukul sembilan malam sampai pukul enam pagi, mulai Senin ini.”
“Sopir tidur di mana?”
“Di pos satpam. Ada kasurnya. Aku sudah cek.”
Nana menatap Miyu dengan kepasrahan seorang pengacara yang kasusnya diambil alih klien sendiri. “Mi. Lo nikah sama orang yang melaminasi daftar tas persalinan dan mengecek kasur pos satpam.”
“Aku tahu.”
“Lo bahagia?”
Miyu memandang Kanata yang sedang menulis keterangan siaga pada kertas lain, dengan alis berkerut seperti menyusun kontrak. “Sangat,” katanya.
“Ya sudah. Tapi laminasinya berlebihan.”
“Tahan air ketuban,” kata Kanata, tanpa mengangkat kepala.
Nana menutup mata sejenak. Lalu ia bangkit, mengambil sepotong kue dari kulkas, dan memakannya berdiri sambil membaca daftar itu lagi, kali ini dengan dagu terangkat setuju.
Kanata menyodorkan satu kertas lain. “Urutan telepon, kalau tengah malam, kalau kontraksi mulai.”
Miyu membacanya. Tulisan Kanata rapi: Aya. Nana. Dokter Raina. Rumah sakit. Terakhir, di baris kelima, dengan huruf lebih kecil: Aku.
“Kenapa kamu yang terakhir?”
“Karena kalau aku di Tokyo, aku yang paling jauh. Mereka dekat, aku jauh. Yang dekat dulu.”
“Bukan karena kamu kurang penting.”
“Bukan.” Kanata menatapnya. “Karena aku mau kamu tertolong dulu, baru dikabari aku.”
Miyu mengembalikan kertas itu tanpa mencoret apa pun. Ia hanya menambahkan satu baris di samping kata Aku, dengan pena merah: Menyala apa pun jamnya.
“Menyala,” kata Kanata.
“Di Tokyo juga.”
“Di Tokyo juga.”
Ia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan secarik kertas yang kemarin sudah dilipat dua kali, dan menyelipkannya di lembar pertama daftar laminasi itu, di antara dokumen dan baju ganti.
“Itu apa?” tanya Kanata, padahal ia tahu.
“Nama. Di tas persalinan, supaya ikut ke rumah sakit.”
“Jadi kamu sudah memutuskan.”
“Aku menyimpan,” kata Miyu. “Itu beda.”