Dua belas pertanyaan. Kanata membawa buku catatan baru berisi dua belas pertanyaan ke praktik Dokter Raina Selasa pagi itu, empat hari setelah daftar laminasi itu ia terima, dan Miyu, yang sudah terlalu hafal wajahnya, membaca sepuluh di antaranya dari ekspresinya saja.
“Tiga puluh lima pekan,” kata Dokter Raina, menggeser alat di perut Miyu yang kini membukit sampai nyaris menyentuh tepi tempat tidur periksa. “Dan ini kabar yang saya tunggu.”
Layar abu-abu menampilkan kepala bayi, bundar dan jelas, tertanam rendah.
“Sudah turun. Kepalanya sudah masuk jalan lahir. Posisinya baik, tidak sungsang, ketuban cukup. Detaknya...” Bunyi derap kuda kecil mengisi ruangan, cepat dan stabil, dan Miyu menutup mata untuk mendengarnya. “Seratus empat puluh. Sempurna.”
Kanata membuka mulut, menutupnya, lalu mengulang tindakan itu sekali lagi. “Dok. Bagaimana dengan perjalanan?”
“Itu yang mau saya bahas.” Dokter Raina mengelap alatnya, menarik kursi bundar, dan duduk dengan punggung lurus seperti orang yang akan menyampaikan putusan. “Jadwal Bapak berangkat Senin pekan depan, pulang Rabu malam. Saya tidak melihat tanda persalinan dini hari ini: tidak ada kontraksi teratur, leher rahim masih tertutup. Pekan tiga puluh tujuh, yaitu cukup bulan, mulai Rabu pekan depan. Artinya perjalanan tiga hari itu, yang selesai sebelum Rabu malam, masih aman.”
“Masih aman,” ulang Kanata.
“Tetapi itu batas akhirnya, Pak. Satu hari lebih lambat saja, saya tidak mau Bu Agatha ditinggal lebih dari sejam jauhnya dari rumah sakit.” Ia menoleh pada Miyu. “Dan bukan berarti tidak mungkin lahir lebih cepat. Bayi tidak membaca jadwal. Kalau kontraksi mulai teratur, jarak lima menit, jangan menunggu. Langsung ke rumah sakit, apa pun yang sedang terjadi di tempat lain.”
“Dan kalau Bapak tidak di sini?” tanya Kanata.
“Maka ia tidak sendiri.” Dokter Raina tersenyum kecil. “Saya sudah dengar soal Nona Kinara dan Nona Aya. Dokter Devan sudah saya kabari, ia berjaga Rabu malam. Bu Agatha sudah punya tim.” Ia melirik buku catatan di pangkuan Kanata. “Silakan, Pak. Dari dua belas pertanyaan itu, saya beri waktu untuk lima.”
Kanata membalik halaman dengan gerakan orang yang dipaksa memilih anak kesayangan. “Apakah tekanan kabin berpengaruh pada bayi?”
“Tidak langsung. Ibunya yang di rumah, bukan di pesawat.”
“Apakah ada makanan yang tidak boleh dimakan Miyu saat saya tidak ada?”
“Makanan yang sama dengan saat Bapak ada.”
“Apakah saya boleh memegang nomor ponsel pribadi Dokter?”
“Tidak.” Dokter Raina tersenyum lebar. “Tetapi Nona Kinara sudah memegangnya sejak Senin lalu. Dua pertanyaan terakhir, Pak?”
Kanata menutup bukunya. “Tidak jadi. Saya sudah dapat jawabannya.”
Kanata terdiam. Di sudut matanya Miyu melihat sesuatu yang bergerak, kecil sekali, nyaris tak kentara: lelaki itu sedang menghitung ulang seluruh hidupnya di kepalanya.
***
Mereka duduk di mobil yang diparkir di depan klinik, mesin mati, jendela setengah terbuka. Sopir sudah turun untuk membeli kopi, dan Miyu curiga itu bukan kebetulan.
“Aku mau mengatakan sesuatu,” kata Kanata. Ia menatap setir, bukan Miyu. “Dan aku mau kamu dengar dulu sampai selesai.”
“Aku dengar.”
“Dokter bilang aman. Tetapi dokter tidak merasakan apa yang kamu rasakan. Aku tidak mau keputusan ini diambil dokter, bukan Hosho, bukan Mikan, bukan aku.” Ia memutar badan, sehingga lututnya menyentuh sandaran kursi Miyu. “Kalau kamu bilang jangan berangkat, aku tidak berangkat. Tidak ada tetua, tidak ada buku silsilah. Aku tidak akan menyalahkanmu, tidak akan menceritakannya kepada anak kita, tidak akan membatalkan diam-diam. Aku mengatakannya sekarang supaya kamu punya saksi, dan saksinya aku sendiri.”
Miyu mengerti maksudnya, dan itu membuat dadanya sesak.
“Kamu sudah bilang tadi.”
“Aku mengulanginya karena aku takut kamu menjawab dengan sopan.” Kanata tersenyum pahit. “Jawab jujur, Miyu. Seperti pasal lima.”
Miyu memandang ke luar jendela, ke trotoar yang ramai. Di seberang jalan, tukang es kelapa sedang memukul-mukul batok, perempuan berseragam kantor menyeberang sambil menelepon, tidak ada satu pun yang peduli bahwa seorang perempuan sembilan bulan sedang memutuskan sesuatu besar.
Ia menarik napas. Kakek pernah berkata bahwa keberanian bukan tidak merasa takut, tetapi tahu persis apa yang kau takutkan dan tetap berjalan membawanya. Ia tahu persis apa yang ia takutkan. Lorong panjang. Pintu tertutup. Suara yang bilang dia tidak datang.
“Berangkat,” katanya.
“Miyu.”
“Berangkat. Pulang tepat waktu.” Ia menoleh. “Rabu malam, pulang. Pesawat apa pun yang kamu bisa. Kalau tertunda, kamu telepon. Kalau Hosho menahanmu satu jam lebih lama, kamu bilang satu kalimat saja, istriku sedang menunggu, dan biarkan dia yang marah ke aku.”
“Kamu mau aku menyebut istriku kepada Hosho?”
“Dia akan menyukainya.” Miyu tersenyum. “Dan satu lagi. Semalam aku mimpi lorong itu lagi.”
Wajah Kanata berubah.
“Tetapi kali ini pintunya terbuka. Kamu berlari masuk, jasmu kusut, dasimu miring, dan kamu berteriak sesuatu dalam bahasa Jepang yang tidak sempat kudengar.” Ia tertawa kecil, serak. “Aku bangun dan tersenyum. Itu pertama kalinya aku bangun dengan senyum sejak Dokter Raina menyuruhku bicara.”
Kanata tidak menjawab. Ia hanya meraih tangannya, mengangkatnya perlahan, menempelkannya ke dahinya sebentar seperti orang berdoa tanpa kata.
“Boleh?” bisiknya, sudah terlambat.
“Sudah.”
Ketukan di kaca membuat mereka menoleh. Sopir berdiri dengan tiga gelas kopi di nampan karton, wajahnya penuh harap sekaligus takut, seperti orang yang menunggu di luar ruang sidang.
“Bu, Pak. Kopinya.”
“Terima kasih, Pak,” kata Miyu, menerima gelas yang paling kecil. “Kita ke Anomali dulu. Saya mau puding Pak Edo.”
“Siap, Bu.”
“Aku yang bayar pudingnya,” kata Kanata.
“Kamu tidak punya pilihan lain,” sahut Miyu. “Itu pasal baru.”
***
Malam itu Santa muncul di teras belakang Menteng tanpa diundang, membawa ponsel dan ekspresi orang yang menyimpan berita buruk. Ia berdiri sejauh tiga langkah dari Kanata, seperti orang yang tahu apa yang akan terjadi.
“Capricorn, hari Senin,” katanya. “Ramalan khusus perjalanan. Hati-hati dalam perjalanan, seseorang di tempat jauh akan membutuhkan Anda lebih daripada yang Anda bayangkan.”
Kanata menatapnya dengan wajah rata. “Santa.”
“Aku hanya membaca.”
“Kau membacanya dengan wajah orang yang akan menyampaikan kabar kematian.”
“Aku ingin kau waspada.”
“Aku sedang menenangkan istriku. Kau datang dan mengucapkan bahwa seseorang membutuhkanku di tempat jauh.” Kanata menunjuk ke arah pintu pagar. “Pulang.”
“Tapi martabaknya...”
“Pulang, Santa.”
Santa mundur dengan gerakan teatrikal, lalu berbalik sebelum Miyu sempat tertawa. Dari kursi rotan di bawah pohon kecapi, dengan selimut di bahu dan secangkir teh pahit di tangan, Miyu menatap punggung Santa yang menghilang di gerbang.
“Dia benar, kamu tahu,” katanya.
“Soal apa?”
“Seseorang di tempat jauh akan membutuhkanmu.” Ia meraba perutnya. “Tapi dia kecil, dan dia dekat, dan aku sudah bilang. Aku yang menyuruhmu berangkat.”
Kanata duduk di sampingnya dan menaruh telapak tangan di perut Miyu, menunggu izin yang sudah diberikan lewat tatapan. Bayi itu menendang pelan, tepat di bawah jarinya.
“Aku pulang Rabu,” katanya.
“Rabu malam,” koreksi Miyu. “Sebelum dia memutuskan sendiri kapan keluar.”
“Dia belum punya nama.”
“Dia punya. Aku hanya belum bilang kepadanya.” Miyu menyesap tehnya yang kini dingin, dan pahitnya terasa seperti sesuatu yang sudah ia pilih. “Tambahan satu. Kalau Santa membaca ramalan lagi sebelum Senin, kamu boleh melemparnya ke kolam.”
“Kita tidak punya kolam.”
“Kita beli.”