Sebelum Bintang mengeluarkan suara dinginnya yang berpotensi merusak suasana, Anna lebih dulu menyela dengan senyum semanis madu.
"Pacar aku, Ma. Yang, salim dulu sana sama Mama," ucap Anna telak.
Tak lupa, Anna sedikit mencubit lengan kekar Bintang di balik jas mahalnya, memberi kode keras agar pria itu menurunkan egonya dan tidak bersikap kaku di depan ibunya. Bintang sempat melirik tajam ke arah Anna—tatapan yang seolah mengatakan, 'Kamu berani mencubit saya?'.
Namun, melihat wajah penuh harap dari wanita paruh baya di hadapannya, sang miliarder akhirnya mengalah. Dengan gerakan yang sedikit kaku tapi tetap terlihat elegan, Bintang mengulurkan tangannya, meraih tangan Mama Anna, lalu mencium punggung tangan wanita itu dengan takzim.
"Selamat sore, Tante. Saya Bintang," sapa Bintang dengan suara beratnya yang mendadak terdengar sangat sopan.
Detik itu juga, Mama Anna langsung memegangi dadanya, seolah fajar harapan baru saja terbit di rumah mereka. "A-Astagfirullah... ganteng banget, Nak! Ayo, ayo duduk dulu! Anna, cepat buatin minum! Jangan teh, buatin sirup yang paling mahal!"
"Siap, Ma!" Anna segera berlari ke dapur dengan langkah ringan, merasa di atas angin.
Sementara itu, Mamanya langsung mengambil alih situasi, mengajak Bintang duduk di sofa ruang tamu dan mulai meluncurkan rentetan obrolan selagi menunggu Anna selesai.
Dari balik sekat dapur, Anna tidak bisa menahan diri untuk tidak mengintip. Sambil mengaduk sirup merah di dalam teko kaca, ia menahan tawa kuat-kuat. Ternyata pria sedingin kulkas empat pintu ini bisa terlihat sangat kikuk di depan ibunya.
Bintang duduk dengan punggung tegak lurus, tangannya bertumpu di lutut seperti seorang prajurit yang sedang disidang komandan. Namun, yang paling menarik adalah ekspresi wajahnya. Pria itu tampak berusaha keras menyenangkan Mama Anna dengan memaksakan sebuah senyuman. Walau senyum itu terlihat agak kaku, setidaknya menurut standar penilaian Bintang sendiri, aktingnya sudah cukup profesional.
"Nak Bintang ini kerjanya di bidang apa kalau boleh Tante tahu?" suara Mama terdengar menyelidik dari ruang tamu.
"Saya mengelola beberapa bisnis keluarga, Tante. Di bidang properti dan investasi," jawab Bintang, berusaha menjaga intonasi suaranya agar tetap terdengar ramah.
"Oh, pantesan rapi banget bajunya. Sudah lama pacaran sama Anna? Kok Anna nggak pernah cerita, ya? Tahu sendiri kan Nak, di luar sana tetangga mulutnya pada usil banget dibilang Anna..." Mama mulai curhat dengan nada dramatis.
Di dapur, sendok di tangan Anna nyaris terlepas. 'Aduh, Mama! Kenapa malah bahas gosip itu ke Bintang, sih?!' batin Anna panik.
Mendengar arah pembicaraan yang mulai sensitif itu, Bintang tidak langsung menjawab. Ia sempat melirik ke arah dapur, seolah tahu kalau Anna sedang menguping dengan cemas.
Bintang berdehem pelan, lalu memajukan tubuhnya sedikit. Senyum kakunya kini berganti menjadi ekspresi yang sangat serius dan meyakinkan.
"Sebenarnya... itu salah saya, Tante," ucap Bintang, suaranya terdengar penuh penyesalan yang sangat meyakinkan.
"Lho, salah Nak Bintang bagaimana?" tanya Mama, langsung penasaran.
"Saya yang meminta Anna untuk merahasiakan hubungan kami dulu. Terus terang, keluarga saya sedang ramai membahas perjodohan, dan saya tidak ingin hubungan kami ikut menjadi bahan pembicaraan sebelum waktunya," dusta Bintang dengan wajah lempeng tanpa dosa. "Saya juga tahu Anna itu wanita yang sangat mandiri dan menghargai kariernya. Dia tidak mau orang-orang mengira kesuksesan kerjanya di kantor karena bantuan saya. Jadi, kami sepakat untuk backstreet. Saya mohon maaf kalau keputusan kami ini justru membuat Tante dan Anna jadi omongan orang-orang tidak bertanggung jawab."
Di balik tembok dapur, Anna menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak kelepasan bersorak. 'Ternyata pria ini bisa berbohong selancar aktor profesional!' Anna sampai merinding sendiri mendengarnya. Narasi backstreet demi menjaga integritas karier? Ini benar-benar taktik drakor kelas kakap!
Mama Anna langsung melunak seketika. "Aduuuh, Nak Bintang... ya Allah, Tante malah makin salut. Berarti Nak Bintang ini mikirin masa depan Anna banget, ya?"
"Tento saja, Tante. Bagi saya, fokus Anna pada kariernya adalah salah satu daya tariknya. Jadi kalau ada tetangga atau keluarga yang berpikiran... aneh-aneh tentang Anna, saya rasa mereka hanya kurang piknik," tambah Bintang datar, namun sangat menohok.
Tepat saat itu, Anna keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi dua gelas sirup marjan merah dingin.
"Ini minumnya, Mas, Ma," ujar Anna, berusaha bersikap sewajar mungkin meskipun matanya memberikan tatapan apresiasi ke arah Bintang.
"Nah, ini dia sirupnya!" Mama tersenyum lebar, lalu menepuk pundak Bintang dengan akrab. "Diminum, Nak Bintang. Oh iya, karena Nak Bintang sudah di sini, malam ini makan malam di sini aja, ya? Tante masak ayam balado spesial!"
Mata Anna langsung membelalak. Makan malam? Bukannya setelah ini mereka harus buru-buru pergi menemui neneknya Bintang? Anna langsung melirik Bintang, memberi kode lewat kedipan mata berkali-kali agar pria itu menolak secara halus. Kalau kelamaan di sini, bisa-bisa kedok mereka malah terbongkar!
Melihat mata Anna yang berkedip-kedip gelisah, Bintang langsung paham. Pria itu berdehem kecil, lalu menaruh kembali gelas sirupnya ke atas meja dengan gerakan perlahan.
"Tawaran yang sangat menarik, Tante. Saya sebetulnya sangat ingin mencicipi masakan Tante," ujar Bintang, wajahnya mendadak berubah menjadi penuh sesal yang sangat meyakinkan. "Tapi mohon maaf sekali, malam ini saya sudah terlanjur berjanji untuk membawa Anna makan malam bersama nenek saya."
"Eh? Neneknya Nak Bintang?" Mama tersentak, pandangannya langsung beralih ke Anna yang juga pura-pura kaget.
"Iya, Tante. Nenek saya baru saja kembali dari luar negeri dan beliau bersikeras ingin segera bertemu dengan wanita yang sedang saya perjuangkan," lanjut Bintang tenang.
Kalimat itu diucapkan dengan sangat lancar. Anna yang sedang meneguk air putih langsung tersedak. "Uhuk! Uhuk!"
'Gila! Nih cowok kalau ngomong suka nggak pakai rem!' batin Anna sambil mengelap bibirnya yang basah.
Mendengar alasan seberat itu, Mama Anna jelas tidak bisa berkutik. Alih-alih kecewa karena ajakan makan malamnya ditolak, wajah Mama justru berbinar-binar sepuluh kali lipat lebih cerah.
"Ya ampun... mau dikenalin ke Nenek?" Mama menutup mulutnya, menatap Anna dengan pandangan haru. "Ya sudah, ya sudah! Jangan bikin Nenek menunggu lama, Nak Bintang. Anna, kamu tunggu apa lagi? Cepat ganti baju! Pakai baju kamu yang paling bagus, jangan memalukan di depan keluarga Nak Bintang!"
"Ah, iya, Ma. Anna ganti baju dulu lima menit!"
Anna langsung melesat masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar, ia bersandar di balik pintu sambil memegangi dadanya yang bergemuruh hangat.
Aman. Satu masalah dengan Mamanya dan gosip tetangga resmi diredam secara jantan. Tapi di sisi lain, kecemasan baru mulai merayap. Bertemu dengan nenek dari seorang pria yang sanggup menyewa satu restoran bintang lima? Skenario ini rasanya bakal jauh lebih menantang daripada menghadapi Jeng Tuti.
•••
Sepuluh menit kemudian, Anna keluar dengan mengenakan dres brokat berwarna pastel yang kasual namun tetap terlihat sopan dan anggun. Rambutnya diikat setengah, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah manisnya.
Bintang berdiri dari sofanya begitu melihat Anna keluar. Untuk sekilas, mata tajam pria itu sempat tertuju pada penampilan Anna selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali ke ekspresi datarnya yang semula.
Ponsel di saku jas Bintang bergetar pelan. Ia merogohnya, lalu mengangkat telepon tersebut dengan pelan.
"Ya, Nek. Saya sedang dalam perjalanan," ucap Bintang dingin namun tetap terdengar sopan. "Tidak, saya akan datang bersama pasangan saya. Kami segera sampai."
Telepon ditutup. Bintang memasukkan kembali ponselnya ke saku jas. Isyarat bahwa ujian sesungguhnya telah menanti mereka.
"Kami pamit dulu, Tante," pamit Bintang sambil kembali menyalami tangan Mama Anna dengan takzim.
"Iya, Nak Bintang. Hati-hati di jalan ya. Tolong titip salam buat Nenek," ucap Mama dengan senyum yang kelewat lebar.
Begitu mereka keluar dari pintu rumah, Anna bisa melihat pemandangan yang sangat memuaskan hatinya. Jeng Tuti dan beberapa ibu-ibu komplek ternyata masih setia berdiri di dekat ujung gang, sengaja pura-pura mengobrol padahal mata mereka melotot memperhatikan langkahnya.
Bintang, dengan peka, kembali merangkul pinggang Anna dengan protektif saat membukakan pintu mobil untuk gadis itu.
"Ayo masuk, Sayang," bisik Bintang tepat di dekat telinga Anna, sengaja memperlihatkan kemesraan itu di depan para penonton di ujung gang.
Anna buru-buru masuk ke dalam mobil dengan pipi yang memanas. Namun, saat menatap ke arah luar jendela, ia mengembuskan napas panjang dengan perasaan lega yang membuncah.
'Apa pun yang terjadi nanti di hadapan neneknya, setidaknya malam ini Mama bisa tidur lebih tenang tanpa harus memikirkan omongan orang,' batin Anna. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tulus. Tanggung jawabnya sebagai seorang anak malam ini telah ia tunaikan, meski harus lewat jalan memutar.
Begitu mobil mewah itu melaju pergi meninggalkan kompleks rumahnya, Anna menoleh ke arah Bintang, mencoba mencairkan suasana dingin di dalam mobil. "Gila... akting Mas Bintang tadi di depan Mama bener-bener juara. Saya sampai hampir percaya kalau kita beneran pacaran."
Bintang tidak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke depan, merapikan lengan jasnya dengan santai. "Itu baru pemanasan, Anna," sahut Bintang dengan nada suara yang mendadak terdengar lebih berat dan serius dari biasanya. "Ujian sesungguhnya baru akan dimulai sekarang. Dan asal kamu tahu... Nenek saya tidak akan semudah ibumu untuk dikelabui."
Mendengar kalimat itu, senyum kemenangan Anna langsung lenyap. Mobil sport hitam itu terus melaju, membawa mereka berdua membelah malam menuju kawasan elite tempat sang miliarder sesungguhnya tinggal.