Mobil sedan sport hitam itu melaju tenang memasuki kawasan pemukiman elite yang gerbang utamanya dijaga ketat oleh sekuriti swasta. Pohon-pohon palem tinggi berbaris rapi di sepanjang jalan, memisahkan rumah-rumah megah dengan halaman luas yang tampak asri dan sunyi.
Anna menempelkan pandangannya ke luar jendela, mengamati arsitektur bangunan yang kian lama kian terlihat seperti resor mewah pribadi. "Mas Bintang, ini kita mau bertamu ke rumah Oma atau kunjungan kenegaraan? Ukuran gerbangnya tidak ada yang biasa."
Bintang tidak langsung menjawab. Dengan gerakan tenang namun tegas, ia mengambil sebuah map kulit hitam tebal dari konsol tengah mobil, lalu meletakkannya di pangkuan Anna.
"Baca itu," perintah Bintang dingin, matanya kembali fokus pada tablet kerja di tangannya.
Anna menunduk, membuka ritsleting map tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen cetak yang disusun sangat rapi, lengkap dengan pasfoto seorang wanita tua berwajah anggun namun berkarakter kuat.
"Profil dan Preferensi Sosial: Ny. Sofia Sadewa," desis Anna membaca tajuk dokumen tersebut. Ia menoleh ke arah Bintang dengan dahi berkerut. "Mas... Mas serius menyiapkan berkas profil untuk nenek sendiri?"
"Saya tidak suka kegagalan," sahut Bintang tanpa mengalihkan pandangan. "Oma saya benci wanita yang tidak tahu tata krama. Di lembar pertama ada daftar topik pembicaraan yang disukai beliau, termasuk kecintaannya pada seni neoklasik. Di lembar kedua adalah topik-topik sensitif yang tidak boleh kamu sebutkan."
"Tapi kita sampai kurang dari lima menit lagi! Bagaimana bisa saya menghafal semua ini?"
"Tiga menit lagi," koreksi Bintang datar. "Fokus pada hal-hal mendasar. Cara menyapa, posisi duduk, dan jangan pernah membahas hal-hal kasual yang tidak relevan dengan dunianya."
Anna mengembuskan napas panjang, mencoba menekan kepanikannya. Ia segera membaca cepat poin-poin penting dalam berkas tersebut.
Poin pertama: Sapa dengan panggilan 'Oma' secara sopan, pertahankan kontak mata.
Poin kedua: Beliau sangat menghargai kejujuran yang berkelas, bukan sanjungan kosong.
Poin ketiga: Jangan pernah menyinggung masalah internal keluarga atau bisnis Sadewa Group.
"Elegansi yang subtil... neoklasik... filantropi," gumam Anna berulang-ulang, mencoba merekam kosakata tersebut ke dalam kepalanya yang mulai terasa panas.
Mobil perlahan mulai melambat, berbelok memasuki pekarangan sebuah rumah bergaya klasik modern yang megah dengan air mancur di bagian tengah. Ketika mobil berhenti dengan sempurna, Anna merasakan perutnya mendadak mulas.
"Mas, kalau saya mendadak lupa semua profil ini saat di dalam, bagaimana?" tanya Anna cemas.
Bintang akhirnya meletakkan tabletnya. Ia berbalik menghadap Anna, lalu mengulurkan tangan untuk merapikan beberapa helai rambut Anna yang sedikit berantakan. Sentuhan jemarinya yang hangat dan tenang di dekat pelipis Anna membuat gadis itu membeku seketika.
"Ingat satu hal," ucap Bintang, suaranya mendadak melunak namun tetap tegas. "Oma saya bisa mencium keraguan dari jarak jauh. Beraktinglah seolah kamu memang pantas berada di samping saya. Kalau kamu bingung, diam dan tersenyumlah. Biar saya yang mengambil alih pembicaraan."
Anna menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai diri. "Baik. Doakan saya tidak salah mengenali nama seniman abad kedelapan belas."
Pintu mobil terbuka. Bintang turun lebih dulu, lalu dengan sopan mengulurkan tangannya untuk membantu Anna keluar. Begitu jemari mereka bertautan, Anna merasakan telapak tangan Bintang yang kokoh sedikit memberikan rasa aman di tengah badai kecemasan yang menderanya.
•••
Di dalam ruang tamu yang didekorasi dengan selera seni tinggi, seorang wanita paruh baya dengan tatanan rambut sanggul yang sangat rapi duduk di atas kursi antik. Sepasang matanya yang tajam menatap lurus ke arah pintu masuk saat Bintang dan Anna melangkah mendekat.
"Bintang," suara wanita itu terdengar berat dan penuh wibawa. "Inikah wanita yang membuatmu mengabaikan semua draf perjodohan yang disiapkan sekretaris keluarga?"
Seketika, punggung Anna mendingin. Tatapan Oma seolah sedang memindai setiap inci dari penampilannya, mencari celah kekurangan.
"Iya, Oma. Ini Anna," jawab Bintang tenang.
Anna melangkah maju satu langkah, membungkuk hormat dengan gestur yang sopan dan terlatih. "Selamat malam, Oma. Sebuah kehormatan yang luar biasa bagi saya bisa bertemu langsung dengan Oma malam ini."
Oma tidak langsung tersenyum. Ia menatap Anna dari ujung rambut hingga ujung sepatu, hening yang tercipta terasa mencekam. "Anna. Bintang bilang kamu bekerja di bidang pemasaran. Berapa lama kamu sudah mengenal cucu saya?"
Pertanyaan pertama langsung menguji konsistensi skenario mereka.
"Kami sudah saling mengenal secara profesional sejak beberapa bulan lalu, Oma," jawab Anna, berusaha menjaga intonasi suaranya agar tetap stabil dan percaya diri. "Hingga akhirnya kami memutuskan untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius."
"Profesional?" Oma menaikkan sebelah alisnya, menyilangkan kaki dengan anggun. "Lalu apa yang membuat wanita karier seperti kamu tertarik pada pria kaku yang seluruh hidupnya hanya berisi angka dan laporan keuangan seperti Bintang? Apa karena posisi sosial yang bisa dia berikan padamu?"
Pertanyaan itu terasa menyenggol harga diri Anna sebagai wanita yang merintis kariernya sendiri dari nol. Namun, kedewasaan emosionalnya menahan Anna untuk tidak reaktif. Ia justru tersenyum tipis, tenang.
"Jika saya mencari posisi sosial atau materi, saya rasa ada banyak pria di luar sana yang jauh lebih mudah didekati daripada cucu Oma yang dinding pertahanannya setebal beton," jawab Anna jujur namun berkelas. "Saya tertarik pada komitmennya. Di balik sikap dinginnya, Mas Bintang adalah pria yang sangat menghargai dedikasi dan tanggung jawab. Hal itu yang membuat saya merasa aman berada di dekatnya."
Bintang yang berdiri di samping Anna sedikit terkejut. Ia melirik wanita di sebelahnya dengan tatapan kagum yang tersamar. Anna tidak sekadar menghafal draf profil yang ia berikan; wanita itu mampu menyesuaikan diri dengan situasi tekanan tinggi ini dengan sangat cerdas.
Oma terdiam beberapa saat, menatap lekat-lekat ke dalam mata Anna, seolah mencari kebohongan di sana. Perlahan, ketegangan di wajah wanita tua itu mencair, digantikan oleh senyuman tipis yang misterius.
"Setidaknya kamu punya keberanian untuk menjawab jujur di depan saya," ucap Oma, lalu menjentikkan jarinya pelan ke arah pelayan di sudut ruangan. "Duduklah. Kita lanjutkan pembicaraan ini di meja makan."
•••
Makan malam disajikan dengan sangat mewah. Aroma sup jamur truffle dan steak wagyu premium memenuhi ruangan. Namun bagi Anna, setiap suapan terasa seperti ujian tata krama yang melelahkan. Ia harus memastikan posisi garpu, pisau, dan cara mengunyahnya tidak membuat Oma mengernyitkan dahi.
Di tengah keheningan makan malam yang formal itu, Oma meletakkan sendok supnya dengan denting perlahan yang langsung menyita perhatian.
"Bintang," panggil Oma dengan nada suara yang berubah serius. "Kamu tahu mengapa saya bersikeras ingin segera menemui pilihanmu, bukan?"
Bintang menghentikan gerakan pisaunya. "Saya tahu, Oma."
Oma menatap cucunya dengan pandangan tanpa kompromi. "Tiga bulan lagi, rapat pemegang saham luar biasa Sadewa Group akan diadakan. Jika sampai hari itu tiba kamu masih belum bisa membuktikan bahwa kamu memiliki kehidupan pribadi yang stabil dan pasangan yang layak untuk mendampingimu memimpin, hak kendali atas anak perusahaan utama akan dialihkan kepada pamanmu, Hermawan."
Pandangan Oma beralih tajam ke arah Anna. "Keluarga kita membutuhkan stabilitas, bukan hanya ambisi kerja. Dan saya tidak akan membiarkan kerja keras mendiang kakekmu jatuh ke tangan orang yang salah hanya karena kamu terlalu sibuk untuk membangun keluarga."
Anna menahan napas di tempatnya. Sepotong daging di garpunya mendadak terasa sangat berat.
Tiga bulan.
Satu kalimat dari Oma barusan langsung menjelaskan segalanya. Sekarang Anna paham mengapa seorang Bintang Sadewa, miliarder yang tampak memiliki segalanya, sampai harus nekat mencari pacar sewaan lewat agensi khusus. Taruhannya bukan sekadar gengsi di depan keluarga, melainkan masa depan dinasti bisnis keluarganya.
Bintang menatap nenenknya dengan rahang yang mengeras pelan. "Saya mengerti, Oma. Dan kehadiran Anna di sini adalah bukti bahwa saya serius dengan masa depan saya."
Oma mengangguk perlahan, tampak cukup puas dengan jawaban itu untuk sementara waktu. "Bagus. Saya memegang kata-katamu, Bintang. Kita lihat bagaimana perkembangan hubungan kalian dalam beberapa minggu ke depan."
Makan malam pun berlanjut, namun suasana di ruangan itu kini telah berubah sepenuhnya. Di bawah meja, tanpa sadar, Anna meremas pelan jemarinya sendiri. Ia baru menyadari bahwa dirinya baru saja melangkah masuk ke dalam pusaran konflik korporat dan keluarga kelas atas yang sangat berbahaya. Dan kini, ia tidak bisa mundur lagi.