"Oh ya, Anna," Oma membuka suara di sela-sela makan malam. "Oma dengar dari Bintang, kamu bekerja di perusahaan swasta. Bagaimana kalau setelah menikah nanti, kamu berhenti bekerja saja? Keluarga Sadewa bisa mencukupi semua kebutuhanmu, bahkan sampai tujuh turunan."
Uhuk!
Anna hampir saja tersedak potongan daging wagyu di mulutnya. Pertanyaan macam apa ini? Menikah? Tujuh turunan? Kontrak mereka kan baru sampai tahap pacaran sewaan!
Sebelum Anna sempat gelagapan dan merusak citra dirinya, Bintang tiba-tiba meletakkan pisaunya dengan tenang. Pria itu mengambil alih kendali dengan gestur yang sangat protektif.
"Oma, saya sudah pernah membahas ini dengan Anna," potong Bintang, suaranya terdengar tegas namun tetap hormat. "Anna adalah wanita yang mandiri dan sangat menghargai profesinya. Itulah salah satu alasan saya memilih Anna. Saya tidak ingin membatasi potensinya hanya karena dia mendampingi saya nanti. Biarkan Anna tetap berkembang dengan caranya sendiri."
Anna menoleh ke arah Bintang dengan mata berkedip pelan. Di dalam hati, ia mengembuskan napas lega. Akting pria ini kalau sedang mode serius memang tidak main-main kualitasnya. Pembelaan itu terdengar sangat meyakinkan dan berkelas.
Oma menatap cucunya lama, lalu beralih menatap Anna yang langsung memasang senyum tipis, berusaha tetap terlihat tenang dan anggun.
"Baiklah kalau itu keputusan kalian berdua," ucap Oma akhirnya dengan anggukan kecil. "Bintang, saya senang kamu memilih perempuan yang berprinsip. Perempuan yang mandiri seperti Anna ini yang cocok mendampingimu menghadapi tekanan di masa depan."
Makan malam yang menegangkan itu akhirnya selesai. Setelah berbincang ringan mengenai beberapa topik umum, Bintang dan Anna pun pamit untuk pulang. Oma tidak memeluk Anna, namun wanita tua itu mengantar mereka hingga ke dekat pintu depan.
"Lain kali, datang lagi," ucap Oma datar, namun tatapan matanya tidak lagi setajam saat pertama kali mereka datang.
Bagi Anna, kalimat pendek itu sudah terasa seperti sebuah pencapaian luar biasa dalam waktu kurang dari dua jam.
Begitu pintu mobil sport hitam itu tertutup rapat dan kendaraan mulai melaju keluar dari pekarangan luas rumah Oma, Anna langsung menyandarkan punggungnya di jok mobil. Ia mengembuskan napas sekencang-kencangnya seolah baru saja lolos dari ujian hidup.
"Haaah... Jantung saya rasanya mau copot," seru Anna spontan, benar-benar lega.
Bintang melirik ke samping melalui sudut matanya. Sudut bibirnya berkedut samar—hampir membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat langka. Pria itu sedikit melonggarkan dasinya.
"Kerja bagus, Anna," ucap Bintang tulus, suaranya tidak sedingin biasanya. "Kamu memahami berkas profil itu dengan sangat cepat."
Anna langsung menegakkan duduknya, menatap Bintang dengan bangga. "Tentu saja. Tapi Mas juga tadi hebat sekali saat bagian membahas karier saya di depan Oma. Sumpah, akting Mas Bintang tadi terasa sangat nyata."
Bintang terdiam sejenak. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela luar, menatap lampu-lampu jalanan kota Jakarta yang bergerak cepat.
"Apa yang saya katakan tadi tidak seluruhnya bohong," gumam Bintang pelan, hampir tak terdengar.
Anna mengerjapkan mata, telinganya sempat menangkap kalimat samar itu. "Hah? Mas Bintang ngomong apa tadi?"
"Bukan apa-apa," jawab Bintang cepat, kembali ke mode datarnya yang semula. "Besok, saya akan transfer sisa pembayaran kontrak pertama ke rekeningmu."
Anna tersenyum lebar. "Siap, Mas Partner!"
Namun, di tengah rasa senangnya karena berhasil melewati ujian Oma, ada satu getaran aneh yang mendadak menyelinap di hati Anna saat ia melirik samping wajah Bintang yang terpahat sempurna di bawah temaram lampu jalan. Anna menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran itu. 'Sadar, Anna. Ini cuma sementara.'
•••
Mobil sedan mewah hitam itu akhirnya kembali memasuki gang perumahan Anna dan berhenti dengan mulus tepat di depan pagar. Di luar, suasana kompleks sudah sepi karena malam kian larut.
"Terima kasih untuk malam ini, Mas Bintang. Hati-hati di jalan," ucap Anna tulus sambil bersiap membuka pintu mobil.
"Ya. Masuklah," balas Bintang pendek.
Baru saja Anna turun dan ingin melangkah untuk menggeser pagar rumahnya, sebuah suara familier yang cempreng memecah keheningan malam dari arah belakang.
"Wah... Mbak Anna ternyata baru pulang, ya. Larut sekali. Apa jangan jangan..."
Anna membeku. Langkahnya terhenti di udara. Mendengar suara Jeng Tuti yang penuh nada menyindir itu, Anna seketika mengepalkan kedua tangannya. Gigi-giginya bergemertak menahan emosi. Namun belum sempat ia membalikkan badan untuk menyemburkan kekesalannya, pintu mobil di belakangnya kembali terbuka.
Bintang Sadewa melangkah keluar, berdiri tegap di bawah temaram lampu jalan. Kehadirannya yang tiba-tiba langsung membuat Jeng Tuti mati kutu di tempat.
Jeng Tuti yang tadinya berdiri berkecak pinggang mendadak menciut. Aura mengintimidasi dari Bintang yang mengenakan setelan jas mahalnya membuat angin malam terasa dua kali lebih dingin.
"A-ah, ada Masnya juga..." cicit Jeng Tuti, suaranya langsung mengecil.
Bintang melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Anna yang masih menahan napas karena emosi. Bintang melirik jam tangannya sejenak, lalu menatap Jeng Tuti dengan pandangan sedatar es.
"Ibu tahu ini jam berapa?" tanya Bintang, suaranya berat dan penuh wibawa.
"E-eh? Jam sebelas lewat sedikit, Mas..."
"Jam sebelas malam," potong Bintang tanpa ekspresi. "Saya harap Ibu menghentikan fitnah atau ucapan tidak sopan seperti ini. Jika tidak, saya tidak akan ragu untuk menempuh jalur hukum atas perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik terhadap calon istri saya."
Mata Jeng Tuti langsung membelalak horor. "Jalur hukum?!"
"Saya tidak suka privasi kami diganggu," sahut Bintang dingin, memotong kalimat Jeng Tuti dengan telak. "Paham?"
Jeng Tuti menelan ludah kesusahan, wajahnya mendadak pucat. Tanpa babibu lagi, wanita paruh baya itu langsung membalikkan badan dan berjalan cepat masuk ke dalam gang rumahnya, ketakutan setengah mati.
Melihat musuh bebuyutannya pergi kocar-kacir, Anna menoleh ke arah Bintang dengan mata berbinar. "Wah... Mas Bintang beneran mau menuntut dia?"
Bintang mengembuskan napas pendek, lalu merapikan kembali kancing jasnya. "Tentu saja tidak. Firma hukum yang saya sewa terlalu mahal hanya untuk mengurusi masalah seperti ini. Itu cuma gertakan."
Anna langsung melongo, lalu tawa renyahnya pecah di keheningan malam. "Ya ampun, Mas! Tapi gertakan Mas tadi juara! Dia pasti tidak akan berani menyindir saya lagi dalam waktu dekat."
Bintang menatap Anna yang sedang tertawa lepas. Sudut bibirnya kembali berkedut samar, membentuk senyuman tipis yang sangat tipis sebelum ia kembali memasang wajah datarnya.
"Sudah malam. Masuk dan istirahatlah," ujar Bintang.
Malam itu, Anna menutup pagar rumahnya dengan perasaan yang luar biasa lega. Namun, saat ia melangkah masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur, kata 'calon istri' yang diucapkan Bintang tadi mendadak terngiang kembali, membuat pipinya mendadak terasa sedikit hangat.
•••
Keesokan harinya.
Ting!
Suara notifikasi m-banking yang nyaring sukses membuat Anna yang baru saja duduk di kubikel kantornya langsung tersentak. Ia membuka ponselnya dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
[MUTASI MASUK]
Transfer dari: BINTANG SADEWA
Jumlah: Rp 50.000.000,00
Berita: Sisa Pembayaran Tahap 1.
"Lima puluh juta..." Anna menjerit tertahan, cepat-cepat menutup mulutnya dengan kedua tangan. Angka nol yang berjejer rapi di layar ponselnya seketika membuat rasa kantuknya hilang total.
"Ehem. Pagi-pagi sudah senyum-senyum sendiri, Na. Dapat durian runtuh ya?"
Anna tersentak hebat lalu buru-buru membalikkan ponselnya ke atas meja. Jessica sudah berdiri di samping kubikelnya sambil membawa tumpukan dokumen, menatap Anna dengan pandangan menyelidik.
"Eh, Kak Jes. Pagi... Nggak kok, ini cuma... dapet promo cashback," dusta Anna sambil menyengir.
Jessica menyipitkan mata, lalu memajukan tubuhnya dan berbisik misterius, "Jangan bohong ya. Anak-anak divisi marketing kemarin lihat lo masuk ke mobil sedan mewah hitam. Katanya lo dijemput cowok jas-an yang gantengnya fiksi banget. Utang pinjol lo ya?"
Anna mendengus geli. "Bisa-bisanya dikira debt collector! Bukan, Kak. Itu... cowok gue. Namanya Bintang. Kami memang baru sepakat untuk go-public kemarin."
Jessica menatap Anna lama, mencoba mencari celah kebohongan. Namun, sebelum rekan kerjanya itu sempat menginterogasi lebih jauh, ponsel Anna di atas meja kembali bergetar. Sebuah pesan w******p dari nomor Bintang masuk.
Bintang: "Malam ini jam 7. Nenek meminta kita datang lagi ke rumah utama untuk membahas tanggal pertunangan resmi. Saya jemput di kantor."
Uhuk!
Anna benar-benar tersedak air liurnya sendiri kali ini. Pertunangan resmi?! Kontrak awal mereka kan tidak membahas sejauh ini!
Melihat ekspresi Anna yang mendadak pucat, Jessica menepuk bahunya. "Na? Lo beneran oke? Muka lo langsung berubah begitu."
"A-aman, Kak Jes. Aman banget," jawab Anna dengan suara bergetar, buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam laci.
Begitu Jessica pergi, Anna langsung merosot di kursinya. Jarinya dengan gemetar mengetik balasan untuk Bintang.
To: Mas Bintang
"Mas, sebentar. Ini maksudnya bagaimana ya? Pertunangan resmi?! Di kontrak awal kan kita cuma sepakat untuk akting jadi pacar sewaan di depan Oma, bukan sampai tunangan beneran! Tolong jelasin, Mas, saya jantungan!"
Dua menit kemudian, balasan dari Bintang masuk.
Bintang: "Oma memajukan jadwalnya di luar kendali saya. Paman saya mulai mempertanyakan hubungan kita ke pihak internal. Jika pertunangan ini batal atau tertunda, mereka akan menggunakan alasan itu untuk menekan posisi saya dan mengambil alih hak kendali di perusahaan. Datang saja nanti malam. Ada addendum perubahan nilai kontrak. Saya tambah 100 juta lagi untuk tahap pertunangan ini."
Anna terdiam. Matanya berkedip tiga kali menatap angka 100 juta di layar ponselnya.
Rasa panik, ketakutan, dan beban mental yang tadinya menumpuk di pundak Anna mendadak menguap begitu saja, digantikan oleh kilau angka nominal yang sangat menggiurkan. Hubungan mereka memang masih sebatas kontrak kerja, tapi taruhannya kini sudah naik kelas menjadi ratusan juta rupiah dan masa depan Sadewa Group.
Anna menarik napas dalam-dalam, lalu mengetik balasan dengan kecepatan penuh.
To: Mas Bintang
"Siap, Mas. Jam 7 teng saya sudah stand-by di depan lobi kantor. Jangan telat ya!"
Bagi Anna yang sedang berjuang mengumpulkan pundi-pundi rupiah, tawaran Bintang jelas terlalu besar untuk ditolak. Lagi pula, ini hanya akting di depan sang Oma dan pihak keluarga, kan? Tidak akan ada komitmen sungguhan. Begitu pikir Anna dengan polosnya, tanpa tahu bahwa ia baru saja menyetujui langkah awal menuju ikatan yang jauh lebih mengikat.