Tepat pukul tujuh malam, sedan mewah hitam milik Bintang sudah menunggu di depan lobi kantor Anna. Kilau bodinya yang mengilap langsung mencuri perhatian beberapa karyawan yang baru saja melangkah keluar gedung untuk pulang kerja. Kali ini, Anna melangkah keluar dengan kepala tegak, sengaja mengabaikan tatapan penuh selidik dari rekan-rekan kerjanya.
Begitu masuk ke dalam mobil, Anna langsung disambut oleh kehangatan pendingin ruangan dan aroma parfum maskulin khas Bintang yang entah mengapa mulai terasa akrab di indra penciumannya. Pria itu masih sibuk dengan tabletnya, namun penampilannya malam ini terlihat sedikit berbeda. Setelan jas berwarna abu-abu gelap berpotongan pas itu membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih berwibawa.
"Malam, Mas Bintang," sapa Anna ceria. Efek suntikan dana awal yang sudah masuk ke rekeningnya membuat suasana hatinya sangat baik.
Bintang meletakkan tabletnya, lalu menatap Anna dengan lekat. "Kamu terlihat sangat bersemangat untuk ukuran orang yang tadi siang mengaku jantungan."
Anna menyengir tanpa dosa. "Ini namanya profesionalitas kerja, Mas. Jadi, bagaimana rencana kita malam ini? Kosakata dari berkas profil mana lagi yang harus saya hafalkan?"
Mobil mulai melaju tenang membelah jalanan ibu kota yang padat. Baru setelah memastikan kendaraan mereka bergerak konstan dan suasana kabin lengang, Bintang merogoh saku dalam jasnya. Pria itu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah darah, lalu membukanya tepat di hadapan Anna.
Di dalamnya, melingkar sebuah cincin bermata berlian tunggal yang berkilau sangat indah memantulkan temaram lampu interior mobil. Desainnya sangat klasik, memancarkan aura kemewahan yang tak terbantahkan.
Anna langsung membeku di tempatnya. Air liurnya tertahan di kerongkongan. "M-Mas... ini..."
"Ini cincin pusaka keluarga Sadewa," ucap Bintang dengan suara beratnya yang tenang. "Oma meminta saya memasangkan ini di jarimu malam ini juga, di depan seluruh keluarga besar yang sengaja beliau undang."
Anna menelan ludah dengan susah payah, matanya menatap cincin itu dengan horor. "Keluarga besar?! Jadi malam ini bukan cuma kita dan Oma?!"
"Bukan," jawab Bintang datar, menatap lurus ke dalam manik mata Anna yang mulai dilanda panik. "Sebagian besar keluarga yang memiliki kepentingan di Sadewa Group akan datang untuk menguji keabsahan hubungan kita. Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu..." Bintang menjeda kalimatnya, membuat suasana di dalam mobil terasa kian mencekam. "...di antara mereka, ada mantan tunangan saya yang sengaja Oma undang untuk membandingkan kalian berdua."
Seketika, napas Anna tertahan. 'Kok rasanya honor seratus juta ini mendadak berubah seperti honor terakhir sebelum gue dieksekusi?'
Ekspresi di wajah Anna mendadak berganti menjadi sangat serius. "Mas... Awalnya saya cuma pengin membungkam omongan tetangga sama bikin Mama tenang. Saya nggak pernah nyangka semuanya bakal berkembang sejauh dan seumit ini. Saya tidak mau terseret terlalu dalam ke intrik keluarga Mas."
Bintang menghela napas pendek. Ia meletakkan kotak cincin itu di konsol tengah, tepat di antara mereka. "Saya tidak akan menyeretmu lebih jauh dari batas kontrak, Anna. Bukankah kamu sendiri yang berkomitmen untuk berakting dengan sempurna?"
Anna menelan ludah kasar, merasa terpukul oleh kalimatnya sendiri di masa lalu. "Tapi, Mas—"
"Saya tambah uangnya menjadi dua ratus juta," potong Bintang tanpa ragu.
"Mas, ini bukan soal uang," tolak Anna, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya.
"Tiga ratus juta."
"Saya serius, Mas Bintang. Ini urusannya sudah menyangkut mantan dan keluarga besar—"
"Lima ratus juta. Deal." Putus Bintang mutlak, menaikkan taruhan ke angka setengah miliar seolah itu hanyalah pecahan uang kecil.
Mendengar nominal fantastis itu disebut dengan begitu enteng, pertahanan iman Anna langsung roboh seketika. Gengsi dan ketakutannya terbang entah ke mana, berganti dengan hitungan kalkulator di kepalanya.
"Hehe... ya sudah sih kalau Mas memaksa," sahut Anna dengan senyum manis yang mendadak terbit dalam sedetik. Ia dengan sigap langsung merapikan dres pastelnya yang sedikit kusut. "Demi kelancaran bisnis dan profesionalitas kerja, saya siap lahir batin menghadapi mantan Mas. Siapa tadi namanya? Biar saya siapkan mental untuk memberikan senyum termanis saya."
Bintang hanya menggelengkan kepala pelan, tidak habis pikir dengan perubahan sikap Anna yang secepat kilat jika sudah dipancing dengan rupiah. Namun, di dalam hati, ia merasa sedikit lega karena wanita itu memilih bertahan.
"Namanya Celine," jawab Bintang saat mobil mereka akhirnya melewati pos penjagaan berlapis dan berhenti tepat di lobi utama kediaman megah keluarga Sadewa. "Dia perfeksionis, sinis, dan paling suka mempermalukan orang di depan umum. Begitu turun dari mobil, pegang lengan saya dan jangan pernah lepas."
"Siap, Bos Besar!" Anna menarik napas dalam-dalam, mengunci rasa groginya, lalu mengaktifkan mode 'Aktris Papan Atas Bayaran Setengah Miliar'.
•••
Pintu mobil dibukakan oleh pelayan. Bintang turun lebih dulu, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya yang kokoh. Anna menyambut uluran tangan itu dengan anggun, keluar dari mobil, lalu melingkarkan tangannya erat di lengan jas Bintang.
Begitu mereka melangkah melewati pintu ganda raksasa rumah tersebut, denting musik klasik yang terdengar pelan dari sudut ruangan dan aroma bunga lili segar langsung menyambut mereka. Aula megah itu dipenuhi oleh orang-orang berpakaian formal kelas atas, dan dalam hitungan detik, puluhan pasang mata di sana langsung beralih menatap tajam ke arah mereka berdua.
Tepat di tengah ruangan, berdiri seorang wanita cantik dengan gaun desainer berwarna merah menyala yang sedang memegang segelas sampanye. Wanita itu membalikkan badan, menatap lurus ke arah gandengan tangan Anna dan Bintang dengan senyuman meremehkan yang sangat kentara.
'Oh, jadi ini yang namanya Celine,' batin Anna, radar permusuhannya langsung berbunyi nyaring. 'Oke, mari kita mulai senggolan maut ini!'
Anna melirik sekilas ke arah Bintang. Pria itu tetap berjalan tenang dengan wajah lempeng, tidak memberikan petunjuk atau kode apa pun.
Merasa harus mengambil inisiatif demi membuktikan kelasnya, Anna mempererat remasan tangannya di lengan Bintang, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, lalu memasang senyum paling menantang namun tetap terlihat elegan begitu jarak mereka tinggal dua langkah.
"Selamat malam," sapa Anna dengan nada suara yang sengaja diatur selembut mungkin. Matanya menatap wanita bergaun merah itu dengan tatapan menilai. "Kamu... pasti Celine, kan? Mas Bintang sudah banyak cerita tentang kamu di mobil tadi."
Suasana di aula megah itu mendadak hening seketika. Dua orang pelayan yang sedang membawa nampan minuman bahkan sampai menghentikan langkah mereka dengan wajah tegang.
Wanita bergaun merah itu menurunkan gelas sampanyenya perlahan. Matanya melotot, napasnya memburu, dan wajahnya mendadak merah padam menahan dongkol yang luar biasa.
"Celine?!" pekik wanita itu dengan suara yang tertahan namun tajam. "Kamu bilang saya Celine?!"
Dari arah belakang wanita itu, seorang gadis muda dengan gaun satin berwarna emerald melangkah maju sambil bersedekap d**a. Pandangannya menatap Anna dengan galak. "Heh! Mata kamu ditaruh di mana, ya? Saya Celine! Yang kamu ajak bicara itu Tante Kirana, mamanya Bintang!"
JEDARRR!
Petir rasanya menyambar tepat di atas ubun-ubun Anna. Seluruh pasang mata di ruangan itu menatapnya seolah ia baru saja melakukan penistaan besar.
'Hah?! Itu Mamanya?!' Anna menjerit histeris dalam hati. Matanya bergantian menatap wanita bergaun merah dan gadis bernama Celine itu dengan syok yang luar biasa. 'Demi apa?! Ibunya awet muda sekali seperti perempuan usia tiga puluh tahunan awal! Kulitnya sekencang itu, dandanannya semodern itu! Mana gue tahu kalau itu emaknya Bintang!'
"Walaweh..." lirih Anna nyaris tanpa suara, seolah jiwanya baru saja keluar dari tubuh, jalan-jalan ke planet lain, lalu masuk lagi dengan pasrah.