Celine melangkah perlahan sambil tersenyum tipis. Senyum itu tampak indah, tetapi matanya sama sekali tidak ikut tersenyum saat menatap Anna penuh penghinaan.
"Kamu sengaja, ya?" tanya Celine dengan nada suara yang ditekan rendah. "Mau menghina saya agar kelihatan tua di depan keluarga besar Sadewa?"
Melihat situasi yang mendadak keruh, Anna langsung memutar otaknya secepat kilat. Bakat ngeles tingkat tinggi yang ia asah selama bertahun-tahun sebagai b***k korporat harus keluar sekarang juga.
"Demi Allah, Tante, saya benar-benar tidak sengaja," seru Anna buru-buru menangkupkan kedua tangannya di depan d**a, menatap Kirana—Mama Bintang—dengan pandangan super kagum yang dibuat sealamiah mungkin. "Tante kelihatan muda sekali. Jujur, saat pertama masuk tadi, saya mengira Tante masih seumuran dengan Mas Bintang karena auranya yang sangat modis. Makanya pas Mas Bintang bilang mantan tunangannya itu cantik, saya langsung mengira itu Tante."
Kalimat pujian yang meluncur dari mulut Anna itu sukses membuat Kirana tertegun. Amarah di wajahnya mendadak tertahan di tenggorokan. Perempuan mana yang tidak senang dibilang awet muda sampai dikira mantan tunangan anaknya sendiri?
Kirana berusaha tetap memasang wajah dingin yang angkuh, tetapi sudut bibirnya sempat berkedut tipis menahan senyum bangga. Ia berdehem pelan sambil merapikan tatanan rambutnya dengan jengah. "Ehem... kamu pintar sekali ya bicaranya. Tapi tetap saja, sikapmu tadi kurang sopan," ketusnya, walau nada suaranya sudah menurunkan beberapa desibel.
Bintang yang sedari tadi menyaksikan kelayakan "pacar sewaannya" meluncurkan taktik penyelamatan diri hanya bisa memijat pelipisnya pelan. Pria itu berdehem berat, lalu menarik Anna sedikit ke belakang tubuhnya. "Sudah. Oma sudah menunggu di ruang makan. Ayo masuk."
Suasana di ruang makan mewah berkapasitas dua puluh orang itu terasa sangat formal. Pertemuan yang awalnya diniatkan untuk membahas pertunangan, kini bergeser menjadi ruang sidang yang sunyi.
Oma duduk di ujung meja dengan tenang, sementara Papa Bintang—seorang pria paruh baya dengan guratan wajah yang teduh duduk di sisi kanan. Di hadapan mereka, Mama Bintang dan Celine sengaja mengambil posisi berdampingan, memasang ekspresi sekaku kanebo kering.
"Saya tetap tidak setuju, Mami," cetus Kirana, membuka konfrontasi langsung di depan Oma bahkan sebelum hidangan utama disentuh. Matanya menatap Anna sinis. "Bintang itu penerus tunggal Sadewa Group. Dia butuh pendamping yang jelas asal-usulnya, berkelas, dan paham dunia bisnis seperti Celine. Mama sudah melihat sendiri bagaimana keluarga pebisnis rekanan kita hancur berantakan hanya karena salah memilih pasangan hidup."
Celine tersenyum kemenangan, menatap Anna dengan pandangan yang kian meremehkan.
Di balik keheningan yang memanas itu, Papa Bintang hanya menyeruput tehnya pelan dengan ekspresi lempeng, seolah sudah sepenuhnya kebal mendengar istrinya mengomel sejak puluhan tahun lalu. Beliau kemudian menaruh cangkirnya dan tersenyum ramah ke arah Anna.
"Bagi Papa, urusan pendamping hidup itu hak sepenuhnya ada di tangan Bintang. Kalau Bintangnya cocok dan nyaman, ya sudah, tidak apa-apa. Kita sebagai orang tua tugasnya cuma merestui dan mendoakan," lerai Papa Bintang dengan suara yang menyejukkan.
"Papa! Kok malah dibela, sih?!" protes Kirana tidak terima.
"Saya setuju dengan menantu saya," sela Oma tiba-tiba. Suaranya yang penuh wibawa langsung membungkam protes Kirana. Oma menatap lurus pada menantunya tersebut. "Bintang sudah dewasa. Dan saya sendiri yang sudah menilai Anna. Kosakatanya cukup elegan untuk ukuran wanita mandiri."
Mendengar posisinya kian tersudut, Celine diam-diam menyenggol lengan Kirana di bawah meja, memberi kode agar wanita itu kembali meluncurkan serangan.
Tekanan udara di ruangan itu terasa semakin berat. Jemari Anna tanpa sadar mulai saling meremas erat di atas lututnya, menahan beban mental yang luar biasa. "Sabar, Anna... ingat, lima ratus juta... lima ratus juta..."
Tepat saat kecemasannya mulai memuncak, Anna tiba-tiba merasakan sebuah kehangatan yang kokoh menyelimuti tangannya. Bintang secara perlahan meraih jemari Anna yang sedang gemetar di bawah meja, lalu menggenggamnya dengan sangat erat, seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya agar Anna tidak goyah.
Anna tersentak dan menoleh ke samping. Pria itu tetap menatap lurus ke depan dengan wajah dingin tanpa ekspresi, seolah tidak terjadi apa-apa di bawah meja. Namun, genggaman tangannya terasa begitu nyata dan menghangatkan.
"Pernikahan ini adalah urusan saya, Mama," ujar Bintang, suaranya rendah namun bergaung penuh penekanan di ruang makan yang luas itu. "Saya yang akan menjalani hidup, bukan Mama. Dan pilihan saya tetap Anna."
Kirana mendengus kencang, lalu beralih menatap Anna dengan sorot mata menuntut. "Dan kamu, Anna. Kamu tahu kan kalau menjadi istri seorang Bintang Sadewa itu artinya kamu harus siap mendampinginya di jamuan internasional dan punya koneksi tingkat tinggi? Apa yang bisa kamu tawarkan untuk menyokong karier anak saya?"
Disengat pertanyaan telak yang merendahkan latar belakangnya sebagai karyawan biasa, darah Anna yang terbiasa menghadapi klien paling rewel mendadak mendidih. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh mode defensif yang sangat elegan.
Anna menarik tangannya dari genggaman Bintang perlahan, lalu menegakkan punggungnya. Ia menatap Kirana dengan pandangan mata yang tenang dan teduh.
"Tante Kirana yang cantik," buka Anna, sengaja menyelipkan kembali taktik pujian di awal agar tensi tidak langsung meledak. "Saya paham betul kekhawatiran Tante sebagai seorang ibu yang menyayangi anaknya. Memang betul, saya tidak punya saham gabungan atau koneksi konglomerat untuk disodorkan."
Anna jeda sejenak, melirik Celine yang menatapnya angkuh, lalu kembali menatap Kirana dengan senyum tulus.
"Tapi yang saya tahu, Mas Bintang sudah punya tim terbaik untuk mengurus dan memimpin seluruh perusahaan. Beliau tidak butuh istri yang merangkap menjadi rekan bisnis tambahan. Yang Mas Bintang butuhkan saat pulang ke rumah adalah tempat bersandar yang nyaman, seseorang yang menghargai dirinya sebagai manusia—bukan karena angka di rekeningnya. Karena setiap orang, sehebat apa pun dia, tetap butuh rumah untuk pulang. Dan saya yakin, saya bisa memberikan hal itu untuk Mas Bintang."
Skakmat!
Ruang makan itu seketika hening, berganti menjadi keheningan yang penuh rasa takjub. Kini, Bintang kehilangan jawaban. Pria itu terpaku, menoleh perlahan menatap samping wajah Anna yang tampak begitu bersinar di bawah lampu kristal aula. Kalimat Anna barusan terdengar begitu mengetuk bagian terdalam dari hatinya yang selama ini beku.
Papa Bintang harus menyembunyikan senyum bangganya di balik cangkir teh, sementara Oma mengangguk-angguk dengan binar kepuasan yang kentara.
"Penjelasan yang sangat luar biasa, Anna," puji Oma akhirnya, memecah keheningan. "Kirana... saya rasa perdebatan ini sudah selesai. Pertunangan mereka akan tetap dilaksanakan bulan depan."
Celine yang sudah tidak tahan lagi menahan malu akhirnya berdiri dari kursinya dengan kasar. Sebelum melangkah pergi, ia sempat melayangkan tatapan tajam dan melotot ke arah Anna. "Ini belum selesai," desisnya dengan suara bergetar menahan tangis, lalu melesat pergi meninggalkan ruang makan.
Melihat sekutunya kabur, Kirana pun ikut berdiri dengan bersungut-sungut. "Mami, Papa, Kirana lelah. Mau istirahat ke kamar!" ketusnya sebelum melangkah pergi dengan hentakan kaki dramatis.
Setelah kedua wanita itu pergi, suasana ruangan langsung mencair drastis. Papa Bintang tertawa renyah, memuji keberanian Anna yang dianggapnya sangat cerdas dalam berbicara.
Satu jam kemudian, jamuan makan malam resmi berakhir. Bintang dan Anna kembali berjalan beriringan menuju mobil di lobi utama. Begitu mereka masuk ke dalam kabin dan pintu tertutup rapat, Anna langsung menjatuhkan kepalanya ke sandaran jok sambil mengembuskan napas super panjang.
"Hwaaaa! Mas Bintang... kepala saya mau pecah!" keluh Anna, seluruh pembawaan anggunnya langsung lenyap. "Tadi itu benar-benar seperti ujian sidang tingkat dewa!"
Bintang tidak langsung menyalakan mesin mobil. Pria itu melepas jas abu-abunya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia membalikkan tubuhnya sedikit menghadap Anna, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kalimat kamu di meja makan tadi..." Bintang menggantung kalimatnya, membuat Anna menoleh heran dengan wajah was-was.
"Kenapa, Mas? Jelek ya? Tapi berhasil kan membuat Celine pulang?"
Bintang menggeleng pelan. Ia memajukan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka hingga Anna bisa menghirup aroma maskulinnya dengan sangat jelas. "Tidak jelek," bisik Bintang, suaranya terdengar berat di keheningan mobil yang kedap suara. "Malah... kalimatmu tadi terdengar seperti sesuatu yang benar-benar kamu yakini."
Jantung Anna mendadak berdegup kencang secara tidak karuan. Wajahnya merona merah akibat kedekatan mereka yang mendadak.
Melihat reaksi Anna yang gugup, Bintang tampak tersentak kecil—seolah baru sadar kalau tindakannya barusan sudah kelewat batas untuk ukuran profesional. Ia langsung menarik kembali tubuhnya, duduk tegak di balik kemudi, lalu berdehem pelan. "Maksud saya, aktingmu terlalu bagus. Kalau saya jadi mereka, saya juga akan percaya."
Anna mengerjapkan mata. Rasa gugup di jantungnya perlahan digantikan oleh rasa dongkol yang luar biasa. "Sialan! Gue sudah jantungan, ternyata dia cuma lagi menilai performa akting gue!"
"Tentu saja, Mas," sahut Anna dengan nada secuek mungkin, memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Lima ratus juta gitu, lho. Disuruh akting jadi reog pun pasti saya jabanin."
Sudut bibir Bintang kembali berkedut samar mendengar gerutuan Anna. Mobil sport itu pun akhirnya melaju membelah jalanan malam Jakarta yang mulai lengang.
Di dalam mobil itu, dua orang sedang berusaha keras membohongi diri masing-masing. Anna sibuk meyakinkan dirinya bahwa semua yang ia lakukan malam ini hanyalah demi uang kontrak, sementara Bintang... sibuk mengontrol detak jantungnya sendiri, berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang mulai ia rasakan hanyalah bagian dari sandiwara yang terlalu dihayati.