Malam Jakarta mulai lengang. Lampu-lampu jalan membentuk garis-garis kuning yang memantul di kaca mobil sedan hitam milik Bintang. Mesin mobil berdengung halus, sementara suasana di dalam kabin justru jauh lebih sunyi dibanding jalanan di luar.
Anna masih memalingkan wajah ke arah jendela.
"Pakai reog..." Bintang tiba-tiba membuka suara. "...itu serius?"
Anna mendengus pelan tanpa menoleh. "Kalau bayaran lima ratus juta, saya rela jadi reog, ondel-ondel, bahkan badut ulang tahun."
Sudut bibir Bintang kembali bergerak tipis. "Kamu memang sulit ditebak."
Anna langsung menoleh. "Mas itu lagi ngetawain saya?"
"Tidak."
"Bohong."
"Tidak."
"Tadi bibir Mas naik."
"Itu refleks."
"Refleks ketawa, kan?"
"Itu refleks otot."
Anna mendengus kesal. "Yaudah. Otot Mas ternyata humoris."
Hening kembali memenuhi mobil. Pak Darto yang duduk di kursi kemudi sampai beberapa kali melirik kaca spion tengah. Sudah hampir lima tahun ia bekerja pada keluarga Sadewa. Selama itu pula... belum pernah ia mendengar Tuan Muda meladeni obrolan receh seseorang selama ini.
Beberapa menit kemudian, Anna melirik sekilas ke arah Bintang. "Mas."
"Hm."
"Saya mau tanya."
"Tanya saja."
"Mas dari kecil memang dingin begini?"
Bintang menoleh. "Maksudnya?"
"Iya... kayak kulkas empat pintu."
"..."
"Soalnya saya belum pernah lihat Mas ngomel."
"Saya bisa marah."
"Serius?"
"Iya."
"Kayak apa?"
"Biasa."
Anna menghela napas panjang. "Jawaban Mas selalu irit."
"Itu efisien."
"Itu bikin kesel."
Bintang kembali menatap lurus ke depan. "Apa semua orang di kantor juga bilang begitu?"
Anna tertawa kecil. "Kalau saya jawab iya, Mas marah?"
"Tidak."
"Iya."
"..."
"Mas pasti tipe bos yang kalau rapat cuma ngomong tiga kalimat."
"Karena tiga kalimat cukup."
"Nah, kan." Anna menggeleng geli. "Kalau saya jadi karyawan Mas, mungkin saya tiap hari kena darah tinggi."
Bintang hanya berdehem pelan. Entah kenapa, obrolan seperti ini terasa jauh lebih ringan dibanding semua sandiwara yang mereka lakukan di depan keluarga Sadewa.
Mobil berhenti di lampu merah. Anna kembali memandang keluar jendela. Di trotoar, terlihat seorang ayah sedang menggendong anak kecil yang tertidur di bahunya. Sang ibu berjalan di samping sambil membawa kantong belanja. Mereka tampak sederhana, namun wajah ketiganya terlihat begitu tenang. Anna memperhatikan mereka sampai lampu hijau kembali menyala.
"Tadi..." Bintang meliriknya. "...kalimat kamu di meja makan."
Anna langsung memejamkan mata. "Ya ampun, Mas. Jangan dibahas lagi. Malu."
"Saya hanya ingin tahu."
"Apa?"
"Itu benar menurutmu?"
Anna terdiam beberapa saat seraya mobil kembali melaju.
"Kalau menurut saya..." gumam Anna pelan, "...orang sehebat apa pun pasti capek. Kerja bisa sampai malam. Dikejar target. Dimarahin atasan. Atau dimanfaatin orang."
Anna tersenyum kecil. "Makanya saya bilang rumah itu tempat pulang." Ia menarik napas pelan. "Rumah harus jadi tempat seseorang bisa berhenti pura-pura kuat."
Suasana kembali sunyi. Anna menggaruk pipinya sendiri, merasa canggung. "Eh, tapi itu cuma pendapat saya, ya. Belum tentu benar. Namanya juga b***k korporat sok bijak."
Bintang tidak menjawab. Ia hanya menatap jalan jauh di depan.
Tak lama kemudian mobil memasuki kawasan rumah Anna. Gang kecil itu sudah jauh lebih sepi dibanding biasanya. Hanya suara jangkrik dan lampu jalan yang menemani malam. Pak Darto menghentikan mobil tepat di depan pagar.
"Sudah sampai, Tuan."
Anna tersenyum lega. "Terima kasih, Pak Darto." Ia lalu menoleh pada Bintang. "Mas, makasih ya."
"Hm."
"Terima kasih juga karena tadi sudah bantu saya lagi."
"Itu bagian kontrak."
Anna tertawa. "Iya, iya. Semua juga bagian kontrak."
Ia membuka pintu mobil. Baru satu kaki menginjak aspal—
"Anna."
Gadis itu menoleh. Bintang mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas kerjanya.
"Ini."
Anna menerimanya dengan bingung. "Apa ini?"
"Jadwal minggu depan."
Anna membuka amplop itu, dan matanya langsung membulat seketika. Di dalamnya bukan hanya jadwal biasa, melainkan ada belasan lembar agenda: Pelatihan etika, makan siang bisnis, jamuan amal, latihan dansa, kelas wine, simulasi wawancara media, bahkan... ada jadwal bangun pagi pukul lima tiga puluh.
"Mas..." Suara Anna mulai bergetar. "...ini jadwal calon menantu..." Ia membalik halaman berikutnya, "...atau jadwal calon astronot NASA?"
Bintang terlihat sama sekali tidak bercanda. "Besok saya jemput pukul delapan."
"Hah?"
"Kita mulai persiapannya."
Anna langsung memegangi dadanya. "Sebentar..." Ia membuka halaman terakhir lalu membelalak lagi.
Di bagian paling bawah tertulis satu kalimat tebal:
Pelatih Etika Resmi: Ny. Ratih Pramestari (Mantan Kepala Protokoler Kepresidenan).
Anna menatap nama itu beberapa detik. Kemudian perlahan mengangkat wajahnya ke arah Bintang. "...Mas."
"Hm."
"Kalau saya kabur sekarang..."
Bintang memasang sabuk pengamannya dengan tenang. "Silakan. Kontrak batal. Uang dikembalikan."
Anna langsung menutup mulutnya sendiri. "...Besok saya datang."
Bintang mengangguk singkat. "Pilihan yang bijak."
Mobil sedan hitam itu perlahan meninggalkan gang. Sementara Anna masih berdiri mematung di depan pagar rumahnya, memeluk amplop cokelat itu erat-erat.
"Ya Allah..." bisiknya pasrah. "...setengah miliar memang tidak pernah datang dengan cara yang mudah."
***
Keesokan paginya, sinar matahari bahkan belum benar-benar tinggi ketika suara notifikasi ponsel Anna berbunyi nyaring dari atas nakas.
Ting!
Anna yang masih bergelung di balik selimut meraba-raba ponselnya dengan mata setengah tertutup. "Hm... siapa sih pagi-pagi..."
Ia membuka layar.
Mutasi Masuk
Transfer dari: Bintang Sadewa
Jumlah: Rp500.000.000,00
Kantuk Anna langsung hilang. Matanya membelalak. Ia berkedip, menutup aplikasi, lalu membukanya lagi. Nominalnya tetap sama.
"Lima..." Anna menghitung nolnya satu per satu memakai telunjuk, "...puluh... lima ratus... JUTA?!"
"AAAAAAAAAA!" Suara teriakannya menggema sampai ruang tamu.
Mama yang sedang menyapu langsung menjatuhkan sapu. "Anna! Kenapa?! Ada tikus?!"
Anna berlari keluar kamar sambil membawa ponselnya. "Mama! Mama lihat ini!"
Mama buru-buru memakai kacamata baca. "Lho?" Wanita itu ikut membelalakkan mata. "Na... ini benar?"
"Iya, Ma!"
"Kamu menang undian?"
"Bukan!"
"Naik jabatan?"
"Bukan juga!"
"Lalu?"
Anna langsung terdiam. Oh... ia baru sadar. Tidak mungkin menjelaskan soal kontrak pacar sewaan. "Itu..." Anna tersenyum kaku, "...bonus proyek."
Mama mengangguk kagum. "Perusahaan zaman sekarang baik juga ya."
"Iya, Ma..." Anna tertawa hambar. "Dikit lagi mungkin bonusnya satu pulau."
Setelah sarapan, Anna berangkat kerja seperti biasa. Namun ada satu perbedaan. Sepanjang perjalanan... ia terus membuka aplikasi m-banking. Ditutup, dibuka lagi, ditutup, dibuka lagi.
"Masih ada..." gumamnya puas. "Belum ditarik lagi..." Ia menyenggol pipinya sendiri. "Bukan mimpi."
Jam istirahat siang, Anna duduk sendirian di *
pantry kantor sambil menyeruput es kopi. Tiba-tiba... ponselnya kembali berada di tangannya. Ia membuka aplikasi belanja daring.
"Hmm..." Matanya berbinar. "Selama ini masuk keranjang terus. Hari ini..." Ia menarik napas panjang, "...kalian resmi bebas."
Jarinya mulai bergerak liar.
Blender warna pastel ("Lucu.")
Rice cooker motif bunga ("Gemas.")
Rak buku minimalis ("Masuk.")
Bantal berbentuk alpukat ("Kenapa lucu banget... Masuk.")
Mug bertuliskan CEO of Rebahan (Masuk.)
Selimut karakter capybara (Masuk.)
Sandal rumah berbentuk ikan (Masuk.)
Tempat tisu berbentuk roti tawar (Masuk.)
Lampu tidur bebek (Masuk.)
Kotak makan berbentuk panda (Masuk.)
Boneka gurita yang bisa dibalik ekspresinya ("Ini penting. Masuk.")
Tanpa sadar... jumlah barang di keranjang sudah melewati seratus item. Anna menyandarkan tubuhnya. "Wah... rasanya jadi orang kaya ternyata capek juga."
"Lho?" Suara Jessica membuat Anna tersentak. "Kamu ngapain senyum-senyum sendiri?"
Anna buru-buru mengunci layar. "Nggak kok."
Jessica menyipitkan mata. "Kamu habis belanja ya?"
"Sedikit."
"Berapa?"
Anna tersenyum polos. "Ya... sekitar..."
Jessica menunggu.
"...dua juta."
Jessica mengangguk. "Masih aman."
Anna berdehem. "Itu... ongkirnya."
Jessica membeku. "Hah?"
Anna tertawa kecil. "Eh, bercanda."
Jessica menghela napas lega. "Hampir aja gue percaya."
Anna hanya menyengir. Dalam hati... "Untung nggak lihat total checkout tadi."
Sepulang kerja, Anna langsung pulang dengan wajah penuh semangat. Begitu tiba di rumah, ia merebahkan diri di sofa, lalu kembali membuka aplikasi belanja.
"Kayaknya... masih ada yang kurang." Matanya berbinar lagi. "Hmm... Oh!" Ia menemukan kursi pijat elektrik. "Harganya lumayan juga..." Anna menggigit bibir. "Lagi kaya... sekali-kali."
Klik. Checkout berhasil.
"HEHEHE!"
Belum puas, ia membeli vacuum cleaner, air fryer, humidifier, mesin pembuat kopi, tanaman hias palsu, bahkan... robot penyedot debu. Anna memandangi total pengeluarannya.
"Masih sisa banyak." Ia mengangguk mantap. "Berarti aman."
Sekitar sepuluh menit kemudian... ponselnya berdering. Nama di layar membuat Anna langsung duduk tegak: Mas Bintang.
Anna segera mengangkat. "Halo, Mas!"
"Sedang apa?" Suara Bintang terdengar datar seperti biasa.
"Belanja."
"Hm. Belanja apa?"
Anna tersenyum lebar. "Sedikit kok."
"Sedikit?"
"Iya. Cuma blender, rice cooker, robot, kursi pijat, boneka gurita, sandal ikan, air fryer, vacuum, lampu bebek, tempat tisu roti..."
"..." Di seberang sana... sunyi.
Anna mengerutkan dahi. "Mas?"
Masih sunyi.
"Mas, sinyalnya putus?"
Suara helaan napas panjang akhirnya terdengar. "Anna."
"Iya?"
"Kamu... menghabiskan berapa?"
Anna menghitung cepat. "Kayaknya... dua puluh tiga juta."
Sunyi lagi. Beberapa detik kemudian... Bintang kembali bicara. "Dalam sehari?"
"Iya."
"Untuk... tempat tisu berbentuk roti?"
"Iya. Lucu, Mas."
Hening. Anna mulai merasa ada yang tidak beres. "Mas marah?"
"Tidak."
"Tapi Mas diam."
"Saya sedang..." Bintang berhenti sejenak, "...berusaha memahami jalan pikiranmu."
Anna tertawa canggung. "Hehehe... Kan uangnya ada..."
Bintang mengembuskan napas pelan. "Besok."
"Iya?"
"Saya jemput lebih pagi."
"Buat apa?"
"Kita beli sesuatu yang memang kamu butuhkan."
Anna mengerutkan dahi. "Lho?"
"Saya sudah lihat ponselmu."
"Kenapa?"
"Baterainya tinggal delapan puluh persen pukul sembilan pagi."
Anna berkedip. "Itu masih banyak, Mas."
"Baterainya sudah menurun. Besok kita beli ponsel baru."
Anna langsung melongo. "Lah... Mas... gara-gara baterai delapan puluh persen?"
"Ya."
Klik. Telepon terputus.
Anna memandangi layar ponselnya beberapa saat. "..."
"Lima ratus juta memang mengubah hidupku," gumamnya sambil menggaruk kepala. "Tapi... kayaknya Bos Besar lebih aneh daripada aku."