Keesokan paginya, Anna datang ke kantor dengan membawa tas belanja berisi beberapa barang kecil yang semalam tiba menggunakan layanan instan. Sebuah mug bertuliskan CEO of Rebahan kini bertengger manis di mejanya, sementara gantungan kunci berbentuk capybara menggantung cantik di resleting tas kerja milik gadis itu.
Jessica yang baru saja melangkah masuk langsung menghentikan langkahnya tepat di dekat meja Anna. Matanya memicing, memperhatikan jajaran barang baru di sana.
"Kamu habis menang undian apa, Na?"
Anna mendongak dari layar laptopnya, tampak terkejut. "Hah?"
"Itu gantungan baru, mug baru, tempat pensil baru." Jessica menunjuk satu per satu barang tersebut. "Aura orang lagi banyak duit kelihatan banget."
Gugup, Anna buru-buru memindahkan tangannya untuk menutupi mug tersebut. "Ini... diskon."
Jessica menyipitkan mata ragu. "Diskon sampai segininya?"
"Si oren lagi tanggal cantik," kilih Anna sekenanya.
Jessica terkekeh pelan lalu menggelengkan kepala. "Yang penting jangan sampai besok kamu datang naik helikopter."
Anna ikut tertawa mencairkan suasana. "Belum sanggup."
"Belum?"
"Maksudku... nggak kepikiran."
Jessica menatap Anna selama beberapa detik sebelum akhirnya berlalu menuju kubikelnya sendiri sambil tertawa kecil. Begitu sosok rekan kerjanya menghilang di balik sekat, Anna mengembuskan napas lega yang sempat tertahan.
"Untung Kak Jes nggak tahu isi rekeningku sekarang," bisiknya pada diri sendiri.
Hari itu berlalu cukup padat. Anna hampir tidak sempat menyentuh ponselnya karena harus terus-menerus berpindah ruang rapat. Menjelang sore, saat ia akhirnya kembali ke meja kerja, ia baru menyadari ada tiga panggilan tak terjawab dari nomor Bintang.
Belum sempat jemarinya menekan tombol balas, layar ponselnya kembali bergetar hebat.
Mas Bintang
Anna menggeser ikon hijau lalu menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Mas."
"Kamu sedang di mana?" Suara di seberang terdengar lurus tanpa nada.
"Masih di kantor."
"Tadi saya menghubungi tiga kali."
"Iya... maaf. Lagi rapat."
"Pesan saya juga belum dibaca."
Anna segera menjauhkan ponsel sedikit untuk membuka aplikasi chat. Benar saja, ada enam pesan masuk dari Bintang. Sebagian berisi perubahan jadwal pelatihan, sedangkan sisanya mengenai agenda acara makan siang bersama Oma minggu depan.
Anna meringis pelan, merasa bersalah. "Aduh... maaf banget, Mas."
"Kenapa tidak dibalas?"
"Tadi HP saya di-silent."
Suara Bintang terdengar begitu tenang, namun menusuk. "Itu masalah."
"Lho?"
"Kalau ada perubahan mendadak, saya harus bisa menghubungimu."
Anna mengangguk refleks—baru sadar Bintang tidak bisa melihat gesturnya lewat telepon. "Iya juga sih."
"Saya tunggu di depan."
"Hah?"
"Saya sudah di lobi."
Anna spontan berdiri tegak dari kursinya, membuat beberapa rekan di sekitarnya melirik heran. "Cepat sekali?"
"Turun, Anna."
"Oke, saya turun."
Beberapa menit kemudian, Anna melangkah masuk ke dalam kabin sedan hitam yang sudah sangat dikenalnya. Pak Darto memberi salam ramah dari balik kemudi sebelum perlahan kembali menjalankan mobil menembus jalanan sore.
Anna menoleh, mendapati Bintang duduk tegap di sisinya. "Hari ini kita langsung latihan?"
"Tidak."
"Mau ke mana?"
"Beli sesuatu."
Anna mengerutkan dahi bingung. "Mas, saya semalam sudah belanja."
"Saya tahu."
"Tapi saya nggak mau belanja lagi."
"Bukan untuk dekorasi rumah."
"Lalu?"
"Ponsel."
Anna tertawa kecil, mengira pria itu bercanda. "Mas masih ingat soal baterai kemarin?"
"Itu salah satunya."
"Saya masih bisa pakai yang lama."
Bintang menggeleng pelan. "Masalahnya bukan hanya baterai."
Pria itu kemudian meraih ponsel milik Anna dari dashboard mobil dan mengacungkannya pelan.
Anna langsung membelalakkan mata. "Lho? HP saya kok ada di situ?"
"Kemarin tertinggal di mobil."
Anna membeku. Ia benar-benar lupa kalau semalam sempat meletakkan ponselnya di konsol tengah saat sibuk menerima telepon dari Mamanya.
"Mas buka HP saya?" tanyanya was-was.
"Tidak."
Anna mengembuskan napas lega.
"Saya hanya melihat kondisinya," lanjut Bintang seraya membalikkan ponsel tersebut.
Bintang memperlihatkan bagian belakang ponsel yang kusam. Sudut casing-nya tampak retak, pelindung layarnya mulai mengelupas di beberapa sisi, dan tombol volumenya bahkan harus ditekan berkali-kali agar berfungsi.
Anna tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya. "Hehe... memang agak veteran."
"Agak?"
"Itu sudah menemani saya sejak empat tahun lalu."
Bintang mengusap pelipisnya pelan, tampak tidak habis pikir. "Kamu memakai ponsel seperti memakai mobil."
"Maksudnya?"
"Selama masih menyala, dipakai terus."
"Kan masih bagus."
"Anna."
"Iya?"
"Kemarin saya menghubungimu hampir satu jam."
Anna langsung terdiam.
"Itu berisiko," tambah Bintang. Kalimatnya singkat, namun Anna bisa menangkap keseriusan mendalam di balik nada datarnya.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan elektronik premium. Anna mendongak melalui kaca mobil, menatap megahnya bangunan di hadapannya.
"Mas..."
"Hm."
"Ini tokonya mahal."
"Iya."
"Kita pindah toko saja."
"Tidak."
Anna menghela napas panjang. "Mas benar-benar nggak tahu cara hidup hemat."
Bintang menoleh menatapnya lurus. "Saya sedang menghemat waktu."
"Hah?"
"Kalau ponselmu lambat, komunikasi kita ikut lambat."
Anna tidak bisa membantah argumentasi dingin itu lagi.
Begitu mereka melangkah memasuki toko, seorang staf berseragam rapi langsung menghampiri dengan senyum profesional yang terkembang lebar. "Selamat sore, Pak Bintang."
Anna melirik Bintang di sampingnya. "Mas sering ke sini?"
"Kadang."
Staf itu dengan sopan mempersilakan mereka menuju ruang VIP. Anna, yang baru pertama kali melihat fasilitas ruang khusus pelanggan penting seperti ini, hanya bisa menelan ludah melihat deretan sofa mewah dan suguhan minumannya.
"Beli HP saja ada ruang VIP..." batinnya heran.
Beberapa menit kemudian, berbagai model ponsel premium keluaran terbaru sudah tersusun rapi di atas meja kaca. Anna memajukan tubuhnya untuk melihat label harganya.
"..."
Seketika tangannya refleks menarik diri mundur. "Mas."
"Hm."
"Harga segini bisa buat renovasi dapur rumah saya."
"Pilih."
"Yang itu saja." Anna menunjuk sebuah benda persegi kecil berdesain elegan yang harganya paling murah di antara semuanya.
Staf toko tersenyum kikuk, merasa serbasalah. "Maaf, Mbak... itu bukan ponsel."
Anna berkedip polos. "Lho?"
"Itu power bank."
Seketika wajah Anna memerah padam menahan malu. "Astaga..."
Bintang menundukkan kepalanya beberapa detik. Bahu tegap pria itu tampak bergerak naik-turun pelan.
Anna menyipitkan mata, menyadari keanehan gestur tersebut. "Mas..."
"Hm."
"Mas ketawa?"
"Tidak."
"Itu bahu Mas kenapa goyang?"
"Saya batuk."
"Batuk kok nggak bunyi."
"..."
Anna langsung menyenggol lengan Bintang pelan dengan sikunya. "Ketawa ya?"
Bintang akhirnya mengangkat wajahnya kembali. Ekspresinya memang telah diatur sedemikian rupa agar tetap datar, namun sudut bibirnya jelas masih menyimpan sisa senyum tipis yang tak bisa disembunyikan.
Anna mendengus pelan, menahan gemas. "Ya ampun... ternyata Bos Besar bisa ngeledek juga."
Belum sempat mereka menentukan pilihan ponsel, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar bergetar dari arah pintu ruang VIP.
"Permisi, Pak Bintang."
Seorang pria berjas rapi menghampiri mereka dengan raut wajah yang tampak sedikit panik. Bintang langsung menoleh tegas. "Ada apa?"
Pria itu menelan ludah sebelum melapor, "Saya baru menerima telepon dari kediaman utama."
Anna ikut berdiri dan menatap pria tersebut dengan cemas. "Kenapa mendadak?"
Pria itu menarik napas pendek sebelum akhirnya menjawab, "Karena... mentor yang ditunjuk Oma sudah tiba lebih cepat dari jadwal."