"I-ibu, aku mohon biarkan aku pergi. Semua ini demi masa depan kita, demi biaya rumah sakit ayah. Ini tidak akan lama, Bu. Satu tahun! Aku akan kembali dalam satu tahun dan aku berjanji akan hal itu. Kau harus memberiku izin karena kita tidak memiliki waktu lagi, Bu..."
Riana bersujud meminta restu di hadapan sang ibu, namun terlihat sangat jelas betapa beratnya hati wanita renta itu memenuhi keinginan putri semata wayangnya. Ya, walaupun alasan yang Riana katakan tepat, namun tetap saja batinnya tidak bisa menerima.
Ibu mana yang rela membiarkan putri kebanggaannya, harta termahal miliknya melakukan pekerjaan yang tidak pernah sekalipun menjadi mimpi seseorang gadis manapun?
Karena hidup yang miskin dan suami sakit-sakitan hingga diharuskan mengambil tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawanya akibat penyakit yang sudah kronis, Riana sebagai anak rela menandatangani sebuah perjanjian kepada seorang pengusaha kaya raya dari kota sana.
Bukan perkara main-main, tapi kesepakatan dalam sewa rahim yang terdengar begitu ganjal bagi masyarakat desa mereka. Apalagi, Riana diharuskan hamil secepat mungkin dan memberikan seorang ahli waris pada mereka dan ya! Jika anak itu laki-laki, maka imbalan yang akan ia dapatkan tidak main-main nominalnya. Bukan hanya menyelamatkan sang ayah, tapi juga akan merubah perekonomian keluarga.
Walaupun semuanya didasari dengan ikatan janji suci pernikahan, namun tetap saja sang ibu tidak bisa menerima.
"Ibu, tolong katakan sesuatu, aku mohon..."
"Tolong jangan paksa ibu, Nak. Ini sudah sangat keterlalun dan ibu tidak bisa menerimanya. Bagaimana nanti dengan masa depanmu? Bagaimana nanti dengan ..."
"Tidak, Ibu, tolong jangan lanjutkan lagi." Riana menyela. "Kalian berdua adalah masa depanku. Jika terjadi hal buruk pada kalian Ibu ataupun ayah, maka masa depanku akan hancur. Hanya kalian yang aku miliki dan aku tidak siap harus kehilangan kalian berdua apapun alasannya."
"Tapi, Nak ..."
"Ibu, tolong dengarkan aku sekali saja, ok? Ayah sekarat dan membutuhkan operasi itu segera. Jangan pikirkan apapun, karena aku akan baik-baik saja. Tolong kabulkan permintaanku, Bu. Demi masa depan kita bertiga, aku mohon."
Riana terus meyakinkan sang ibu dengan tatapannya. Jemarinya menggenggam erat kedua tangan renta sang ibu.
"Ibu, aku mohon..."
Sang ibu menangis. Air matanya berderai begitu saja. Namun beberapa saat kemudian, iapun mengangguk setuju setelah menarik nafas yang begutu dalam. Tekad putrinya sudah sangat besar dan tidak ada lagi yang bisa dirinya lakukan.
"Ibu yakin dan ibu percaya, keluarga kita akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja. Doa ibu menyertaimu selalu, Putriku..."
Mereka saling berpelukan haru. Ya, pelukan terakhir hingga satu tahun mendatang, saat kontrak berakhir dan Riana kembali ke pangkuan keluarganya di kampung halaman...
***
"Paman, apakah ini tempatnya?" tanya Riana sembari mengagumi bangunan megah di hadapannya. "Mungkinkah aku akan tinggal di tempat ini?" lanjutnya masih kurang yakin.
Ya, saat ini Riana bersama dengan seorang pria paruh baya yang ia panggil dengan sebutan paman itu telah tiba di kediaman Jonathan~pria yang akan menjadi penyewa rahim miliknya untuk melahirkan seorang penerus keluarga.
Dia pergi meninggalkan desa dan tinggal di kota selama kontrak berlangsung dan ya! Tentu saja dirinya juga akan tinggal di rumah besar itu bersama dengan Jonathan, sekaligus mengandung anak sang tuan.
"Riana, singkatnya aku telah menceritakannya padamu, yakni tugas dan apapun yang harus kau lakukan. Nanti, Tuan Jonathan pasti akan menjelaskan kembali padamu bagaimana sistem kerja kontraknya."
"Aku mengerti, Paman."
"Satu lagi. Pagi ini ayahmu telah menjalani operasi dan itu berhasil. Ingat! Aku sudah menganggapmu seperti putriku sendiri dan aku juga sudah mengeluarkan keluargamu dari masa sulit. Untuk itu, jangan sampai kau mempermalukan aku di depan Tuan Jonathan, ataupun membuat masalah. Kau mengerti maksudku, Riana?"
Riana mengangguk pelan. "Aku mengerti dan aku sangat berterima kasih dengan bantuanmu, Paman. Aku tidak akan mengecewakan dirimu. Aku berjanji..."
"Bagus! Sekarang, ayo kita masuk untuk menemui Tuan Jonathan di dalam sana."
Riana kembali mengangguk dan detik berikutnya mereka-pun turun dari mobil untuk segera masuk ke dalam sana dan ya! Sekali lagi Riana terkagum, bahkan ia tidak pernah melihat ataupun memasuki bangunan seindah itu sebelumnya.
"Apakah ini istana layaknya di negeri dongeng? Oh Tuhan, indah sekali!" gumam Riana mengagumi harta kekayaan Jonathan. Tak hanya megah, bahkan para pelayan dan juga penjaganya begitu banyak. "Mungkinkah dia lebih penting dan berharga dari pada seorang presiden?" lanjutnya kembali masih tidak habis pikir.
Mereka berdua terus berjalan masuk hingga tiba di depan pintu sebuah ruangan. "Apa kau siap, Riana?" tanya sang paman lirih dan saat yang bersamaan Rianan-pun mengangguk cepat. "Baiklah. Kalau begitu, ayo kita masuk."
Tok, tok, tok!
"Paman Herman, tunggu!" pinta Riana sedikit berteriak, hingga membuat pria paruh baya itu menarik kembali tangannya ke belakang. "Apa kau yakin dia adalah orang yang baik?" tanyanya kembali memastikan yang entah kenapa tiba-tiba saja ragu.
"Tentu. Bukankah sudah aku katakan sebelumnya?"
"Dia masih muda dan tampan?" lanjutnya menelisik.
"Apa kau datang karena dia kaya, muda dan juga tampan? Jangan berpikiran lebih dan tempatkan saja posisimu, Riana!" ketus Herman tidak suka.
"Bukan begitu, Paman. Hanya saja, aku ... aku, aku ..." Kalimat Riana menggantung, terlebih saat melihat tatapan Herman yang berubah tajam. "Baiklah, aku tidak akan bersuara ataupun banyak tanya lagi. Tolong maafkan aku."
Riana tertunduk dan tak lagi bicara, membuat Herman mendengus kesal dan mengusap perlahan dadanya.
Detik berikutnya, Herman kembali mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk hingga dipersilahkan.
Pintu terbuka dan serentak mereka masuk ke dalam sana dan ya! Lagi-lagi kemegahan yang terbentang kembali membuat Riana terperangah.
"Tinggalkan kami berdua."
Deg! Jantung Riana seketika berdetak cepat saat mendengar suara bariton milik pria yang saat ini duduk di kursi kebangsaannya dengan memunggungi mereka.
Tanpa menunda waktu, baik Herman dan beberapa orang pria serta wanita di dalam ruangan itu segera melangkah keluar. Kini, yang tersisa hanyalah Riana dengan tubuh gemetar serta rasa takutnya.
"Apa kau akan terus berdiri di sana? Duduklah."
DEG!
Untuk yang kedua kalinya jantung Riana berdetak kencang, terlebih saat melihat secara langsung dan pertama kali wajah sempurna pria yang akan memberikan penawaran padanya itu dan juga menjadi calon ayah untuk bayi yang nanti dirinya kandung.
Sempurna. Ya, hanya kata itu yang mampu terlintas di benak Riana saat ini tentang Jonathan. Tak hanya wajah, bahkan suaranya saja terdengar begitu merdu dan juga ramah, hingga mampu membuat hati siapapun luluh karenanya.
"Kau baik-baik saja, Nona?"
Riana tersentak dan tanpa kata-kata iapun langsung mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang tadi Jonathan persilahkan.
Tubuhnya bergetar dan hatinya berdebar. Kedua pipinya memanas dan keringat dingin mengalir begitu saja.
Apa dia tidak salah lihat? Bagaimana mungkin pria setampan dan sekaya Jonathan rela menyewa rahim seseorang? Apalagi gadis kampung seperti dirinya. Jangankan dia yang meminta, bahkan artis terkenal-pun pasti rela melahirkan banyak anak untuknya. Begitulah kira-kira yang terlintas dalam benak Riana saat ini menggambarkan sosok Jonathan yang sempurna.
"Saya rasa Herman sudah menjelaskan segalanya dan saya tidak perlu lagi untuk menjelaskan ulang, bukan?"
"A-ah, ya ... Paman Herman memang sudah menjelaskan. Tapi, apakah masih ada hal yang belum aku ketahui semuanya, Tuan?" jawab Riana yang malah balik bertanya.
"Kau harus mengandung anak saya, darah daging saya. Jika itu perempuan, dia akan tetap menjadi anakku dan kau mendapatkan bayaran sesuai dengan perjanjian. Jika dia seorang laki-laki, maka saya akan menambahkan bayarannya berkali lipat. Kau mengerti?"
"A-a-aku, aku mengerti, Tuan." Riana tertunduk malu, harga dirinya seketika hancur mendengar kalimat yang keluar dari mulut Jonathan. Namun apa daya, bukankah memang sejak awal harga dirinya sudah tidak lagi ada? Juga, memang sudah sewajarnya Jonathan berkata demikian.
"Baiklah. Kalau begitu, persiapkan dirimu malam ini. Setelah semua selesai, kita akan melaksanakan isi kontrak itu malam ini juga. Lebih cepat lebih baik."
DEG!
"A-apa? M-malam ini? T-tapi, tapi kita ..."
"Apa lagi masalahnya?" tanya Jonathan dengan raut wajah ragu.
"Kita belum menikah, Tuan. Lalu, bagaimana bisa kita melakukannya?" lanjut Riana yang langsung membuat tatapan Jonathan membulat dengan sempurna sekaligus tidak percaya.
"Menikah? Kita berdua? Apa kau gila, Nona? Jangan bermimpi! Karena hal itu tidak akan pernah terjadi. Bodoh! Beraninya kau berkata demikian." Jonathan memaki.
Deg! Serr...!