Riana tersedu di dalam kamar yang telah disediakan untuk dirinya tempati selama setahun kedepan. Kamar mewah, impian semua kaum hawa. Namun, bukannya bahagia dengan fasilitas yang ada, gadis itu malah meratapi betapa buruk nasib yang ia miliki.
Setelah perdebatan singkat dengan Jonathan tadi, seorang penjaga dan pelayan masuk atas perintah dan segera membawa Riana keluar dari sana. Seperti seorang tawanan saja, dia bahkan tidak memiliki hak untuk bicara, apa lagi sampai menolak.
Ingatannya masih sangat kuat dengan isi perjanjian yang beberapa waktu lalu Jonathan ucapkan dan ya! Tentu saja semua itu jauh berbeda dengan yang Herman katakan padanya saat di kampung.
Bagaimana tidak? Yang pertama, Jonathan bilang hubungan mereka tanpa adanya ikatan pernikahan, yang tentu saja bertolak belakang dengan syariat agama yang dia miliki dan kesepakatan pernikahan sirih~Herman ucapkan langsung di hadapan ibunya.
Kedua, dia tidak diperbolehkan berbuat sesuka hati, terlebih setelah hamil. Jangankan pergaulan, bahkan sampai hal terkecil harus seizin Jonathan terlebih dahulu. Semua perkataan Jonathan adalah perintah dan dia tidak dibenarkan menolak ataupun membantah.
Terakhir. Setelah melahirkan penerus Jonathan, dia tidak diperbolehkan kembali ataupun mengusik hal apapun tentang anak itu. Juga, mereka tidak akan pernah saling mengenal apapun yang terjadi dan ya! Inilah yang paling terpenting di dalam perjanjian mereka. Riana dilarang bertanya ataupun sekedar ingin tahu latar belakang maupun tujuan dari kontrak itu.
Tugasnya hanyalah mengandung dan memberikan Jonathan keturunan, tidak lebih dari itu.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Semuanya bertolak belakang, tidak seperti yang semula. Haruskah aku batalkan? Tapi bagaimana? Setengah dari uang itu sudah aku gunakan untuk operasi ayah. Lagi pula, tidak semudah itu untuk membatalkan segalanya. Jika aku turuti, bukankah aku akan berdosa besar karena sudah berzina? Bagaimana kelak dengan anak yang akan aku kandung?"
Riana terus menangis. Dia bahkan tidak menemukan mukena di dalam kamar itu untuk melaksanakan perintah wajib dari Tuhannya.
Tok, tok, tok
Deg! Riana seketika terperanjat kaget hingga membuat pandangannya seketika beralih pada pintu kamar. Tidak hanya itu, bahkan tubuhnya seketika bergetar dan air matanya kembali mengalir deras. Dia sampai meringkuk di kepala ranjang dan memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangan. Bukan perihal kehadiran Jonathan yang membuatnya takut, melainkan apa yang akan pria itu lakukan terhadapnya seperti halnya malam pertama semua pasangan menikah.
"Nona Riana, saya Nana, pelayan pribadi Anda."
"Pelayan? Pribadi?" lirih Riana pelan dengan nafas lega, saat tahu jika yang datang bukanlah hal menakutkan seperti pikirannya, yakni Jonathan.
"Nona Riana, saya akan masuk sekarang juga."
Ceklek
Tanpa jeda ataupun izin, pelayan muda yang mengaku sebagai Nana tadi itupun langsung masuk dengan senyum hangatnya. Tak hanya itu, ia juga membawakan sebuah nampan berisi penuh dengan makanan dan ya! Saat itu juga sesuatu di dalam tubuh Riana memberikan reaksi berupa suara seperti jangkrik.
Riana menggerutu dalam hatinya saat tahu betapa laparnya ia saat ini. Ditambah lagi dengan aroma yang menggugah selera dan jenis makanan yang begitu beragam.
"Nona, kemarilah. Saya membawakan makanan untuk Anda dan saya juga akan membantu Anda berbenah."
Nana meletakkan nampan makanan tadi ke atas meja sebelum akhirnya menghampiri Riana untuk ikut dengannya.
"Terima kasih, tapi aku tidak lapar..."
"Hihihi, Anda lucu sekali. Bagaimana tidak merasa lapar? Sedangkan perut Anda tidak hentinya memberi isyarat." Nana membalas dengan kalimat yang tenang dan juga bersahabat. Ya, perlakuannya tidak seperti seorang pelayan pada majikan, melainkan teman atau bahkan mungkin saudara. "Ayolah, Nona. Saya membawakan banyak makanan dan Anda pasti akan sangat menyukainya, hem?" lanjut Nana dengan jemarinya yang terulur kedepan.
Deg!
Lagi-lagi Riana terperanjat saat mendapati sikap Nana padanya, yakni dengan mengusap sisa air mata di wajahnya.
"K-kau, kenapa kau ..."
"Kita akan membicarakannya nanti. Yang terpenting saat ini Anda harus makan, ok?" sela Nana yang langsung menarik tubuh Riana dari tepian ranjang menuju meja makannya. "Makanlah. Setelahnya, saya akan menceritakan apapun yang ingin Anda ketahui, Nona."
Walaupun tampak ragu dan juga aneh, namun pada akhirnya Riana mengangguk setuju. Setidaknya, yang Nana katakan benar. Bukankah dirinya begitu kelaparan? Lagi pula, dengan mogok makan tidak akan mengubah hal apapun yang telah terjadi dalam hidupnya. Apapun itu...
***
Tiga puluh menit telah berlalu dan kali ini Riana benar-benar merasa kenyang, dia bahkan mengeluarkan sendawa yang begitu besar hingga membuat Nana kaget tidak percaya.
"M-maafkan aku, Nana. A-aku, aku ..."
"Hehehe, tidak apa-apa, Nona. Kau tidak perlu sungkan padaku, ok." Nana menyela dan mengatakan semua tidak masalah. Namun Riana sendiri tetap saja tidak enak dan merasa malu.
"Kau sudah lama bekerja di rumah ini?" balas Riana lebih lanjut dan ini adalah saat yang tepat baginya untuk mengetahui segala seluk-beluk tentang rumah dan Jonathan sebelum memulai tugasnya.
"Ibuku bekerja di sini jauh sebelum aku lahir. Dia adalah kepala pelayan di rumah ini. Sedangkan aku sendiri, sebenarnya aku sedang kuliah dan Tuan Jonathan memintaku datang untuk menekan kontrak pekerjaan dengannya selama setahun kedepan."
"Dan pekerjaanmu adalah melayaniku seperti yang kau katakan tadi?" lanjut Riana hati-hati. Takut jika gadis muda yang sekilas seusia dengannya itu tersinggung dengan kata-katanya.
"Kau benar, Nona. Untuk itu, segeralah hamil dan selesaikan semua ini dengan cepat. Kau akan bebas dengan kehidupan barumu kembali bersamaan uang yang begitu banyak, begitu pula dengan aku. Hehehehe..."
Deg! Serr!
Riana terdiam dan mendadak tatapannya berubah sendu, padahal jelas-jelas pelayan pribadinya itu malah tertawa dengan lucu. Riana hanya merasa kalimat Nana barusan menganggap dirinya yang rendahan. Walaupun pikirannya itu belum pasti, namun tetap saja.
Ekhem!
"Nona, kau marah padaku? M-maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk ..."
"Tidak, Nana. Kau tidak perlu meminta maaf, ok." Riana menyela. "Yang kau katakan benar dan aku tidak akan menyalahkan dirimu."
Riana segera berdiri dan hendak beranjak dari sana. Namun panggilan Nana kembali menghentikan dirinya.
"Apa kau tidak ingin mengetahui yang lainnya, Nona?"
Benar saja. Walau bagaimanapun dirinya juga penasaran dengan hal lainnya, terutama tentang Jonathan.
"Nana,"
"Ya, Nona."
"Menurutmu, bagaimana kepribadian Tuan Jonathan?"
"Dia adalah pria yang sangat tampan dan ya! Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan dengan detail karena kau sendiri sudah bisa menebaknya, Nona. Namun kau harus tahu, dia memiliki tempramen yang buruk dan juga dingin terhadap siapapun."
"Benarkah? Berarti, sikap dinginnya bukan hanya padaku saja?" lanjut Riana.
"Tentu saja! Tapi, dia akan berubah dan menjadi seorang malaikat saat berhadapan dengan kekasihnya, yakni Nona Angela.
"K-kekasih?"
"Ya, kekasih. Dia memiliki seorang kekasih yang merupakan seorang model papan atas. Wanita itu bahkan berjaya sampai ke luar negeri sana dan akan kembali serta tinggal di rumah ini sebulan sekali."
Riana terdiam dan entah kenapa dirinya semakin penasaran dengan sosok Jonathan serta kehidupan pribadi pria itu. Namun untuk sekarang, dirinya tidal boleh terlalu jauh. Apalagi dirinya baru mengenal Nana dan mungkin saja gadis itu akan melaporkan segalanya kembali pada Jonathan.
Beberapa saat kemudian iapun kembali bertanya. "Apa kau tahu, apa tujuan Tuan Jonathan melakukan ini semua?"
DEG!
Nana terkejut dan sungguh! Walaupun ia tahu, namun tidak seharusnya menjawab pertanyaan itu.
"Kenapa kau diam saja, Nana? Kau pasti tahu, bukan?"
"Nona, apa kau yakin ingin aku menjawabnya?" lirih Nana yang malah membalikkan pertanyaan.
"Tentu saja."
"Tapi, aku rasa kau tahu jika pertanyaanmu barusan ada dalam perjanjian. Kau tidak boleh mengetahui apapun tentang tujuan kesepakatan ini."
Tenggorokan Riana tercekat dan ia benar-benar tidak menyangka jika Nana akan menjawabnya demikian. Seketika rasa takut menjalar di seluruh tubuh, takut jika Jonathan tahu aksinya saat ini. Namun beberapa saat kemudian Nana tertawa lucu hingga membuatnya semakin kebingungan.
"Kau lucu sekali, Nona. Baiklah, mari kita tidak membahas hal itu lagi. Juga, kau tidak perlu takut, aku tidak akan menyampaikannya pada Tuan Jonathan seperti pikiranmu itu, ok. Sekarang, lebih baik kau mandi dan aku akan menyiapkan pakaian yang akan kau kenakan malam ini."
Riana masih terdiam. Baginya sosok Nana penuh dengan teka-teki yang hanya akan membuatnya semakin bingung. Gadis itu tidak seperti pelayan pada umumnya, walaupun memang dia bukanlah seorang pelayan. Namun tetap saja, bukankah Jonathan mempekerjakannya untuk melayaninya? Batin Riana...