Riana tidak ingin gegabah. Entah kenapa dia tidak bisa mempercayai Nana begitu saja, terlebih perkenalan mereka baru beberapa jam lalu. Seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis itu, namun dirinya tidak ingin berpikiran buruk tanpa bukti.
Walaupun Riana berasal dari perkampungan, namun cara berpikirnya tidak sama. Dia pintar, mudah bergaul. Dia bahkan mendapatkan beasiswa undangan untuk kuliah di kota, namun terpaksa ditolak mengingat perekonomian dan mata pencaharian orang tuanya yang tidak memungkinkan. Untuk itulah, selama tiga tahun dia bekerja sebagai kasir di salah satu swalayan. Berharap bisa memperbaiki perekonomian keluarga, namun malang, kesehatan ayahnya tiba-tiba saja memburuk.
Ini hari pertama dan ia juga tidak tahu apa-apa. Tapi yang paling penting sosok Jonathan sudah tergambar dalam ingatan. Namun yang jadi masalah, bagaimana malam ini akan ia lewati? Batin Riana.
Pasalnya, bisa saja Jonathan datang dan melakukan sesuatu layaknya pasangan suami istri kepadanya. Terlebih dengan ucapan Jonathan tadi siang yang mengatakan lebih cepat lebih baik.
Memang benar dirinya sudah siap untuk melakukan semua ini, melepaskan dan memberikan kesucian paling berharga miliknya kepada orang lain dengan terpaksa. Namun ia sadar diri mengingat nominal yang tertera dan mampu menyelamatkan nyawa sang ayah. Setidaknya, rasa sakit itu terbayarkan demi kebahagiaan dan keutuhan keluarga. Jadi, pengorbanannya tidak akan menjadi sia-sia belaka.
Tapi masalahnya, semua yang dirinya sepakati dari awal melenceng jauh. Tidak ada pernikahan sirih dan tentu saja, apa yang akan dirinya lakukan dengan Jonathan adalah dosa besar. Kata kasarnya, dia adalah pl*cur yang dibayar dengan sangat mahal.
Ingin rasanya menghubungi Herman, pria paruh baya yang memperkenalkan dirinya pertama kali dan membawanya ke hadapan Jonathan. Namun sayang, dia bahkan tidak memiliki ponsel untuk menghubungi pria itu.
Cekrek!
Deg! Serr!
Riana langsung terperanjat saat pintu kamar terbuka dan lebih kaget lagi dengan sosok pria yang berdiri di sana. Tampan, masih sangat muda dan berperawakan ramah. Tampak jelas dari senyumannya yang mengambang.
Riana langsung mengarahkan pandangannya ke belakang pria muda yang mungkin seusia atau bahkan lebih besar dua tahun dari dirinya itu. Memastikan, kalau saja dia adalah orang suruhan Jonathan dan pria itu sendiri berada di belakang sana.
"Hai, Nona! Kau sudah siap?" sapa pria muda itu sangat ramah. Begitu friendly hingga membuat kecanggungan Riana hilang begitu saja. Namun dia masih bingung harus menjawab dan bersikap bagaimana.
"H-h-hai. A-aku, aku, aku ..."
"Ayo cepat kemari! Jangan sampai kita terlambat, ok. Nanti kakakku pasti akan marah besar. Ayolah!" sela pria itu kembali sembari melirik jam tangan limited edition yang melingkar di pergelangan tangannya dan menunjukkan pukul 7 malam waktu setempat. Membuat Riana kembali kebingungan, pasalnya pria itu menyebutkan nama seseorang sebagai kakak. Entah itu siapa, tapi tampaknya orang itu sangatlah penting.
"M-maaf, Tuan. Tapi, apa yang ..."
"Ah, sudahlah! Ikuti saja aku, ok!" sela pria itu kembali. Langsung menghampiri Riana dan menarik tangan wanita itu keluar dengan dirinya menuju ke bawah sana.
"Tuan, apa yang kau lakukan? Tolong lepaskan aku! Kau mau membawaku kemana dan ..."
DEG!
Kalimat Riana langsung menggantung di udara tatkala melihat sosok Jonathan di bawah sana. Dia tidak lagi bicara ataupun mengeluh dan menuruni anak tangga dengan pria muda itu.
"Apa kita akan pergi sekarang, Kak?"
"Cepat bawa dia ke dalam mobil dan jangan banyak tanya lagi!" sahut Jonathan dingin dan ya! Ternyata, pria muda berusia 25 tahun itu adalah adik sekaligus saudara seayah beda ibu satu-satunya. Keenan Wijaksana namanya.
Keenan bukan terlihat manja atau kekanak-kanakan, hanya saja sikapnya yang friendly malah terlihat tidak dewasa. Tapi yang jelas, sikapnya bisa berubah-ubah kapanpun dan dalam situasi apapun. Yang terpenting, saat ini jabatannya di perusahaan yang Jonathan pimpin lumayan tinggi dan berpengaruh besar.
"T-tuan, bisa tolong lepaskan tanganku? Sakit. Kau menyakitiku, Tuan."
"Astaga!" teriak Keenan dengan wajah menyesalnya dan langsung melepaskan cengkeraman di tangan Riana.
Cepat-cepat wanita itu menyentuh dan mengusap pergelangan tangannya yang memerah berulang kali, membuat Keenan semakin menyesali perbuatannya.
"Apakah sakit? Oh Tuhan, maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja. Coba kulihat, ok."
Tanpa persetujuan atau apapun, Keenan langsung meraih dan memeriksa pergelangan tangan Riana dan meniupnya perlahan. Membuat wanita itu semakin kebingungan sekaligus tidak percaya dengan sikap hangat Keenan yang berbanding terbalik dengan Jonathan.
"Aku Keenan, adik Kak Jonathan. Mulai sekarang, kau bisa memanggil atau menghubungi aku jika membutuhkan sesuatu. Ah, benar! Nanti pelayan pribadimu akan memberikan ponsel pribadi untukmu, ok."
Riana masih terdiam. Entah apa yang dirinya pikirkan, namun sosok Keenan yang saat ini ada di hadapannya mampu mempengaruhi segalanya.
"Baiklah. Aku rasa ini tidak akan terasa sakit lagi."
Keenan melepaskan tangan Riana kembali, namun wanita itu masih terdiam, termenung menatapnya. Sampai-sampai, dia tidak sadar jika saat ini Keenan juga balik ikut menatapnya.
"Hei!"
"Ah! M-maafkan aku." Riana langsung gelagapan, kaget dengan kejutan Keenan di depan wajahnya.
"Apa kau melamun?"
"T-tidak. Aku, aku hanya ..."
"Ah, sudahlah! Lupakan itu. Lebih baik kita segera menyusul Kak Jo dan jangan sampai membuatnya menunggu jika kau tidak ingin menerima imbasnya. Ayo, cepat!"
Riana langsung mengangguk setuju dan memperbesar langkahnya mengikuti Keenan. Walaupun masih tidak tahu apa-apa dan kemana tujuan mereka saat ini, namun Riana tetap diam serta mengikuti kemanapun dia akan dibawa.
Awalnya, Riana berpikir dirinya akan satu mobil dengan Jonathan. Namun dirinya salah, Keenan malah membawanya ke mobil satu lagi dan ya! Mereka berada di satu mobil yang sama, sedangkan Jonathan di depan sana bersama dengan supirnya.
Riana lagi-lagi diam dan tidak berani menanyakan hal itu pada Keenan. Dia hanya masuk saat pintu dibukakan dan duduk dengan tenang.
Sesampinya di dalam mobil, tiba-tiba saja Keenan memberikan reaksi terkejut tidak percaya. "Woah! Kau bisa memasang septi beltnya sendiri? Keren! Aku pikir kau tidak bisa, mengingat awalnya kau tinggal di desa. Hehehehe..."
Deg! Serr!
Seketika jemari Riana bergetar dan hatinya terasa sesak. Entah kenapa, kata-kata Keenan barusan terdengar begitu menyakitkan. Apakah semua orang kota menganggap orang desa katro dan tidak terpelajar seperti barusan? Bukankah hal barusan memang tidak terlalu sulit untuk dilakukan oleh semua orang? Batin Riana yang tiba-tiba saja membuat kedua matanya terasa panas, seperti ada sesuatu yang hendak menerobos keluar dari sana, namun dengan sekuat tenaga iapun mencoba menahannya.
Sedangkan Keenan, dia tidak merasa bersalah sedikitpun. Dia berpikir jika itu hanyalah candaan yang biasa dilakukan semua orang dan tidak tahu jika akan menyakitkan perasaan Riana.
Dengan sikap santai, iapun segera menyalakan mobil dan melaju kencang menyusul mobil Jonathan di depan sana. Tanpa sadar jika saat ini Riana menitikkan air mata dan segera menyekanya seketika...