Sepanjang perjalanan Riana hanya diam sembari memperhatikan jalan raya yang penuh dengan gedung gemerlapan. Ia sangat penasaran dan ingin bertanya pada Keenan, kemana mereka akan pergi. Namun pertanyaan itu hanya berakhir di dalam hatinya begitu saja.
Tidak berselang lama akhirnya mobil itu segera menepi di sebuah klinik praktek dokter. Riana sedikit bingung dan ya! Tentu dia bisa membaca jenis dokter spesialis apa sana yang tertera di papan nama baliho klinik.
Siapa yang sakit dan kenapa mereka harus mendatangi klinik? Apa mungkin Jonathan yang perlu berobat? Tapi rasanya mustahil jika seseorang yang kaya raya seperti Jonathan memilih berobat di klinik ketimbang rumah sakit besar. Apa lagi jika dilihat dari sikap Jonathan yang
...ah sudahlah! Sangat sulit untuk digambarkan, batin Riana. Mencoba untuk tidak peduli, namun tetap waspada dengan keadaan.
"Kita sudah sampai. Ayo turun!" perintah Keenan yang langsung membuka pintu mobil miliknya, begitu pula dengan Riana. Sedangkan Jonathan sendiri saat ini sudah berada di dalam sana menunggu kedatangan mereka.
"Kak, kau sudah sampai dari tadi?" sapa Keenan saat memasuki sebuah ruangan yang di dalam sana sudah menunggu seorang dokter wanita beserta perawatnya.
Riana bahkan sampai kaget saat membaca papan nama dokter wanita itu yang ternyata adalah spesialis kandungan dan ya! Yang membuatnya semakin bingung, kenapa mereka berada di ruangan itu? Siapa yang hamil dan siapa yang akan diperiksa? Mengingat di dalam ruangan itu hanya ada mereka berlima. Batin Riana kembali bertanya-tanya, tanpa mampu untuk menyampaikannya secara langsung kepada orang yang bersangkutan, yakni Jonathan.
"Keluar dan tinggalkan kami, Keenan."
"Baik, Kak. Aku akan berdiri di luar menunggu kalian, ok!" ucap Keenan dan segera pergi setelahnya. Namun Riana yang tampak kebingungan langsung menyentuh ujung baju kemeja Keenan tanpa mengatakan sepatah katapun. "Tidak perlu takut, semua akan baik-baik saja, ok!" ucapnya meyakinkan Riana dengan senyum ramah, seolah tahu apa yang wanita itu rasakan saat ini. Setelahnya, genggaman Riana terlepas dan Keenan-pun segera keluar dari ruangan.
"Tuan Jonathan, apa dia orangnya?" tanya sang dokter yang langsung mengundang tatapan Riana, karena memang dokter itu juga melihat padanya.
"Ya, dia orangnya. Langsung saja. Saya tidak mempunyai waktu banyak."
"Tentu, Tuan. Saya akan melakukannya dengan cepat, tenang saja."
Riana semakin bingung, dia tidak mengerti dengan percakapan antara Jonathan dan juga dokter itu. Namun beberapa saat kemudian perawat datang menghampiri Riana dan menuntun wanita itu menuju ranjang.
"T-tunggu! A-apa yang akan kalian lakukan padaku? Pemeriksaan apa? Aku, aku belum hamil. Sungguh!" komplain Riana takut, karena sedari awal dirinya sudah tahu apa tugas dokter itu.
"Jangan membantah dan ikuti saja semua yang dokter katakan. Kau mengerti?"
DEG!
Riana seketika terdiam, bahkan suara dingin nan serak milik Jonathan menambah rasa takutnya begitu saja. Namun dengan cepat perawat menenangkan dan juga memberitahukan inti dari pemeriksaan ini.
Perawat menjelaskan pada Riana sembari menyingkap baju wanita itu. Dokter akan memeriksa keadaan dan kesuburan rahimnya. Dokter juga akan memberikan vitamin agar nantinya dia bisa cepat hamil dan yang paling penting, kesehatan semua organ reproduksi Riana. Karena Jonathan tidak mau berhubungan dan melakukan hubungan intim tanpa mengetahui aman atau tidak pasangannya. Karena selama ini, dia hanya berhubungan intim dengan satu wanita, yakni sang kekasih~Angela Natasha.
Entah kenapa hati Riana seketika tergores oleh penjelasan itu. Apa mungkin Jonathan menganggap dirinya wanita kotor? Padahal jelas-jelas dia masih suci dan keperawanan miliknya masih utuh. Walaupun miskin dan juga tinggal di kampung, namun selama ini Riana selalu memperhatikan kebersihannya. Apalagi sang ibu yang selalu menyajikan jamu untuk dirinya.
"Nona, apa kau melamun? Bisakah kita mulai semuanya sekarang?" tanya dokter saat Riana tidak merespon ucapannya. Sedangkan Jonathan sendiri masih duduk di sana, melihat sendiri dan menunggu hasilnya.
"Maafkan saya, Dokter. Silahkan periksa semuanya dan tolong, jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun. Saya tidak mau nantinya calon yang akan menanamkan benih di rahim saya menyesal ataupun tertipu."
DEG!
Kali ini Jonathan yang tersentak, bahkan ucapan Riana mampu mengusik konsentrasinya pada layar monitor, namun bibirnya tetap diam tanpa mengatakan apapun. Setelah itu, dokter-pun memulai semuanya seperti yang telah diperintahkan...
***
Semua jenis pemeriksaan sudah selesai dilakukan dan sekarang mereka tengah berada di parkiran depan. Hasilnya bagus dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tentu saja hal itu membuat kedua belah pihak lega. Terlebih Jonathan, karena bawahannya bernama Herman itu berhasil menemukan wanita yang tepat.
"Keenan, kau antarkan dia kembali. Aku masih ada urusan."
"Baik, Kak." Keenan menjawab patuh.
"Kembalilah. Mulai sekarang kau bisa menikmati apapun yang ada di rumah saya. Jika kau membutuhkan sesuatu, Nana ada di sampingmu dan jika itu mendesak, kau bisa menghubungi Keenan. Persiapkan dirimu, karena saya akan kembali secepatnya."
Riana tidak menjawabnya, namun ia langsung menundukkan wajahnya ke bawah. Ada rasa kesedihan di sana dan Jonathan menyadari hal itu, namun dia tidak peduli sama sekali.
"Aku pergi."
"Baik. Kau berhati-hatilah, Kak!" sorak Keenan dengan lambaian tangannya melepas kepergian Jonathan dan setelahnya kembali beralih pada Riana.
"Kau tidak apa-apa, Nona?"
Riana langsung mendongak dan menggeleng pelan.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang."
Riana kembali mengangguk dan berjalan menuju mobil. Dia bahkan membuka pintunya sendiri tanpa membiarkan Keenan yang membukakan untuk dirinya.
Riana benar-benar wanita yang menarik! Itulah kalimat yang terlintas dalam benak Keenan atas penilaiannya terhadap Riana. Tidak seperti wanita yang selama ini dia kenal, bersikap manja dan selalu tidak bisa melakukan apapun sendiri. Ya, walaupun semua itu disengaja untuk menarik perhatiannya, namun tetap saja.
Tiga puluh menit dan tidak lebih, akhirnya mereka sampai di kediaman pribadi Jonathan. Seperti awal, Riana langsung turun begitu saja dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun.
Lagi-lagi sikapnya itu membuat Keenan tertawa dan ya! Entah kenapa jiwa ketampanan serta kewibawaannya merasa terpancing oleh sikap amgkuh Riana.
"Nona!" panggilnya setengah teriak sebelum tubuh Riana menghilang sepenuhnya dari balik pintu dan ya! Wanita itu berhenti dan langsung berbalik menatapnya.
"Apa kau akan pergi begitu saja? Setidaknya ucapkan terima kasih padaku dulu, ok!" lanjut Keenan dengan kepercayaan dirinya. Berharap Riana akan merasa bersalah dan balik mengejar serta menghampirinya.
Namun itu hanya ada dalam pikiran Keenan saja. Karena saat ini Riana hanya menundukkan kepalanya sembari mengucapkan kata terima kasih. Sebelum akhirnya berbalik dan melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar di lantai atas.
Hahahahahahaha
Tawa Keenan seketika pecah dan dia tampak begitu frustasi, tampak jelas dari caranya mengacak rambut ikal miliknya dan mengusap wajahnya kasar.
"Cikh! Sial! Apa-apaan itu tadi? Hahahahahaha..."