"Nona, kau kembali? Bagaimana pemeriksaan tadi? Apa semuanya berjalan dengan baik?"
Riana yang baru saja memasuki kamarnya itu langsung dihampiri oleh Nana. Namun, bukannya menjawab pertanyaan pelayan itu, Riana malah memberikan tatapan datar dan juga menelisik.
"Kenapa kau tidak beritahu aku, Nana?"
"B-beritahu? Maksud Anda apa?" sahut Nana balik bertanya, tidak mengerti dengan apa yang Riana maksudkan. Dia bahkan masih bisa bersikap santai, tidak seperti pelayan pada majikan pada umumnya.
"Pemeriksaan itu, kenapa kau tidak beritahu aku? Kau hanya memintaku untuk berkemas tanpa mengatakan apa dan kemana tujuan kami."
Nana terperanjat. Dia bahkan tidak tahu harus memberikan alibi apa. Namun saat ini raut wajahnya tampak sedikit takut dan juga merasa bersalah.
"M-maafkan aku, Nona. Aku pikir kau ..."
"Sudah tahu? Bukankah tadi aku bertanya langsung padamu? Tapi kau malah mengatakan tidak tahu apa-apa." Riana menyela dan jujur, saat ini dirinya benar-benar kesal. Bukan hanya perkara itu, melainkan saat berada di klinik tadi. Hatinya masih sakit oleh perkataan Jonathan dan pemeriksaan mereka tadi. Entah kenapa rasanya dia benar-benar hina dan dipandang rendah, walaupun mungkin yang sebenarnya Jonathan tidak bermaksud demikian.
Nana menundukkan wajahnya takut. "Maafkan aku, Nona. Aku sungguh menyesal. Tolong maafkan aku."
Riana tidak menjawabnya. Dia langsung berlalu ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka dan bersiap untuk istirahat. Sedangkan Nana, gadis pelayan itu masih berdiri di tempatnya menatap tidak suka ke arah pintu kamar mandi.
Dia tidak terima dan batinnya memaki sosok Riana. Menurutnya, tidak seharusnya Riana berkata seperti itu padanya. Karena pada kenyataan, posisi mereka sama dan juga merupakan gadis miskin. Sama-sama dibayar. Hanya saja bedanya Riana dibayar untuk melahirkan seorang anak, sedangkan dirinya melayani wanita itu sampai nanti melahirkan. Jadi, bukankah seharusnya hubungan mereka adalah partner? Bukan malah pelayan dan majikan...
Tidak berselang lama Riana keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur barunya. Sesaat, dia memperhatikan penampilannya dari atas hingga bawah. Seumur hidup, ini baru pertama kali dirinya mengenakan gaun malam. Karena biasanya, hanya mengenakan baju dan celana kaus biasa saja. Hidupnya sudah seperti putri orang kaya, tapi sejujurnya, itu lebih pantas disebut sebagai simpanan orang kaya.
Seketika buliran hangat mengalir begitu saja dari kedua sudut matanya. Dia merindukan ayah dan ibu yang saat ini berada di kampung, namun bingung entah bagaimana cara menghubunginya.
Namun beberapa saat kemudian, Riana teringat perkataan Keenan tadi. Bukankah pria itu sudah menitipkan sebuah handphone pribadi kepada Nana? Batinnya yang langsung membuat raut wajahnya cerah. Setidaknya dia harus memiliki handphone itu terlebih dahulu, untuk nomor orang tuanya bisa dicari setelahnya.
Tidak mau menunda waktu lagi, Riana langsung keluar dari kamar dan turun ke bawah sana mencari keberadaan Nana. Dia bahkan tidak sadar dengan pakaiannya saat ini yang sedikit terbuka dan memperlihatkan kulit putih mulusnya. Hanya bagian kaki, karena pinggang ke atas ditutupi selimut kecil.
Sebenarnya, Riana tidak begitu sempurna jika dilihat dari tubuh serta penampilan. Namun parasnya nan cantik dan kulit putihnya cukup memukau hingga memberinya nilai lebih.
"Nana! Nana, kau dimana?" panggil Riana saat tidak menemukan siapapun di rumah besar itu, bahkan para pelayan sekalipun.
"Apa mereka semua sudah tidur? Tapi, ini masih pukul sepuluh malam!" gumamnya kembali tidak percaya. Hingga tiba-tiba tubuhnya langsung terperanjat saat sebuah tangan menyentuh pundaknya dari arah belakang.
Walaupun kaget, namun Riana tidak berteriak. Dia berbalik untuk memastikan sendiri siapa orang itu.
"Paman Herman? Kau di sini? Oh Tuhan, syukurlah!"
Riana sangat lega saat mengetahui keberadaan Herman, pria paruh baya yang sudah membawanya ke tempat ini. Dia bahkan sempat tersenyum hangat, namun tiba-tiba raut wajahnya itu berubah datar seketika.
Dia kembali teringat dengan kesepakatan Jonathan tadi siang yang jauh berbeda dengan ucapan Herman.
"Apa yang kau lakukan tengah malam seperti ini dengan berpakaian begini, Riana? Lihat! Pakaian ini tidak pantas dipakai olehmu, orang-orang seperti kita!"
Wajah Riana semakin menampakkan ketidak sukaannya.
Bagaimana tidak? Maksud perkataan Herman itu secara tidak langsung tengah merendahkan dirinya. Hanya gadis kampung, bagaimana bisa mengenakan gaun malam yang begitu mahal? Harga gaun itu bahkan cukup untuk makan Riana sekeluarga di kampung seminggu kedepan.
"Kau benar, Paman. Tapi mau bagaimana? Hanya ada pakaian ini di dalam lemariku dan bahkan Tuan Jonathan meminta pelayan untuk membuang semua barang yang aku bawa dari kampung."
Riana masih mencoba untuk menahan dirinya dan bersikap sopan.
"Benarkah? Wah, kau benar-benar beruntung!" ungkap Herman tidak percaya. "Apa kataku? Kau akan hidup enak di tempat ini, bukan? Kapan lagi kau akan merasakan kemewahan seperti ini, Riana. Hanya dengan melahirkan seorang anak, bukan hanya kemewahan, tapi hidupmu terjamin sampai tua. Kau bahkan tidak bisa bermimpi akan mendapatkan kehidupan mewah seperti ini. Gadis yang biasanya mengenakan baju usang, makanan tidak sehat dan bahkan ..."
"Cukup, Paman!" bentak Riana tak suka. "Cukup sudah penghinaanmu dan tolong! Tolong jangan lanjutkan lagi. Kau sudah kelewatan dan membuatku tidak tahan!" lanjut Riana ketus dan begitu berani, hingga membuat Herman terbelalak tidak percaya.
"Wah, kau sudah hebat ternyata. Kau bahkan berani ..."
Ekhem!
Seketika mulut Herman bungkam dan langsung menundukkan kepalanya. Ia tahu seseorang datang dan suara itu adalah milik tuan muda keduanya, yakni Keenan. Sedangkan Riana sendiri, dia juga ikut memberikan hormat seraya merapatkan selimut kecil yang menutupi bagian atas tubuhnya tadi agar tidak ada yang terbuka.
"Selamat malam, Tuan Keenan."
"Apa yang kau lakukan di sini, Herman? Bukankah seharusnya kau tinggal di bangunan sebelah?"
DEG!
Herman langsung terbata, tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Dia tertangkap basah, karena memang tidak seharusnya dia berada di sana.
"Dia pergi untuk menemui aku, Tuan." Riana menyela dan berbohong untuk keselamatan Herman.
"Untuk apa?" balas Keenan balik bertanya, namun masih dengan tatapan ragu pada dua orang di hadapannya itu.
"Itu, masalahnya aku, aku ..."
"Kau kenapa, Nona?"
"Semua barang-barang milikku dibuang oleh Tuan Jonathan. Tidak ada yang tersisa dan aku tidak tahu bagaimana cara menghubungi orang tuaku di kampung, Tuan. Untuk itulah, aku ingin meminta bantuan pada Paman Herman dan menghubungi keluargaku."
"Benarkah?" lirih Keenan dan Riana-pun langsung mengangguk cepat, begitu pula Herman yang membenarkan. "Bukankah memang sudah seharusnya seperti itu? Kakak tidak membolehkan kau menghubungi atau berhubungan dengan siapapun selama kontrak berlangsung. Bukankah aku benar? Jadi, wajar saja jika dia membuang semua barang-barang milikmu yang masih ada sangkut pautnya dengan di luar sana."
Riana tersentak, dia tidak tahu harus menjawab apa. Memang itu benar, tapi tidak ada salahnya jika hanya menghubungi orang tua. Terlebih saat ini sang ayah sedang tidak baik-baik saja dan hanya ingin mengetahui bagaimana keadaan kedua orang tuanya, tidak lebih.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" ucap Keenan tidak percaya saat Riana bersimpuh di hadapannya. Sungguh! Yang Riana lakukan membuat Keenan tidak nyaman.
"Tuan Keenan, aku mohon! Tolong biarkan aku menghubungi kedua orang tuaku. Hanya sebentar dan itupun hanya untuk memastikan jika mereka baik-baik saja. Aku mohon. Tolong bantu aku, Tuan."
Keenan terdiam dan detik berikutnya berdecih kesal. Dia kasihan pada Riana, tapi bagaimana jika sang kakak mengetahuinya? Bisa-bisa pria itu murka saat perintahnya dilanggar, karena memang seperti itulah sifat Jonathan.
"Tuan Keenan, aku mohon."
Riana kembali memohon sembari menautkan kedua tangannya. Berharap Keenan kasihan dan mau membantunya kali ini saja. Lagi pula, jika tidak pada pria itu, pada siapa lagi dirinya akan meminta bantuan? Batin Riana.
"Oh Tuhan, kau benar-benar membuatku gila! Baru hari pertama, tapi kau sudah menempatkan aku di dalam bahaya. Sial...!"