"Apa lagi yang kau tunggu? Pergilah! Tempatmu bukan di sini dan jangan sampai kakakku tahu tentang ini."
"B-baik, Tuan Keenan. Maafkan saya. Saya akan pergi sekarang juga."
Herman yang masih kaget dengan perkataan Keenan itupun segera berbalik pergi meninggalkan kedua orang itu. Tanpa sepatah katapun dan dalam hitungan detik sudah tidak lagi berada di sana.
Detik berikutnya Keenan kembali menatap Riana yang saat ini masih bersimpuh di bawahnya. "Sampai kapan kau akan duduk di sana, heh? Ayolah! Kau membuatku tampak seperti orang yang benar-benar kejam, Nona."
Riana langsung mendongak dan kembali meminta maaf sebelum akhirnya bangkit hingga mereka saling berhadapan.
"Tuan, bagaimana? Kau bisa membantuku? Aku berjanji tidak akan lama dan aku hanya ingin mengetahui keadaan mereka, itu saja. Aku mohon..."
Fiuh!
Keenan memejamkan kedua matanya, tidak tahu harus melakukan apa. Namun beberapa saat kemudian langsung merogoh kocek untuk mengeluarkan ponsel miliknya, membuat Riana kaget dan raut wajahnya seketika berubah.
"Eit! Ada apa denganmu?" komplain Keenan saat melihat reaksi Riana yang tampak begitu bahagia. "Apa kau pikir aku akan meminjamkannya?" lanjutnya yang kembali membuat raut wajah Riana tampak menyedihkan.
"Ayoalah! Ada apa denganmu? Aku tidak bisa terkena masalah dengan menuruti keinginanmu itu. Lagi pula, kau harus ingat posisi dan tugasmu di rumah ini. Percayalah, saat ini kedua orang tuamu pasti bahagia dan menikmati uang yang telah kau hasilkan, ok."
Deg! Serr...!
Wanita itu terdiam dan entah kenapa hatinya terasa begutu sakit. Keenan seperti sengaja mempermainkan dirinya dan juga, tidakkah itu tampak memalukan? Batin Riana. Karena memang, walaupun dirinya tinggal dan berasal dari kampung, pikirannya begitu modern dan bahkan tidak kalah dengan spek gadis-gadis kota.
Dalam pikiran Riana pria itu keterlaluan. Namun sebaliknya, Keenan tidak berpikiran hal yang serupa. Dia masih menganggap semuanya biasa saja dan ya! Kata-kata barusan hanya sebagai candaan, mengingat memang kepribadiannya yang demikian. Dia tidak sadar betapa sakitnya Riana dengan ucapannya itu.
"Hahahahaha, lihat! Beberapa saat yang lalu kau memohon padaku, dan beberapa detik lalu wajahmu masih terlihat baik-baik saja. Lalu, apa yang terjadi sekarang? Apa kau marah padaku, heh? Aku hanya becanda dan tenang saja, aku akan membantumu, tapi bukan sekarang. Besok! Bagaimana dengan besok?" ejek Keenan seperti anak kecil dan sungguh, kelakuannya itu malah membuat Riana semakin kesal bercampur sedih.
"Tuan Keenan," panggil Riana dengan tatapan serius, membuat tuan muda di hadapannya itu ikut fokus mendengar panggilan darinya. "Apa aku terlihat begitu bodoh bagimu? Apa gadis kampung ini benar-benar tampak sebagai lelucon bagimu?"
DEG!
Keenan terkesiap dan seketika ia sadar akan sikapnya terhadap Riana. Gadis itu berbeda dan lagi-lagi dia menempatkan kata-kata yang salah dalam kalimatnya.
"Aku tahu apa dan bagaimana posisiku di rumah ini, Tuan. Kau benar, aku dari kampung dan tentu saja semua orang bisa merendahkan aku, terkait tujuan dan hadirku di rumah besar ini. Aku menyewakan rahimku. Aku menjual anak yang nantinya akan aku kandung dan aku lahirkan untuk kakakmu. Tapi, apakah kau tahu hal apa yang memaksaku melakukan semua itu? Tidak, bukan? Tapi tidak mengapa, karena memang dalam kesepakatan semua itu tidak ada dan memang benar, yang aku lakukan ini benar-benar rendahan. Tapi setidaknya, tolong hargai aku. Bagaimanapun aku adalah seorang putri yang juga mencintai, merindukan dan mengkhawatirkan kedua orang tuanya. Tidak mengapa jika ini sulit dan aku benar-benar mengerti kau tidak bisa melakukannya. Tapi kau tidak perlu bersikap demikian, berpikir dan memandang seolah-olah aku ini ..."
Riana menarik nafasnya dan kalimat itu menggantung di udara. Rasanya benar-benar sakit, namun ia sadar tidak bisa melakukan apa-apa. Andai pencahayaan begitu terang, tentu Keenan akan melihat dengan sangat jelas kedua matanya yang berlinang.
"Sudahlah, lebih baik kita lupakan tentang hal ini. Aku akan bertahan dan aku tidak membutuhkan bantuanmu. Aku mengerti dan tentunya aku juga tidak mau orang lain terkena imbasnya karena membantuku. Terima kasih dan selamat malam, Tuan Keenan."
Deg! Serr...!
Riana segera berbalik pergi dan kembali ke kamarnya, meninggalkan Keenan yang masih mematung dan mencerna setiap kata-kata dari mulut Riana.
Pria itu menghembuskan nafas berat dan juga mengacak asal wajahnya dengan kedua tangan. Tanpa mengatakan hal apapun, ia berbalik dan segera pergi menuju kamar lainnya.
Keenan tidak sadar jika sedari tadi percakapan mereka tengah diintai oleh seseorang yang ternyata adalah Nana.
Diam-diam wanita itu mendengarkan dan memperhatikan apa yang terjadi. Entah dengan keperluan apa, tapi yang jelas gadis itu tidak ingin melewati apapun...
Malam ini Keenan yang tadinya sudah berada di perjalanan menuju kediamannya terpaksa berbalik dan menginap di mansion besar milik kakaknya itu. Berhubung suatu masalah yang harus segera di selesaikan dan Jonathan tidak ingin rumahnya itu kosong dan hanya dihuni oleh para pembantu.
Lagi pula, Keenan juga mendapat tugas untuk mengawasi Riana dan membawa gadis itu besok pagi-pagi sekali ke tempat yang telah dia tentukan. Entah kenapa dan dimana semuanya akan diketahui esok hari...
***
Sesampainya di kamar, Riana langsung menangis sejadi-jadinya. Dia terus meneriaki ayah ibunya dalam diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Rasanya benar-benar sakit dan dirinya sungguh tidak sanggup. Namun beberapa saat kemudian tangis itu terhenti dan kedua tangannya dengan cepat menyeka sisa-sisa buliran air mata di wajah cantiknya.
Dia teringat, ini baru awal dan hanya dengan kata-kata Keenan membuatnya menangis. Lalu, bagaimana nanti ke depannya? Ini masih belum apa-apa, karena memang Riana belum mengenal siapapun.
Tidak ada yang tahu kesedihan dan pelecehan apa lagi yang akan dirinya terima. Belum lagi nanti dari kekasih Jonathan seperti yang Nana katakan tadi siang, ataupun kedua orang tua beserta seluruh keluarganya.
Bagaimanapun dia harus kuat dan tegar menjalani ini semua. Dia juga tidak bisa menyalahkan Keenan atau Jonathan sekalipun, karena pada kenyataannya tidak ada keterpaksaan dalam kesepakatan ini. Walaupun dirinya secara pribadi benar-benar terpaksa, namun Jonathan tidak pernah memaksa dirinya.
Tentu semua itu karena uang dan tidak menapik, Riana juga rela melakukan semuanya dengan mengharapkan bayaran besar dari Jonathan untuk kesembuhan serta perekonomian keluarganya.
"Kau harus kuat Riana. Kau tidak boleh seperti ini! Belum apa-apa saja kau sudah menangis, lalu bagaimana nanti? Kau harus kuat dan juga profesional. Jangan masukkan ke dalam hati siapa dan apapun yang nantinya akan kau dengar. Fokus pada tujuanmu. Fokus pada pekerjaanmu. Selesaikan semua ini secepatnya dan pergi menghilang setelahnya."
Riana bangkit dan segera menyemangati dirinya sendiri. Berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuk muka dan menggosok gigi sebelum akhirnya naik ke atas ranjang untuk beristirahat...