Akh...
Riana bergerak perlahan tatkala sinar mentari masuk dan mengenai wajahnya. Mendadak kepalanya berdenyut dan terasa sangat pusing.
"Nona, kau harus bangun dan segera bersiap. Ayolah!"
Setelah membuka tirai jendela kamar, Nana langsung mendekati Riana dan menarik selimut gadis itu kuat. Dia bahkan tidak bersikap lembut sama sekali ataupun sopan, mengingat Riana adalah majikannya. Seperti yang kita ketahui, gadis itu masih tidak bisa menerima dengan status mereka sebagai majikan dan pelayan. Namun demikian, Nana tidak ingin mengambil resiko dan dia terus mencoba bersikap baik, seperti statusnya yang semestinya.
"Nona, ayolah! Jangan sampai Tuan Keenan menunggu lama di bawah sana dan pada akhirnya, siapa yang nanti akan disalahkan? Tentu saja aku, karena tidak bisa mendisiplinkan dirimu. Ayolah, cepat bangun dan bersiap-siap, ok! Kita harus bekerja sama dan kau juga harus membantuku dalam hal ini. Jangan membuatku kesulitan."
DEG!
Kedua mata Riana langsung terbelalak sempurna. Kali ini Nana benar-benar keterlaluan dan ya! Cara dan nada bicara Nana seolah-olah memberi perintah dan itu bahkan lebih buruk dari pada seorang teman. Dia terlihat sebagai seorang majikan dan Riana-lah yang pelayan.
Dengan malas Riana mencoba untuk menarik tubuhnya bangun. Dia masih berusaha menyesuaikan pandangan dan juga mengumpulkan sisa-sisa kesadaran.
"Cepatlah. Tuan Keenan sudah menunggumu di bawah. Pergi ke kamar mandi, bersihkan dirimu dan aku akan menyiapkan pakaianmu segera."
"Tunggu!" lirih Riana bernada perintah. Dia bahkan melihat secara langsung bagaimana raut wajah Nana saat bicara padanya barusan. Begitu ketus dan tidak sudi untuk melayani dirinya.
Apa karena masalah semalam, maka gadis itu semakin berani padanya? Terlebih saat Nana mencoba membela diri dan bicara dengan nada tinggi, Riana bahkan tidak memarahi gadis itu. Pagi ini, bukan hanya dengan cara membangunkan Riana yang tidak sopan, tapi juga dengan sikapnya.
Nana berhenti dan dengan malas berbalik untuk menatap Riana. Entah keberanian dari mana, tatapannya tampak tajam dan berani secara langsung saling bertatapan dengan Riana, tidak seperti pelayan pada umumnya.
Dia tidak memiliki rasa takut dan menganggap jika derajat mereka itu setara, walaupun memang secara langsung gadis itu tidak berkata demikian.
"Siapa aku bagimu, Nana?"
Deg! Serr...!
Pertanyaan yang mudah dan nada yang Riana pakai terbilang lembut. Namun arti yang terkandung dalam kalimat itu membuat Nana terperangah tidak percaya hingga membuat jantungnya berdetak cepat.
"Jawablah, kenapa kau diam saja? Siapa aku bagimu, hem?" ulang Riana datar dan juga santai, berbeda dengan gadis pelayan itu yang langsung terserang kepanikan.
"A-aku, aku ... M-maksudku, kau, kau adalah ..."
"Adalah apa? Bicaralah yang benar, karena aku tidak akan turun dari ranjang ini sebelum kau menjawabnya dengan baik, Nana." Riana kembali menyambung kalimatnya saat melihat kegelisahan Nana, namun dirinya tidak peduli sama sekali akan hal itu.
Memang benar dia gadis kampung, namun dia tidak akan membiarkan orang lain merendahkan dirinya begitu saja tanpa alasan yang jelas, apa lagi Nana yang notabennya sebagai pelayan pribadi yang ditugaskan untuk melayani dirinya.
"Kau adalah nonaku dan aku adalah pelayanmu, Nona..."
Nana langsung tertunduk lesu sembari memejamkan kedua matanya menahan malu. Harga dirinya terasa jatuh dan kalimat ringan dari Riana itupun mampu membuatnya malu sampai ke level teratas.
Dalam hatinya mengutuk, betapa bodoh sikapnya. Dia sadar, Riana bukan orang yang mudah, bisa dirinya kuasai begitu saja seperti gadis kampung pada umunya. Dia pintar dan sungguh Nana tidak bisa mempercayai semua itu, karena lagi-lagi dirinya jatuh di hadapan Riana.
Melihat Nana tertunduk malu, Riana-pun menyudahi aksinya. Lagi pula, dia juga tidak berdaya dan entah kenapa merasa kasihan pada gadis itu. Untuk itulah, Riana memutuskan untuk melupakannya, turun dari ranjang dan segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa kata.
Brak!
Pintu kamar mandi tertutup dan saat itu pulalah kedua mata Nana kembali terbuka. Dia menatap nyalang ke arah kamar mandi dengan kedua tangan yang terkepal kuat.
"Dasar j*lang kampungan!" gumamnya dan tentu saja makian itu tertuju untuk Riana.
Dia mengibaskan kedua tangannya ke arah wajah yang terasa panas dan beberapa saat kemudian lanjut membuka pintu lemari untuk menyiapkan pakaian bagi Riana. Dia tidak tahu kemana Riana hari ini, karena memang Keenan hanya memberinya perintah untuk mendandani Riana dengan baik, tidak lebih...
***
Satu jam setelahnya Riana turun dari kamar dan ini adalah hari kedua baginya berada di mansion mewah itu.
Nana juga ikut turun dengannya dan memberi arahan agar Riana menuju ruang makan, dimana saat ini Keenan sudah berada lebih dulu di sana untuk sarapan.
"Selamat pagi, Nona Riana..."
Dua orang pelayan langsung menyapa kedatangan Riana yang salah satunya adalah ibu kandung Nana. Tanpa menunda waktu, Riana yang saat itu tengah mengenakan dress putih selutut dengan rambut diikat ke atas dan make-up yang tipis langsung duduk di hadapan Keenan.
DEG!
Penampilan Riana saat ini tampak begitu manis dan bahkan tidak ada aura gadis desa yang terpancar dari wajahnya. Keenan bahkan mengakui kecantikan gadis itu yang masih begitu terjaga tanpa sentuhan-sentuhan merkuri ataupun salon kecantikan.
"Selamat pagi, Tuan Keenan."
Pria itu masih diam dengan tatapannya yang tidak lepas dari Riana sedikitpun. Dia tidak sadar bahwasanya sikapnya itu tengah diperhatikan oleh semua pelayan, termasuk Nana sendiri. Berbeda dengan Riana yang bersikap profesional dan tidak peduli, lebih memilih untuk segera memakan sarapannya ketimbang mengomentari tatapan Keenan kepadanya...
Sarapan pagi usai setelah beberapa waktu dan kini mereka berdua tengah berada di dalam mobil. Riana yang duduk dengan tenang dan menatap ke depan, berbeda dengan Keenan yang masih belum bisa mengatur degup jantungnya. Dia benar-benar merasa resah berada di dekat Riana. Bukan karena tidak suka, tapi karena ada sesuatu yang mengganjal perasaannya.
"Tuan Keenan, apa kau baik-baik saja? Kita sudah berada di posisi ini hampir dua puluh menit lamanya. Kapan kita akan berangkat dan mulai perjalanannya?"
DEG!
Seketika Keenan tersadar dan dia baru teringat dengan posisi mereka saat ini. Dia gelagapan dan tanpa menjawab pertanyaan dari Riana langsung menyalakan mobil serta berlalu pergi meninggalkan kediaman mereka.
Tidak berselang lama, Keenan meraih ponsel miliknya dan menyambungkan perangkat bluetooth ke handsfree yang saat ini terpasang di telinga. Hingga beberapa saat kemudian ...
"Kak, kami sudah di perjalanan. Apa kau sudah berada di sana? Tidak lama. Sebentar lagi kami akan sampai. Baiklah, sampai jumpa di sana."
Panggilan berakhir dan Keenan kembali fokus pada kemudi. Sedangkan Riana, dia masih diam dengan mengarahkan pandangannya ke luar kaca mobil. Namun di dalam hatinya masih berusaha keras memikirkan, kemana Keenan akan membawanya dan kenapa harus melakukan pertemuan dengan Jonathan di luar? Batin Riana.
Bukankah bisa saja pertemuan itu dilakukan di rumah? Bukankah awalnya Jonathan sendiri yang mengatakan tidak ingin orang lain mengetahui hubungan ataupun tentang Riana di luaran sana. Semuanya harus berjalan dengan sangat rahasia.
Namun beberapa saat kemudian, bayangan tadi malam kembali terlintas dalam benak Riana saat Jonathan membawanya melakukan pemeriksaan di dokter kandungan.
Saat itu pulalah Riana berpikir, kemana lagi dan apakah mungkin ada pemeriksaan lebih lanjut? Jika memang benar, bukankah yang Jonathan lakukan benar-benar merendahkan dan mukai hatinya secara langsung?
"Tuan Keenan," panggil Riana pelan dan sekilas tuan muda itu menatap dirinya sebelum akhirnya kembali ke jalanan. "Kita mau kemana? Pertemuan apa lagi dan ..."
"Bukankah kalian akan menikah? Yang aku tahu saat ini Kak Jonathan tengah menunggu kita dan ya! Awalnya aku sempat kaget dengan pakaian yang kau kenakan. Tapi tidak mengapa, kita bisa memilih pakaian yang layak nanti, ok."
"A-apa? M-menikah...?"
Deg! Serr...!