Sepanjang perjalanan Riana tampak gelisah. Dia benar-benar nervous layaknya wanita yang hendak menikah.
Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwasanya tuan muda nan arogan itu akan menikahi dirinya yang itu berarti, kelak apapun yang akan mereka lakukan maka akan menjadi ibadah, bukan lagi dosa karena berzina. Terlebih apapun alasannya dan pernikahan ini tidak ada nilainya sama sekali.
Tapi yang menjadi masalah, kenapa Jonathan bisa berubah pikiran? Jelas-jelas dari awal pria itu tidak mau dan bahkan tidak sudi untuk menikahi dirinya secara sirih. Jangankan menikah, bahkan sebelum berhubungan saja Riana harus diperiksa secara rinci untuk mengetahui kesehatan dan kebersihannya.
Tapi ya sudahlah, tidak perlu tahu ataupun dipikirkan apa dan bagaimana pria itu bisa berubah. Karena yang terpenting saat ini adalah tugasnya selanjutnya, yakin hamil dan melahirkan keturunan bagi pria itu. Setelahnya dia bisa pergi dan bebas seperti dahulu, batin Riana...
Tidak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Tampak sebuah bangunan rumah sederhana yang membuat Riana bertanya-tanya. Dia begitu penasaran hingga akhirnya memutuskan untuk bertanya langsung pada Keenan.
"Tuan, apa ini tempatnya? Tempat kami akan menikah?" tanya-nya secara langsung tanpa basa-basi untuk menghemat waktu dengan raut wajah penasaran.
"Ya, disini tempatnya. Kenapa? Apa kau pikir pernikahan kalian akan dilakukan di kantor urusan agama? Atau mungkin kau ingin digelar secara mewah di sebuah gedung atau ..."
DEG!
Mulutnya seketika bungkam dan kalimat tadi tidak jadi dilanjutkan. Keenan tersadar dengan tatapan Riana dan ya! Pria itu memaki dirinya sendiri dengan mengatakan bodoh berulang kali.
Bagaimana bisa mulutnya terlalu lancar mengucapkan kata-kata yang akan menyakiti gadis itu? Jelas-jelas baru beberapa saat yang lalu dia menyesal perihal semalam.
"Maafkan aku, Nona. Aku tidak bermaksud untuk ..."
"Aku mengerti, tidak apa-apa." Riana menyela dan langsung menyunggingkan senyumannya.
Awalnya dia terluka, namun setelah sumpahnya tadi malam, maka semua itu tidak lagi dia hiraukan. Memang dirinya marah, namun kenyataan kembali menyadarkan dirinya agar tahu diri dan tidak memasukkan ke dalam hati apapun yang orang sekitarnya katakan.
Tok! Tok! Tok!
Baik Riana maupun Keenan sama-sama tersentak kaget saat ada seorang wanita paruh baya mengetuk pintu kaca mobil. Wanita berkerudung yang memberikan isyarat agar mereka berdua segera keluar.
Tidak menunda waktu, Riana langsung keluar, begitu pula dengan Keenan. Mereka diiringi masuk ke dalam rumah, dimana saat ini seorang ustad, beberapa orang saksi dan Jonathan sendiri telah menunggunya di dalam sana.
Tubuh Riana seketika bergetar. Jujur saja, dirinya saat ini benar-benar takut dengan perasaan yang bercampur aduk. Terlebih tatapan Jonathan yang tampak begitu tajam saat menyambut kedatangannya, seperti hendak menelanjanginya saja.
"Nak, ayo kita ke kamar. Kau harus berganti pakaian dulu, ok."
"B-baik, Bu..."
Riana mengangguk setuju dan segera mengikuti langkah wanita paruh baya itu menuju kamar. Sedangkan Keenan, tanpa bertanya iapun langsung menghampiri sang kakak yang saat ini sudah duduk tegap di tempatnya.
"Bukankah sudah aku katakan jam sembilan pagi? Kenapa kalian baru datang sekarang, heh?" lirih Jonathan setengah kesal.
"Maafkan aku, Kak. Jalanan begitu macet. Lagi pula, bukankah sekarang kami sudah berada di sini? Sudahlah, jangan marah lagi, ok. Yang penting aku sudah menbawakan calon istrimu kesini. Ah, ralat! Calon wanita yang akan menggantung anakmu nanti, heheh."
"Tutup mulutmu dan jangan terlalu lancang, Keenan!"
DEG!
"Hehehe, baiklah, maafkan aku."
Keenan hanya menanggapi amarah sang kakak dengan tertawa, sedangkan Jonathan sendiri masih memasang wajah dinginnya yang bahkan tidak pernah tersenyum ataupun tertawa...
***
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA RIANA AMBARITA BINTI SUSANTO DENGAN MAS KAWIN 10 GRAM EMAS BERBENTUK PERHIASAN DENGAN LAMANYA PERNIKAHAN SATU TAHUN KEDEPAN DIBAYAR TUNAI"
Sah! Sah! Sah...!
Sesuai kesepakatan, Jonathan menikahi Riana dengan Mut'ah atau bisa disebut sebagai kawin kontrak untuk satu tahun kedepan. Masih dengan ijab kabul yang sama dan juga mas kawinnya. Hanya saja, pernikahan itu tidak memerlukan wali ataupun saksi.
Walau rasanya begitu sakit, tapi setidaknya Jonathan masih berbaik hati untuk menikahi dirinya dari pada disetubuhi layaknya seorang pe*acur.
Langkah yang dirinya ambil sudah salah sedari awal dan entah berapa besar dosa yang akan dirinya tanggung. Jangan sampai Tuhan melaknat langkahnya kelak seumur hidup bahkan sampai pada keturunannya karena berzina.
Ijab kabul itu diselenggarakan dengan sangat singkat dan kini sudah waktunya bagi mereka untuk pergi, bahkan Riana masih mengenakan gaun muslimah yang tadi dikenakan kepadanya.
Tidak menunda waktu dan seperti biasanya, Jonathan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Untuk itulah, dia meminta Keenan kembali mengantarkan Riana pulang dan iapun akan menyusul setelah semuanya selesai.
"Hei, ayolah! Apa lagi yang kau tunggu?" sapa Keenan saat tatapan Riana tidak beralih dari Jonathan sedikitpun. Seperti ada sesuatu yang hendak dia sampaikan, namun tidak berani dan ditambah lagi dengan Jonathan yang tampak terburu-buru.
"Hei!"
"Ah, ya! M-maafkan aku..."
Riana yang kaget langsung berbalik dan bergegas naik ke atas mobil Keenan, sedangkan Jonathan hanya menatapnya datar dari dalam mobil miliknya sendiri.
Tatapan mereka saling bertemu seperti hendak menyampaikan sesuatu, bahkan disaat mobil Keenan sudah meninggalkan kediaman, Riana terus memandang mobil Jonathan di belakang sana melalui kaca spion.
Ekhem!
Riana kembali tersentak dan gelagapan saat aktifitasnya ditangkap basah oleh Keenan. Entah kenapa, tuan muda itu senang sekali mengerjai dengan mengejutkan dirinya, persis seperti kekanak-kanakan.
"Apa kau menyukai kakakku, Nona?"
DEG!
Riana terbelalak sempurna dan tidak percaya dengan pertanyaan Keenan yang selalu membuatnya kaget.
"Apa yang kau katakan, Tuan Keenan? Itu tidak mungkin dan mustahil rasanya jika ..."
"Baguslah jika memang benar begitu dan kau menyadarinya. Setidaknya aku tidak bersusah payah lagi memberikan pemahaman." Keenan langsung menyela dan menyudahi percakapan mereka. Namun entah kenapa ada sesuatu yang menjalar naik ke benak Riana mendengar jawabannya itu.
"Tuan, kenapa kau berkata seperti itu? Kenapa kau mengatakan jika aku ..."
"Karena memang seperti itulah setiap wanita yang mengenal kakakku."
DEG!
Riana kembali terdiam dan bahkan lidahnya terasa kelu walau hanya sebatas untuk menjawab pernyataan tuan muda itu.
"Kau jangan tersinggung, semua ini demi kebaikanmu. Fokus saja pada pekerjaan dan tugasmu. Jalani semuanya secara professional dan jangan pernah menggunakan hatimu di dalamnya. Kakakku adalah seorang yang sangat misterius, dia juga terkenal kejam di kalangan orang-orang dan yang pasti, kau harus tahu ini."
Riana mendongak dan menatap ke sampingnya, ke arah Keenan.
"Dia sudah mempunyai kekasih dan sangat mencintai wanita itu. Jadi, apapun yang ada dalam pikiranmu saat ini, buang dan jika perlu kubur itu tanpa bekas. Jangan marah, aku tidak bermaksud merendahkan atau apapun itu menurut versimu. Tapi kau adalah gadis yang baik dan juga menarik. Aku mengatakan semua ini karena peduli padamu, ok."
Deg! Serr...!
Lagi-lagi Riana terbelalak tidak percaya. Walaupun sakit, namun yang Keenan katakan ada benarnya.
Lagi pula, dirinya memang harus tahu diri agar dapat berkaca. Jangan bermimpi terlalu jauh dan fokus saja pada tugasnya...