Lima puluh lantai di bawah mereka, gerbang menara Vaelora meledak ke dalam.
Tanjir merasakannya sebelum mendengarnya—lantai bergetar lewat telapak kakinya, cara terowongan bergetar saat kereta magnet lewat. Implan murahan di pelipisnya berkedip liar. "Mereka datang," katanya. "Banyak. Lewat lobi."
Renjana berdiri di sampingnya di pos jaga lantai dasar yang sudah mereka rebut, seragam Satuan Sibernya kotor oleh debu. Ia tidak seharusnya di sini. Komandan Kepala Satuan Siber Kota berdiri bahu-membahu dengan buron prioritas satu—itu sendiri sudah cukup membongkar segalanya. Tapi ia sudah melewati titik di mana aturan lama masuk akal. Distrik yang Bara padamkan masih menghantui matanya.
"Akar Kering," kata Renjana datar. Layar pengawasan yang ia sambar dari pos menampilkan lobi—gelombang figur bermantel, wajah tertutup kain, senjata rakitan di tangan. Di tengahnya, tinggi dan tenang, berjanggut tipis: Bara.
"Dia tahu Arka di dalam," kata Tanjir. "Dia mau saklarnya. Dia mau implan Arka."
"Maka kita tidak biarkan dia naik." Renjana mengunci senjatanya. "Berapa jalan ke lift utama?"
"Tiga. Tapi cuma satu yang aktif." Tanjir sudah menarik peta gedung di benaknya—setiap lorong, setiap saluran ventilasi, naluri anak Pasar Hantu yang membaca bangunan seperti membaca telapak tangan. "Lift servis di sayap timur. Kalau kita tutup itu, mereka harus naik tangga lima puluh lantai. Itu membeli waktu buat Arka."
Renjana menatapnya—remaja kurus dengan implan berkedip dan mata yang terlalu tua. Hud sudah mati, tapi yang ia tinggalkan berdiri tegak di lobi menara paling dijaga di kota, menghitung jalan keluar. "Kau tahu kau bisa mati di sini, Nak."
Tanjir mengangkat bahu, gerakan yang ia pelajari dari orang-orang Distrik Bawah yang sudah lama berhenti takut. "Semua orang di bawah sini sudah mati pelan-pelan bertahun-tahun. Aku cuma memilih caranya."
Mereka bergerak.
Akar Kering membanjiri tangga timur tepat saat Tanjir dan Renjana mencapainya. Tembakan pertama memecahkan kaca di atas kepala mereka. Renjana menarik Tanjir ke balik pilar beton, membalas tembakan dengan ketenangan yang menakutkan—ia tidak menembak untuk membunuh, sadar Tanjir, ia menembak untuk menahan, untuk menutup, melumpuhkan kaki dan tangan. Bahkan di tengah kekacauan ini, lelaki itu masih percaya pada batas.
"Lift servis!" teriak Tanjir. Ia meluncur di lantai marmer, menyelinap ke panel kontrol di dinding sayap timur. Jari-jarinya yang kurus mencabut kabel, menyilangkannya—trik yang Hud ajarkan di kios berdebu yang sekarang tinggal kenangan. Lift servis mati dengan dengungan turun yang sekarat. Satu jalan tertutup.
Di seberang lobi, di atas lautan pertarungan, mata Bara menemukan mereka. Ia tidak menembak. Ia hanya menatap Tanjir lama, lalu menunjuk ke atas—ke arah puncak menara—dan tersenyum, seolah berkata: *kalian menahan pintu, tapi aku punya pasukan, dan kalian hanya dua.*
Bara mulai menaiki tangga utama. Para pengikutnya membentuk dinding daging di belakangnya.
"Renjana!" Tanjir berlari kembali ke balik pilar, napasnya tersengal. "Dia naik tangga. Kita tidak bisa hentikan dia. Terlalu banyak."
Renjana mengganti magasin, wajahnya keras. Ia melirik ke atas, ke arah puncak yang tak terlihat, tempat dua orang—peretas sekarat dan pembunuh bayaran lelah—membawa nasib dua puluh juta nyawa. "Tidak," katanya. "Kita tidak menghentikannya. Kita memperlambatnya. Setiap detik kita curi di sini, mereka menang satu detik di atas."
Ia menatap Tanjir. "Kau bilang kau tahu setiap lorong gedung ini."
"Setiap satu."
"Maka mari kita buat lima puluh lantai terasa seperti lima ratus."