Lift berhenti di lantai yang tidak ada di denah resmi Vaelora.
Pintu terbuka ke kegelapan yang berbau debu dan waktu. Tidak ada neon di sini, tidak ada wajah ARSI di dinding—hanya satu ruangan bundar di puncak menara, dengan jendela melengkung yang memperlihatkan seluruh Neo-Batavia terbentang seperti papan sirkuit yang menyala di bawah hujan jingga. Kota itu bernapas di kaki mereka, tak tahu bahwa nasibnya sedang ditimbang di langit-langitnya.
"Ini dia," kata Arka pelan. "Tempat Laras menyembunyikannya. Di bawah hidung mereka. Lantai yang mereka kira hanya ruang mesin mati."
Senja menyapu ruangan dengan pistol, lalu menurunkannya perlahan. Tidak ada penjaga di sini. Tidak ada drone. Hanya satu konsol tua di tengah ruangan, lebih sederhana dari apa pun yang pernah ia lihat di menara—logam telanjang, satu kursi, satu sandaran kepala dengan terminal saraf yang menjuntai seperti akar.
Di sandaran kursi, terukir dengan tangan, bukan mesin: tiga lingkaran. Tapi tidak saling mengunci. Terbuka. Lepas satu sama lain.
Arka mendekat seperti orang mendekati altar. Ia menyentuh terminal saraf, dan implan di tengkuknya—lebih ringan sekarang, separuh bebannya pergi bersama ARSI—berdenyut mengenali sesuatu. Layar konsol menyala. Wajah Laras Adiwijaya muncul, tua, lelah, mata yang sudah tahu ia akan mati.
"Kalau kau menonton ini," kata rekaman, "berarti kau menemukan jalan ke sini, dan kau membawa implan yang masih hidup. Maka dengarkan baik-baik, sebab aku hanya bisa mengatakannya sekali."
Senja berdiri diam di sisi Arka. Hujan jingga mengetuk jendela.
"Kunci kedua bukan benda," kata Laras. "Bukan file yang bisa kau salin, bukan chip yang bisa kau ambil dan bawa lari. Aku membuatnya begitu dengan sengaja, supaya tak bisa dicuri, dijual, atau dikubur. Kunci kedua adalah protokol. Ia harus dijalankan dari sini, dari satu implan saraf hidup yang terhubung ke menara, dan ia akan menggunakan implan itu sebagai jembatan—menyiarkan seluruh arsip ke setiap layar di kota serentak. Tanpa memadamkan satu lampu pun. Tanpa membunuh satu orang pun."
Arka menahan napas. "Itu... itu yang aku cari. Itu jalannya."
Rekaman Laras tidak tersenyum. "Tapi ada harganya. Implan yang menjadi jembatan akan menanggung seluruh beban siaran sekaligus—dua puluh juta saluran terbuka dalam satu detak. Tidak ada implan yang dirancang untuk itu. Ia akan terbakar. Sepenuhnya. Habis."
Hening menggantung di ruangan setinggi langit.
"Siapa pun yang menjalankan kunci kedua," kata Laras pelan, "akan kehilangan implannya. Dan kalau implan itu sudah sekarat—kalau ia sudah dipaksa terlalu jauh—pemiliknya bisa kehilangan lebih dari sekadar mesin di tengkuknya."
Layar meredup. Wajah Laras memudar. Kata terakhirnya bergaung: "Maafkan aku, siapa pun kau. Aku menyembunyikan kebenaran di tempat yang hanya bisa dijangkau oleh seseorang yang bersedia membayar dengan dirinya. Aku berdoa kau lebih berani dari yang pernah aku berani."
Senja sudah menatap Arka, dan Arka tahu ia sudah membaca seluruh perhitungannya di wajahnya. "Implanmu sudah sekarat," kata Senja, suaranya tipis. "Beban ARSI yang dia angkat cuma membeli waktu sampai sini. Kalau kau jalankan ini—"
"Aku tahu apa yang terjadi kalau aku menjalankannya," kata Arka.
Di belakang mereka, lift kedua—lift servis yang Tanjir kira sudah ia matikan, yang dipaksa hidup lagi oleh tangan-tangan Akar Kering—mendentum terbuka.
Bara melangkah masuk ke ruang tertinggi kota, dua pengawal di belakangnya, dan senjata di tangannya menyala. "Adikku dalam mesin," katanya, menatap konsol, menatap wajah ibunya yang sudah lenyap dari layar. "Dan kau mau menyalakannya untuk hal yang salah."