Tanjir membawa Arka ke Pasar Hantu seminggu setelah kebenaran tersiar, dan Arka nyaris tidak mengenalinya.
Tempat itu dulu adalah luka—labirin lapak gelap di bawah tanah tempat orang menjual organ, implan curian, dan rahasia. Tempat kau datang kalau kau tidak mau dilihat. Sekarang ada cahaya di sana. Bukan neon korporasi yang mencurigai, tapi lampu-lampu tua yang dipasang ulang oleh tangan-tangan biasa. Orang-orang berdagang di terang. Anak-anak berlari di lorong yang dulu hanya dilewati penyelundup.
"Mereka tidak takut lagi," kata Tanjir, implan murahan di pelipisnya berkedip pelan saat ia menuntun jalan. Remaja itu telah berubah dalam beberapa minggu—masih kurus, masih lincah, tapi ada sesuatu di punggungnya yang dulu tidak ada. Sesuatu yang dipikul. "Begitu arsipnya tersiar, semua orang tahu Vaelora yang membuat distrik ini kelaparan. Bukan kutukan. Bukan nasib. Keputusan, di ruang rapat. Dan kalau itu keputusan—"
"Maka bisa diputuskan ulang," Arka menyelesaikan.
"Kakek Hud selalu bilang begitu." Tanjir berhenti di depan sebuah lapak. "Dia bilang orang miskin diajari percaya penderitaan mereka alami, supaya tidak mencari siapa yang harus disalahkan."
Lapak itu. Arka mengenalinya. Kios Dokter Hud, tempat lelaki tua bermata lensa pembesar mekanik itu pernah membaca Lazarus sepotong demi sepotong dari kepalanya, lalu menahan tentara Vaelora agar Arka bisa lari. Tempat yang dulu gelap dan berdengung. Sekarang Tanjir telah membersihkannya. Alat-alat Hud tertata. Lensa pembesar lama tergantung di dinding seperti potret.
"Aku mau buka lagi," kata Tanjir, dan suaranya mendadak tidak yakin, seorang anak yang menunggu izin. "Bukan kayak dulu. Bukan untuk barang curian. Teknisi jujur. Orang di bawah sini, implan mereka rusak, mata mereka rusak, dan tidak ada yang mau memperbaiki tanpa minta nyawa sebagai bayaran. Aku tahu cara. Kakek mengajariku." Ia menelan. "Kau pikir aku bisa?"
Arka menatap anak itu—anak jalanan yang menemukan mereka di reruntuhan, yang membawa mereka lewat terowongan, yang terluka demi mereka berkali-kali, yang mewakili dua puluh juta nyawa biasa yang selalu jadi taruhan tapi tak pernah ditanya pendapatnya.
"Hud tidak meninggalkan alat-alatnya padaku," kata Arka pelan. "Dia menyerahkan muridnya. Itu kau, Tanjir. Bukan aku yang mewarisi ini. Kau."
Tanjir menunduk, dan saat ia mengangkat wajah, matanya basah.
"Aku takut aku tidak cukup pintar," akunya.
"Hud tidak memilihmu karena pintar." Arka meletakkan tangan di bahu tipis itu. "Dia memilihmu karena kau tahu setiap lorong kota ini, dan kau tidak pernah meninggalkan siapa pun di belakang. Itu yang dibutuhkan tempat ini. Bukan peretas. Bukan pembunuh. Seseorang yang memperbaiki."
Mereka membuka kios itu hari berikutnya. Tanjir menulis nama di papan dengan cat yang ia curi—kebiasaan lama mati pelan—lalu mencoretnya dan membayar penjual cat dengan kredit sungguhan, lalu menulis ulang: KLINIK HUD. TEKNISI. ONGKOS JUJUR.
Orang-orang mulai datang. Seorang perempuan tua dengan tangan prostetik yang macet. Seorang lelaki dengan implan mata yang berkedip-kedip menyakitkan. Anak-anak dengan luka kecil. Tanjir bekerja sampai larut, lensa pembesar Hud sekarang di matanya sendiri, berdengung pelan persis seperti dulu.
Arka menontonnya dari sudut, dan untuk pertama kalinya sejak implannya mati, ia merasa kota ini akan baik-baik saja. Bukan karena pahlawan. Karena anak-anak yang memilih memperbaiki alih-alih mencuri.
"Kakek pasti senang," bisik Tanjir, di akhir hari, menatap papan namanya.
"Dia sudah tahu," kata Arka. "Itu sebabnya dia memilihmu."