Renjana berdiri di ruang kontrol Satuan Siber yang dulu memburu Arka, dan tidak tahu lagi siapa yang ia layani.
Itu kalimat yang ia ucapkan pada Arka, di pertemuan rahasia mereka yang sekarang tidak perlu rahasia lagi, di lantai dua puluh sebuah gedung pemerintah yang separuh kosong. Komandan Polisi Siber itu tampak lebih tua sebulan ini, garis-garis baru di wajahnya yang dulu sekeras peraturan.
"Selama lima belas tahun aku tahu persis siapa musuhku," kata Renjana, menatap ke luar jendela ke kota yang berubah. "Pelanggar. Peretas. Pemberontak. Ancaman terhadap infrastruktur. Aku menjadikanmu buron prioritas satu, Arka. Dua puluh juta mata kuubah jadi pemburumu. Dan aku tidur nyenyak karena aku tahu aku menegakkan hukum."
"Sekarang?"
"Sekarang arsip yang kau siarkan menunjukkan bahwa setengah hukum yang kutegakkan ditulis oleh Vaelora untuk melindungi Vaelora." Tangannya mengepal. "Setiap kali aku menangkap pencuri air di Distrik Bawah, aku menegakkan keputusan dewan direksi yang sengaja membuat air langka supaya mereka bisa menjualnya. Aku bukan penegak hukum. Aku satpam korporasi yang memakai lencana kota."
Arka tidak berkata apa-apa. Beberapa kebenaran harus diam-diam dibiarkan mendarat.
"Tiga Besar runtuh," lanjut Renjana. "Vaelora hancur dari dalam. Dua korporasi lain panik, saling tuduh, menarik diri. Dan sekarang ada kekosongan. Dua puluh juta orang dan tidak ada yang memegang listrik, air, transportasi. Kau tahu apa yang terjadi pada kota saat tidak ada yang memegang kendali?"
"Kekacauan," kata Arka pelan.
"Sudah dimulai." Renjana menunjuk layar—laporan dari seluruh distrik. Penjarahan di sektor tujuh. Bentrokan di sektor dua belas. Sisa Akar Kering radikal mencoba merebut stasiun pompa air. Orang-orang yang baru merasakan kebebasan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. "Kau membebaskan kota, Arka. Tapi kebebasan bukan jawaban. Kebebasan cuma pertanyaan. Dan sekarang dua puluh juta orang menanyakannya sekaligus."
Arka merasakan beban itu—lebih berat dari Lazarus pernah terasa di tengkuknya. "Kau menyalahkanku?"
Renjana menatapnya lama. Lalu, mengejutkan, ia menggeleng.
"Tidak. Bara akan membuat kota gelap dan dingin dan mati. Vaelora akan menguburnya selamanya. Kau memberi kota cermin." Ia berbalik dari jendela. "Tapi cermin tidak memberi makan siapa pun. Pekerjaan sebenarnya baru mulai. Dan untuk pekerjaan itu, kota butuh hukum. Bukan hukum korporasi. Hukum yang melayani manusia."
"Kau bisa menulisnya," kata Arka.
Renjana tertawa, getir. "Aku menghabiskan hidupku menegakkan aturan, bukan membuatnya. Aku tidak tahu caranya."
"Kau tahu caranya melindungi orang," kata Arka. "Selama ini kau cuma melindungi orang yang salah. Ubah siapa yang kau lindungi." Ia berdiri, menyentuh tengkuknya yang mati—kebiasaan yang belum hilang. "Kota ini tidak butuh saklar mati atau kebenaran yang tersiar lagi. Itu sudah selesai. Sekarang butuh seseorang yang jujur memegang lencana. Kau satu-satunya yang kukenal yang tidak bisa disuap—korporasi maupun pemberontak."
Renjana lama terdiam. Di luar, sirene meraung di suatu distrik, dan di distrik lain, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, lampu menyala di rumah-rumah yang dulu gelap.
"Kebenaran membebaskan kota," kata Renjana akhirnya, pelan. "Tapi tidak menyelamatkannya. Itu masih tugas manusia."
"Selalu," kata Arka. "Itu maksudnya, sejak awal."