Mereka membangun ruang sidang di reruntuhan menara Vaelora—di lantai dasar yang dulu hanya boleh dimasuki dengan izin korporasi, di bawah langit-langit tempat logo tiga lingkaran saling mengunci pernah berputar, kini dilepas dan tergeletak di sudut seperti mahkota yang ditanggalkan.
Pertama dalam sejarah Neo-Batavia: pengadilan publik atas sebuah korporasi.
Arka duduk di kursi saksi, dan untuk sesaat ia hampir tertawa pada absurditasnya. Belum genap dua bulan lalu ia buron prioritas satu—wajahnya di setiap layar kota, dua puluh juta mata diubah jadi pemburunya oleh perempuan yang kini duduk di kursi hakim. Sekarang Renjana memanggilnya bukan sebagai ancaman infrastruktur, melainkan sebagai saksi kebenaran.
"Sebutkan namamu," kata petugas.
"Arka." Tidak ada nama keluarga. Tidak pernah ada. Anak gedung mati tidak diberi nama keluarga.
Di seberang ruangan, Direktur Wirajaya duduk di kursi terdakwa, dan untuk pertama kalinya Arka melihatnya dari dekat tanpa ada yang berusaha membunuhnya. Lelaki yang dulu begitu dingin dan elegan, yang memandang Lazarus sebagai ancaman eksistensial yang harus dikubur, yang membunuh Doktor Laras Adiwijaya di lantai teratas menara ini. Sekarang ia tampak lebih kecil. Bukan karena kalah—tatapannya masih tajam, masih meremehkan. Tapi karena cahaya. Untuk pertama kalinya, cahaya tidak berada di belakangnya. Berada di hadapannya, dari dua puluh juta mata yang menonton lewat siaran terbuka.
"Kau menuduh dewan direksi Vaelora atas pembunuhan, perampasan sumber daya, dan rekayasa kelangkaan," kata pengacara Wirajaya, berdiri. "Berdasarkan arsip yang kau curi dan siarkan secara ilegal. Arsip yang kau, sendiri, sebarkan tanpa proses hukum apa pun."
"Ya," kata Arka.
"Maka dengan logikamu sendiri, kau adalah penjahat. Peretas. Pencuri."
"Ya," ulang Arka, dan ruangan berdengung. "Aku pencuri. Aku mencuri Lazarus dari server kalian. Tapi yang kucuri bukan milik kalian—itu kebenaran tentang apa yang kalian lakukan pada dua puluh juta orang. Kalian tidak bisa memiliki kebenaran. Kalian cuma menyembunyikannya." Ia menatap langsung ke Wirajaya. "Aku mencuri dari kalian hal yang kalian curi dari kota terlebih dulu."
Wirajaya tidak bergerak. Tapi sesuatu di rahangnya mengeras.
Renjana mengetuk meja. "Saksi akan menjawab pertanyaan tentang fakta, bukan berpidato." Tapi ada sesuatu di sudut matanya—bukan teguran, hampir persetujuan. "Arka. Jelaskan apa yang kau temukan dalam arsip Lazarus tentang kematian Doktor Laras Adiwijaya."
Arka menceritakannya. Rekaman demi rekaman. Laras yang menciptakan Lazarus bukan sebagai senjata melainkan sebagai cermin. Laras yang memisahkan kunci kedua agar kebenaran bisa tersiar tanpa membunuh siapa pun. Laras yang membawa rencananya pada dewan direksi, percaya kota berhak tahu, percaya bisa mengubah Vaelora dari dalam. Dan dewan—dipimpin Wirajaya—yang memutuskan lebih murah membunuhnya daripada mendengarkannya.
"Dia ingin membocorkan kebenaran dengan damai," kata Arka, suaranya rata di ruang yang sunyi mencekam. "Tanpa satu nyawa hilang. Mereka membunuhnya untuk mencegah itu. Lalu mereka menghabiskan tiga belas tahun memastikan tak seorang pun menemukan apa yang ia tinggalkan." Ia berhenti. "Aku hanya menyelesaikan apa yang ia mulai. Bedanya, kali ini mereka tidak bisa membunuh kebenaran. Karena sekarang dua puluh juta orang adalah saksinya."
Saat ia turun dari kursi saksi, Arka melewati kursi terdakwa. Wirajaya menatapnya, dan untuk sesaat lelaki itu bicara, pelan, hanya untuk Arka.
"Kau pikir ini menang?" desisnya. "Kota ini akan membangun korporasi baru dalam lima tahun. Kekuasaan tidak hilang. Cuma berganti tangan. Selalu begitu."
Arka berhenti. Memikirkannya. Lalu, mengejutkan, ia mengangguk.
"Mungkin," katanya. "Mungkin kekuasaan selalu kembali. Tapi sekarang kota tahu cara melihatnya. Tahu cara membongkarnya. Tahu kekuasaan tidak harus disembunyikan, tidak harus ditakuti, tidak harus dipatuhi diam-diam." Ia menatap logo tiga lingkaran yang tergeletak di sudut. "Kalian membangun mata yang tak pernah tidur untuk mengawasi kami. Sekarang kami punya mata kami sendiri. Kalau korporasi baru datang—dan mungkin akan datang—mereka akan tumbuh di bawah dua puluh juta mata yang akhirnya terbuka. Itu cukup berbeda."
Ia berjalan keluar, melewati barisan kursi, ke arah Senja yang menunggunya di pintu dengan mantel basah dan masker tergantung di leher. Di belakangnya, sidang berlanjut—lambat, berbelit, tidak sempurna, sangat manusiawi. Bukan saklar yang membalik kota dalam sembilan menit. Tapi keadilan, ditegakkan sepotong demi sepotong, oleh tangan-tangan biasa.
"Bagaimana?" tanya Senja.
Arka menengadah ke langit-langit tempat logo itu pernah berputar. Lalu ke pintu terbuka, tempat hujan jingga turun ke atas kota yang akhirnya, untuk pertama kalinya, mengadili tuannya sendiri.
"Lambat," kata Arka. Dan tersenyum. "Tapi nyata."