Hujan jingga masih turun di atas Neo-Batavia, tapi tak ada lagi yang menyalakannya. Arka memperhatikan itu dari balkon gedung pemerintahan sementara di Distrik Tengah—sebuah aula yang dulu ruang konferensi Vaelora, kini dipenuhi orang-orang yang tak pernah diizinkan masuk ke sana semasa Tiga Besar berkuasa. Hujan tetap jatuh karena sistem cuaca lama belum dimatikan, dan tak seorang pun tahu cara mematikannya tanpa membuat separuh kota kebanjiran. Itu, pikir Arka, adalah seluruh masalah dalam satu kalimat. Mereka telah merobohkan tuan kota. Mereka belum tahu cara mengganti tangannya.
Di dalam aula, suara-suara saling tindih. Seorang perempuan dari Distrik Bawah berdiri di atas kursi, berteriak tentang air yang masih belum mengalir ke blok timur. Seorang mantan manajer logistik Vaelora—dasi masih melingkar di lehernya seperti kebiasaan yang tak mati—mencoba menjelaskan bahwa pipa-pipa itu hanya bisa dibuka dari sistem pusat, dan sistem pusat sekarang tak punya pemilik. Tak punya pemilik. Kalimat itu diucapkan seolah kebebasan dan seolah bencana sekaligus.
"Mereka akan saling mencekik," gumam Senja di sampingnya. Ia bersandar di kusen, mantelnya kering untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, masker filternya tergantung di leher. Bekas luka tipis di pipinya tampak lebih jelas di bawah lampu jujur yang tak lagi disaring warna korporat. "Tiga minggu sejak kebenaran tersiar dan mereka masih meneriakkan pipa air."
"Itu kemajuan," kata Arka. "Tiga minggu lalu mereka tak boleh meneriakkan apa pun."
Tanjir muncul dari tangga, napas tersengal, implan murahan di pelipisnya berkedip ungu. Anak itu telah tumbuh sejak Pasar Hantu—bukan tinggi, tapi di matanya. "Renjana memanggil," katanya. "Ada masalah di gardu utara. Sisa Akar Kering. Bukan Bara—orang-orang yang dulu ikut dia, sekarang tak punya pemimpin, tak punya saklar, tapi masih punya marah."
Arka menutup matanya sejenak. Di balik kelopaknya, untuk sepersekian detik, ia hampir mengharap suara halus itu menjawab, memberinya data gardu utara, jadwal patroli, titik lemah. Tapi kepalanya kosong. ARSI sudah pergi. Implannya diam, mati, sekarat menjadi mati. Ia harus berpikir seperti manusia biasa sekarang—lambat, meraba, salah.
"Kita tak bisa terus jadi tangan yang menambal setiap bocoran," kata Senja. Ia tidak mengeluh; ia menyatakan. "Suatu saat kota ini harus berdiri tanpa kita."
"Belum hari ini." Arka mendorong dirinya dari pagar balkon.
Di aula, perdebatan pecah jadi dorong-dorongan. Seorang lelaki tua—dulu teknisi rendahan Vaelora, Arka mengenalinya dari arsip yang tersiar—naik ke podium tanpa diundang dan berkata dengan suara serak, "Dengar. Selama empat puluh tahun mereka memberitahu kita bahwa kota terlalu rumit untuk kita urus sendiri. Bahwa kita butuh tuan. Mereka berbohong soal segalanya yang lain. Mungkin mereka berbohong soal itu juga."
Aula terdiam. Bukan setuju. Hanya berpikir. Dan dalam diam itu, Arka merasakan sesuatu yang asing: bukan kemenangan, bukan kelegaan, melainkan beratnya pintu yang terbuka. Kebenaran telah membuka pintu. Sekarang dua puluh juta orang harus belajar melangkahinya sendiri, satu kaki goyah pada satu waktu.
"Gardu utara," ulang Tanjir, menarik lengannya.
"Aku dengar." Arka memandang sekali lagi ke aula yang ribut. Logo tiga lingkaran saling mengunci masih terukir di dinding marmer di atas podium—tak ada yang sempat menurunkannya. Tiga lingkaran yang dulu berarti cengkeraman. Sekarang hanya tiga lingkaran, kosong, menunggu makna baru yang harus dibuat manusia, bukan diberikan korporasi.
Ia turun menemui Renjana. Hujan jingga membasahi bahunya saat ia keluar, dan ia tidak meminumnya tanpa berpikir seperti dulu. Ia menyekanya. Itu pun, dengan caranya, sebuah perubahan.