Tanjir berhasil menenangkan gardu utara dengan kata-kata, bukan senjata—anak itu mengenal setengah dari sisa Akar Kering dari masa Pasar Hantu, dan ternyata orang yang marah lebih mudah didengarkan oleh seseorang yang pernah lapar bersama mereka. Renjana tidak perlu menembak siapa pun. Untuk pertama kalinya dalam karirnya, kepala Satuan Siber Kota itu pulang tanpa borgol terpakai, dan ia tampak bingung oleh kehampaan di pergelangan tangannya sendiri.
Arka tidak banyak bicara sepanjang malam. Dan saat fajar palsu dari layar-layar kota memudar menjadi fajar sungguhan—abu-abu, jujur, tak disaring—ia duduk sendiri di tepi atap tempat persembunyian lama mereka. Senja menemukannya di sana, dua cangkir kopi sintetis di tangan.
"Kau tidak tidur," kata Senja.
"Tidak bisa." Arka menerima cangkir. "Dulu aku tutup mata, dan ada sungai cahaya. Data mengalir. Aku bisa merasakan setiap simpul kota, setiap pintu, setiap celah. Tiga belas tahun aku hidup begitu." Ia menyentuh tengkuknya, tempat implan itu bersarang, dingin dan diam. "Sekarang aku tutup mata dan hanya ada... gelap. Sunyi. Seperti rumah yang listriknya diputus."
Senja duduk di sampingnya, dekat. "Apa yang kau lihat?"
"Tidak ada. Itu intinya." Arka tertawa, pendek, getir. "Aku Arka, peretas terbaik Distrik Bawah. Itu yang kukatakan pada diriku selama bertahun-tahun. Itu yang membuatku berharga. Mira menyewaku karena itu. Vaelora memburuku karena itu. Bara menginginkan kepalaku karena itu." Ia menatap tangannya, tangan yang dulu bisa membuka kota dengan getaran pikiran. "Sekarang implannya hancur. Kunci kedua membakarnya sampai habis. Aku tak bisa meretas kunci pintu kamar mandi. Jadi—siapa aku sekarang?"
Senja diam lama. Ia bukan orang yang menghibur dengan kata-kata kosong; Arka tahu itu, dan justru karena itu ia menunggu jawabannya.
"Aku dulu juga sebuah alat," kata Senja akhirnya, pelan. "Mereka menanam logam di tubuhku dan menamaiku aset. Aku membunuh untuk orang yang membentukku, dan kupikir itulah aku. Lalu aku dibohongi satu klien, dan untuk pertama kalinya aku memilih—bukan dibayar, memilih. Untuk tinggal. Untuk kau." Ia memandang lurus ke depan, ke kota yang mulai bangun di bawah hujan jingga. "Yang membuatku berhenti jadi alat bukan saat mereka mencabut senjataku. Itu saat aku memutuskan untuk apa aku ada. Alat tak memilih. Manusia memilih."
Arka memandangnya. Bekas luka di pipi itu, mata lelah yang tak pernah membenci. "Kau menyelamatkanku di terowongan," katanya. "Bukan implanku. Aku."
"Aku tahu bedanya," kata Senja. "Sekarang kau yang harus tahu."
Hujan turun. Arka tidak menyekanya kali ini, tidak juga meminumnya. Ia hanya membiarkannya jatuh di telapak tangannya yang terbuka—tangan biasa, tangan manusia, tangan yang tak bisa membuka kota tapi bisa menggenggam cangkir, bisa menggenggam yang lain. Untuk pertama kalinya ia berpikir bahwa mungkin itu cukup. Mungkin itu lebih.
"Kopinya dingin," kata Senja.
"Tetap kuminum," kata Arka, dan ia minum, dan untuk sesaat singkat di atap yang basah itu, ia tidak merindukan suara di kepalanya sama sekali.