Kabar itu datang lewat Tanjir, yang mendengarnya dari seorang anak terowongan, yang mendengarnya dari seseorang yang seharusnya sudah mati: ada salinan LAZARUS yang masih hidup. Bukan arsip kebenaran yang tersiar—itu sudah menyebar tak terbendung. Yang dimaksud adalah saklar mati. Lapisan kedua file itu, yang bisa meruntuhkan listrik dan air seluruh kota, yang dulu dibawa Arka di kepalanya—dan yang salinan aslinya kini tersimpan rapat pada mereka sendiri, bukan pada siapa pun di luar. Seseorang mengaku menyimpan fragmennya. Seseorang menjual harapan kepada orang-orang marah.
"Tidak mungkin," kata Wijen lewat layar, tapi suaranya tidak yakin. "Saklar mati yang asli ada pada kita, bukan pada mereka. Yang dijual Galih tak mungkin yang sebenarnya—"
"Mereka tak perlu yang asli," potong Arka. "Mereka cuma perlu orang percaya itu asli. Itu lebih berbahaya."
Pemimpinnya menamai dirinya Galih—mantan letnan Bara, salah satu yang dulu berdiri di sarang Akar Kering saat Arka dan Senja lolos lewat kegelapan. Galih tidak punya visi Bara, tidak punya duka Laras yang membusuk jadi ideologi. Ia hanya punya kemarahan yang kehilangan pemimpinnya dan kekosongan kekuasaan yang menggoda. Ia mengumpulkan dua lusin orang di sebuah pabrik mati di tepi distrik tenggelam, dan ia berkata pada mereka bahwa kebenaran tersiar tidak mengubah apa pun, bahwa air masih belum mengalir, bahwa hanya kehancuran total yang bisa memaksa dunia membangun ulang.
Suara Bara, dari mulut orang yang lebih kecil.
"Renjana ingin mengepung pabrik itu," kata Senja saat tim berkumpul. "Pasukan, drone, penangkapan."
"Lalu kita jadi tuan baru yang menggebuk orang miskin yang marah," kata Arka. "Dan kita buktikan ucapan Galih—bahwa tak ada yang berubah, bahwa yang berkuasa tetap memukul yang di bawah." Ia menggeleng. "Tidak. Bukan begitu."
Mereka pergi tanpa pasukan. Arka, Senja, Tanjir. Renjana di belakang, tanpa seragam, hanya menonton—ujian terberat baginya, menahan tangan yang seluruh hidupnya terlatih menangkap. Mereka masuk pabrik mati itu lewat pintu depan, terang-terangan, tangan terbuka.
"Kau Arka," kata Galih, dan ada kebencian dan kekaguman bercampur di suaranya. "Orang yang membakar saklar kami."
"Yang membebaskan kebenaran tanpa membunuh dua puluh juta orang," kata Arka. "Termasuk orang-orangmu yang berdiri di sini. Termasuk keluarga mereka di blok timur yang air-nya kau bilang masih belum mengalir." Ia melangkah pelan ke tengah ruangan, ke tengah orang-orang bersenjata yang bisa membunuhnya kapan saja. Tanpa implan, tanpa keajaiban di kepalanya. Hanya kata-kata dan tubuh yang bisa ditembus peluru. "Aku tahu fragmen saklarmu palsu. Aku yang membawa yang asli. Aku tahu bagaimana rasanya di kepala. Yang kau pegang itu kebohongan yang dijual seseorang padamu—seperti Vaelora dulu menjual kebohongan pada kita semua."
Galih menggeram, tapi ada keraguan di mata orang-orang di belakangnya.
"Air belum mengalir," lanjut Arka. "Itu benar. Karena membangun lebih lambat dari menghancurkan. Selalu begitu. Bara janjikan kalian kehancuran cepat. Aku tak bisa janjikan apa pun cepat. Aku cuma bisa janjikan ini: kalau kalian runtuhkan kota, yang mati lebih dulu adalah blok timur. Anak-anak di rumah sakit gelap. Bukan menara—mereka punya genset. Kalian." Ia berhenti tepat di depan Galih. "Aku bukan tuanmu. Aku tak punya pasukan di luar. Tembak aku kalau itu yang kalian percaya akan membuat air mengalir."
Hening. Hujan menetes lewat atap pabrik yang bocor.
Lalu seorang perempuan di belakang Galih menurunkan senjatanya. Lalu yang lain. Bukan karena Arka menang berdebat. Karena mereka lelah—lelah dijanjikan kehancuran oleh orang yang tak pernah harus tinggal di puing-puingnya. Galih berdiri sendiri, dan kesendirian itu lebih melucutinya daripada pasukan mana pun.
Mereka tidak menangkap siapa-siapa. Renjana, di pintu, menahan napas lalu mengangguk pelan—pelajaran yang tak diajarkan akademi kepolisian mana pun. Menjaga kebebasan, Arka mengerti saat mereka keluar ke hujan jingga, bukan satu pertempuran yang dimenangkan. Itu seribu percakapan kecil seperti ini, terus, tanpa akhir, selama kota ini mau bebas.