Direktur Wirajaya menunggu pengadilan di sel tahanan Distrik Atas, tapi bayangnya masih bergerak di kota. Orang seperti itu tidak runtuh sendirian; ia jatuh dengan jaring di tangannya, dan jaring itu masih menarik benang-benang yang setia. Renjana yang pertama mencium baunya—sebuah perintah transfer dana yang janggal, sebuah server cadangan yang menyala di lokasi yang seharusnya kosong, nama-nama loyalis lama yang tiba-tiba aktif kembali.
"Mereka mencoba menghapus arsip persidangan," kata Renjana, menggelar dokumen di meja markas. Wajahnya keras, tapi bukan lagi keras polisi siber yang memburu Arka sebagai prioritas satu. Keras orang yang mempertaruhkan reputasinya pada sistem baru yang rapuh. "Kalau bukti dari persidangan Wirajaya hilang sebelum putusan, ia berjalan bebas. Dan setiap direksi yang sembunyi akan tahu bahwa kebenaran bisa dikubur lagi. Semuanya runtuh."
Naluri lama Arka menyala: retas server itu, hancurkan dari dalam, sembilan menit dan beres. Lalu ia ingat. Tak ada implan. Tak ada sembilan menit. Hanya cara lambat, manusia.
"Jangan retas," kata Senja sebelum ia bicara, membaca wajahnya. "Itu cara mereka. Cara lama."
"Aku tahu," kata Arka pelan. Dan ia memang tahu, meski sebagian dirinya berduka untuk cara yang lebih cepat. "Renjana. Server itu—siapa yang menjalankannya?"
"Loyalis Wirajaya. Mantan kepala keamanan data. Tersembunyi, dilindungi pengacara mahal."
"Maka kita tidak menyerangnya," kata Arka. "Kita biarkan dia melakukan kejahatannya—percobaan penghapusan bukti—di depan saksi. Lalu kita gunakan hukum yang baru kita bangun untuk menjeratnya dengan itu. Bukan kekerasan. Bukti percobaan menghancurkan kebenaran jadi kebenaran baru yang menjeratnya."
Renjana memandangnya lama. "Itu lambat. Berisiko. Dia bisa berhasil sebelum kita."
"Tanjir," kata Arka, "jaringan terowongan menyimpan salinan arsip persidangan, kan?"
Tanjir menyeringai. "Tujuh salinan. Di tujuh tempat yang Wirajaya tak tahu ada. Kalau dia hapus yang di server resmi, kami punya enam lagi. Dia hapus enam, kami sebar tujuh puluh." Bocah itu mengetuk pelipisnya, gerakan yang ia warisi dari Hud. "Itu gunanya tidak menaruh kebenaran di satu menara."
Dan begitulah mereka melakukannya—bukan dengan serbuan, tapi dengan kesabaran. Mereka membiarkan loyalis Wirajaya bergerak, mengamati, mendokumentasikan, dan saat lelaki itu menekan tombol yang ia kira menghapus segalanya, ia justru menandatangani kejahatannya sendiri di hadapan hukum yang tak bisa ia suap karena hukum itu kini ada di tangan terlalu banyak orang. Renjana menangkapnya keesokan harinya, dengan surat, dengan saksi, tanpa satu tembakan.
"Keadilan yang lambat," kata Renjana malam itu, lelah, di atap yang sama tempat mereka sering berkumpul. Ia memandang menara Vaelora yang gelap di kejauhan—gelap karena tak ada lagi yang menyalakannya untuk berkuasa. "Aku menghabiskan hidupku percaya pada hukum karena hukum itu cepat dan keras. Sekarang aku belajar hukum yang sebenarnya kuat justru lambat. Sabar. Melayani, bukan mencengkeram." Ia menoleh pada Arka. "Bara menawarkan saklar yang cepat. Wirajaya menawarkan cengkeraman yang rapi. Keduanya menjanjikan ketertiban tanpa kerja." Ia tertawa pelan, tanpa humor. "Ternyata kerja itu sendiri yang menjadi ketertiban."
Arka tidak menjawab. Ia hanya memandang menara gelap itu, dan untuk pertama kalinya menara itu tampak bukan seperti ancaman, melainkan seperti monumen—peringatan akan apa yang terjadi ketika kekuasaan ditaruh di satu tempat dan dibiarkan tak diawasi. Bayang Wirajaya sudah memudar. Tapi mereka akan terus mengawasi. Selalu. Karena bayang seperti itu tak pernah benar-benar mati; ia hanya menunggu kota lupa.