Pasar Hantu pernah jadi tempat sembunyi—lorong-lorong di perut kota tempat orang yang tak punya wajah resmi membeli implan curian, identitas palsu, dan obat yang membuat tubuh bertahan satu malam lagi. Arka mengenalnya sebagai tempat ia dulu membawa LAZARUS pada Dokter Hud, tempat lensa mekanik tua itu berdengung membaca file yang akhirnya membunuh lelaki itu. Ia tak pernah menyangka akan kembali ke sini bukan untuk bersembunyi.
Tanjir yang membawanya. Anak itu telah mengubah satu sudut pasar—kios lama Hud, yang dulu gelap dan penuh alat berdebu—menjadi sesuatu yang bernapas. Lampu menyala jujur, bukan neon penyamar. Bangku-bangku diisi orang yang menunggu giliran. Dan di balik meja kerja yang dulu milik Hud, beberapa remaja membungkuk di atas implan-implan, memperbaikinya, menyetelnya, dengan tangan yang belajar dari tangan Tanjir, yang belajar dari tangan Hud.
"Klinik teknisi," kata Tanjir, dan ada kebanggaan yang ia coba sembunyikan dan gagal. "Jujur. Kami tidak menjual implan curian. Kami perbaiki yang rusak. Murah. Kadang gratis kalau orangnya tak punya kredit." Ia menyeka tangannya yang berminyak. "Hud selalu bilang lensa-nya untuk melihat apa yang orang lain lewatkan. Aku pikir... ini caraku memakai apa yang dia ajarkan untuk melihat orang. Bukan target. Orang."
Arka memandang sekeliling. Di dinding, tergantung sepasang lensa pembesar mekanik yang tak lagi berdengung—lensa Hud, dipajang seperti orang memajang potret leluhur. Di bawahnya, ditulis tangan dengan huruf anak-anak: *Lihat yang benar.*
"Dia akan menyukai ini," kata Arka. Tenggorokannya terasa sempit.
"Dia akan mengeluh dulu," kata Tanjir, tersenyum. "Bilang kabelnya berantakan. Lalu memperbaikinya tanpa minta tolong, sambil mengomel." Senyumnya melembut. "Lalu menyukainya."
Mereka duduk di bangku kios sementara hari merambat. Orang-orang datang dan pergi—seorang ibu dengan implan pendengaran anaknya yang rusak, seorang lelaki tua yang prosesornya melambat, seorang gadis yang ingin tahu apakah implan murahnya bisa membaca buku. Pasar Hantu, yang dulu hanya tahu cara menyembunyikan orang, perlahan belajar cara merawat mereka. Distrik Bawah tidak menunggu kota di atas memberinya kemurahan. Ia membangun ulang dirinya dari bawah, satu implan yang diperbaiki pada satu waktu.
"Vaelora membiarkan tempat ini tenggelam selama bertahun-tahun," kata Tanjir, suaranya berubah pelan. "Membiarkan kami jadi pasar hantu—hantu, karena bagi mereka kami sudah mati. Tak terhitung." Ia memandang kios yang sibuk, lampu jujurnya. "Sekarang kami bernapas. Itu yang ingin kutunjukkan padamu. Bukan kemegahan. Cuma... napas."
Saat malam turun dan Arka bersiap pergi, seorang anak kecil—lebih kecil dari Tanjir dulu, implan kasar berkedip di pelipis—menarik lengannya. "Kau Arka?" tanya anak itu. "Yang membebaskan kota?"
Arka berlutut sejajar dengannya. Dulu ia akan berkata *bukan aku, jangan percaya cerita*. Tapi ia melihat mata anak itu, dan ia mengerti bahwa cerita-cerita ini, yang benar maupun yang dibesar-besarkan, adalah akar yang menahan kota tetap bebas. "Kami," katanya. "Banyak orang. Termasuk seorang dokter tua yang dulu duduk di kursi itu." Ia menunjuk meja kerja Hud. "Suatu hari mungkin termasuk kau."
Anak itu memandang kursi Hud dengan mata lebar, lalu berlari kembali ke kerumunan. Dan Arka berdiri, dan keluar ke pasar yang bernapas, dan untuk pertama kalinya Pasar Hantu tidak terasa seperti tempat menunggu mati. Terasa seperti tempat memulai hidup.