Ruang itu dulu bagian dari gardu distribusi Vaelora—sekarang tak bertuan, dindingnya masih menyimpan bekas logo tiga lingkaran yang sudah dikerik separuh. Seseorang menggantungnya dengan kain, tapi cahaya jingga dari jendela tetap menyusup, melukis garis-garis lama di lantai. Arka berdiri di tengah, memandangi meja panjang penuh peta kota yang sudah berubah.
"Aku tidak pernah membayangkan ada hari kita duduk merencanakan sesuatu tanpa drone di langit," kata Tanjir. Implan murahan di pelipisnya berkedip pelan, tenang untuk pertama kalinya sejak Arka mengenalnya. "Aneh rasanya."
"Aneh bukan berarti salah," sahut Renjana. Komandan Satuan Siber itu tak lagi memakai seragam ketat Distrik Atas; mantelnya sederhana, lencananya disimpan di saku, bukan di dada. Ia membungkuk di atas peta. "Kekosongan kekuasaan itu lubang. Kalau kita tidak isi dengan sesuatu yang melayani warga, orang lain akan isi dengan sesuatu yang memangsa mereka. Aku sudah lihat itu terjadi tiga kali dalam karierku."
"Jadi kau mau jadi polisi lagi," kata Senja dari sudut, bersandar ke dinding, lengannya terlipat. Bekas luka di pipinya tampak lebih lembut dalam cahaya itu.
"Bukan polisi korporasi." Renjana menatapnya. "Hukum yang melayani manusia, bukan tiga lingkaran. Aku tahu bagaimana sistem dibangun. Sekarang aku ingin tahu bagaimana sistem dibuat tidak busuk." Ia menunjuk satu titik di peta. "Mulai dari sini. Air, listrik, transportasi—jangan biarkan satu pihak menggenggamnya lagi. Selamanya."
Wijen, yang selama ini diam di kursi paling jauh, menelan ludah. Ketakutan masih tinggal di matanya, mungkin selamanya, tapi tangannya tak lagi gemetar di atas perangkat. "Aku bisa bangun pengaman," katanya pelan. "Arsitektur menara, protokol Laras... aku tahu di mana mereka menyembunyikan tuas-tuas rahasia. Aku bisa pasang penjaga supaya tidak ada korporasi baru yang menanam saklar mati di urat nadi kota lagi." Ia menunduk. "Aku berutang itu. Pada Hud. Pada Mira. Pada semua yang tidak takut seperti aku."
"Kau takut dan tetap kembali," kata Arka. "Itu lebih berarti dari berani tapi pergi."
Wijen mengangkat wajah, dan untuk sekejap, takut di matanya bercampur sesuatu yang lain—mungkin harga diri yang sudah lama hilang.
Tanjir menggeser kursinya. "Aku mau jaga anak-anak Pasar Hantu. Yang seperti aku dulu. Kios Hud—aku mau hidupkan lagi, tapi bukan tempat sembunyi. Tempat belajar. Biar mereka tahu cara baca sistem tanpa harus jadi maling dulu." Ia nyengir, kekanak-kanakan untuk sesaat. "Hud pasti ngomel kalau lihat aku jadi guru."
"Hud akan bangga," kata Senja, dan itu kalimat paling lembut yang pernah Arka dengar darinya.
Hening menggantung sebentar. Lalu Renjana menoleh ke Arka. "Dan kau? Peretas terbaik Distrik Bawah yang tak bisa meretas lagi."
Arka menyentuh tengkuknya—kebiasaan lama, jari mencari implan yang sekarang hanya bekas luka mati. Tak ada lagi sungai cahaya di kepalanya. Tak ada hitungan mundur. Tak ada suara. "Aku menghabiskan seluruh hidupku jadi hantu di dalam sistem," katanya. "Mungkin sudah waktunya aku berdiri di luar dan menjaga agar sistemnya tidak menelan orang lain." Ia menatap peta, distrik demi distrik. "Aku tahu setiap celah yang dipakai korporasi untuk membohongi orang. Aku bisa ajari kota cara melihat celah itu sebelum jatuh ke dalamnya."
"Pengkhianat sistem jadi penjaga sistem," gumam Senja. "Lucu."
"Bukan penjaga sistem." Arka mengangkat kepala. "Penjaga orang-orang."
Mereka tinggal lama di ruang itu, menggambar masa depan dengan jari di atas peta kota yang masih basah oleh hujan jingga. Tak ada yang berpura-pura semua akan mudah. Renjana paling tahu betapa lambatnya keadilan tumbuh; Wijen paling tahu betapa rapuhnya kepercayaan; Arka paling tahu bahwa kebenaran yang sudah tersiar pun bisa dikubur lagi kalau manusia lengah.
Tapi untuk pertama kalinya sejak sembilan menit yang mengubah segalanya, mereka tidak lari dari apa pun. Mereka membangun.
"Setelah kebenaran," kata Arka pelan, lebih pada dirinya sendiri, "datang tanggung jawab."
Di luar, hujan jingga turun di atas kota yang sebentar lagi harus belajar menjaga dirinya sendiri.