Atap gedung mati itu sama seperti dulu—besi berkarat, antena patah, genangan air yang memantulkan reklame neon dari menara seberang. Bedanya, menara itu tak lagi menyala dengan logo tiga lingkaran. Sekarang hanya cahaya biasa, kosong, seperti mata yang akhirnya tidur.
Arka duduk di tepi, kaki menggantung di atas Distrik Bawah. Senja datang tanpa suara, seperti biasa, lalu duduk di sampingnya. Mereka diam lama. Hujan jingga turun pelan, dan Arka, tanpa berpikir, menengadah dan membiarkan beberapa tetes jatuh ke bibirnya—kebiasaan yang tak pernah ia sadari sampai Senja menertawakannya bertahun-tahun lalu.
"Kau masih minum hujan racun itu," kata Senja.
"Sudah tidak racun," sahut Arka. "Wijen bilang penyaringnya diperbaiki minggu lalu. Salah satu hal pertama yang mereka benahi."
"Tetap aneh." Tapi Senja, untuk pertama kali, menengadah juga, dan membiarkan satu tetes jatuh ke pipinya yang berbekas luka. Ia tidak menyekanya.
Di kejauhan, kereta magnet meluncur menembus hujan, garis cahaya panjang yang melengkung di antara gedung. Arka mengikutinya dengan mata sampai hilang.
"Aku terus berpikir," kata Senja akhirnya, "tentang malam pertama. Waktu aku disewa membunuhmu di atap seperti ini. Kau ingat apa yang kau katakan?"
"Aku bilang aku belum dibayar."
Senja tertawa—pelan, kering, tapi nyata. "Bukan. Itu yang kukatakan. Klien membohongiku, jadi aku merasa aku belum dibayar. Tapi kau—" ia menoleh padanya, "kau bilang kalau aku membunuhmu, aku tidak akan pernah tahu kenapa orang sepenting itu mau melenyapkanmu. Kau membeli waktumu dengan rasa penasaranku."
"Peretas," kata Arka. "Kami selalu mencari celah."
"Dan kau temukan celah di pembunuh bayaran." Senja menggeleng. "Tiga tahun aku hidup dari menutup hati. Aset bersenjata. Itu yang mereka sebut aku—bukan orang, alat. Aku tidak pernah bertanya kenapa, hanya berapa." Suaranya merendah. "Lalu datang seseorang yang menolak membunuh dua puluh juta orang padahal itu jalan paling mudah untuk hidup. Dan aku tidak mengerti. Selama berbulan-bulan aku tidak mengerti."
"Sekarang?"
Senja diam lama. Hujan jingga membasahi rambutnya. "Sekarang arsip itu sudah tersiar. Seluruh kota tahu apa yang mereka lakukan padaku. Pada anak-anak seperti aku yang mereka cetak jadi senjata." Ia menatap tangannya sendiri, tangan yang dulu hanya tahu memegang pistol. "Aku menunggu rasa lega. Tapi yang datang cuma sunyi. Bayang lamaku pergi, dan aku tidak tahu siapa yang tersisa."
Arka menggeser dirinya hingga bahu mereka bersentuhan. "Aku tahu rasanya. Implanku hilang. Seluruh hidupku ada di dalam alat itu. Sekarang aku cuma... Arka. Manusia biasa. Lambat. Buta dalam sistem." Ia menarik napas. "Tapi kau di sini. Itu bukan sunyi."
Senja menoleh padanya. Dalam cahaya jingga, bekas luka di pipinya seperti garis hujan yang membeku. "Kau tidak pernah membayarku, kau tahu," katanya. "Seratus ribu kredit. Sampai sekarang."
Arka tersenyum—senyum yang jarang, dan lebih jarang lagi untuk Senja. "Aku tidak punya kredit. Implanku rusak, rekeningku dibekukan sejak aku jadi buron prioritas satu. Aku bahkan tidak punya nama bersih sampai bulan lalu."
"Aku tahu." Senja meraih tangannya. Bukan gerakan canggung; gerakan seseorang yang telah memutuskan, lama sebelum malam ini. "Mungkin itu sebabnya aku masih di sini. Karena kalau aku ingin dibayar dengan kredit, aku sudah pergi sejak lama. Aku tinggal karena memilih."
"Lalu apa mata uangnya," kata Arka pelan, "kalau bukan kredit?"
Senja tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menggenggam tangannya lebih erat, dan menyandarkan kepalanya ke bahu Arka, dan untuk pertama kali sejak ia mengenal kota ini, ia membiarkan dirinya tidak waspada.
Di bawah mereka, Neo-Batavia berdenyut—dua puluh juta nyawa, tak satu pun hilang. Hujan jingga turun di atas keduanya, dan kali ini, tak terasa seperti racun. Hanya hujan. Hanya kota. Hanya dua orang yang akhirnya berhenti lari.
"Aku belum dibayar," bisik Senja, dan kali ini terdengar seperti tawa.
"Kau sudah," jawab Arka. "Kita berdua sudah."