Pertanyaan yang sering menggangguku akhir-akhir ini adalah "Kapan Selesai?"
Tau nggak sih mereka kalau pertanyaan itu bikin aku bete. Yang membuat aku malas ketemuan ma teman-temanku, yang membuat aku gak selera untuk menghadiri acara-acara baik keluarga maupun kampus dan tentunya yang membuat aku gak nyaman ketika duduk-duduk di ruang keluarga. Seperti saat sekarang ini.
Aku sedang disidang oleh kedua orang tua ku dan ketiga abangku, kebetulan akhir minggu ini bang Awan pulang ke Jakarta, jadi semua keluarga sedang berkumpul.
"Dek, gimana skripsimu?" Kata Papa mengawali pembicaraan. "Kok Papa lihat selama beberapa bulan ini kamu belum ada kemajuan."
Dengan malas aku menjawab, "Sabar lo pa, nanti kan selesai sih."
Papa mendelik ke arahku lalu berpaling ke Ibu. "Gimana si Bu? Bukannya ibu doping nya?" Papa menggunakan istilah doping yang artinya dosen pembimbing.
"Dia tu bandel, udah disuruh cari dosen lain malah mau nungguin ibu. Ibu kan gak mau kalau mahasiswa bimbingan ibu terlalu banyak. Walaupun sama anak sendiri ya harus profesional donk pa." Jawab ibu membela diri. "Mahasiswa ibu minggu ini ada satu orang yang akan sidang, nah setelah itu barulah dia bisa ikut bimbingan dengan ibu." Lanjut ibu.
"Kenapa kamu gak mau sama dosen lain si dek?" Tanya Papa lagi.
"Sengaja tu pa, biar lama selesainya" sahut bang Awan. Aku melotot ke arah bang Awan, Iss... senang banget sih liat aku dimarahi.
"Namanya pengen dapet hasil yang terbaik pa, masa gak boleh sih? Ibu itu kan terkenal dengan dosen terbaik di kampus, setiap mahasiswa yang bimbingan sama ibu pasti menghasilkan skripsi yang bagus, Ruli kan mau si pa seperti itu. Yaah walaupun harus menunggu, gapapa laa." Jawabku menjelaskan.
"Atau jangan-jangan, kamu dah punya cowok ya dek?" bang Dana tiba-tiba buka suara.
"Siapa? Jangan dulu, masi kecil kok sudah cowok-cowokan. Gak boleh". Papa langsung menaikkan suaranya.
"Is, mana ada lo.... Bang Dana jangan sembarangan ya. Ruli memang murni mau nungguin Ibu loo, lagian kan minggu ini Ruli dah bisa langsung bimbingan ma Ibu." kataku.
"Pokoknya kalau ketahuan aja kamu jalan ma cowok tapi Abang gak tau, cowok itu yang Abang hajar sampe' babak belur." kata bang Dana lagi.
"Iyaa looo.... " Jawabku sekenanya.
"Sudah-sudah, jangan ribut lagi. Kamu sudah bisa cari-cari judul yang pas untuk skripsimu nanti, setelah itu kamu tunjukkan ke Ibu, biar Ibu beri pendapat." Ibu menengahi.
"Baik Bu..." sahutku.
"Budi, kamu bantu-bantu juga adikmu, biar dia tidak terlalu lama menyelesaikan skripsinya." lanjut ibu lagi.
"Baik Bu.." Bang Budi yang sedari tadi diam saja hanya menjawab ibu singkat.
"Ruli ke kamar dulu ya Pa, Bu, Bang." Aku pamit ke kamar yang kemudian diiyakan oleh semua.
Di kamar aku tidak langsung tidur, aku mencari-cari ide untuk judul skripsiku. Namun sampai dua jam aku di kamar, belum ada terpikirkan oleh ku untuk judul tersebut.
"Aaarrgh......." Aku mulai frustasi, lalu aku teringat sidang tadi. Seperti itulah aku, hanya mampu menerima dan bilang iya, padahal ketika ditanya tentang skripsi, hatiku sudah merasa tidak nyaman. Tanpa sadar aku pun tertidur.