"Selamat pagi Pa, selamat pagi Bu..." sapaku pada kedua orang tuaku.
"Pagi nak." Jawab mereka hampir berbarengan.
"Sini sarapan dulu, biar kuat energi nya nanti di kampus." Ibu memberikan aku piring berisi nasi goreng kesukaanku.
"Terima kasih Bu."
Aku langsung menyantap nasi goreng buatan ibuku dengan sangat lahap. Makanan favoritku. Walaupun kami terbilang keluarga sibuk, yang kata orang 'keluarga karir', Ibu tetap melakukan pekerjaan sendiri, masak dan bersih-bersih rumah, semua dilakukan sendiri. Ya kami tetap ikut membantu si.. Hehehe. Tidak ada bibi di rumah kami, kata Ibu, kami harus mandiri, bahkan baju dan piring yang kami gunakan harus kami cuci sendiri.
"Pagi Pa, Bu, dek." Sapa bang Dana sambil mentoyor kepalaku.
"Pagi nak." Jawab Ibu dan Papa.
"Pagi...... Isss itu tangan bisa nggak si gak usah ramah kali ke kepala orang?" jawabku sambil manyun.
"Itukan sapaan tanda sayang Abang ke kamu. Hahaha " jawabnya sambil tertawa.
Sabar... Sabar... Ucapku dalam hati. Aku ingin segera menghabiskan sarapanku dan segera pergi dari rumah sebelum ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin kudengar.
"Adek dah selesai, adek berangkat dulu ya Pa, Bu, Bang." pamitku sambil menyalami ketiganya.
"Loh.. kok buru-buru sekali dek?" Papa bertanya.
"Iya pa, mau ke perpustakaan dulu." jawabku.
"Oh, begitu. Yasudah, kamu hati-hati di jalan ya." Papa menasehati.
"Siap Pa." jawabku.
"Jangan lupa nanti jumpai Ibu di kampus." kata Ibu.
"Siap Bu."
"Jangan pacaran ya. Awas Loh.." Bang Dana memberikan peringatan yang sudah ke sekian kalinya.
"Iyaaaaaaaaaaaaaa. Weeek." jawabku sambil mengejek lalu berlari keluar dengan tergesa-gesa.
Syukur aja tidak ada yang bertanya-tanya. Biasanya bang Awan yang paling rajin, tapi dia sudah berangkat kembali ke Bandung pagi-pagi sekali.
Dalam perjalanan aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Apa ya judul yang akan kubuat. Aku sangat bersemangat sekali, karena akhirnya aku bisa memulai penyelesaian skripsiku.
***
Sudah dua jam aku di perpustakaan, namun tak ada judul yang terlintas di kepalaku. Aku sudah mencari contoh-contoh skripsi senior dan teman-temanku, tapi tetap tidak ada inspirasi yang keluar.
"Arrrgh......" aku berteriak tanpa sadar. Akibatnya semua mata tertuju padaku. Akupun malu lalu menutupi wajahku dengan buku-buku yang ada di sekitarku.
"Kamu kenapa sih, Ruli?". Tiba-tiba ada yang bertanya kepadaku. Kuturunkan buku yang menutupi wajahku. Ternyata Mya yang menemuiku.
"Gak apa-apa." Jawabku singkat.
Mya adalah sahabatku sejak SMP, namun akhir-akhir ini dia begitu cerewet terhadap pengerjaan skripsiku yang tak kunjung dimulai. Dan jujur saja, itu membuatku malas untuk bertemu dengannya.
"Kamu masih marah ya sama aku?" Sepertinya ia menyadari ketidaksukaan ku akan kehadirannya. "Maaf ya jika aku terlalu mencereweti kamu. Aku hanya ingin kita bisa wisuda sama-sama." lanjutnya.
"Sudahlah. Gak apa-apa kok Mya. Aku tau kamu berbuat seperti itu karna kamu sayang sama aku. Jadi sudahlah, jangan terlalu difikirkan." Aku tidak ingin menyakitinya.
"Terimakasih Ruli. Aku gak akan bahas-bahas lagi masalah skripsi kamu, tapi kamu jangan lupa ya, jika perlu bantuan, aku siap untuk membantu kamu." tawarnya.
"Beress. Aku sedang mencari judul, tapi sampai sekarang tidak ada satupun kata-kata yg menempel di kepalaku. Pusing aku." keluhku pada Mya.
"Kamu rencana mau membahas tentang apa untuk penelitianmu?" tanyanya.
"Sepertinya tentang pengembangan usaha saja deh Mya, yang tidak terlalu rumit." Jawabku.
"Nih, aku rekom beberapa skripsi tentang itu, mana laptopnya?" Aku memberikan laptopku pada Mya, dan dia mulai memindahkan file-file yang mendukung penelitianku. "Kamu sudah bisa mulai bimbingan kan dengan Bu Suni?"
"Bisa, ini aku mau ke ruangannya sebentar lagi, tapi aku masi bingung mau ngapain karna aku gak tau harus bilang apa untuk memulai ini."
"Kenapa bingung? Itulah gunanya kita bimbingan sayang........ Nanti kamu sampaikan saja apa yang ingin kamu teliti dan lakukan untuk skripsinya, pasti dia akan membantu. Tenang saja." nasehatnya padaku.
Aku sedikit lega. Walaupun kemarin aku sempat kesal padanya, dia tetap ada disampingku. Mya sahabatku.
"Maaf ya Mya, aku sempat kesal padamu kemarin-kemarin." ucapku sambil menyengir.
"It's oke. Aku sudah paham kamu pasti gak akan lama-lama kesel ma akunya. Tapi percayalah, yang aku lakukan itu demi kamu."
Kami pun segera berjalan menuju ke ruangan ibuku. Mya juga termasuk salah satu mahasiswa bimbingan ibuku. Hanya saja dia lebih cepat menemui ibuku untuk bimbingan ketimbang aku. Saat ini dia sudah selesai penelitian dan persiapan untuk melakukan seminar hasil. Semoga aku bisa cepat menyusulnya, agar kami bisa sama-sama wisuda sesuai dengan harapannya.