Sepulang sekolah ada rapat osis. Sebagai salah satu anggota osis membuatku tak bisa langsung pulang. Sebentar lagi akan ada serah terima jabatan kepengurusan organisasi sekolah itu.
Rey dan Ronal sebagi ketua dan wakil ketua turut hadir memimpin rapat. Aku hanya diam mendengarkan dan melaksanakan tugas yang akan diberikan tanpa protes.
Satu jam berlalu, rapat usai. Aku melangkah sambil meregangkan badan yang terasa lelah Dan capek, plus perut yang terasa lapar. Matahari sudah mulai condong kebarat, yang menandakan hari sudah mulai sore.
Aku merogoh uang yang ada dikantong. "Tinggal ini doang." Membuang nafas kasar melihat uang berwarna ungu yang ada disaku, uang sisa membeli bensin tadi pagi.
"Makan dirumah ajalah." Gumamku mengusap perutku yang sudah keroncongan, dan melangkah cepat kearah parkiran.
Uang tinggal sepuluh ribu. Padahal ini masih hari senin, masih ada empat hari lagi untuk mendapat uang jajan lagi.
Dua hari libur kemaren aku jualan mendapat jatah lima puluh ribu dari emak, dan tadi pagi untuk memenuhi tangki motor yang kebetulan kosong, biar cukup untuk seminggu kedepan.
Baru berjalan sepuluh meter meninggalkan pagar sekolah, motor macet tanpa aba-aba.
"Kenapa lagi ini?" Kesalku saat mencoba menghidupkan kembali tetap aja ngadat, sampai sakit kaki ini ngengkol motor peninggalan almarhum bapak.Biasanya jika starter macet, mesin akan nyala pake engkol. Tapi ini nihil.
"Ya, Allah." Teriakku lelah ,tetap mencoba menghidupkan tapi tetap mati. Aku turun dan memukul motor karena kesal.
"Kenapa pake macet segala sih? Mana aku nggk mudeng urusan mesin lagi. Nggk punya uang untuk mbengkel." Frustasiku. Aku membuang nafas kasar, mendorong motor menepi, dan duduk ditrotoar meminum air mineral yang ada ditas.
"Ck, laper lagi." Mengusap perutku yang kosong, membuat emosi makin meninggi. Membuang sembarang arah botol mineral kosong, lalu kembali jalan sambil mendorong motor , mencari bengkel. Mau nggk mau. Tak ada pilihan lain.
"Naik motor biar ngirit, malah tambah boros kalo begini." Gerutuku sambil memukul motor berulang kali. Kesal.
tiin... tiin.. suara klakson motor, lalu berhenti didepanku.
"Naik." perintah sang pemilik motor besar tanpa basa basi.
"hah???? " Responku bingung juga tak percaya. "Maksudnya dia menawariku tumpangan gitu?" tanyaku dalam hati.
"Bengkel masih jauh." Tambahnya menjelaskan saat melihatku hanya melongo.
"Tau aja dia kalo motorku mogok karena rusak. Tanpa tanya-tanya langsung aja sok tahu." Monologku dalam hati.
Aku mengerjapkan mata tak percaya. Dia adalah Ronal, sang wakil ketua osis plus kapten basket yang terkenal dingin dan nyebelin. Tapi ,tetap banyak penggemarnya itu. Meskipun dia tak melepas atribut keamanan dalam mengendara, aku tahu siapa dia. Salah satu teman orang yang suka mencuri perhatianku.
"Nggk usah, terima kasih." Jawabku mencoba seramah mungkin dan tersenyum manis, meskipun rasanya emosi sudah di ubun-ubun.
Udah lelah , lapar , motor mogok lagi. Tapi jika perut kenyang mungkin stok rasa sabar tak mudah terbakar. Karena nyatanya jika perut lapar mudah sekali emosi tersulut.
"Naik." Perintahnya dengan nada dingin khas kepribadian Ronal.
"Nggk usah, takut ngerepotin. Lagian aku udah biasa kok dorong motor." Tolakku halus, dengan senyum canggung.
Mimpi apa aku semalam disamperin orang yang paling diidolakan disekolah? Tapi sungguh ngeri-ngeri sedap berhadapan makhluk dingin kayak dia.
Seandainya yang menawarkan Regan, aku tak akan pikir panjang untuk menerima. Lah ini? Meskipun satu organisasi dengannya, tapi bisa dihitung jari aku berinteraksi secara pribadi begini.
"Naik." Ucapnya lagi lebih dingin dan tegas, dan membuka kaca helmnya yang menampakkan sorot mata tajamnya. Tak terima penolakan.
"Trus ini gimana?" Tanyaku menunjuk motor mogokku. Aku merasa terimidasi oleh tatapannya. Mulai mempertimbangkan tawarannya.
"Nanti ada yang ngurus." Dia cukup mengambil ponsel dari saku, mengotak atik bentar, kemudian dimasukkan lagi.
Akhirnya aku memarkirkan motor dipinggir jalan. Dengan langkah masih ragu aku mendekati motor yang tinggi itu.
"Cepat naik." Perintahnya lagi yang melihatku ragu. Aku meliriknya kesal.
Aku menarik nafas dalam kemudian mengeluarkan perlahan, menormalkan detak jantung yang tak karuan. Bagaimana mungkin jantungku akan berdetak normal jika berhadapan dengan manusia super cool macam dia. Tak menerima penawaran, apalagi penolakan.
"Siapa sih dia asal perintah orang sesuknya?" Gerutuku dalam hati.
Satu... Dua... Tiga.. aku ancang-ancang untuk naik diboncengan motor dia. Tak punya pilihan lain. Lagian aku juga sudah lelah dan lapar, pengen cepat sampai rumah , makan, lalu rebahan. Meskipun mungkin rebahan bentar sudah ada teriakan emak yang mengabsen daftar mekerjaan yang minta dislesaikan.
Setelah memastikan aku duduk diboncengan, dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang tanpa bicara, tanpa memintaku pegangan atau basa-basi mengajak bicara, juga tak menanyakan alamat rumahku.
"kenapa kesini?" Tanyaku saat motor belok ke restoran padang.
"Turun." Perintahnya masih dengan nada dingin seperti biasa, sepanjang sejarah dia memang sedingin itu. Sedangkan aku masih ragu-ragu untuk turun.
"Uangku tak akan cukup beli makan disini." Ucapku membatin.
"Ngapain kita kesini?" Tanyaku ragu. "Ah, kenapa pula sih aku harus takut sama rumah makan? Bukankah aku memang sedang lapar?" Bisikku pada diri sendiri.
"Makan." Jawabnya sambil melepas helm dan meletakkan diatas motor, juga mengambil helmku yang sedari tadi sudah ku lepas.
"Ngapa nggk langsung pulang aja sih?" Protesku.
"Aku lapar." Jawabnya dan langsung nyelonong masuk.
"Kamu mau jadi patung?" Sarkasnya dengan tatapan tajamnya, dia berbalik saat melihatku hanya berdiri mematung. Deg... Ucapannya benar-benar membuat jantungku tak sehat.
Bukan. Bukan dag dig dug karena jatuh cinta, tapi karena takut dan waspada.
"Ah, iya." Jawabku gelagapan, lalu melangkah mengikutinya. "s**l kali lah aku hari ini." Gerutuku kesal. "Dasar makhluk kutub." Umpatku hanya berani dalam hati.
"Ah, kenapa juga sih aku harus manut sama dia?" Bingungku dalam hati.
Kini aku sudah duduk berhadapan dengannya. Disalah satu meja . Sebelum duduk pun dia sudah pesan makanan. Aku hanya melangkah mengikutinya tanpa berani protes.
"Ronal." Pnggilku yang melihatnya asik main ponsel sambil menunggu pesanan datang.
"Hemm." Gumamnya hanya melirikku sekilas, lalu fokus kembali pada smartphonenya.
"Aku..." Ucapku ragu untuk menjelaskan kalo aku tak punya uang untuk membeli makan. Dan kami tak sedekat itu untuk meminta traktir makan. Duduk berdampingan aja udah menjadi kejadian langka, apa lagi minta gratisan.
Dia hanya melihatku seakan meminta melanjutkan ucapan.
Tapi aku bingung memilih kata untuk menjelaskan. Hingga makanan datang dan dia meletakkan ponselnya.
"Ronal.." Bingung.
"Apa?" Ketusnya.
"Jujur. Aku nggk punya uang untuk bayar makanku." Cicitku pelan, malu. Ingin langsung pulang aja kalo begini. Uangku cukup untuk membayar angkot sampai jalan besar. Tapi nggk berani. Melihat tatapannya aja nyaliku udah ciut.
Dia hanya menatapku dalam dalam diam, membuang nafas kasar, kemudian menunduk siap menyantab makanan yang bagiku sangat spesial.
"Aku nggk suka makan sendiri." Ucapnya kemudian, lalu memulai menyuap makanannya.
"Aku tungguin, aja. Aku belum lapar" Kataku tanpa menyentuh makanan yang sudah melambai-lambai minta disantap. Bahkan perut tak bisa diajak kompromi, teriak nyaring minta diisi. Yang membuatku malu sendiri.
"Makan!" Perintahnya tanpa menerima bantahan.
"I-iya." Gagapku.
Kami makan dalam diam. Bahkan hingga pulang tak lagi ada obrolan. Hingga dia mengantarku pulang sampai depan rumah sederhanaku setelah aku menjadi penunjuk jalan patinya. Tak ada lagi pembicaraan.
"Makasih, Al. InsyaAllah kalo ada nanti uang makannya aku ganti. " Ucapku saat turun dari motor.
"Hhmm." Hanya gumaman sebagai jawaban.
"Terus motorku gimana?"
"Nanti aku kabari." Jawabnya langsung pergi meninggalkanku yang masih berdiri dipinggir jalan.
"Dari mana aja jam segini baru pulang?"
Ah, Baru masuk rumah udah disambut omelan sama emak.
Aku mendengus kesal dan melepas sepatu. Duduk diruang tamu , mengabaikan pertanyaan emak.
" Motor kamu mana? Kenapa diantar orang lain? Siapa dia? Pacar kamu? Udah berani pacaran sekarang?" Rentetan pertanyaan emak membuat kepalaku pusing, badanku tambah lelah rasanya. Apalagi lihat wajahnya yang sedang mode sangar. Tak bersahabat.
"Dania. Kalo orang tua tanya dijawab." Meninggikan suara marah karena pertanyaannya tak kuhiraukan.
"Iya, mak. " Jawabku berusaha tenang.
"Duduk dulu kalo mau denger aku cerita." Kataku menepuk bangku disampingku, membuat wanita paruh baya itu menghentikan aktifitanya yang sedang menyapu.
"Apa?" Tanya emak yang sudah duduk disampingku.
Akhirnya aku menceritakan semua yang menjadi alasanku pulang telat. Tanpa ada yang ditutupi, pun juga tak ada yang ditambahi.
"Benerankan? Bukan karena pacaran?" Tanyanya untuk meyakinkan. Emak juga udah tak marah lagi.
"Enggak mak. Aku nggk punya pacar."